LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Bab Tidak Tahu Judul


__ADS_3

" Mami...." Teriak gibran.


" Mami...."


" Gibran?" Ayuna terbangun.


" Mami..."


" Papi..." Teriak gibran lagi.


" Bagas bangun." Ayuna mengoncang goncangkan tubuh Bagas.


" Ergh, ada apa?"


" Gibran berteriak memanggil kita."


" Mami..., papi." Teriak gibran lagi.


" Ya, kau benar?" Ucap Bagas.


Ayuna segera bangun, memakai pakaiannya, dan segera berlari menuju kamar gibran yang berada di sebelah kamar mereka.


" Gibran?"


Begitu sampai di kamar Gibran betapa terkejutnya ayuna, saat melihat Gibran memegang hidungnya yang mengeluarkan darah.


" Ada apa?" Tanya bagas yang baru saja masuk, sambil mengucek-ngucek matanya.


" Bagas." Panggil ayuna.


Dan bisa dibayangkan betapa terkejutnya Bagas, saat melihat apa yang terjadi pada Gibran.


" Gibran?"


Bagas segera berlari mendekat ke arah gibran dan ayuna


Ayuna dan Bagas berusaha menghentikan darah yang keluar dari hidung gibran.


Lalu Bagas teringat bahwa dokter sudah memberikannya obat, untuk berjaga-jaga jika saja mimisan Gibran kembali.


Bagas langsung berlari ke kamar, membuka kotak obat, dan mengambil obat itu lalu membawanya kembali ke kamar Gibran.


" Gunakan ini."


Bagas menyerahkan obat pada ayuna, lalu Bagas meletakkan sesuatu di hidung gibran. Dan menyuruh gibran menghirup nya perlahan.


" Obat ini, apakah aman diminum?, Gibran kan belum makan?" Tanya ayuna.


" Tidak apa apa, berikan saja langsung pada Gibran. itu akan menghilangkan nyeri dan menghentikan mimisan Gibran."


Setelah ayuna meminumkan obat itu kepada Gibran.


" Bagaimana, sudah merasa lebih baik?" Tanya ayuna.


Gibran mengangguk.


" Aku akan membuatkan makanan untuk Gibran." Ucap bagas.


Ayuna dan gibran mengangguk. Lalu bagas segera keluar dari kamar gibran, dan berjalan menuju dapur.


Saat Bagas sedang membuat sup daging hangat untuk Gibran, tiba-tiba ayuna datang dan menghampirinya.


" Bagas..." Panggil ayuna.


" Hei, Kenapa kau kemari Apa Gibran sudah tidur?"


" Iya, dia tidur. Bagas, ada yang ingin aku tanyakan."


" Apa itu?"


" Bagaimana hasil tes lab Gibran?. Dan kenapa kau selalu saja beralasan jika aku bertanya tentang hasil tes Gibran."


Bagas yang sedang berdiri membelakangi ayuna, segera berbalik badan dan menatap ayuna.


" Sebaiknya kita sarapan lebih, lalu aku akan memberitahukanmu sesuatu."


" Apa ini ada kaitanya dengan Gibran?" Tanya ayuna.


Bagas memejamkan mata, menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia mengatakan iya.


" Baiklah tapi kau harus berjanji setelah kita selesai sarapan kau akan mengatakannya dengan jujur, dan tidak ada alasan lagi untuk hal apapun."


" Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi baiklah." Ucap bagas.


Lalu ayuna membantu Bagas meletakkan piring di atas meja makan, dan mereka mulai memakan makanan, dengan pemikiran masing-masing.


Aku tau hal ini akan terjadi, mana cara ke mengatakannya pada ayuna. Batin bagas.

__ADS_1


Bagas, sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku. Kenapa aku merasa jika kau mengetahui sesuatu tentang Gibran. Batin ayuna.


Untuk sesaat, mereka saling menatap. Hingga kemudian melanjutkan makan.


" Biar aku saja, sebaiknya kau mandi." Ucap ayuna, saat Bagas akan mengambil piring untuk di cuci.


" Baiklah."


Cup


Bagas mencium sekilas pipi ayuna, ayuna tersenyum. Entah kenapa ayuna merasa akan ada hal menyakitkan yang akan di katakan Bagas.


Ayuna lalu membawa sup daging ke kamar gibran. Dan membangun ksn gibran.


" Sayang, hei..." Sapa ayuna saat gibran terbangun.


" Mami..."


" Makan dulu ya.."


Gibran mengangguk, ayuna tersenyum dan membantu gibran untuk duduk bersandar.


Dengan telaten, ayuna menyuapi gibran hingga makanan itu habis tak bersisa.


" Hmm, enak. Apa mami yang membuatnya?"


" Mami tidak ingin mengecewakanmu, tapi papi yang memasaknya."


