LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Menikmati waktu berdua


__ADS_3

" Bagaimana, aku pintar kan?" Ucap Bagas setelah dirinya selesai membantu Ayuna memerah ASI.


Ayuna hanya tersipu malu, wajahnya memerah. Membuat Bagas tersenyum penuh kebahagiaan. Ayuna tidak menyangka bahwa Bagas akan melakukan hal itu di toilet.


" Apa kau menyukainya?" Tanya Bagas, saat melihat wajah Ayuna yang masih memerah.


" Aku tidak pernah tidak suka dengan apa yang kau lakukan. Aku selalu menyukai nya. Bahkan aku tidak menginginkan hal itu berakhir." Ucap Ayuna.


Ayuna tidak sadar, jika ucapan nya memicu semangat membara padaa diri Bagas.


" Kalau begitu, aku akan melakukannya lagi, hingga kau merasa puas." Bisik Bagas.


Ayuna memilih memejamkan mata, bersiap menerima apapun yang akan dilakukan oleh Bagas.


" Ayo ikut aku, aku akan membawamu ke tempat dimana kita bisa melakukannya dengan leluasa." Ucap Bagas beberapa saat kemudian.


Ayuna kecewa, karena disaat dia benar benar terbuai Bagas justru menghentikan apa yang barusaja dia lakukan.


" Jangan cemberut begitu. Aku akan menuntaskannya setelah ini." Bisik Bagas.


Mereka kemudian segera meninggalkan toilet, menuju mobil dan mobil segera keluar dari basemen Mall.


" Kau mau mencoba sensasi bermain di mobil?" Tanya Bagas saat mereka dalam perjalanan entah kemana.


" Memangnya ada tempat aman untuk bermain dimobil?" Tanya Ayuna heran, karena dia merasa aneh mendengar permainan didalam mobil. Pikirannya melayang, apakan akan se nikmat permainan mereka selama ini.


" Kau hanya tinggal mengatakan iya dan tidak. Soal tempat, itu adalah urusan ku." Ucap Bagas sambil memegang tangan Ayuna.


" Tapi, apakan baik melakukan itu disaat usia kandungan ku yang masih sangat mudah?"


" Justru ini akan semakin menguatnya." Kekeh Bagas.


" Idih, bilang aja kalau kamu yang mau karena tidak bisa menuntaskan hasrat karena di dalam toilet tadi kan?" Ledek Ayuna.


" Kamu menyukainya juga kan?"


Blush...


Wajah Ayuna tiba tiba merah. Hal itu membuat Bagas semakin merasa gemas. Dia mencubit pipi Ayuna. Lalu segera membelokkan mobil ke arah sebuah parkiran mobil yang sedikit lebih mendalam dibandingkan dengan basemen mobil tadi.


Bagas seperti sudah tahu tempat yang pas dan sedikit tersembunyi.


" Ini tempat apa?" Ucap Ayuna.


" Kau tidak tahu?"


Ayuna menggeleng.


" Ini basemen perusahaan ku."


" Apa?, tapi bukankah perusahaan mu tidak mempunyai basemen parkir?"


" Punya, selama ini aku memang selalu membawa mu memasuki kantor dari halaman utama. Dan sekarang kita berada di pintu masuk sisi lain dari perusahaan."


" Ah, semacam pintu masuk rahasia?" Ucap Ayuna sambil melihat ke sekelilingnya, sepi. Memang sepi, bahkan mungkin mereka tidak akan ditemui orang yang berlalu-lalang.


" Bukan, tempat ini memang sengaja disediakan untuk mereka yang berada di bagian lain dari perusahaan, jadi mereka tidak pernah memutar terlalu jauh. Perusahaan mempunyai 3 pintu masuk. Dan ini salah satu nya."


Ayuna hanya mengangguk menanggapi perkataan dari Bagas.


Bagas lalu melepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi menempel pada tubuhnya. Dia juga melepas sabuk pengaman milik Ayuna.


Bagas turun dari mobil. Membukakan pintu belakang, dan membuka pintu serta menyuruh Ayuna untuk turun.


" Kita mau kemana?"


" Kau hilang ingin mencoba sensasi bermain di mobil kan?" Goda Bagas.


" Ah, aku bahkan belum mengatakan nya." Ucap Ayuna sedikit tersipu, karena dia tidak menyangka bahwa Bagas akan benar benar melakukan nya.


" Kau memang belum mengatakannya tapi wajahmu yang menjawab semuanya."

__ADS_1


Blush..


