
Setelah usai makan malam, keluarga Sagara masih mengobrol di ruang keluarga. Saat sedang mengobrol, mereka memang sejak dulu diajarkan tidak boleh memainkan ponselnya, supaya bisa menghargai saat orang sedang berbicara.
"Genta sekarang masih mengurus kliniknya?" Tanya papi Edward.
"Iya om." Jawabnya singkat.
"Bakal lama nih, gue kan mau cerita tentang Arabella tadi di klinik." Batin Genta. Karena ia ingin bercerita pada Arystan dan Carel, ia yakin temannya juga akan tertawa jika melihat ekspresi wajah Arabella yang takut tertular virus kucing sehat nya. Kucing sangat sehat, hanya bersin saja sudah dibawa ke klinik.
"Kalau sudah ada dokter lain yang kamu percaya di klinik kamu, kenapa gak sambil cari sampingan atau bisa juga klinik kamu itu buat pemasukan kamu yang lain." Papi Edward mengajarkan Genta supaya bisa bekerja sampingan atau kliniknya sebagai pemasukan lain atau tabungan Genta.
"Belum kepikiran sampai kesana om, soalnya Genta hanya menguasai satu profesi."
"Kata siapa? Kamu saja belum mencoba sudah bilang seperti itu. Kalau ada waktu main ke kantor om, nanti bisa coba disana." Papi Edward menawarkan agar mencoba di kantor nya, bisa saja cocok jika Genta ada kemauan untuk belajar.
"Genta mana bisa berbisnis gitu om kerja di kantor, bisanya cuma periksa hewan." Jawab Genta sambil tertawa.
"Genta, kamu belum coba sudah bilang gak bisa aja. Om Edward akan bantu kamu disana. Kita sudah menganggap kamu sebagai keluarga, jadi untuk belajar tidak masalah. Kalau kamu gigih dan mau belajar sungguh-sungguh, kamu pasti bisa. Arystan juga bakalan bantu, sekalian belajar sama Carel." Mami Fera percaya kalau yang belajar sungguh-sungguh akan bisa, apalagi Carel juga akan ikut belajar di kantor Arystan. Mereka akan saling membantu di kantor pusat maupun cabang.
"Nanti Genta pikir lagi, kalau ada waktu dari klinik, Genta langsung ke kantor om." Genta akan pikir dulu, saat orang tuanya juga mempunyai perusahaan dan menolak untuk bekerja dengan nya, apa dirinya akan bekerja dengan orang lain.
Setelah lama juga mengobrol tentang Genta yang harus belajar bekerja di kantor, sekarang mereka menatap Blue yang hanya diam saja mendengarkan.
"Kamu mau kuliah dimana Sky? Sebentar lagi kamu kan lulus." Tanya papi Edward.
"Sky belum lulus Pi, gimana kalau ternyata Sky gak lulus? Berarti kan harus ngulang lagi di kelas tiga." Ucapnya membuat papi nya menatap tajam.
__ADS_1
"Coba saja kamu tidak lulus, tapi itu tidak mungkin." Jawab papinya melembut sambil tersenyum.
"Kenapa papi yakin kalau Sky bakalan lulus?" Tanya Blue pada papi Edward.
"Atau papi nyogok pihak sekolah, biar Sky lulus?" Lanjutnya.
"Kayak gak ada kerjaan aja papi, pakek nyogok pihak sekolah segala." Mereka tertawa dengan ucapan Blue.
"Kamu mau kuliah dimana? Biar papi sama mami juga kakak kamu rundingkan dari sekarang." Mami Fera ingin merundingkan nya dulu, sebelum anaknya itu di tempatkan di kampus yang Blue inginkan.
"Sky mau kuliah di luar negeri," jawabnya tersenyum melihat ke semuanya.
Mereka semua melotot kan matanya terkejut, mana mungkin mereka mengizinkan anak bungsu nya berjauhan dengan mereka.
"Mami juga setuju dengan papi, kita berdua kesini memulainya dari nol. Kita mengambil jalan sendiri saat kuliah dulu, kakek nenek kalian juga ikut kesini melihat kegigihan kita berdua. Jadi dimana pun kita belajar, itu sama saja." Mami dan papi memberitahu mereka, saat mereka dulu memulai semua bisnis itu dari nol. Namun karena mereka juga memiliki pengetahuan ilmu beladiri, setelah melahirkan anak pertama nya mami Fera memilih untuk mengajar beladiri dan berhenti dari kantor. Untuk lebih membuat badannya bagus dan alasan itu papi Edward juga setuju, bisa melihat anak dan di rumah saja tanpa bepergian jauh ke kantor.
"Kak Arys juga gak setuju kamu kuliah jauh Sky."
"Kak Carel juga gak setuju."
"Menurut kamu gimana gen?" Tanya papi Edward pada Genta.
Genta melirik Blue, "kenapa tanya Genta segala Pi?"
"Kakak Genta, dia lebih tua dari kamu." Papi Edward melirik Blue, namun tidak menatap tajam anak bungsu nya itu.
__ADS_1
Blue hanya melengos, kenapa juga harus bertanya pada Genta? Juga harus memanggil kakak padanya.
"Menurut Genta juga sama seperti om, karena sama aja ilmu nya mau kuliah dimana pun. Semua tergantung dari orang nya itu sendiri." Genta berpendapat sama seperti papi Edward dan yang lainnya, karena menurutnya ilmu yang di dapat sama saja.
"Sekarang apa yang mau kamu jawab? Semua orang disini bilang sama saja, tidak perlu ke luar negeri kalau mau kuliah." Papi Edward menanyakan pada Blue, apa jawaban selanjutnya dari Blue.
"Sebenarnya itu hanya keinginan awal Sky, setelah lulus gak tahu mau dimana. Yang jelas, Sky mau keputusan akhir yang akan Sky buat tidak boleh ada yang melarang."
"Tumben kamu jadi keras kepala, kalau seandainya papi sama mami tidak menyetujui keputusan akhir kamu, apa kamu tetap akan berangkat?" Tanya mami Fera serius menatap anak kesayangan di keluarga nya.
"Belum tahu, tapi Sky ingin apa yang ada dalam pikiran Sky. Sky gak mau di atur terus, Sky udah dewasa. Eh belum tapi hampir lah." Ucapan Blue bukan membuat mereka marah, tapi malah membuat semuanya tersenyum karena ucapan yang hampir dewasa.
"Tidak ada yang mengatur kamu, hanya ingin yang terbaik untuk kamu."
Mereka hanya ingin selalu yang terbaik untuk anak kesayangan nya, maka dari itu mereka tidak mengajarkan Blue beladiri. Karena itu hal yang berat. Namun Blue sendiri yang diam-diam belajar beladiri dengan Valencia, sejak dirinya SMP.
Dari tubuh Blue tidak terlihat oleh orang tuanya, karena selalu ia tutupi dengan kaos oversize. Tubuh orang yang berlatih berat berbeda dengan orang yang hanya mempercantik dan memperhatikan tubuhnya.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1