Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Manja Genta


__ADS_3

"Gue bentar lagi nikah dengan Valen, tinggal nunggu ijazah agama Valen keluar dan kita akan segera melangsungkan pernikahan. Jadi sebagai penerus juga, lo harus bisa ngurus perusahaan cabang saat gue sibuk dari sekarang." Arystan tidak akan mengambil itu sendiri karena anak pertama, ia membagi semua nya dengan adiknya.


"Gue mana bisa kak, tinggal Genta aja atau Sky yang ngurus, gue mah kagak ngerti masalah perusahaan." Carel tidak ingin sama sekali mengurus perusahaan, apalagi adiknya juga tidak mungkin karena masih kuliah dan sudah bersuami sedang hamil pula.


"Perasaan papi nyuruh kamu ke perusahaan lama, gak mungkin belum ngerti apapun sampai sekarang."


"Bukan gak ngerti sih Pi, cuma Carel emang gak suka dengan bisnis gini."


"Terus maunya apa? Papi tidak mau tahu besok ada klien yang harus kamu temui, beliau adalah teman papi."


"Nah karena itu teman papi, Carel gak cocok sama dia." Ada saja alasan yang bisa menjawab papi nya.


"Sekali lagi kamu jawab dan tidak mau bertemu klien papi, besok juga kamu papi kirim ke Afrika biar main sama gajah." Papi Edward berdiri dan pergi menuju kamarnya karena mendengar ucapan anaknya yang selalu memberi alasan tidak memperdulikan teriakan Carel yang memanggil nya.


"Tega banget sama anak sendiri. Bantuin Carel mi, Carel mau lihat sabung ayam aja sambil nge band bukan berbisnis di perusahaan."


"Kalau papi kamu bilang tidak, mami ikut aja dan itu juga yang terbaik untuk kamu kedepannya. Besok kamu juga harus siap bertemu klien yang dimaksud papi, jangan kecewakan mami sama papi." Mami pat-pat kepala Carel sambil tersenyum lalu pergi untuk menemui suaminya.


"Sky," Carel meminta bantuan pada Blue.


"Ingat ya kak, Sky ngambil jurusan kedokteran yang awalnya teknik dan sangat berbeda dengan yang di harapkan. Jadi maaf Sky gak bisa bantu, karena gak ngerti apa-apa masalah bisnis." Blue tersenyum sambil mengejek kakaknya.


"Eh jangan pernah memaksa Genta, Sky gak akan bolehin itu karena sudah di putuskan sama papi." Padahal Carel belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, hanya dengan melihat suaminya saja Blue sudah mengerti arti tatapan kakaknya.


"Belum juga ngomong dek, baiklah si paling dokter. Gue ngalah aja dah disini juga jadi nyamuk, mending gue ambil berkasnya." Carel pergi menatap malas pada ke empat orang di ruang tamu, ia ke ruang kerja karena pasti sudah di siapkan di sana untuk ia persiapkan besok.


"Eh tapi sekretaris gue siapa?" Tanya Carel memutar badannya, Arystan dan Valencia saling menatap. Karena di kantor cabang sekretaris nya adalah Valencia.


"Lo sendiri bisa gak sih? Gak mungkin dong gue suruh Valen sedangkan gue aja harus ngurus segala sesuatu yang di butuhkan untuk pernikahan."


"Gue juga gak berharap Valen sih, cuma kalau misalnya gak ada yang nemenin gue setidaknya ada staff yang mau ikut gue besok."


"Kalau gitu terserah lo mau sama siapa, pilih aja yang menurut lo bisa di ajak." Setelah mendengar ucapan kakaknya Carel menuju ruang kerja.


"Gue kasian lama-lama sama Carel," ucap Genta.


"Napa lo kasian? Tumben amat biasanya juga di bully adek gue."

__ADS_1


"Sumpah lo rys, lo kira gue teman yang gimana gak ada rasa kasihan nya. Lo sendiri juga gitu, sejak kapan nyebut Carel itu adek."


"Lah babi, Carel emang adek gue kali." Blue dan Valencia mulai malas mendengar obrolan bapak-bapak ini, sangat kurang berfaedah.


"Iya gue tahu, tapi namanya gue kasian dan lo tumbenan gitu maksud gue."


"Intinya lo kasian kenapa?"


"Dia udah lama jomblo, makanya gue kasian."


"Bukan lama lagi gen, dari orok juga udah jomblo." Arystan dan Genta menertawakan Carel yang masih menjomblo.


Kali ini Blue dan Valencia benar-benar malas dengan obrolan bapak-bapak di dekatnya.


