
"Pili, kamu kenapa diam aja sih?" Tanya nya pada kucing peliharaan yang ia beri nama pili. Kucing laki-laki yang ia pelihara sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Kak Arys, kak Carel. Papi, mami." Semua keluarga nya ia panggil agar masuk ke kamar khusus kucing nya.
Mereka yang mendengar teriakan Blue langsung berlari, kearah kamar milik pili.
"Ada apa sky?" Tanya mereka.
"Pili, dia hanya diam saja saat sky ajak bicara. Tuh kan, seperti nya dia demam." Ucapnya dengan memegang dahi pili.
"Memang nya pili manusia? Kamu cek nya masa iya di kening nya."
"Memang nya kenapa sih? Pili juga tinggal sama manusia, jadi harus ikut apa yang di lakukan manusia nya seperti sky." Ucapnya
"Terus pili mau kamu beri obat?" Tanya papi nya.
"Di obati lah pi, kalau bisa mau sky bawa ke klinik hewan."
"Pas banget sky, kak Arys punya teman dokter hewan." Ucap arys memberi tahu adiknya itu bahwa ia mempunyai teman seorang dokter hewan.
"Ayo kak bawa sky kesana."
"Loh, kan pili yang mau di periksa. Kenapa kamu yang mau kesana."
"Sky yang bawa pili periksa, memangnya pili bisa berangkat sendiri?" Ucap Blue. Kedua kakaknya itu memang sangat random.
"Cepat ayo sky, kakak harus segera ke kantor juga."
"Santai aja kali kak, orang kantor sendiri malah seperti jadi staff biasa. Paling papi yang marah" ucap Blue sambil terkekeh.
"Kamu ya, memangnya papi suka marah-marah?" Tanya papi nya.
"Sama sky gak marah, tapi sama mereka."
"Mereka susah di atur, tidak seperti kamu yang penurut princess." Jawabnya mengelus rambut anak perempuan nya.
"Kita juga penurut kok pi, bedanya sky imut, kita berdua amit." Ucap Carel langsung dibantah oleh Arystan.
"Lo aja kali yang amit, gue mah seperti sky. Iya kan princess?" Meminta persetujuan dari adiknya.
"Semuanya tampan, disini kan aku sama mami yang cewek jadi cantik." Blue mengatakan itu biar cepat selesai, tapi memang nyatanya mereka tampan.
...******...
Arystan sudah membawa adiknya itu ke klinik hewan milik temannya, ia tidak ikut masuk ke dalam karena buru-buru ke kantor.
"Coba tadi di antar kak Carel aja, biar temani aku ke dalam."
"Jangan cemberut dong, nanti pulangnya minta antar aja sama dokternya."
"Ih ogah, gak mau aku. Pasti teman kak Arys itu sudah tua kan? Nanti dikiranya sky jalan sama om-om."
"Eh sorry, teman kak Arys itu semua nya tampan kecuali Carel."
"Lah, kan memang kak Carel bukan teman kak Arys. Tapi adiknya."
"Iya, tapi dia juga masuk circle kak Arys."
"Baiklah, kalau misalnya lagi di mobil gini dari tadi masuk ikut sky udah sampai."
"Supaya kamu berani sendiri, kak Arys tahu kamu sudah berani sendiri apalagi cuma mengantar pili."
__ADS_1
Blue menatap Arystan, ia mencerna perkataan kakak nya.
"Kenapa menatap kakak seperti itu? Bukannya kamu sudah berani sendiri?"
"Iya, sky masuk sendiri ke dalam." Blue membuka mobilnya untuk keluar, ia menoleh lagi pada kakaknya.
"Yakin gak mau ikut, temui teman kak Arys di dalam?"
"Kamu aja, kak Arys harus cepat ke kantor."
Blue benar-benar keluar dari mobilnya, lalu setelah itu kakaknya melambaikan tangannya dan melajukan mobilnya pergi dari sana.
Arystan sudah mengetahui bahwa adiknya berani sendiri, ia sudah tidak khawatir apalagi sudah berada di lingkungan temannya.
"Kak Arys biarin aku sendiri bertemu temannya, memangnya gak takut aku di apa-apain apa?"
Blue berjalan menuju klinik itu bersama pili.
"Permisi."
