
Peringatan !!!
Dibawah ini mengandung kekerasan untuk yang tidak berani jangan membacanya apalagi takut dengan darah. Tidak disertai gambar, namun ada beberapa teks (self-harm) yang akan membuat orang lemas.
Blue masih menatap tajam ke arah orang yang akan menculik dirinya, namun lebih tajam lagi ia melirik Arabella.
"Menurut gue sudah cukup dengan foto yang tersebar luas tentang lo, mungkin selebihnya lo bisa menjelaskan sendiri pada orang gue gak bisa bantu." Blue hendak berbalik, namun Arabella memekik.
"WANITA SIALAN, BERANI SEKALI LO NGURUNG GUE DISINI BANGSAT..!!! Pura-pura tidak mau dengan Genta, padahal lo sangat menginginkan nya 'kan? Apa mungkin lo hamil karena menjebak Genta? Atau dengan laki-laki lain?" Genta serta kedua kakaknya naik darah mendengar ucapan dari mulut Arabella. Blue menahan mereka.
"Gue memang menjebaknya, apa lo sekarang iri ingin memiliki nya? Tentu saja dengan langkahi gue dulu." Blue sebenarnya meneteskan air matanya dan langsung pergi kembali ke kamar pertama ia masuki. Sebelum ia masuk, Blue memerintahkan kepada anak buah papi nya agar membereskan Arabella dan juga orang suruhan nya.
Arystan dan Carel serta Genta yang akan menghadang juga percuma, Blue lebih cepat masuk ke dalam kamar karena terlalu lambat mereka bergerak karena keterkejutan yang dilakukan Blue.
Arabella dipindahkan ke ruang yang lebih gelap lagi, dan untuk orang suruhannya mereka bebaskan asalkan dengan syarat tidak lagi berbuat seperti itu. Karena jika sampai mereka mengetahui nya, orang itu akan langsung mereka habisi tidak lupa memberi uang untuk keluarga nya.
Satu jam berlalu, Blue masih dikamar itu. Genta sejak tadi memanggil Blue tidak ada sahutan dari dalam. Arystan dan Carel yang sudah sangat khawatir dengan keadaan adiknya, mereka menyuruh Genta untuk mendobrak pintu kamar Blue. Apapun yang terjadi ketika berada di dalam kedua kakaknya yang akan bertanggung jawab.
Genta yang juga sangat khawatir dengan keadaan istrinya langsung bergegas mendobrak pintu dan sekali dobrak pintu itu sudah terbuka.
Semua anak buah serta ketiga orang sejak tadi khawatir terkejut melihat wajah pucat itu sudah berbaring menghadap pintu dengan pergelangan tangan yang sudah dipenuhi darah.
"SKY...!!" Mereka semua berteriak dan menghampiri Blue.
"Sky, apa yang lo lakuin? Jangan tinggalin gue Sky." Genta langsung mengangkat kepala istrinya ke pangkuan nya, ia tidak berpikir jernih saat ini. Istri dan anak yang di kandung akan meninggalkan nya, dan untuk kedua kalinya setelah kepergian ibu dan adiknya, Genta kembali mengeluarkan air matanya.
"Dek jangan pergi! Kenapa gue biarin dia masuk dengan pisau itu?"
"Jangan tinggalin kakak, Sky."
__ADS_1
"Cepat kalian ambil mobil, biar gue yang gendong Sky."
"Jangan beritahu siapapun termasuk mami dan papi, kalian sebagian ikut dengan kami, sebagian lagi harus tetap disini jaga Arabella. Kalau bisa bunuh wanita itu." Ucap Genta membuat anak buah papi Edward ngeri mendengar nya. Arystan dan Carel membantu mengambil mobil yang sedikit jauh dari gedung itu.
"Sky bertahan lah, gue tidak akan biarin lo pergi secepat ini. Gue mohon bertahanlah!!" Genta berlari sambil menggendong tubuh istrinya, hal yang sangat ia jaga untuk tetap stay cool, namun runtuh saat ini juga menangisi istrinya yang sedang diambang kematian. Bawahan papi Edward yang berjejer berdiri melihat itu juga merasakan nona nya yang mereka jaga dari jauh harus kembali melakukan hal yang diluar nalar mereka. Blue benar-benar belum sepenuhnya pulih dari trauma yang di derita, namun ia pura-pura berani menghadapi semuanya sendiri tanpa ingin meminta bantuan keluarga dan juga suaminya.
Arystan dan Carel tidak berkata apapun saat ini, mereka hanya fokus pada jalan sambil sesekali melihat ke belakang. Genta menangis sambil memeluk Blue, ia sekarang sangat takut kehilangan wanita itu. Genta sudah kehilangan orang-orang yang ia sayang, Genta tidak mau kehilangan lagi orang yang saat ini juga sedang mengandung anaknya.
