Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Perhiasan dari Genta


__ADS_3

Blue sudah keluar dari rumah sakit, ia mengajak Genta mampir di mall untuk membeli parfum.


"Beneran parfum? Atau pajangan lain?" Blue melirik Genta tajam.


"Iya, canda kali. Lo mau apa aja ambil, kalau gue gak mampu bayar, lo bayar sendiri."


"Kere banget gue punya suami, harus cari sugar Daddy gak sih?"


"Mulut lo, mau gue tutup pakai apa? Asal aja kalau ngomong tanpa pikir dulu." Blue hanya berjalan tidak menghiraukan ucapan Genta, walaupun ia masih mendengar nya.



"Gunanya jaket tuh apa sih? Cuma nutupin bahu doang atau nutupin kurap? Pakainya gak ada gunanya sama sekali gue lihat." Blue masih memilih parfum yang ia suka, ia masih terus mencium beberapa parfum.


"Gen, lo mau parfum juga? Lo cari aja disini sekalian."


"Parfum gue masih ada, bukannya lo suka yang biasa gue pakai."


Blue menatap Genta, "kapan gue bilang suka? Perasaan gue gak pernah ada ngomong apa-apa masalah parfum lo."


"Ada, waktu itu gue pakai baju kaos buat tidur. Lo malah cium-cium badan gue sambil peluk, gue tanya lo cuma bilang "wangi banget tubuh lo gen." Blue menaikkan satu alisnya, tidak pernah ia sadar berkata seperti itu pada Genta.


"Gen, ini wangi gak?" Tanya Blue mendekatkan parfumnya pada Genta.


"Wangi tubuh lo aja gue udah suka, apalagi di tambah wangi dari parfumnya. Tapi ini wangi sih fresh gitu." Genta selalu menyelipkan pujian-pujian kecil untuk Blue, walaupun Blue sama sekali tidak menyadari nya.


"Iya menurut gue ini fresh enak, ini satu sama tambah parfum yang biasa gue pakai aja satu." Blue membeli dua parfum, Genta hanya mengangguk.


"Lo gak ada mau beli perhiasan gitu? Kalung contoh nya, gue belum pernah beliin lo kalung selain hanya cincin pernikahan." Blue nampak berpikir dan melihat Genta.


"Lo udah gajian? Boleh sih kalau lo mau beliin, gue gak nolak kalau rezeki." Genta tersenyum dan mengajak Blue ke toko perhiasan.


Blue meminta Genta untuk memilihkan nya, karena ia mau sesuai saja dengan budget yang Genta miliki. Memang Genta sudah lama menabung dan bekerja di kantor serta dapat penghasilan dari klinik nya, namun tetap Blue tidak mau meminta yang terlalu berlebihan pada Genta.

__ADS_1


Genta memilihkan nya dan memakaikan pada leher Blue.


"Ini cantik banget, cocok untuk lo." Blue sambil berkaca menurutnya juga bagus.


"Terserah lo aja, gue sih bagus apa aja."


Genta langsung membayarnya karena Blue juga sepertinya suka.


Mereka berbalik setelah membayar perhiasan nya.


"Eh Genta, kamu disini." Blue dan Genta melihat dua orang di hadapannya.


"Sky apa kabar?"


"Baik."


"Ayo kita pulang Sky!" Genta langsung menarik tangan Blue.


"Iya gen, udah lama kita gak ketemu. Gimana kalau kita makan bareng dulu." Arabella mengajak Genta di hadapan istri nya.


"Kamu ajak Sky juga dong, masa cuma Genta sendiri."


Blue sudah biasa dengan orang di hadapannya ini.


"Kalau mau ajak Genta makan silahkan, lo mau makan sama dia?" Tanya Blue pada Genta.


Genta langsung menggelengkan kepalanya.


"Gue makan sama lo aja, gue gak biasa makan dengan orang yang gak gue kenal." Arabella dan juga Aletta mengepal tangannya.


"Suami Sky gak mau makan sama tante Aletta dan juga tante ini, kita pamit pulang dulu ya." Blue mengajak Genta untuk pulang.


"Kurang ajar lo, dasar bocil kematian." Ucapnya berteriak membuat orang sekeliling nya melihat ke arah Arabella, juga orang di dalam toko perhiasan yang ada di depan mereka.

__ADS_1


"Gue males banget ketemu sama tante girang kayak dia, bikin mood gue jelek aja. Ada gitu ngajak makan suami orang di depan istrinya langsung, dasar gak tahu malu." Genta hanya diam saja sambil diam-diam tersenyum.


"Lo senang gitu si tante genit itu ngajak makan bareng?"


"Mana ada, gue malah nolak dia. Lo kan tahu gue gak suka sama mereka, apalagi orang yang ngejar-ngejar gitu."


"Terserah males."


"Gue kan gak mau, kenapa lo marah sih? Gue tetap mau makan sama lo di apartemen, mau makan masakan lo yang sudah semakin meningkat rasanya lebih dari masakan restoran bintang lima, ibarat nya punya lo bintang tujuh nya."


"Obat puyeng gak sih? Bintang tujuh. Lo mau muji yang bener aja dong di samain sama obat puyeng lagi masakan gue." Genta hanya tersenyum sambil melajukan mobilnya.


"Bikin mabuk kepayang saking enaknya, makanya gue mau makan di apartemen terus dari pada di luar."


"Benar-benar sudah sukses belajar masak, dari yang lo gak bisa ngidupin kompor sampai sekarang masak makanan yang sangat enak menurut gue." Sambungnya, ia merasa bangga pada Blue, Genta tidak pernah mengajari masakan apapun, semuanya Blue belajar dari internet.


"Ini gue harus bangga sama diri gue sendiri atau harus belajar lagi, karena pujian belum tentu benar-benar jujur dari hati."


"Lo mah gak percaya terus sama gue, mau bukti gimana lagi? Lo sendiri juga makan masakan lo, pasti kerasa bedanya dan lebih enak."


"Masakan gue memang selalu enak, tapi orang aja yang gak menghargai kerja keras gue." Blue selalu masakan nya enak, karena sebelumnya tidak pernah masak. Selama menikah saja dia mau belajar masak dan mendapatkan pujian dari Genta karena masakan yang Blue masak semakin enak dan Genta menyukai nya.


"Lah, siapa yang tidak menghargai? Gue sangat menghargai dan menyukai apapun yang dimasak istri gue." Genta melirik Blue saat menyetir.


"Idih nonsens." Padahal di dalam hatinya ingin jingkrak jingkrak jungkir balik mendengar ucapan Genta, namun Blue terlalu malu untuk mengakui nya. Hanya menahan senyumnya dan melihat keluar agar Genta tidak melihat wajah merona nya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...

__ADS_1


__ADS_2