Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Papi marah


__ADS_3

Blue benar menepati janjinya, karena semalam ia masih sadar mengatakan nya pada Genta. Bahwa paginya Blue akan memasakkan untuk Genta.


Genta melihat Blue yang sedang memasak mengenakan pakaian kurang, ia tidak tahan untuk tidak memeluk sang istri. Persetan dengan amukan Blue nanti.



"Pagi," sapa Genta menyelusup ke leher Blue, membuat Blue membeku.


"Lagi masak apa?" Tanya nya baru Blue tersadar.


"Apaan sih lo peluk gue, lepas!" Blue kembali memasak dan menyiapkan piring, Blue menyibukkan dirinya setelah mematikan kompor. Genta hanya menatap Blue yang pergi begitu saja, karena menurutnya Blue marah ia peluk.


"Kenapa marah sih? Gue cuma peluk lo doang, gak dosa walaupun mau melakukan yang lebih." Mata Genta terus mengikuti kemana Blue berjalan.


"Gue gak marah, kaget aja. Ada om-om yang tiba-tiba peluk gue dari belakang." Padahal ia sangat marah.


"Gue masih muda Sky, umur kita cuma beda tujuh-delapan tahun dan walaupun tua sekalipun gue ini suami lo." Genta tidak terima disebut tua oleh Genta.


"Okay, lo itu dewasa, sedangkan gue masih remaja. Jangan gitu-gitu lah gen, gue gak nyaman."


"Okay deal, tapi syaratnya tidak boleh berpakaian terbuka. Harus memakai celana dan baju panjang." Genta sengaja memberikan syarat yang tidak mungkin dilakukan Blue.


"No, gue gak mau ngikutin itu." Genta tersenyum, karena memang tebakannya benar.


"It's okay, lo tinggal tanggung konsekuensinya. Gue laki-laki normal, tinggal serumah dengan istri sendiri yang berpakaian kurang bahan kayak gini. Terus gue harus anggurin aja? Oh sangat tidak bisa." Blue sangat kesal dengan Genta, tidak mungkin ia memakai gamis saat di rumah.



Genta datang memutar kursi Blue, ia melihat lagi warna kulit istri nya yang sangat putih, mana mungkin ia bisa kuat.


"Pantas aja Aaron ngejar lo, bening nya lebih dari wanita biasanya. Padahal gue udah putih, tapi lo lebih putih lagi. Gue mohon jangan berpakaian seperti ini saat dirumah atau di luar, mungkin gue masih bisa diam saja ada umpan, tapi belum tentu dengan orang lain." Blue menatap Genta, ia masih berpikir untuk merubahnya.


"Iya, makan aja lah. Nanti gue coba kalau bisa." Blue menghindar dari Genta dan menyendok makanan di depannya. Genta yang melihat itu frustasi, mana bisa saat ada ikan asin yang terlihat segar, kucing tidak datang menyergap.


Genta makan sambil terus menatap tajam Blue.


"Gue habis ini berangkat ke klinik, lo di rumah aja jangan kemana-mana." Blue hanya melirik sekilas dan melanjutkan makannya. Masakan nya makin meningkat, rasanya sedikit lebih enak dari biasanya.


Setelah selesai makan karena sudah selesai mandi, Genta pamit untuk berangkat ke klinik.


"Pulang jam berapa?" Tanya Blue.


"Mungkin habis maghrib, kenapa? Lo mau ikut ke klinik?" Genta melipat lengan bajunya.


"Nanya aja, berarti gue gak perlu masak dong."


"Tetap masak, gue makan di rumah."


"Tangan gue rusak, gara-gara masak tiap hari."


"Pahala Sky, melayani suami. Pahalanya dapat lebih besar lagi, kalau lo melayani yang lain. Setiap sentuhannya suami istri itu pahala, bukan dosa." Genta mengulurkan tangannya, Blue hanya melihat tangan Genta bingung.


"Cium lah gue mau berangkat kerja, malah dilihatin aja." Blue dengan malas mencium tangan Genta.


"Perlu cium wajah juga?" Tanya Blue nyolot.

__ADS_1


"Harusnya gitu," Genta tersenyum, namun Blue cepat berlari masuk ke dalam kamarnya.


"Awas ya, lo." Genta geram dengan Blue, harusnya memang seorang suami mencium istrinya, bukan malah di prank.


Genta langsung memutuskan berangkat setelah mengucap salam di luar pintu kamar.


"Gue ngerti gen, cuma gue belum siap. Gue belum mampu untuk bisa jadi istri yang baik, tapi gak tahu kenapa keluarga gue malah setuju." Blue memijat pelipisnya, ia merasa pusing sekarang.


"Gue mau menentang, gue hari ini harus latihan sama kak Valen. Maaf gen, tapi sore gue juga akan pulang." Blue bersiap untuk ke kantor Arystan menjemput Valencia.


Blue sudah sampai di kantor kakak nya, ia langsung masuk untuk menemui Valencia.


"Kak Valen," Blue tiba-tiba masuk melihat kakaknya yang duduk di meja kerja Valencia, sedangkan Valencia masih tetap di kursi nya.


"Ups sorry." Arystan langsung berdiri dan Valencia juga menjauh.


"Sky, jangan salah paham dulu. Kita gak ngapa-ngapain." Jelas Arystan.


"Sky tunggu di luar ya, ngapa-ngapain juga gak apa kok." Blue kembali menutup pintu nya.


"Ini gara-gara lo, rys. Sky jadi salah paham sama kita."


