
Malam harinya, rini melihat anjas yang tertidur di sofa.
Rini mendekati anjas, menutup laptop, dan membantu membereskan berkas dan dokumen yang berserakan. Lalu Rini tidak sengaja menemukan foto gibran.
" Maafkan keegoisan mama nak, karena keegoisan mama kau jadi kehilangan kebahagiaan mu." Ucap rini sambil menatap anjas yang tertidur pulas.
Rini menyeka airmata nya, lalu masuk kembali kedalam, dan kembali dengan sebuah selimut.
Setelah menyelimuti anjas, rini kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu, kegaduhan besar terjadi di keluarga selin, sejak selin diusir dari rumah, papa selin ditangkap polisi karena kasus dugaan korupsi. Mama selin menjadi gila karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa rumah mewah beserta isi nya di sita bank.
Selin tinggal di apartemen dion, sedangkan dion berusaha membangun perusahaan yang diberikan oleh anjas yang ternyata tidak semudah saat dirinya menjadi sekertaris anjas. Banyak hal terjadi, hingga membuat perusahaan itu hampir bangkrut hanya salam waktu sepekan.
" Bagaimana kalau perusahaan mu terus mengalami penurunan?" Tanya selin saat dion barusaja pulang.
" Jangan khawatir, aku akan mencari jalan keluarnya." Ucap dion sambil mencium kening selin.
Entah kenapa, dia kini tidak lagi merasa bahagia. Bukankah seharusnya selin bahagia, karena kini dia telah bersatu dengan kekasih yang dulu amat dia cintai, walau belum resmi dimata negara.
Selin menatap nanar Dion yang sedang mencium buah hati mereka. Lalu memutuskan untuk tidur lebih dulu.
...----------------...
Dimalam yang sama, namun di tempat berbeda, tepatnya di rumah sakit. Ayuna mendapat kabar bahwa Sisil sudah melahirkan bayi perempuan yang sangat lucu.
" Selamat ya sisil, akhirnya kau menjadi seorang ibu." Ucap ayuna melalui panggilan video.
" Sama sama, Bagaimana keadaan Gibran?" tanya sisil.
" Yah, keadaan nya masih belum stabil."
" Semoga, Gibran lekas sembuh dan kalian lekas kembali ke Indonesia. agar bisa bertemu dengan Angelina.,"
" Nama yang bagus, siapa yang memberi nama itu?"
" Andi, siapa lagi."
" Mami..."
" Ya sudah, Aku tutup dulu teleponnya ya. Gibran sedang memanggil ku, mungkin dia butuh sesuatu."
" Baiklah, bye.."
" Bye."
Setelah mematikan dan meletakkan ponselnya, ayuna segera menghampiri Gibran.
" Ya sayang?, kau butuh sesuatu?"
" Ya, Aku butuh mami disampingku."
" Hmm, baiklah. Ayo mami akan menemani gibran tidur." Ucap ayuna.
Gibran menggeser tubuhnya sehingga ayunan dapat naik ke atas ranjang dan berbaring tepat di samping gibran.
" Mami.."
" Ya sayang?"
" Gibran merindukan ayah, kapan ya ayah akan datang untuk menjenguk dan menemani Gibran di sini lagi?"
" Sayang, mungkin sekarang ayah sedang sibuk menjaga adik Gibran yang baru saja lahir."
" Hmmm."
Suara gibran terdengar sedih.
" Tidurlah, besok mami akan menelpon ayah. Jadi kita bisa melihat seperti apa wajah adik Gibran yang baru, apa dia semanis dan selucu anak tante Sisil."
" Pasti lebih lucu adik gibran."
" Benarkah?"
" Tentu saja, Gibran kan lucu dan manis. Masak adik Gibran jadi jelek."
__ADS_1
" Haha, iya ya. Gibran benar juga. Ya sudah, ayo segera tidur agar besok Gibran bisa menelpon ayah dan melihat adik baru Gibran."
Cup
Ayuna lalu memeluknya, tubuh Gibran yang semakin hari semakin kurus. Ayuna mendekapnya dengan erat hingga mereka tertidur.
Pagi harinya, ayuna terkejut karena dirinya terbangun di ranjang yang berbeda. Jika semalam dia tidur bersama dengan gibran, kini dia terbangun sendiri.
Ayuna membuka gorden, lalu melihat bagas sedang tidur didekat ranjang gibran.
" Sepertinya bagas yang memindahkan aku."
Ayuna mendekati Bagas, menatap wajah suaminya,
Cup
Ayuna mencium sekilas bibir bagas, Bagas membuka mata, memegang tangan Ayuna yang berada di pipinya dan tersenyum.
" Kenapa kau memindahkan ku?" Tanya ayuna.
" Aku takut kau terjatuh dari kasur."
" Begitukah?"