Bagas kembali terkekeh melihat rona wajah Ayuna yang memerah.


" Ayo, kau ingin mode kursi normal atau tempat tidur?" Ucap Bagas sambil menekan tombol yang membuat kursi mobil terlipat dan berganti kasur.


" Wow, kenapa aku tidak tahu mobilmu bisa melakukan ini?"


" Karena aku barusaja memasang nya. Jadi bila kita akan berpergian jauh bersama kembar. Kembar bisa dengan leluasa berguling-guling tanpa harus terus duduk sepanjang perjalanan."


" Papi yang sangat pengertian." Ucap Ayuna sambil mengelus lembut pipi Bagas.


" Jadi, kau ingin mencoba sensasi mana?"


" Bagaimana kalau keduanya?" Bisik Ayuna.


Blush...


Bisikan Ayuna membuat hasrat seksual Bagas meningkatkan tajam. Sesuatu dibawa sama sudah siap bertempur untuk mencapai kenikmatan.


Bagas segera mengembalikan mode kursi normal. Menutup pintu, lalu segera melakukan pemanasan sebelum permainan benar benar dilakukan.


Ayuna terbuai, dia sangat menyukai sensasi yang tidak biasa ini. Permainan ditempat yang tidak pernah mereka lakukan membuat hasrat Ayuna meningkat. Dia seakan tidak ingin hal ini berakhir. Mereka melakukan permainan dengan segala macam yang dapat mereka lakukan.


Hari itu waktu berdua mereka benar benar menyenangkan.


" Satu lagi, bolehkan?" Ucap Ayuna.


Bagas tersenyum, walaupun dia sedikit heran dengan permintaan Ayuna.


" Apa kau yakin?. Tidak bisakah kita menyambung nya di lain hari?" Tanya Bagas memastikan.


" Ayolah, satu ronde lagi. Setelah itu kita pulang." Lirih Ayuna dengan nada sensual.


" Baiklah, ayo. Bersiaplah untuk kembali merasakan kenikmatan yang akan aku berikan kepadamu."


Ayuna tersenyum dan langsung menyambut sentuhan-sentuhan hangat yang diberikan oleh Bagas.


Keduanya mencapai kenikmatan duniawi secara berulang dan terus menerus. Hingga membuat mereka berdua lemas, dan akhirnya memilih untuk mengakhiri sesi peperangan itu. Setelah mengenakan kembali pakaiannya, Bagas segera mengajak Ayuna untuk masuk ke dalam kantor agar mereka bisa membersihkan diri sebelum akhirnya kembali pulang ke rumah.


" Aku mencintaimu." Bisik Bagas saat mereka sedang mandi di kamar mandi yang ada di ruang khusus yang berada di ruang kerja Bagas.


" Aku juga mencintaimu." Bisik Ayuna.


Ayuna lalu kembali menggoda Bagas dengan memainkan sesuatu yang membuat hasrat Bagas kembali membara.


" Sayang, sangat nakal.." Bisik Bagas.


" Bukankah kau sendiri yang bilang jika kita harus memanfaatkan waktu kedua ini sebaik mungkin. Kau sendiri kan yang mengatakan Jika waktu berdua seperti ini tidak mudah kita dapatkan." Ucap Ayuna.


Bagas tersenyum dan mulai kembali mencium bibir Ayuna. Dan akhirnya mereka melakukannya lagi Dan lagi. Hingga mereka lupa waktu dan tempat.


Ya Untung saja kantor itu adalah milik Bagas. Jadi mereka bisa dengan bebas melakukannya walaupun beberapa karyawan Bagas terlihat heran saat mengetahui Bagas masuk ke dalam kantor pada siang hari. Jam yang tidak biasa bagi seorang direktur untuk datang ke kantor apa lagi bersama dengan istrinya.


....


DI RUMAH Tara.


" Sepi, kemana orang tua Tara." Lirih Yudi, yang baru saja memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah Tara.


Melihat Tara yang masih tertidur pulas, Yudi merasa kasihan jika harus membangunkan nya.


" Tara, sepertinya kau telah melewati sesuatu yang sangat panjang dan melelahkan sehingga kau tidak terbangun sedikitpun."


Yudi lalu segera membopong tubuh Tara dan memasuki rumah.


" Bik tolong siapkan air hangat untuk Tara."


" Non Tara kenapa?" Tanya Bibi.


" Dia hanya kelelahan. Omong omong, ibu dan bapak kemana?" Tanya Yudi.

__ADS_1


" Ibu dan bapak sepertinya sedang berada di kantor."