Blue di luar sedang mengirim pesan pada papi dan mami nya, ia mengatakan bahwa Arystan akan segera menikahi Valencia. Sebelum Arystan dan Valencia keluar, Blue sudah buru-buru pergi dari sana. Blue berencana menuju kantor papi nya, ia ingin menceritakan pada Carel dan papi Edward disana. Tidak butuh waktu lama Blue sudah sampai di kantor papi nya.


Blue masuk melihat kakaknya sedang berjalan, Blue mengenal Carel walaupun terlihat dari belakang.


"Apaan sih." Carel melepas tangan Blue.


"Kasar banget sih kak." Carel melotot kan matanya, ia menelan ludahnya.


"Maaf princess, kakak tidak sengaja. Kakak kira penggemar berat kakak."


"Udah ya, jangan ngambek. Kita naik aja keruangan kakak." Blue mengangguk dan malah menarik Carel untuk lebih cepat.


Ketika sampai di dalam ruangan nya, Blue buru-buru menceritakan apa yang dia lihat di kantor cabang milik kakaknya.


"Serius? Tapi kamu bisa saja tidak di percaya, apalagi tiba-tiba mau menikahkan mereka."


"Hanya masalah kecil, tidak perlu membuat papi dan mami percaya. Tapi buat kak Arys dan kak Valen mengaku, dengan cara- Sky tahu caranya untuk membuat mereka cepat menyusul Sky."


"Jangan bilang kamu mau jebak mereka?"


"Ssttt, tidak perlu khawatir. Mereka sudah sama-sama tua, memang sewajarnya mereka menikah. Baru setelah itu Sky jebak kak Carel." Ucapnya dengan tersenyum jahat.


"Didikan Genta memang beda, adek gue jadi seperti ini gara-gara dia." Sebelum Blue merencanakan semuanya, Carel sudah lebih dulu punya rencana.


"Kamu duduk aja dulu, kakak mau selesaikan kerja sebentar setelah itu kita sama-sama ke ruangan papi." Blue mengangguk, Carel langsung ke meja kerja nya pura-pura fokus, Blue yang memainkan ponselnya tidak sadar saat Carel mengambil fotonya.



Pakai baju ini ya teman-teman.


Carel mengirimnya pada Genta, belum di lihat oleh Genta, tapi Carel yakin sebentar lagi ada balasan.


Ting

__ADS_1


Carel tersenyum saat ada suara ponselnya, Blue melirik kakaknya yang nampak memainkan ponsel daripada bekerja, mana mungkin segera selesai.


Sky dimana? Jangan bilang ke kantor pakai baju begitu, gue udah larang dia pakai seperti itu.


Memang lagi ada di kantor nemuin gue, adik gue cantik dan seksi, tentu memperlihatkan tubuhnya yang indah. Disini juga banyak staff yang ganteng-ganteng, gimana kalau gue comblangin? Suami nya juga biasa aja.


Tidak ada balasan lagi dari Genta, Carel tersenyum.


"Gue akan lihat, apa dia kesini atau gak." Batin Carel.


"Ayo ke ruangan papi." Carel mengajak Blue keruangan papi Edward.


"Sky akan bilang ke papi, kalau kak Arys dan kak Valen akan segera menikah." Carel hanya menggeleng melihat adiknya.


Blue dan Carel sedang mengobrol bersama papi Edward, mereka bercerita tentang Blue yang akan berkuliah. Arystan datang karena takut adiknya mengadu, sedangkan Genta datang takut Carel membantu Blue dekat dengan staff.


"Eh maaf Pi, assalamu'alaikum." Genta dan Arystan tiba-tiba datang membuat mereka terkejut.


"Kalian ngapain di kantor? Arys di kantor cabang urus bukan berkeliaran, Genta juga istri kamu suruh di rumah. Papi nyuruh kamu cuti supaya berdua saja di rumah."


Blue merasa kasihan saat Genta diomeli oleh papi Edward.


"Maaf Pi."


"Sky yang salah Pi, tadi Genta sudah bilang sebelum ke klinik, kalau Sky di rumah aja, tapi Sky ada urusan."


Carel mengode papi nya, mereka tentu sudah lebih dulu punya rencana sebelum yang lain.


"Kalau gitu Sky pulang ya," Blue mendekati Genta.


"Naik apa lo kesini?" Tanya Genta.


"Taksi." Genta melempar kunci pada Carel untuk ia tukar dengan mobil iparnya itu.


"Kita pamit pulang dulu, permisi." Genta jalan lebih dulu, sedangkan Blue mengikuti dari belakang.


"Itu mereka gak apa Pi? Gimana kalau kita ikuti mereka rel." Arystan khawatir dengan adiknya, Genta bisa saja berbuat kasar dengan adik kesayangannya.


"Lo tenang aja rys, Genta tidak akan berani berbuat macam-macam."


Blue sudah di mobil bersama Genta.


"Gue gak tahu kenapa lo susah banget di bilangin, gue nyuruh lo di apartemen aja lo malah keluyuran."


"Tadinya gue tidak ada niat keluyuran, gue mau ketemu kak Valen, tapi ada sesuatu yang membuat gak jadi dan gue langsung ke kantor papi."


"Ngapain ketemu Valen? Gak bisa lewat telepon?"


"Gue mau latihan beladiri, tapi kak Valen malah berduaan sama kak Arys di ruangannya. Puas lo?" Blue menahan amarahnya, ia memalingkan wajahnya menatap ke arah luar.


Tentu saja lebih marah Genta, tapi kenapa dia marah? Bukankah harusnya memang seperti itu.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘

__ADS_1


IG : @istimariellaahmad98


See you...


__ADS_2