Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Jodoh di depan mata


__ADS_3

Sampai makan malam sejak Blue pulang dan lebam, ia belum juga keluar dari dalam kamarnya.


"Sky belum turun? Kenapa gak kalian ajak sekalian?" Tanya papi Edward, dia paling mengutamakan kebersamaan jadi jika belum ada salah satu dari mereka akan dicari.


Ketiga orang di depannya saling pandang, karena Blue sudah memberitahu mereka bahwa ia tidak bisa ikut makan malam.


"Biar mami susul ke atas Pi." Mami Fera hendak berdiri, namun Arystan menahannya.


"Sky bilang mau makan camilan aja di kamarnya, soalnya lagi mencoba diet jadi gak makan malam." Arystan menyampaikan pesan dari Blue.


"Tidak bisa, karena setelah makan ada yang mau papi bicarakan." Papi Edward beranjak dan menaiki tangga menuju kamar Blue.


"Sky, buka pintunya nak! Kamu gak mau makan? Ayo turun papi tunggu di bawah." Belum ada jawaban dari Blue, walaupun dengan bell di pintunya.


"Apa kamu ada masalah? Buka pintunya cerita sama papi."


"Sky akan turun setelah kalian selesai makan, papi duluan aja." Jawabnya di dekat pintu.


"Apa papi gak boleh masuk? Are you okay, Sky?" Papi Edward bertanya sekali lagi untuk memastikan bahwa dirinya memang tidak diperbolehkan masuk.


"I'm okay. Papi makan aja, Sky masih belajar sebentar." Padahal ia sibuk menutupi bekas lebam di matanya.


"Baiklah, papi turun. Tapi setelah papi hubungi kamu nanti secepatnya turun, ada sesuatu yang akan papi bicarakan."


"Iya Pi."


"Papi turun loh, kamu nanti turun ya."


Papi Edward turun dengan terus menatap pintu kamar Blue, ia masih terus berharap Blue akan membukakan pintu dan bercerita pada nya. Sudah lama tidak ia rasakan Blue kecil hingga remaja dan akan bertumbuh dewasa, papi turun dengan perasaan kecewa walaupun Blue akan turun setelah mereka semua makan.


Dari arah meja makan menatap papi Edward yang berjalan sendiri, papi gagal membawa Blue makan malam bersama.


"Ayo lanjut makannya, pimpin do'a." Genta memimpin do'a makan kali ini, mereka menatap papi yang terus saja murung setelah dari kamar Blue.


Setelah makan malam, papi mencoba menghubungi Blue. Ia lebih dulu menyelesaikan makan malamnya dari yang lain.


"Halo Sky, ayo turun nak! Papi akan mengatakan sesuatu pada semuanya."

__ADS_1


"Sesuatu apa Pi? Apa boleh besok atau lusa?" Blue masih menawar, karena ia belum berhasil menutupi di bagian sudut bibirnya yang robek.


"Papi ingin malam ini sudah tersampaikan apa yang akan papi sampaikan. Papi kangen saat kamu manja waktu kecil, saat kamu bercerita ketika papi pulang dari kantor. Tapi sekarang anak papi sudah besar dan papi sudah tua, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Papi hanya ingin kalian tetap seperti dulu pada papi dan mami." Papi Edward berbicara panjang lebar, ia mengeluarkan semua isi hati untuk Blue. Bahwa ia merasa kehilangan sosok Blue kecil yang dulu sering menunggu dirinya pulang dari kantor sambil bercerita.


"Tidak. Papi jangan salah sangka sama Sky, Sky turun sekarang Pi." Sambungan telepon ia akhiri, padahal bisa saja menyuruh art atau bodyguard nya naik. Namun papi lebih memilih menelepon sendiri.


Blue turun dengan celana pendek dan hoodie besar dengan penutup kepala yang ia pasang, ia menutup wajahnya sebagian.


"Kamu kenapa Sky? Kamu demam? Kenapa pakai hoodie saat cuaca tidak terasa panas sama sekali." Mami bertanya saat Blue sudah berada di bawah.


"Buka hoodie kamu, papi mau lihat wajah kamu." Blue hanya diam mematung sambil memeluk bantal sofa.