" Benarkah?"


Gibran menatap ayuna, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


" Mami serius. Makan papi yang memasak untuk sarapan tadi."


" Gibran tidak menyangka jika Papi juga pandai memasak."


Ayuna tersenyum.


" Kalau Gibran mau tapi bisa membuat tanya lagi untuk Gibran, tapi sebelum itu Gibran mandi."


Gibran mengangguk, lalu membantu gibran bangun dan berjalan menuju kamar mandi.


" Mami Kenapa Gibran merasa sedikit pusing?" Tanya gibran, dia keluar dari kamar mandi.


" Mungkin Gibran hanya lelah, kemarilah dan istirahatlah dulu."


Ayuna kemudian menemani gibran, hingga ia terlelap.


" Pergilah mandi, biar aku yang menjaga Gibran. Setelah itu aku akan mengatakan sesuatu padamu."


" Baiklah."


Bagas memandangi wajah gibran yang tertidur pulas setelah menghabiskan makanan nya.


Drttt drrrrtt drrrttt


Ponsel bagas berdering.


" Halo dokter.."


" ----"


" Ya, tadi pagi gibran mimisan."


" ----"


" Ya, tentu saja dokter, kami akan segera membawa Gibran ke Singapura."


" Singapura?"


Ayuna yang hendak masuk ke dalam kamar Gibran menjadi terkejut mendengar Bagas mengatakan akan membawa gibran kembali ke Singapura.


Ceklek...


Ayuna masuk, dan membuat bagas sedikit terkejut.


" Baiklah dokter, saya akan menghubungi dokter lagi nanti." Ucap Bagas, mematikan telepon dan meletakkan ponselnya di atas meja.


Ayuna duduk di dekat bagas.


" Bagas Apa maksudmu akan membawa Gibran kembali ke Singapura?"


" A..emm.. sebaiknya kita bicara di luar saja."


Bagas kemudian menggandeng tangan ayuna dan berjalan keluar dari kamar Gibran.


Setelah mereka duduk di ruang tamu.

__ADS_1


" Cepat katakan, sebenarnya apa yang kau ketahui tentang gibran?" Tanya ayuna.


" Sebenarnya..."


" Apa?"


Bagas menghela nafas panjang...


" Penyakit yang dulu diderita Gibran, kini kembali lagi."


" Kau bercanda." Kekeh ayuna.


" Tidak mungkin kanker itu ada lagi, bukankah dokter yang dulu mengoperasi gibran, mengatakan jika penyakit nya sudah tidak ada."


" Tapi tidak akurat 100%."


Ayuna terdiam.


" Kapan hasil lap gibran keluar?"


Kini gantian bagas yang terdiam.


" Bagas..." Panggil ayuna.


" Maafkan aku."


Mata ayuna mulai mengembun, airmata siap terjatuh membasahi pipi.


" Katakan, kapan hasil lap gibran keluar?" Tanya ayuna sekali lagi.


" Satu hari sebelum kita berangkat ke Surabaya."


Tes .


Airmata ayuna kini sukses membasahi pipinya.


Bagas yang melihat itu, langsung mendekati ayuna dan memeluknya.


" Kenapa baru sekarang kau mengatakan nya pada ku?" Lirih ayuna.


" Maafkan aku, saat itu aku tidak tega melihat mu kembali terpuruk dalam kesedihan. Mengingat kau pernah mempunyai firasat tentang ini. Maaf kan aku. Aku hanya berusaha memberi tahu mu dalam waktu dan keadaan yang tepat."


" Kenapa Bagas..., kenapa harus gibran? kenapa bukan aku saja?. Dosa apa yang membuat Tuhan memberikanku cobaan menyakitkan seperti ini?" Ayuna menangis histeris di pelukan Bagas


" Sttt, Kau tidak mempunyai dosa apapun, justru karena kau adalah umat yang paling sabar, jadi sekali lagi Tuhan ingin menguji kesabaran mu. Seberapa besar kau tetap bersabar dalam ujian yang Tuhan berikan."


" Hiks hiks hiks...."


Ayuna menangis, bagas semakin mendekap erat tubuh ayuna.


...----------------...


Dion yang barusaja tiba di apartemennya. Dan saat dia akan membuka pintu,


" Sial. Kunci ku tertinggal di rumah selin."


Dion segera berjalan menuju mobilnya, dan kembali ke rumah selin untuk mengambil kunci apartemen yang tertinggal.


Ceklek...


" Hai sayang.." Sapa selin begitu melihat anjas masuk ke dalam kamar.


Selin membantu suami nya itu membuka jas nya.


" Tadi aku melihat mobil dion. Apa tadi dia kemari?"


" Itu...."


Tin


Tin


Tin


Bunyi klakson mobil.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...

__ADS_1


...vote...


...hadiah...


__ADS_2