LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Haruskah aku berbahagia?


__ADS_3

Pagi harinya, bagas bangun dan melihat apakah ayuna dan gibran sudah siap untuk pergi ke Concord International Hospital. Yang merupakan salah satu dari rumah sakit terbesar di Singapura dalam pengobatan kanker.


" Bagas .." Panggil ayuna.


Bagas tersenyum dan berjalan mendekati ayuna.


" Semua akan baik baik saja." Ucap Bagas seolah tau apa yang dirasakan ayuna.


" Kita berangkat?" Tanya anjas yang datang dan langsung mengendong gibran.


Mereka kemudian berangkat menuju rumah sakit. Sesampainya disana bagas dan anjas langsung menemui dokter setelah gibran dan ayuna ikut perawat untuk menjalani serangkaian pemeriksaan.


" Apa tidak ada cara untuk menyembuhkan kanker itu dokter?" Tanya bagas.


" Ada, jadi kita akan memasukan obat untuk membunuh sel kanker. Obat ini akan dimasukkan melalui selang infus."


" Lakukan saja dokter, lakukan apapun untuk kesembuhan putranya saya." Ucap bagas.


" Tapi, metode ini memiliki efek samping."


" Apa itu?"


" Pasien akan mengalami diare, muntah. bahkan obat ini bisa membuat kerontokan pada rambut."


Bagas sedikit terkejut. Anjas memegang bahu bagas. Bagas menoleh ke arah Anjas, dan anjas mengangguk.


" Baiklah. Lakukan apapun asal itu bisa menjamin kesembuhan dari Gibran."


" Saya tidak bisa menjamin 100% bahwa metode ini bisa menyembuhkan, karena jika tubuh tidak merespon dengan baik obat tersebut. Maka semuanya akan sia-sia."


" Saya mohon dokter, lakukan apapun untuk menyembuhkan putra saya."


" Baik pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."


Ceklek, Seorang perawat masuk dengan tergesa-gesa.


" Dokter segera memeriksa pasien diruang 708."


" Bukankah itu ruangan di mana Gibran dirawat?" Ucap bagas


" Darimana kau tau,?" Tanya anjas.


" Karena tadi ayuna mengabariku bahwa Gibran dibawa ke ruang rawat VVIP dengan nomor kamar 708." Ucap baga sambil menunjukkan ponselnya yang berisi pesan dari ayuna.


" Apa yang terjadi?" Tanya dokter.


" Pasien mengalami panas tinggi dan kejang setelah saya memasukkan obat yang dokter berikan."


Dokter langsung berdiri dan segera pergi untuk melihat dan memeriksa gibran.


Melihat dokter yang terburu buru keluar dari ruangan. Sontak membuat Anjas dan Bagas segera ikut keluar dan berjalan di belakang dokter.


Ceklek.


" Bagas, anjas." Ucap ayuna begitu melihat kedatangan mereka.


" Sayang." Bagas langsung panik begitu melihat ayuna menangis.


Bagas langsung mendekap tubuh ayuna. Sedangkan dokter langsung memeriksa kondisi Gibran.


Entah apa yang disuntikkan dokter itu kepada Gibran, namun perlahan Gibran mulai pernah dan akhirnya tertidur.


" Apa yang terjadi dengan anak saya dokter Kenapa anak saya bisa kejang?" Tanya ayuna.


" Sepertinya, tubuh Gibran tidak merespon obat yang saya berikan."

__ADS_1


" Obat apa yang dokter berikan?"


" Itu ada obat dosis ringan untuk pengobatan kanker dari dalam."


" Lalu apa harus kita lakukan?" Tanya anjas.


" Kita akan mencoba nya lagi nanti dengan dosis terendah. Sementara ini biarkan tubuh kita beristirahat."


Setelah mengatakan itu, dokter keluar.


Hari hari berganti hari, minggu ke minggu berjalan begitu lambat bagi ayuna dan juga bagas. Setiap hari ayuna selalu menangis jika melihat tubuh gibran menolak obat yang dimasukkan melalui selang infus nya. Belum lagi efek dari obat tersebut. Dimana gibran


selalu muntah lendir hijau, dan juga diare.


Dan hari ini, tepat 2 bulan sudah gibran menjalani terapi untuk melawan sel kanker yang semakin hari, semakin menggerogoti tubuh gibran dari dalam.


" Beristirahat lah, biar aku yang menjaga gibran." Ucap anjas.


" Dimana bagas?"


" Seperti nya bagas masih berkonsentrasi dengan dokter. Pergilah istrihat, kau pasti sangat lelah."


Ayuna mengangguk, dan akhirnya membiarkan anjas mengantikan dirinya untuk menjaga gibran. Dia juga merasa cepat lelah akhir akhir ini.


Saat ayuna akan berjalan menuju tempat tidur yang bisa dia gunakan untuk beristirahat. Tiba tiba ayuna merasa pengelihatan nya kabur, kepala nya pening dan,


Brug !!


