
Blue tidak jadi pulang, ia mengikuti dan melihat Genta memasak di dapur.
"Lo bisa masak?" Tanya Blue membuat Genta tersenyum.
"Kalau gue gak bisa masak, siapa lagi yang mau masakin gue? Calon istri aja gak bisa masak." Genta menyinggung Blue yang tidak bisa memasak.
"Cuma masak doang mah-
"Bisa?" Tanya Genta menatap Blue.
Blue menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah memasak apapun di rumahnya sampai akan menikah.
"Sini gue ajarin masak, dan gue perkenalkan lo dengan semua bahan yang ada disini." Blue mendekati Genta, ia dengan seksama mendengar penjelasan Genta.
"Gue bisa masak, lo tunggu aja diluar." Blue mengusir Genta agar keluar dari dapur, ia akan mencoba belajar masak di apartemen Genta.
"Lo aja belum pernah masak, gimana mau sendirian di dapur." Tentu saja Genta meremehkan Blue, ia belum mengerti apa-apa. Jangankan masak, mungkin menghidupkan kompor saja Blue belum bisa.
"Lo percaya aja sama gue," ucapnya tersenyum walaupun dirinya juga tidak yakin.
"Lo mau racunin gue? Jadi ada kesempatan sekarang gue disuruh keluar, atau supaya pernikahan kita gagal dan lo pakai cara ini."
"Lo terlalu berpikir buruk tentang gue, sana keluar! Anggap aja dapur lo jadi bahan percobaan gue." Blue mengusir Genta.
"No, gue gak setuju. Dapur gue- no apartemen gue malah yang bisa kebakaran."
"Bacot ya lo, gue nyuruh lo duduk aja diluar, kenapa harus berdebat dulu sih? Bukannya orang senang mau dimasakin."
"Senang, tapi itu yang masak harus punya pengalaman dulu. Nah ini pegang pisau aja belum tentu pernah." Genta membuat Blue kesal, Blue memegang pisau nya dan memotong sayur di depannya.
"Gue memang jarang pegang pisau, tapi kalau pistol sering." Ucapnya membuat Genta menaikkan satu alisnya, dan Blue kembali menyuruh Genta keluar, ia hanya akan memasak sendiri.
"Lo bisa ngidupin kompor 'kan?"
"Gimana?" Blue cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
"Gue sekarang ngerasa takut, apartemen gue kenapa-napa."
"Santai aja gen, ajarin aja setelah itu keluar."
__ADS_1
Genta bermain dengan kucingnya di luar, Blue sambil melihat itu di pintu. Genta mengelus pili yang tiba-tiba naik ke sofa.
Hampir setengah jam Genta menunggu, ia mencium aroma masakan yang lumayan ada. Genta teriak pada Blue dan bertanya, apa sudah bisa dirinya ke dapur atau belum. Namun Blue belum mengizinkan sebelum tertata di meja.
Genta melihat pintu apartemen nya, diluar ada seseorang yang memencet bel.
Genta berjalan menuju pintu, ia melihat yang ada diluar adalah dua temannya.
"Ngapain mereka kesini? Apa tahu kalau Sky disini?" Tanyanya sendiri dan membuka pintunya.
"Lama banget buka pintunya, lo ngapain di dalam?" Tanya Carel tiba-tiba masuk.
"Sky mana gen?" Tanya Arystan yang juga ikut masuk.
Genta hanya menggelengkan kepalanya, "dari yang tertua sampai adiknya, main nyelonong aja." Genta kembali menutup pintu.
"Kak, itu Sky?"
"KELUAR!" Teriak Blue dari dalam membuat Carel dan Arystan keluar mendekati Genta dengan wajah yang masih terkejut.
"Itu Sky adik gue?" Tanya nya pada Genta.
"Dia masak?" Tanya Carel pada Arystan.
"Kakak ngapain kesini? Ayo semuanya makan! Tapi Sky cuma masak dikit." Blue mengajak semuanya makan.
"Masak dikit juga belum tentu dimakan." Ucap Genta lirih, namun masih bisa di dengar. Blue menatap tajam ke arah Genta.
Saat mereka duduk di meja makan, mereka terkejut dengan apa yang dimasak Blue.
"Sky, lo masak hampir satu jam loh. Tapi cuma telur dadar sama capcay gini?" Tanya Genta.
"Kenapa sih lo gak lihat hasilnya dan rasanya, namanya gue juga perdana baru masak di apartemen lo." Carel dan Arystan saling pandang, rasa apa yang akan mereka dapat? Dilihat dari potongan sayur di hadapannya aja tidak meyakinkan. Wortelnya seperti sosis satu dipotong empat, telur dadar yang terlihat hampir gosong, dan ada pancake tidak berbentuk seperti pancake, mereka tidak bisa berekspektasi tinggi dengan rasa makanan di depannya.
"Ayo makan! Sky lagi diet, jadi kalian aja yang makan." Blue melihat mereka bertiga ragu-ragu untuk mengambil makanan itu.
__ADS_1
Blue mengambilkan capcay dan telur dadar itu ke piring masing-masing. Ia tidak sabar dengan pujian dari mereka.
"Lo coba duluan gen, gue yakin lo bakal suka." Blue tersenyum karena bisa memasak.
Genta mencoba capcay nya, ia mengunyah itu tanpa ekspresi dengan di tambah telur dadar. Rasa asin di telur dadar, tapi tawar di capcay. Genta hanya mengangguk sambil terus mengunyah dengan nasi.
"Genta aman, berarti gue harus coba." Carel dan Arystan mencoba itu, dan mereka menatap Genta bersamaan.
"Memangnya kak Carel pikir, Sky kasih racun?"
"Bisa jadi kamu gak ada masukin racun, tapi yang dimasak jadi racun."
"Lumayan enak, tapi mungkin lebih enak lagi kalau lo juga nyicip pas lagi dimasak. Biar lebih pas aja, overall, nice." Genta makan dengan lebih banyak nasi, menurutnya jadi pas antara telur dadar yang keasinan dan sayur yang tawar.
"Nice lo bilang?" Tanya Carel. Genta mengangguk.
"Perasa Genta udah tumpul." Lirih Arystan.
"Gue coba gen, gimana sih rasanya?" Blue mau menyicipinya dari piring Genta, namun Genta langsung melahapnya dengan cepat sambil menarik piringnya.
"Katanya lo diet? Biar kita aja yang habisin." Genta menghabiskan makanan yang tersisa di piring nya.
"Gue juga tiba-tiba diet, ini mengandung banyak garam. Bukan hanya badan yang tidak terjaga, yang ada darahnya naik."
"Kalau gue dari pagi perutnya gak enak, semuanya lo aja yang habiskan gen."
"Ayo gen, katanya lo suka masakan gue."
Genta terpaksa menarik sudut bibirnya.
"Belum nikah aja gue udah tersiksa, apalagi setelah menikah." Genta melahap makanan Carel dan Arystan.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1