Setelah sampai Genta dibantu kedua iparnya dan masuk ke rumah sakit milik keluarganya.
"Lakukan yang terbaik, selamatkan istri saya bagaimana pun caranya."
"Sembuhkan adik saya dok."
Dokter dan beberapa perawat disana terkejut awalnya melihat rombongan keluarga Sagara membawa perempuan tidak lain adalah Blue yang sudah sangat pucat.
"Tidak bisakah saya ikut masuk? Saya perlu melihat kondisi nya, selamatkan anak saya juga dok."
"Maaf tuan, nona Sky harus segera ditangani. Tolong tuan menunggu di luar ruangan tanpa membuat kekacauan." Genta ingin sekali membuat dokter itu babak belur, namun istri dan anaknya lebih membutuhkan dokter itu sekarang.
"Pergilah!"
"Saya permisi tuan."
Genta memundurkan tubuhnya dan terduduk disana sambil menarik rambutnya dengan kasar.
"Kenapa lo lakuin ini Sky? Gue gak mau kehilangan lo. Kenapa semua orang yang bersama gue akan berakhir seperti ini?" Tanya Genta sedangkan kedua temannya mencoba menenangkan, mereka tahu Genta sudah menjadi suami yang baik untuk adiknya walaupun sedikit dengan gaya Genta yang tidak begitu lembut. Genta sudah kehilangan sosok ibu dan adiknya, dari masa sekolah setelah ibunya meninggal, hanya ada mami Fera yang menyayangi Genta layaknya anaknya sendiri.
"Lo gak salah gen, Sky hanya belum pulih dengan trauma nya. Lo harus bisa menguatkan dia kalau sudah sadar nanti. Lo sebaiknya mendoakan kesembuhan Sky, bukan malah seperti ini." Arystan lagi-lagi harus pura-pura kuat saat adiknya kembali masuk rumah sakit, karena Carel juga hanya menangis melihat adik kesayangannya seperti itu.
__ADS_1
"Gue belajar kuat sejak kematian ibu dan Geandra, tapi itu percuma rys kalau pada akhirnya gue akan merasakan itu lagi. Perasaan gue saat ini kosong, istri yang lagi mengandung anak gue melakukan hal seperti itu aku tidak bisa memaafkan diri gue sendiri. Karena ini semua salah dari gue, awal semuanya bersumber dari gue." Genta hanya terus menyalahkan dirinya karena tak mampu untuk menjaga Blue dan janin yang di kandung.
"Percuma lo merasa bersalah gen, Sky di dalam gak sadar. Sekarang kita disini hanya bisa mendoakan keselamatan Sky dan calon anak kalian." Arystan sudah ikut frustasi, lama-lama dirinya juga akan meraung keras mengeluarkan air matanya.
Setengah jam berlalu, Arystan mondar-mandir di depan ruangan Blue yang sedang di tangani di dalam.
Tak lama dokter pun keluar langsung kembali menutup pintu, namun setelah berbalik dengan wajah lesu dan sedikit bersalah menatap tiga orang keluarga Sagara serta bodyguard yang diajak masuk ke dalam rumah sakit. Keringat yang membasahi wajahnya kembali membasahi seluruh badannya karena takut untuk memberitahu apa yang terjadi di dalam, bisa-bisa dokter itu bukan hanya di pecat, melainkan masuk kandang buaya dan macan yang dipelihara.
"Bagaimana dok dengan adik saya, apa sudah siuman?" Tanya Arystan.
"Dok keadaan istri dan kandungan nya bagaimana dok?" Tanya Genta dengan mata memerah membuat dokter itu tidak tega untuk memberitahu.
"Kenapa dokter hanya diam? Jawab dok!! Atau mau saya habisi dokter sekarang juga." Carel menarik kerah baju kemeja dokter yang sejak keluar hanya diam saja.
"Tu-tuan sabar sebentar, bagaimana saya akan menjelaskan jika kalian terus mengancam dan bertanya terus menerus. Saya mohon jangan membuat keributan, walaupun saya tahu disini rumah sakit keluarga Sagara, sebagai dokter dan juga beberapa perawat yang ada disini bisa terganggu untuk melaksanakan tugasnya." Dokter itu sedikit gagap, namun tetap harus tegas memberitahu keluarga pasien nya.
"Anda seorang dokter juga banyak mengulang kata dan terus-menerus bertele-tele, langsung saja pada intinya." Genta sudah sangat muak mendengar penjelasan dokter yang tidak berujung, bukan istrinya yang di jelaskan malah hal lain yang ia dengar.
Dokter itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan.
"Nona Sky saat ini-
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1