" Baiklah kalau begitu. Aku akan membawa Tara ke atas."


" Baik tuan, saya akan segera menyiapkan air hangat untuk non Tara."


Yudi lalu segera membawa Tara masuk dalam kamarnya, dengan hati-hati meletakkan Tara di atas tempat tidur.


" Jangan, tolong.."


Yudi sedikit terkejut saat mendengar Tara mengigau ketika dia telah selesai meletakkan Tara di atas kasur.


" Tara..."


" Doni tolong kasihanilah aku, lepaskan aku ... aku mohon." Lirih Tara.


Doni?, siapa dia?. sepertinya apa yang dialami para berkaitan dengan pria yang bernama Doni. Batin Yudi.


" Tara..."


Yudi menyentuh lembut pipi Tara, dan seketika Tara terbangun dan langsung memeluk Yudi.


" Hiks hiks hiks... Tolong aku kak Yudi, dia mengejarku dia ingin menjadikanku budak seksnya. Aku..., selamatkan aku Aku tidak mau. hiks hiks.hiks.."


" Tara..."


Yudi bingung karena Tara semakin memeluknya erat. Yudi bahkan tidak punya kesempatan untuk bertanya mengenai apa yang telah terjadi sebenarnya.


Untuk beberapa saat suhu di membiarkan Tara memeluknya sambil membelai lembut rambut Tara.


" Apa kau sudah tenang?" Ucap Yudi saat dia sudah tidak lagi mendengar suara tangisan dari Tara.


Tara mengangguk lalu dengan perlahan Yudi melepaskan pelukan Tara. Diangkatnya dagu Tara.


" Minumlah dulu." Ucap Yudi sambil berikan gelas yang berisi air kepada Tara. Tara segera menghabiskan air itu dan meletakkannya kembali di atas meja yang berada di dekat ranjang tempat tidurnya.


" Sekarang katakan padaku apa yang terjadi kepadamu?"


Tara menatap nanar Yudi. Tara terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia menceritakan apa yang terjadi. Dia menceritakan semuanya tentang kebiasaannya yang suka menggoda laki-laki dengan tubuhnya, juga tentang dirinya yang sering menghabiskan waktu di toilet kampus dan membiarkan para lelaki bermain-main dengan dadanya. Tara mengatakan alasan kenapa dia suka menjadi model majalah pria dewasa. Tara juga menceritakan kejadian di rumah Bagas, hingga kejadian yang membuat dirinya menjadi mangsa Doni. Tara juga menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya saat dia menyerahkan surat pengunduran diri, dimana dia dipaksa melayani Doni berkali-kali di ruang kerjanya. Serta saat Tara mempunyai kesempatan untuk lari dan bertemu Bagas serta Ayuna di depan mall.


" Hiks hiks hiks, aku sudah kotor aku sudah tidak pantas lagi untuk Kak Yudi. Jadi Aku harap kau sudah tahu jawaban apa yang akan aku berikan atas pertanyaanmu dulu." Ucap Tara yang langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


Tara masuk dan mengunci pintu kamar mandi menyalakan shower lalu berdiri di bawahnya sambil menangis. Tara tidak lagi mempedulikan apa tanggapan dari Yudi, hatinya sudah lega karena telah memberitahu Yudi kebenaran tentang dirinya.


Yudi berjalan dan mendekati pintu kamar mandi, dia bisa mendengar suara tangisan dari Tara walaupun Tara sudah menyalahkan air shower.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


" Tuan, saya sudah menyiapkan air hangat untuk non Tara."


" Simpan saja itu sepertinya para lebih suka mandi air shower. Sekarang siapkan saja makanan untuk Tara dan bawa kesini. Ohya Aku harus pergi sekarang Dan tolong jaga Tara pastikan dia tidak lagi keluar dari rumah." Ucap Yudi yang langsung pergi dari rumah Tara.


" Baik Tuan."


Bibi segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Yudi, Yudi juga mengatakan kepada satpam jaga agar tidak membiarkan Tara keluar dari rumah dengan alasan apapun sampai Yudi atau orang tua nya kembali.


Sementara itu, Tara masih saja menangis menyesali takdir yang menimpa dirinya. Dia lalu teringat ucapan Mesya yang mengatakan jangan sampai cara berbuat sesuatu yang akan membuatnya menyesal di kemudian hari.


Namun kini semua telah terjadi, nasi telah menjadi bubur. Obsesi para kepada Bagas telah berakhir seiring dengan hilangnya mahkota Tara yang direnggut oleh Doni.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2