
Genta bingung dengan keadaan di dalam ini, kenapa banyak anak buah dari mertuanya? Padahal katanya Blue sedang di culik.
Arystan sedikit curiga lagi dan berbalik menatap Jo, ia ingin sekali lagi memastikan bahwa di dalam bukanlah jebakan. Bisa aja kalaupun mereka bilang setia, tapi nyatanya beda bisa saja terjadi. Arystan hanya tidak percaya sampai Jo turun tangan langsung sekarang, ini pasti kejadian besar. Biasanya Jo menyuruh anak buahnya lagi untuk melakukan hal semacam ini.
"Jo," panggil Arystan.
"Siap tuan." Jo masih dengan postur tubuh tegap nya sebagai ketua dari yang lain, ia namun menghormati Arystan sebagai anak dari majikannya.
"Apa yang kamu sembunyikan di dalam? Apa kamu tidak merasa membuang-buang waktu saya untuk ke kantor?"
"Bukankah tuan sendiri yang berkunjung? Harusnya tuan memang sudah ada di kantor cabang, namun anda ikut serta dengan tuan Genta."
"Kamu ingin macam-macam dengan ku, Jo?" Tanya Arystan.
"Saya tidak berani tuan, alangkah baiknya anda segera masuk jika tidak ingin waktu anda terbuang sia-sia. Atau tuan Genta tidak cukup berani masuk sendiri tanpa di temani anda dan tuan Carel?" Genta tetap tenang dengan ucapan Jo yang membuat hatinya panas, namun demi image sangar yang ia bangun tidak mungkin roboh di depan semua anak buah papi Edward.
"Bagaimana kalau kamu yang masuk lebih dulu, Jo?" Ucap Genta.
"Apa pekerjaan kalian hanya berdiri seperti ini? Untuk apa pembahasan yang tidak penting itu timbul? Berhenti kalian bermain-main, cepat saja katakan dimana Sky?" Mereka bungkam dengan pertanyaan Carel, menatap Carel yang bertingkah seperti anak-anak itu berubah tegas saat berbicara pada anak buah orang tuanya.
Jo menerima telepon dari seseorang, setelah selesai berbicara berpamitan pada tuan nya karena tidak bisa menemani mereka ke dalam. Namun tetap ada pengawal yang biasa mengikuti Blue mengantar mereka bertiga masuk.
Tidak lama dari luar walaupun tempat yang sangat luas, mereka sampai di tempat seseorang yang di sekap, bukan hanya satu orang, tapi dua orang. Tentu saja mereka bertiga terkejut sambil menatap tajam seluruh bawahan orang tuanya, bagaimana mungkin bisa mereka melakukan itu? Apa yang terjadi sebenarnya.
"Kemana Jo? Apa ini maksudnya? Jelaskan!" Arystan dan Carel memang lebih berhak disini, maka dari itu sejak tadi Genta hanya terdiam namun tetap berjaga-jaga dan mencari-cari keberadaan istrinya.
"Tuan jo sedang keluar dan itu perintah dari tuan besar, saya sebagai bawahan juga bisa menjelaskan nya pada tuan apa yang sudah terjadi dan kenapa kami membawa dua orang itu kemari."
"Tidak perlu bertele-tele," ucap Genta yang sejak tadi sudah sangat tidak sabar.
"Awalnya begini tuan-
FLASHBACK ON
Blue berjalan keluar dari apartemen nya bersama dengan Valencia, mereka menaiki dua motor yang itu adalah ojek online. Anak buah papi Edward selalu mengikuti Blue yang selama ini tidak diketahui oleh mereka, bisa saja Blue sudah mengetahui namun ia biarkan saja karena tidak mungkin ia menentang papi nya sudah pasti semakin ia menentang semakin pula banyak yang menjaganya.
Valencia dan Blue berpisah karena arah ke kampus dan ke apartemen Valencia berbeda arah, mereka tentu lebih memilih untuk mengikuti Blue karena nona yang sudah diperintahkan untuk dijaga oleh papi Edward.
Namun saat Blue turun dan berjalan menuju taman kampus, karena masih terlalu pagi ia berangkat ada seseorang yang membawa sapu tangan dan juga memakai topi, dengan langkah sigap orang itu di dahului oleh anak buah papi Edward memukul nya dari belakang hingga tak sadarkan diri. Blue menyadari itu menatap orang yang sedang tertidur tak sadarkan diri.
"Kalian?" Blue melihat dua orang yang ia kenal adalah bawahan orang tuanya.
"Kita ketahuan." Ucapnya pada teman di sampingnya.
__ADS_1
"Padahal saya sudah serapih mungkin tidak membuat nona Sky sadar akan keberadaan orang ini, tapi nona Sky malah menyadari nya?"
"Siapa dia?" Tanya Blue
"Orang suruhan Arabella, mantan-
"Tidak perlu disebutkan, aku sudah tahu." Ucapnya datar. Blue tidak suka anak buah papi nya akan menyebut mantan Genta, yang notabene adalah suaminya.
"Kemarin saat nona Sky dan nenek sihir itu-
Mereka belum selesai, Blue sudah lebih dulu tertawa mendengar ucapan anak buah papi Edward.
"Lanjutkan, sangat lucu dengan sebutan itu." Masih dengan tawa yang ia tahan.
"Kemarin saat nona dan nenek sihir itu berdebat, setelahnya kami mendengar dia menghubungi seseorang dan akan mengirim foto nona Sky. Karena nona Sky saat itu sedang menunggu tuan Genta, maka dari itu kami memilih mengikuti dia. Lalu kami tahu apa yang akan dilakukan orang ini yang disuruh nenek sihir itu." Blue mendengar dengan seksama penjelasan dari orang suruhan papi nya.