"Kak, kita keluar dulu yuk cari angin."


"Boleh." Mereka berdua berdiri dan membuat Genta dan Arystan terkejut dengan ucapan Blue selanjutnya.


"Cowok yang tadi Sky ceritain keren juga kak, bisa kali ya kita deketin." Blue tersenyum memberi kode Valencia, agar mengikuti apa yang di bicarakan.


"Kakak juga mikir gitu, kita janjian besok aja." Ucapan Valencia sedikit lebih keras agar kedua orang yang menguping mendengar.


"Valen, sini balik lagi di samping gue, kita masih banyak yang harus di rundingkan untuk apa saja yang harus di tulis di list."


Blue dan Valencia tersenyum, mereka berbalik saat Genta mulai memegang tangan Blue untuk mulai menggantikan Valencia di sampingnya.


"Gue duluan ke atas ya, kalau kalian butuh saran apapun hubungi gue sama Sky." Ucapnya membawa Blue naik setelah melihat Arystan dan Valencia mengangguk.


"Bisa biasa aja gak sih, gue cuma hamil bukan gak bisa jalan ya gen." Blue melepas tangan Genta, namun Genta tetap kembali memegang nya.


"Harusnya lo bersyukur punya suami yang baik hati dan membantu istrinya yang sedang hamil, dari pada gue gak peduli sama lo." Sudah terbiasa dengan perlakuan biasa aja, sekarang tampak aneh dengan Genta yang sangat peduli dengan Blue.


Sampai di kamar Blue, Genta mengunci pintu kamar nya.


Belum apa-apa Genta sudah memeluknya dari belakang.


"Apaan nih? Berhenti manja sama gue, gue gak bisa manjain lo."

__ADS_1


"Lo gak perlu manjain gue, gue cuma ingin peluk istri dan anak gue. Sekalian charge energy gue yang banyak berkurang seharian ini," Blue akhirnya membiarkan Genta memeluknya.


"Anak lo itu masih kecil gen di perut gue, ini namanya lo cuma peluk gue alasan aja lo ya?" Blue bertanya pada Genta namun Genta hanya mendusel di bahu dan leher nya.


"Gen udah deh gue geli, gue mau istirahat." Genta melepas nya dan menggandengnya ke ranjang lalu membenarkan guling dan bantal Blue, namun dirinya kembali memeluk Blue menenggelamkan kepalanya ke curuk leher istrinya.


"Gue yang hamil kenapa lo yang manja? Nama lo tambah NJA aja setelah Ma, biar jadi Manjagenta. Padahal sekarang gue belum mau tidur, gue mau pesan makanan." Blue memanyunkan bibirnya, Genta mendongak menatap Blue.


"Lo mau makan apa? Tapi gue pengen ramyeon malam ini." Bertanya tapi juga mengatakan jika dirinya ingin ramyeon, tidak peduli dengan Blue yang mengatakan dirinya manja.


"Tumben banget lo, mau niruin songkang segala mau makan ramyeon."


"Gue gak tahu songkang itu siapa, yang jelas gue pengen banget sampai mau ngeces iler gue." Genta membayangkan ramyeon itu sangat enak.


"Iya minggir dulu, gue mau pesan makan sebentar." Bukan minggir Genta hanya melepas pelukan di tangan Blue dan mengganti memeluk perut istrinya.


"Lepas Genta, gue gak bisa kalau lo masih meluk gue."


"Gue gak mau, jangan suruh gue lepas." Rengek nya seperti orang lain, tidak seperti Genta biasanya yang tentu saja gengsi. Namun kali ini gengsi nya sudah putus.


Blue memesan makanan dengan Genta yang terus menempel pada nya. Ia juga menghubungi asisten rumah nya jika nanti ada makanan sampai segera di bawa ke atas.


"Lo malu dikit gitu sama gue, katanya gue bukan tipe istri yang lo idamkan, terus ngapain sekarang nempel terus?" Sebelum mereka menikah memang keduanya sama-sama mengatakan jika diantara mereka tidak ada yang idaman.


"Terserah, yang penting sekarang gue pengen peluk lo. Kenapa lo wangi banget sih," ucap nya semakin menelusup kan wajahnya di dekat ketiak Blue.


Tentu saja Blue hanya diam dan membiarkan saja suaminya dari pada merengek tidak jelas.


"Jangan bilang nanti anaknya lebih dewasa dari pada bapaknya, bisa aja pas brojol malu lihat bapaknya begini."


Blue tidak ingin berpikir jauh, semoga saja tidak.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2