Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Arystan dan Valencia


__ADS_3

"Sky, boleh gue ambil foto kita begini?" Tanya Genta yang mengenakan kaca mata, Blue mendekat pada Genta dan melihat ke arah kamera.



Mereka akan berjalan keluar menuju lift, tapi kenapa seperti melihat orang yang di kenal.


"Itu siapa gen? Kenapa gue kek kenal mereka."



Genta melihat orang yang Blue maksud, ia juga seperti mengenal orang itu.


"Kenapa seperti Arys, tapi yang cewek siapa? Gak mungkin Valen berpakaian seperti itu." Genta mengajak Blue mengintip saja, sebelum mereka menoleh dan menatap mereka.


"Gen, gue gak salah lihat 'kan? Gue kirim kak Carel dulu." Blue mengirim foto yang di ambil untuk Carel, ia akan menanyakan nya.


Carel langsung menelpon Blue.


"Kamu lihat dimana? Kakak tadi juga heran, katanya dia ada janji tapi pakaian yang dipakai seadanya. Kakak yakin dia lupa."


"Sebenarnya bukan masalah pakaian kak Arys kak, tapi pakaian yang di pakai kak Valen, kenapa girly banget dan kakak lihat sendiri yang Sky foto tadi." Carel mengangguk.


"Kamu ngapain disana?"


"Sky sama Genta makan disini, setelah selesai pas mau keluar malah lihat mereka."


"Kakak ada ide, bilang aja ada orang restoran ngirim kakak. Kakak akan kirim ke grup keluarga, yang pasti ada mami dan papi yang lihat."


"Sip, biar mereka cepat menyusul Sky." Blue terlihat senang saat Arystan akan ketahuan bersama Valencia, lalu mami dan papi nya menyuruh mereka menikah secepatnya.


"Bener sekali princess, biar kakak lakukan sekarang. Kita lihat, kak Arys dan Valen pasti terkejut." Blue mengangguk tersenyum. Genta hanya melihat interaksi dua beradik itu untuk mengerjai Arystan.


Mereka kembali menuju parkiran setelah selesai menelepon, mereka menuju apartemen.


Sampai di apartemen, ponsel Blue dan Genta suda penuh dengan pesan dari mami dan papi, mereka bertanya pada Arystan yang belum juga kembali dan menyuruh membawa Valencia ke rumah.


"Gen, kita pulang kerumah sekarang. Gue mau lihat apa yang papi dan mami lakukan ketika melihat kak Arys dan kak Valen datang."


"Tapi sudah malam Sky, kita kan juga habis dari luar."


"Please! Kita nginap di rumah, kalau lo gak mau kita langsung pulang gak apa, yang penting bisa lihat kak Arys bawa kak Valen." Blue memohon pada Genta, ingin sekali menolak untuk kedua kalinya, tapi sekalian Genta juga akan melihat temannya bawa wanita kerumah.


"Yaudah." Blue langsung berkemas membawa tas dan juga memakai sweater.


"Cepat gen, gue mau duluan kita sampai." Genta hanya mengangguk.


Melaju dengan kecepatan sedang, karena tidak terlalu jauh juga dari apartemen mereka sudah sampai di rumah utama.


Blue merasa senang karena Arystan dan Valencia bum juga sampai.


"Mami, papi. Kangen banget sama kalian." Memeluk kedua orang tuanya.


"Setelah menikah lupa pulang, malah betah tinggal berdua." Blue melirik Genta dan tersenyum.


"Kak, gimana? Hubungi lagi dong, kalau bisa nanti kita sambut mereka pakai gendang."


"Eh kamu kira nikahan, ini masih mau menyambut calon pengantin." Carel tertawa bersama Blue.


"Kalau sudah bersatu, pasti seperti ini. Kamu apa kabar gen?" Tanya mami Fera.

__ADS_1


"Genta baik mi."


"Gimana klinik kamu, apa sudah aman?" Tanya papi Edward.


"Aman kok Pi."


"Memangnya kenapa dengan klinik? Lo gak ada cerita apa-apa sama gue." Blue melirik Genta karena tidak ada menceritakan tentang klinik.


"Bukan apa-apa, cuma masalah sedikit di klinik." Blue menatap tajam Genta, ia sebagai istri tidak diberitahu.


"Lo ngapain lihat gue gitu, udah gak ada apa-apa."


"Eh itu suara mobil kak Arys, siap-siap sidang dengan pura-pura wajah tegang." Blue dan Carel sudah langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi datar.


Art mereka tersenyum melihat majikan nya bertingkah seperti itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Arystan dan Valencia di belakangnya sudah memakai jaket.


"Wa'alaikum salam."


"Dari mana saja rys? Keluar malam begini bersama wanita." Tiba-tiba papi bertanya seperti itu membuat Valencia menunduk.


"Itu tadi Arys makan di luar Pi, Arys dan Valen merayakan menang tender karena kerja keras kita jadinya Arys traktir Valen di restoran." Carel langsung meneliti pakaian Valencia yang berubah.


"Kenapa tidak ajak gue, biasanya selalu ajak gue keluar. Apa karena sekarang ada pasangan?" Tanya Carel.