Ayuna tak dapat lagi menahan tubuhnya.


" Ayuna."


Anjas segera menghampiri ayuna, Mengangkat ayuna dan meletakkannya dengan hati hati diatas tempat tidur.


Ceklek...


" Ada apa?" Tanya bagas saat melihat Anjas baru saja menidurkan ayuna di atas ranjang.


" Aku tidak tau, tadi aku katakan padanya untuk beristirahat. Lalu tiba-tiba dia pingsan."


Bagas mendekati ayuna, mengelus lembut pipi nya.


" Bagas, Apa kau sadar jika akhir akhir ini ayuna terlihat pucat?" Ucap anjas.


" Iya kau benar, aku juga merasa begitu. Tapi makanya ayuna hanya menjawab mungkin dia terlalu banyak begadang."


" Sebaiknya kau memeriksakan dirinya untuk memastikan bahwa dia dalam keadaan sehat dan baik-baik saja."


" Ya kau benar."


Bagas lalu segera menelpon Dokter agar memeriksa ayuna.


Tak lama kemudian dokter datang dan langsung memeriksa ayuna.


" Jadi, apa yang terjadi pada istri saya dokter?" Tanya Bagas.


" Sepertinya istri anda sedang hamil. untuk memastikannya silakan Anda memeriksakan lebih lanjut istri anda kepada dokter obgyn. Disana akan terlihat jelas apakah istri anda benar benar hamil atau tidak."


" Baiklah."


Tanpa pikir panjang, Bagas dengan dibantu beberapa perawat langsung mendorong ranjang ayuna untuk dibawa ke ruangan dokter obgyn.


" Apakah bapak tau kapan haid terakhir dari istri bapak?" Tanya seorang dokter obgyn.


" Mungkin sekitar 1 atau 2 bulan yang lalu.," Ucap bagas.

__ADS_1


Dokter itu tersenyum.


" Selamat ya pak, istri anda sedang hamil. Untuk mengetahui nya apakah bapak mau saya melakukan USG untuk memastikan bahwa istri anda benar sedang hamil?"


" Tapi istri saya masih pingsan?, apa tidak masalah jika melakukan USG dalam keadaan pingsan?"


" Tidak ada masalah pak, mungkin istri bapak akan terbangun atau hanya terkejut saat saya mengoleskan gel di perutnya."


" Baiklah, lakukan segera."


Entah karena apa, namun ayuna tidak terbangun, bahkan sampai dokter itu selesai menjelaskan banyak hal seputar kehamilan ayuna.


" Ini obat dan vitamin. Pastikan diminum tepat waktu." Ucap dokter.


"Baik dokter, terima kasih."


" Sama sama."


Dokter lalu memanggil beberapa perawat agar mendorong ayuna kembali ke ruangan Gibran.


" Hei, kau sudah memeriksakannya?. Apa kata dokter?" Tanya Anjas.


" Ayuna hamil." Ucap bagas sambil tertunduk lesu.


" Hei, bukankah itu berita yang menggembirakan Kenapa wajah murung?"


" Haruskah aku bahagia dengan kabar kehamilan ayuna? sedangkan anakku yang lain sedang berjuang untuk hidupnya." Ucap bagas sambil melihat ke arah gibran yang sudah tertidur.


Anjas terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa.


Drttt drrtr drrttt


Ponsel anjas berdering. Anjas menepuk bahu Bagas, sebelum akhirnya keluar dari ruangan untuk mengangkat panggilan masuk.


" Ya halo, apakah kau sudah mendapatkan bukti yang ku minta?"


" ----"


" Bagus. Simpan bukti itu untuk beberapa minggu kedepan. karena jika perkiraanku benar maka selin akan melahirkan bulan depan."


"----"


" Jangan lupa untuk selalu mengawasi gerak-gerik dari mereka berdua.."


" ----"


" Tidak, aku akan membongkar perselingkuhan mereka setelah selin melahirkan. Karena jika aku melakukannya sebelum itu, aku takut sering menjadi tertekan. Dan itu akan berpengaruh besar pada janin yang dikandungnya."


"-----"


" Tidak. Aku hanya tidak ingin membuat bayi yang ada di dalam kandungan Selin menjadi korban. Bagaimana pun juga, bayi itu tidak bersalah."


"----"


" Baiklah. Tutup telponnya, aku harus kembali menjaga putra ku."


" ---"


Anjas bernafas lega, akhirnya dia mempunyai banyak bukti perselingkuhan dion dan selin. Sungguh hati nya miris melihat dua orang yang amat dia sayangi mengkhianati kepercayaan nya.


Anjas kembali masuk, dan melihat bahwa ayuna masih belum sadarkan diri. Dia laku memutuskan untuk duduk kembali disamping bagas.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


Maaf ya kalau dirasa alurnya bertele-tele, karena jujur kadang kerepotan juga nulis novel sambil ngempu si bungsu yang aktv nya luar biasa. Belum lagi si kakak yang harus belajar.


__ADS_2