
Sharaine keluar membawa Carl dengan mengenakan kaca mata hitam nya agar tidak terlihat jika dirinya habis menangis.
"Sha, dengar gue belum selesai ngomong. Carl, kamu tidak merindukan papa?" Tanya nya di dengar dua sekretaris nya, mereka terkejut apakah yang di dengar tadi adalah benar atau salah.
"Diam disana! Jangan mengikuti gue dan Carl, gue hanya butuh waktu untuk menceritakan nya." Sharaine kembali melanjutkan jalannya bersama Carl yang terus menoleh pada Carel, karena ia memang sudah lama merindukan sosok papa, dan tiba-tiba Carel datang menemui nya sebagai papa untuk nya, tentu saja membuat nya ingin terus bersama Carel. Namun Sharaine terus mengajaknya untuk pulang saja dengan alasan sudah waktunya dan anak-anak tidak boleh di kantor karena menggangu pekerjaan orang dewasa. Untung saja Daddy nya sedang tidak ada di kantor.
Carel hanya menatap dua orang itu semakin jauh, sementara dirinya langsung mengajak Jendra kembali ke kantor. Luna masih tetap berdiri dengan wajah yang membutuhkan penjelasan dari Sharaine. Ponselnya berdering menyadarkan dirinya dari pertanyaan yang berseliweran di kepala nya, ia mengangkat telepon nya yang ternyata dari Sharaine.
"Jangan mengatakan nya pada siapapun jika kau mendengar ucapan Carel tadi."
"Baik Bu, saya mengerti." Setelah itu ia melihat ponselnya karena ternyata sudah berakhir panggilan telepon dari Sharaine.
"Alhamdulillah sih kalau ternyata bapak Carel adalah papa nya Carl, kasihan seperti nya memang Carl sangat merindukan papa nya." Luna juga turut senang jika papa dari Carl sudah tahu jika Carl anaknya.
Carel kembali ke kantor dengan pikiran kalang kabut, ia bingung jika benar Carl adalah anaknya apa yang harus ia katakan pada papi dan mami nya. Saat mengetahui Blue hamil saja Genta sudah mendapat bogeman mentah dari papi Edward, sedangkan dirinya anaknya sudah besar dan belum menikah apa tidak langsung dibunuh.
"Pak," Jendra membuka suara ingin bertanya pada Carel, namun sepertinya Carel hanya melirik.
"Diam jika sudah tahu, sebelum saya memberitahu papi dan mami jangan pernah membuka suara atau kamu dalam bahaya." Carel menatap tajam Jendra yang sedang menyetir.
"Iya pak." Carel memang seorang yang cepat dekat dengan orang, namun jika dirinya benar akan privasinya terjaga dia tetap menekankan agar orang yang mengetahui tidak membukanya seperti Jendra kali ini. Carel terlihat garang jika hanya diam sedang berpikir.
"Mama,"
"Jangan bicara pada oma atau opa, mengerti? Karena mama belum ingin semua orang tahu kalau kamu sudah bertemu dengan papa kamu." Sharaine sudah mewanti-wanti agar Carl saat masuk tidak langsung memberitahu keluarga nya.
"Carl ngerti, papa juga sibuk terus. Tapi nanti kalau kesini baru Carl ajak papa tidur bareng bertiga." Ucapnya tersenyum, sebegitu inginnya Carl tidur dengan papa nya.
Sharaine hanya mengelus wajah anaknya, ingin menangis mengingat dirinya membesarkan Carl tanpa seorang pasangan. Maka dari itu saat dirinya melihat Carel ingin sekali memberitahu, ternyata Carel tidak mengingat saat kejadian dulu di ruang musik kampus.
Sharaine turun dari mobilnya bersama Carl, Daddy nya yang baru keluar melihat anak dan cucunya karena ia akan berangkat lagi ke kantor, ia biasa makan siang di rumah jika tidak terlalu sibuk.
"Cucu opa sudah pulang, langsung istirahat di dalam sama suster ya." Carl mengangguk dan masuk membawa tas nya.
"Sha juga ikut masuk ya dad, hati-hati kalau mau ke kantor." Namun Daddy nya menghentikan Sharaine.
"Carl sudah ada suster dan Oma nya, kamu ikut Daddy ke kantor pusatnya Mr. Edward, kita baru saja bekerja sama jadi lebih baik kita bertemu lagi sambil bincang-bincang."
__ADS_1
Sharaine sambil berpikir, jika di kantor pusat bukan kantor cabang berarti tidak ada Carel disana.
"Boleh aja sih dad, Sha juga udah beres di kantor ada Luna."
"Kalau gitu sekarang kamu yang nyetir, Daddy sekalian mau hubungi Mr. Edward." Sharaine paling tidak suka jika bareng Daddy nya, harusnya dirinya yang jadi penumpang atau bawa supir, namun jika sama Daddy nya Sharaine selalu yang nyetir.