"Permisi kak, ada yang bisa kami bantu?"
"Begini, saya mau periksa kucing saya ini. Seperti nya dia sedang demam."
Resepsionis itu melihat kucing yang di bawa Blue, awalnya ia mengira itu anjing. Namun ternyata kucing yang lucu. Wajahnya di tutupi sedikit oleh bulunya.
"Baiklah saya antar ke dalam ruangan dokter Magenta."
"Hah? Puffhhhh." Blue menutup mulutnya saat mendengar nama dokternya.
"Maksud saya dokter Genta." Lanjutnya.
Resepsionis itu mengantar Blue ke dalam ruangan dokter Magenta. Lucu menurut Blue, namun akan marah jika di dengar oleh Genta sendiri.
"Permisi" ucap Blue.
"Gue sudah bilang jangan biarkan Bella masuk."
"Maksudnya?" Tanya Blue membuat Genta mendongak.
Genta awalnya mengira itu Arabella yang sering membawa anjingnya, tapi ternyata salah kali ini.
"Maaf, silahkan duduk."
"Teman kakak gue aneh." Gumamnya.
"Kamu bicara apa?" Tanya Genta yang tidak mendengar.
"Oh tidak."
Genta melirik hewan yang di bawa Blue, ia langsung berdiri sedikit menjauh.
"Pergi dari sini, saya tidak mau periksa hewan kamu."
"Lah, kak Arys bilang dokter ini dokter hewan. Tapi tidak mau periksa hewan, gimana sih. Kalau tidak mau periksa hewan, gak usah jadi dokter hewan dong." Ucap Blue kesal dengan sikap teman kakak nya.
"Arys? Kamu adiknya?" Tanya Genta.
"Aku pacarnya." Jawab Blue singkat.
"Maaf, tapi aku tidak menerima untuk memeriksa anjing."
__ADS_1
Meawww meaaww...
Pili bersuara kali ini dan turun dari pangkuan Blue.
"Eh, pili sayang kenapa kamu turun."
"Pili? Kenapa aku seperti mengenalnya?" Ucap Genta yang berjongkok mengambil pili yang menghampirinya.
Pili sangat suka berada di pangkuan Genta, ia seperti sudah lama mengenal dokter hewan itu.
"Kenapa seperti nya pili menyukai dokter? Bukannya biasanya dia tidak pernah mau di pegang orang baru."
"Kenapa seperti aku mengenal kucing ini?" Ucap Genta dalam hati.
"Tolong periksa pili, dia demam dari semalam diam saja."
"Baiklah, pili kita periksa." Ucapnya sambil melirik Blue, Genta seperti nya mengingatnya bahwa ia pernah bertemu Blue. Tapi dimana?
Meaaww...
"Sejak kapan kamu pacaran dengan Arys?" Tanya dokter Genta
"Sejak lama."
"Bukannya Arys beberapa minggu lalu tidak memiliki pacar, lalu kenapa kamu bilang sejak lama."
"Ah itu kak Arys menyembunyikan nya dari teman-teman nya."
"Kenapa kamu memanggil nya kakak?"
"Dokter periksa saja pili, jangan ajak bicara aku."
"Nama kamu siapa?" Tanya Genta lagi. Ia penasaran bahwa Blue adalah adik temannya.
"Aku sky."
"Oh berarti memang bukan adik Arys, karena adiknya namanya Blue."
Blue terkejut karena kakaknya memperkenalkan dirinya Blue, nama yang tidak ia sukai.
"Kamu kenal Carel?"
"Tentu saja kenal, dia kan ka- maksud aku dia kan adiknya kak Arys." Hampir saja Blue mengatakan bahwa Carel kakaknya.
"Seperti nya kamu masih sangat muda."
"Aku masih sekolah, tapi sebentar lagi lulus."
"Arystan ada-ada saja, masa mau sama anak kecil."
"Memangnya kenapa kalau aku masih sekolah? Apa salah jika pacaran dengan Arys?" Tanya nya menatap tajam Genta.
"Tidak, hanya saja seorang Arystan memilih pacaran dengan anak yang masih sekolah, sulit untuk di percaya."
Blue tidak lagi menjawab ucapan Genta, ia malas berbicara dengan teman kakak nya itu.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...