"Kamu dengar dek, ayo buka!" Arystan hanya takut terjadi apa-apa dengan Blue.


Blue dengan pelan membuka penutup kepala itu dan perlahan mendongak menatap ke semua orang.


"Oh my Gosh, kamu kenapa seperti ini nak? Ayo papi bantu membersihkan." Papi Edward sudah siap membantu Blue mencuci wajahnya.


Sedangkan ketiga laki-laki di samping dan di depannya tertawa melihat Blue.


"Tidak perlu Pi, Sky hanya- em Sky is just a make-up practice." Blue tersenyum tidak terlalu lebar, ia tidak ingin meringis merasa sakit dari sudut bibirnya.


"Sudah biasa kalau wanita dandan Pi, lagian Sky masih belajar." Padahal ia sudah ingin sekali tertawa, wajah Blue dengan blush-on tebalnya juga lipstik yang ia gunakan melewati garis bibirnya.


"Sudahlah lupakan masalah itu, sekarang ada yang mau papi sampaikan." Papi Edward melirik Genta yang tadinya tersenyum tiba-tiba terlihat gugup.


"Apa yang mau papi katakan? Setelah itu Sky akan kembali ke kamar."


"Papi akan menagih janji kamu, sebelum papi dan mami berangkat weekend kemarin kamu akan menerima orang yang akan papi berikan."


"Tapi pi, Sky akan mencari calon sendiri."


"Tidak usah repot-repot nak, papi sudah memilih seseorang yang baik untuk kamu."


"Tidak bisa, Sky harus menikah dengan calon dari Carel."


"Dimana? Papi ingin bertemu dengan orang itu."

__ADS_1


"Nunggu siang dong Pi, lagipula Sky masih baru ujian."


"Persiapan harus matang, jadi disiapkan dari jauh-jauh hari."


"Tapi Sky gak mau Pi, terus dimana orangnya?" Blue bertanya jika di jodohkan tapi belum bertemu bagaimana bisa saling mengenal.


"Orangnya ada disini." Jawab papi Edward.


"Astaghfirullah, aku gak mau sama Sky." Genta terus beristighfar, karena ia tidak mau berjodoh dengan Blue.


"Dimana Pi? Kenapa dari tadi Sky gak lihat?" Tanya nya sambil mencari seseorang.


"Orangnya ada di depan kamu." Jawab papi membuat mami Fera tersenyum.


"Papi jangan bercanda, Sky serius loh." Blue memaksa bibirnya tersenyum, di depannya adalah Genta.


"Genta adalah orang yang akan papi jodohkan sama kamu." Membuat mata semua art yang mendengar juga terkejut, apalagi dengan Blue, Arystan dan Carel.


"What? jodoh di depan mata?"


"What? I'm sure this is wrong." Blue hanya terus menggelengkan kepalanya, berharap papi Edward berbohong.


"I can't believe this, It turns out that the person I want to choose is just like papi. Carel benar-benar gak percaya kalau orang yang mau papi jodohin sama dengan yang mau Carel jodohin, yaitu Genta." Carel syok namun tersenyum setelah nya, karena sama dengan papi nya. Carel merasa bangga dengan yang akan ia lakukan benar menurut papi nya.


"I don't accept, Sky mau pilih sendiri. Sky berhak milih calon pasangan hidup Sky." Melirik Genta dengan sinis, lalu pamit dan berlari menaiki tangga.


"Lo pikir gue mau sama lo? Sorry Sky, selera gue bukan seperti lo, jis." Batin Genta kesal, ia seperti orang yang sudah menerima perjodohan dari papi, padahal dirinya juga korban. Bukan, Blue sendiri yang meminta dirinya menjadi korban. Karena Blue akan kuliah di Indonesia asal menikah dulu.


Blue mengira papi nya tidak mengizinkan, tapi permintaan nya langsung di iyakan oleh papi Edward dan mami Fera. Awalnya ia ketar ketir, namun berpikir akan mencari pasangan sendiri, tapi lagi-lagi papi yang menentukan pasangan nya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...

__ADS_1


__ADS_2