Sharaine dan Daddy nya telah sampai di kantor pusat, mereka turun untuk masuk ke dalam kantor besar milik Sagara company. Edward dan Genta juga telah menunggu di lobby menyambut kedatangan dua orang itu.
Sharaine mengikuti Daddy nya dari belakang, ia melihat Edward saja sudah merasa takut.
"Mr. David, selamat datang di kantor kami." Edward menyambut nya dengan ceria dan memeluk teman lamanya.
"Mr. Edward, terlalu formal sekali dan kenapa sampai menunggu di depan seperti ini."
"Tidak ada salah nya menyambut kedatangan seorang teman."
"Ini suami nya Sky, right?" Tanya David melihat Genta, karena ia pernah hadir di acara pernikahan Blue dan Genta.
"Iya om, saya Genta." Genta mengulurkan tangannya pada David.
"Kamu dengan siapa vid?" Tanya Edward seperti tidak asing dengan wanita itu.
"Iya, aku kira juga kamu yang bahas kerja sama, soalnya anak yang kedua ini lebih se frekuensi dengan kamu ketimbang anak ku yang pertama."
"Aku mikirnya juga gitu, Sha bisa santai bahas kerja samanya dengan kamu."
"Permisi, maaf saya terlambat." Ucap Carel membuat semuanya menoleh, termasuk Sharaine.
"Dad, seperti nya Daddy saja yang bahas lagi, Sha harus kembali ke kantor." Sudah pasti itu hanya alasan Sharaine untuk menghindari Carel.
"Sha? Seperti nya wanita ini yang pernah ke rumah." Batin Genta.
"Tadi kamu bilang aman di kantor, kita masuk saja dulu sambil lihat kantor ini kan." Daddy nya tidak enak baru sampai sudah akan pergi.
"Sha eh maksud saya ibu Sharaine, jika karena kedatangan saya membuat anda tidak nyaman, saya akan kembali ke kantor cabang." Carel sudah menatap Sharaine sejak tadi seperti tidak nyaman saat dirinya datang.
"Tidak, bukan seperti itu. Saya akan tetap disini bersama Daddy."
__ADS_1
Edward mengajak mereka masuk ke ruangan nya diatas, Sha memegang tangan Daddy nya, sedangkan Genta di samping Carel ingin meminta penjelasan.
"Gue belum bisa jelasin sekarang, jadi jangan ingin tahu dulu sebelum gue bilang sendiri." Genta melihat Carel akhir-akhir ini memang sangat berbeda, entah apa yang merasuki temannya itu pikirnya.
Genta juga menerima telepon dari Blue saat masuk lift.
"Maaf, saya harus menerima telepon dari istri saya."
"Tidak masalah, angkat saja." Jawab David, ia tahu Genta mengatakan itu takut mengganggu saat dirinya berbicara dengan Edward. Namun jika tidak di angkat akan bermasalah dengan istrinya.
"Gen, gue mau bakso di kantin kantor. Gue kesana sekarang ya."
"Diantar supir mami."
"Gue bisa sendiri, kenapa harus dengan supir mami."
"Dengan supir mami atau tidak kesini?" Ucap Genta membuat Sharaine tersenyum, ia tidak pernah merasakan itu dari pasangan.
"Iya, nanti kalau sudah sampai gue telepon lagi." Setelah itu Blue langsung memutuskan sambungan telepon nya.
"Kenapa gen?" Tanya papi Edward.
"Katanya mau makan bakso di kantin kantor, tapi mau sendiri makanya Genta bilang harus sama supir."
"Waduh ingin dekat sama suaminya sampai ingin makan bakso di kantin kantor."
"Biasa vid sedang hamil, mungkin ini sedang mengidam." David melihat anaknya yang terlihat mengingat saat dirinya hamil tanpa seorang suami, hanya meminta sesuatu dari nya sebagai pengganti. David menggenggam tangan Sharaine sambil tersenyum, Carel melihat itu merasa sakit saat dirinya tidak ada menemani Sharaine saat mengandung Carl.
Tapi kenapa dirinya tidak pernah merasa ada ingatan tentang Sharaine di kampus, dan apakah benar Carl adalah anaknya? Timbul pertanyaan itu di kepala Carel yang terasa sakit saat mengingat.
Harusnya Carel tetap ingat dengan kejadian sebelum atau sesudah ia bersama Sharaine, namun ingatan nya tidak ada bersama Sharaine. Apa salah perkiraan nya jika sebenarnya Carl memang bukan anak Carel? Apa sesuatu telah menutupi dirinya hingga bisa dirinya lupa tentang kejadian sebelumnya. Carel akan mencari tahu dan menyuruh orang suruhannya semakin mempercepat proses mengumpulkan bukti jika dirinya pernah menodai Sharaine, ia juga akan menyuruh orang suruhannya ke kampusnya, 3 sampai 4 tahun lalu sesuai dengan umur Carl.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...