"Dia marah dengan nona Sky yang sudah merebut tuan Genta."
"Merebut? Tentu kalian tahu kalau kita tidak saling suka, mana mungkin aku merebut miliknya."
"Kami tahu nona Sky, tapi dia sangat marah karena tuan Genta juga sudah menyukai nona. Dia berencana untuk menjebak nona Sky tidur dengan laki-laki ini, lalu setelah itu akan dikirim ke tuan Genta agar tidak percaya anak yang di kandung nona adalah anak dari orang lain."
"Sialan, beraninya dia memiliki ide buruk seperti itu. Baiklah akan aku turuti keinginan nya, bawa dia ke tempat dimana hanya keluarga Sagara yang tahu."
"Baik nona."
FLASHBACK OFF
Brakkkk....
Mereka bertiga seperti mengamuk dan jijik dengan dua orang di depannya, iya di depan mereka saat ini adalah Arabella dan juga orang suruhannya.
Pintu kamar terbuka lebar dari sebelah kiri mereka berada, Blue keluar dari sana dengan perasaan kesal dan sekaligus marah karena mengganggu tidur pagi nya.
"Berani sekali mengganggu tidur ku, untung saja anakku baik-baik saja." Ucapnya mengelus perutnya tak sadar jika di depannya adalah kakak dan suaminya.
"Sky," panggil mereka.
"Maaf"
"Jadi kalian yang mengganggu?" Tanyanya kini Genta menghampiri istri yang sejak pagi meninggalkan tanpa pamit.
"Jangan mendekat! Gue masih kesel sama lo, urus tuh MANTAN kesayangan yang belum bisa move on itu." Blue menekan kata mantan.
__ADS_1
"Sky, sampai kapan lo seperti ini? Lo gak kasian apa sama janin yang ada dalam perut lo, dia butuh papanya di dekat nya."
"Modus lo. Kalau kalian diam saja biar Sky yang melakukan." Blue mendekat ke arah Arabella dan juga laki-laki itu. Blue menyiramkan air pada wajah mereka berdua.
"Bangun kalian!" Tak butuh waktu lama mereka bangun dan melihat sekeliling yang sudah banyak orang, dan untuk orang di depannya Arabella mengenal mereka semua termasuk Blue.
"Pagi tante, apa sudah tidurnya? Kalau belum puas tidur lagi, biar gue bantu. Tentu bukan satu atau dua jam saja, tapi untuk selamanya." Senyum di wajah Blue mengerikan sekarang, kedua kakak dan suaminya juga melihat itu.
"Apa yang kalian lakukan, lepaskan gue!" Menatap tidak suka pada Blue.
"Lepaskan? Lo mau lepas ya? Atau Lo juga mau?" Tunjuk nya pada laki-laki di sebelah Arabella.
"Sangat mudah, tapi setelah kalian musnah." Lanjutnya membuat bawahan papi nya menelan ludahnya, mereka baru melihat nona nya yang sangat tidak seperti biasanya. Tentu saja karena Blue menutupi nya.
Blue mengeluarkan pisau kecil di tangan nya.
"Sky, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Arystan. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang akan adiknya lakukan.
"TIDAK! Jangan mendekat!" Arabella memberontak ingin melepaskan tali yang mengikat nya, ia menggelengkan kepalanya takut.
"Percaya diri yang sangat tinggi itu tidak baik. Lempar!" Ucapnya dan anak buah papi nya melempar buah apel di dekatnya dan dengan cepat tanpa melihat Blue menusukkan apel dengan pisau kecil yang ia pegang. Arystan, Carel dan Genta melototkan matanya. Mereka tahu bahwa Blue pandai berlatih beladiri, tapi untuk kepekaan di dekatnya dan mengambil apel menusuk dengan pisau kecil secepat itu mereka tidak percaya.
"Sangat tepat dan pisau kecil yang sangat tajam, apa lo mau mencobanya?" Tunjuk nya pada Arabella yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Gue hanya ingin lo sarapan, bahkan saat akan keluar dari sini lo mungkin tidak memiliki muka untuk keluar. Karena sudah gue sebarkan foto lo tidur dengan laki-laki ini, bukan gue yang menyebarkan melainkan anak buah papi, bukannya kita sekarang jadi impas? Karena yang melakukan bukan kita sendiri? Bagaimana bisa lo tidur memeluk dia dengan sangat erat dan nyaman, bukan kah lo sangat mengharapkan Genta, suami gue?" Ucapnya sambil mengulas senyum miring tanda mengejek.
Genta dan juga kedua temannya memeriksa internet dan benar saja, namun bukan di akun Blue melainkan di ponsel milik Arabella sendiri.
"Iblis," ucap Arabella.
"Terima kasih pujiannya, mau tahu iblis yang ada di diri gue yang sebenarnya? Biar gue tunjukkan." Blue berjalan mengambil apel yang tertancap di pisau kecilnya dan melemparkan ke arah anak buah papi nya.
"Ja-jangan men mendekat!" Arabella ketakutan.
"Tolong lepaskan saya, nona. Saya hanya menuruti perintah karena membutuhkan uang."
"Uang dari hasil seperti itu? Tanpa berpikir apakah orang itu akan baik-baik saja setelah nya? Apalagi aku sedang hamil, dan kamu ingin orang yang hamil itu jadi gila?"
"Maafkan saya, saya hanya menjalankan tugas." Orang itu menunduk merasa bersalah dengan yang ia lakukan itu ternyata bisa membuat ibu hamil mengalami gangguan jiwa.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
__ADS_1
IG : @istimariellahmad98
See you...