"Itu tadi gue sudah pesan untuk dua orang, jadi buru-buru pergi tanpa ajak lo. Asisten gue salah pesan untuk dua orang, jadinya hanya gue sama Valen. Lo juga udah biasa makan disana."


"Valen, apa kabar?" Tanya mami Fera.


Valencia menatap wajah Fera, "saya baik Bu."


"Ups mami, kak Valen jadi malu gitu."


"Lo apaan sih rel, kakak segala."


"Bukannya kak Valen akan jadi kakak ipar gue." Ucap Carel.


Blue mendekat ke arah Valencia.


"Kak Valen, duduk dulu yuk. Jangan tegang gitu dong, kakak tahu 'kan? Kalau kita disini sangat menantikan kak Valen jadi menantu di keluarga ini." Carel langsung menarik Blue mendekat.


"Jangan terang-terangan juga dong princess, kasian kak Valen."


"Valen, kamu nginap disini saja nak. Tidur di kamar Genta, Genta kan sudah tidur bareng Sky."


"Tidak masalah Bu, saya akan pulang ke apartemen."


"No, sudah malam. Kamu sudah tidak boleh keluar dari rumah kita." Mami Fera memainkan matanya, hilang sudah martabat jago beladiri yang kejam.


"Atau kak Valen tidur sama Sky, biar Genta tidur sama kak Arys."


"No no, kamu sudah menikah tidak boleh pisah ranjang."


"Cuma malam ini kok mi."


"Mau tidur sama Genta atau mami nikahi Arys dan Valen malam ini?"


"Nikahi mereka malam ini." Jawab Carel dan Blue.

__ADS_1


"Apa maksud mami, Arys dan Valen hanya makan malam mi, kenapa sampai menikah segala."


"Seluruh restoran sudah tahu, jadi kalian harus segera menikah." Jawab papi Edward. Valencia dan Arystan melotot kan matanya.


"Kalau kalian sudah menikah, kan tinggal kak Carel yang jomblo."


"Baiklah, Arys akan menikahi Valen Minggu ini."


"Lo apaan sih rys," Valencia belum setuju jika harus menikah minggu depan.


"Terus gue harus gimana, gak ada pilihan lain yang harus dipilih."


"Iya kak, sudahlah menikah saja seperti Sky dan Genta."


"Iya, lagian keluarga disini baik semua, Valen. Lo gak usah ragu, ada teman juga buat lo cerita kedepannya ada mami dan Sky." Genta membuka suara.


"Tapi gen, semuanya sudah tahu gue cuma tinggal sendiri tanpa keluarga. Disini keluarga yang sangat terpandang dan berpengaruh, apa gak apa kalau gue masuk di keluarga ini."


"Sangat tidak masalah kakak ipar, kak Arys juga sudah lama menantikan kak Valen menerima untuk menikah." Ucap Carel membuat Arystan mengode dengan matanya. Sejak kapan Arystan bercerita seperti itu pikirnya.


"Kita bicarakan nanti, Arys mau istirahat." Arystan tiba-tiba naik ke lantai atas dan meninggalkan Valencia yang sedang tegang berhadapan dengan keluarga besar nya.


"Ayo kak kita naik, Sky antar ke kamar kak Arys."


"Eh salah, kamar Genta maksudnya." Keluarga nya hanya menggeleng mendengar ucapan Blue. Carel dan Blue memang pandai saat menggoda orang lain.


"Genta naik juga mi, Pi. Mau istirahat juga, malam ini mau nginap disini." Papi dan mami Fera mengangguk.


"Akhirnya, mereka akan segera menikah."


"Kalau mereka menikah, hanya kamu yang sendiri."


"Sabar kali mi, Carel masih muda masih mau belajar kerja dan nabung untuk anak istri. Carel ikut naik, bye." Carel langsung berlari masuk ke kamar nya.


Sudah hampir jam sepuluh, Genta belum tidur sambil mengecek laporan dari kantor dan juga klinik. Blue baru kembali dari kamar Valencia setelah selesai bercerita.



"Astaghfirullah, lo ngapain sih belum tidur?" Tanya Blue yang langsung menyimpan tas nya.


"Gue cek laporan, sekaligus nungguin lo. Kenapa baru masuk jam segini, cerita apa aja sama Valen? Sampai lupa mau istirahat."


"Iya maaf, kita cuma cerita aja masalah hari ini. Lagian lo tidur pakai baju dong gen, gue takut tiba-tiba kena peluk lo gimana."


"Sering banget lo peluk gue, bukan tanpa sengaja." Genta menutup laptopnya dan berbaring membetulkan posisinya.


"Namanya juga gak sadar, jadi gak masalah dong. Kalau lo iya memang dalam keadaan sadar." Genta memeluk Blue dalam keadaan sadar saat memasak ataupun sedang bersantai.


"Ada yang salah? Atau ada yang marah gue peluk lo dalam keadaan sadar? Ada yang marah pun siapa? Pacar lo? Gue yang berhak karena suami lo." Genta langsung membelakangi Blue, menaikkan selimut sampai dada dan memejamkan matanya.


"Malah marah sih gen, tadi kan gue cuma ngomong doang." Blue membawa baju ganti ke kamar mandi sekaligus mencuci wajah dan kaki.


Blue kembali ke kamar tapi Genta masih membelakangi nya, ia ikut tidur karena sudah mengantuk.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2