" Ya, bagaimana pun juga, ada nyawa didalam sini yang harus kau jaga." Ucap Bagas sambil memegang perut ayuna.
Ayuna tersenyum, dan mengajak Bagas untuk duduk di sofa.
Setelah mereka duduk, bagas justru meletakkan kembali kepalanya, dan tidur di pangkuan ayuna.
" Eh, kok malah tidur disini."
" Sebentar saja. 5 Menit." Ucap Bagas.
Ayuna hanya menggelengkan kepalanya.
" Ohya, semalam Gibran mengatakan jika dia merindukan Anjas."
" Hmm, Kenapa kau tidak menelponnya?" Ucap bagas dengan mata tertutup.
" Emm ya, Selin sudah melahirkan ya.."
" Ya, anaknya perempuan sama seperti anak sisil."
" Hmm, kira-kira adik Anjas yang di dalam perut ini laki-laki atau perempuan ya?" Ucap bagas.
" Kalau kau ingin anak perempuan atau laki-laki?" Tanya ayuna.
" Aku ingin anak perempuan."
" Kenapa?"
" Karena aku sudah mau punya anak laki-laki, yaitu Gibran. Jadi Aku ingin memiliki anak perempuan jadi aku memiliki sepasang anak. Perempuan dan laki-laki."
" Kalau ternyata aku mengandung anak laki-laki bagaimana?"
" Aku akan membuatmu hamil lagi."
" Dan kalau ternyata laki-laki lagi?"
" Ya, aku akan menghamilimu lagi, lagi, dan lagi sampai kau melahirkan anak perempuan."
" Hahaha, memangnya aku mesin?"
" Ya, Kau adalah mesin sumber kebahagiaan ku." Ucap Bagas sambil menatap ayuna.
Ayuna tersenyum, dan mereka berciuman.
Siang harinya, saat gibran menjalani kemoterapi, anjas dan mama nya datang.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Ayuna berjalan kearah pintu,
Ceklek.
Dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang.
" Ayuna."
" Anjas."
Mata ayuna memandang anjas dan juga mama Anjas.
" Emm, boleh kami masuk?" Tanya anjas.
" Emm ya. Tentu, silahkan."
" Dimana gibran?" Tanya anjas saat mereka sudah masuk dan duduk di kursi.
" Sedang menjalani kemoterapi."
" Dan Bagas?"
" Bagas menemani Gibran, karena cepetan hanya ingin ditemani oleh Bagas."
Hening.
Untuk sesaat hening, jika Rini bingung harus memulai dari mana untuk meminta maaf kepada ayuna. Lain halnya dengan ayuna yang berfikir kenapa Mama Anjas juga ikut kemari.
" Ehem, ayuna kau pasti bertanya-tanya kenapa Mama ikut aku kemari?"
" Emm ya. Kenapa?"
" Aku dan mama sudah meninggalkan Indonesia, akan menetap di sini."
" Kau bercanda." Ucap ayuna.
" Aku serius."
" Lalu dimana Selin dan juga anakmu?. Mereka tidak ikut? atau berada di villa?"
" Aku dan selin sudah resmi bercerai di hari persalinannya."
" Apa?, tapi Kenapa?"
Anjas lalu menceritakan permasalahan yang sebenarnya terjadi diantara dirinya dan juga selin. Termasuk juga kenapa dulu Anjas tidak mempertahankan hubungan pernikahannya dengan ayuna.
Ayuna menutup mulutnya, jadi ternyata anjas diam karena dia berada di bawah tekanan orang tua selin.
" Jadi..." Ayuna menggantung ucapannya.
" Benar nak, Maafkan Mama karena dulu telah mencaci-maki dirimu." Ucap Rini
" Ya, dan maafkan aku juga karena aku dulu tidak bisa mempertahankan dirimu." Imbuh anjas
" Kami berdua minta maaf karena pernah menyakitimu sedalam itu." Ucap anjas dan rini.
" Sudahlah ma, anjas. Tidak perlu lagi minta maaf, lagipula semuanya sudah berlalu. Aku juga sudah melupakan masa lalu."
" Tapi tetap saja kami banyak dosa kepadamu, dan sebelum kami minta maaf kami tidak akan bisa menjalani hidup kami dengan tenang." Kata rini
" Yang dikatakan mama benar, aku sudah mendapat pelajaran berharga dari kesalahan di masa lalu. Dan mungkin, yang terjadi padaku sekarang adalah karma." Ucap anjas.
" Jangan berbicara begitu, mungkin Tuhan hanya menguji kesabaranmu. Tuhan ingin melihat seberapa sabar dirimu saat Tuhan memberimu ujian kehidupan."
" Ya kau benar. Jadi apa kau maafkan kami?" Ucap anjas.
" Tentu saja."
" Terima kasih nak, kau memang berhati mulia." Ucap rini, lalu Rini mendekati ayuna dan memeluknya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...