
Malam hari nya, papi dan yang lain akan makan malam. Hanya Blue yang tidak turun.
"Sky dimana? Kenapa lama sekali turunnya."
"Sky lagi meriang, katanya gak perlu tunggu dia. Sky cuma minta bawakan sup hangat, Genta sudah meminta art membuatkan." Mereka saling pandang, sejak kapan mereka berdua dekat? Sampai minta dibawakan sup hangat.
"Sudah tuan muda, sup nya akan saya bawa ke kamar nona Sky." Genta langsung beranjak dan meminta sup nya, kalau dirinya yang akan membawakan ke kamar Blue. Membawa dua piring yang satu untuk Blue dan dirinya. Genta berpamitan untuk makan berdua dengan Blue diatas.
"Ada apa nih? Kenapa tiba-tiba jadi dekat?" Carel berpikir yang tidak-tidak dengan adik dan temannya.
"Lo mikir apaan, hah? Mereka cuma makan, rel." Arystan tak terima jika mereka di tuduh macam-macam.
"Maksud gue ada yang lain gitu, kenapa tiba-tiba langsung bawain makanan segala. Biasanya mereka tahu sendiri kan, selalu ribut."
"Apa yang di herankan, mereka sebentar lagi juga akan menikah, jadi tidak ada salahnya belajar lebih dekat." Mami Fera melirik suaminya, ia sebenarnya juga heran.
"Sudahlah, makan saja. Sky sudah ada yang mengurus nya." Papi Edward merasa kecewa sekarang, anak perempuan nya yang selalu dimanja lebih dekat dengan calon suaminya dan tidak lagi memberitahu keadaannya pada papi Edward.
Genta sudah masuk di kamar Blue, ia meminta Blue agar tidak menguncinya. Supaya ia masuk lebih gampang saat membawa makan.
"Kenapa lo yang kesini? Gue cuma minta tolong lo bilang sama art buatkan sup, bukan sekalian lo yang bawa." Blue duduk di ranjangnya sambil bersandar.
"Mau gue suapin atau mau makan sendiri?" Tanya Genta.
"Gue makan sendiri aja." Jawabnya. Genta memberikan meja makan kecil di ranjang Blue, lalu membagi nasi yang terisi di satu piring.
"Baguslah, gue cuma nanya aja bukan mau suapin beneran. Mending gue makan sendiri, tangan lo juga masih bisa digerakin." Genta makan di kursi dan meja belajar Blue.
"Kenapa lo juga makan disini? Harusnya makan dibawah."
"Gue cuma mau lihat, lo bisa makan atau gak. Kata nya kalau lo lagi sakit, maunya tidur aja makin males."
"Kata siapa?"
"Makan aja, mumpung masih hangat. Kalau udah dingin nanti gak enak." Blue memakan nasi dan juga sup hangat yang ia minta, sambil melirik Genta yang juga sedang makan.
Setelah selesai makan, Genta mengambil piring Blue dan membereskan meja nya.
__ADS_1
"Lo balik ke kamar lo aja, biar art yang ambil piring nya." Blue merasa badannya tidak enak.
"Gue juga bisa, sekalian gue juga mau turun."
"Apa perlu gue bilang yang lain, supaya bawa lo kerumah sakit."
"Jangan! Maksud gue, biar gue istirahat dirumah aja. Tolong bilang sama papi atau mami, suruh ke sini." Blue memang dekat dengan keluarga nya, terlebih dengan papi.
Genta mengangguk dan berjalan keluar.
"Makasih ya, gen." Genta berbalik setelah Blue mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama." Jawabnya sedikit tersenyum dan keluar kamar.
Keluarga Sagara sudah selesai makan, mereka melihat Genta turun dari tangga membawa nampan.
"Genta," panggil papi Edward.
"Iya Pi." Genta menghampiri nya dengan masih membawa nampan di tangannya.
Art yang melihat itu langsung meminta Genta untuk memberikan piring kotor nya.
"Papi atau mami di suruh ke kamar Sky,"
"Ada apa? Apa sakitnya parah?"
"Tidak, Sky hanya meriang sedikit dan butuh istirahat aja."
"Ayo mi, kita ke atas." Papi Edward dan mami langsung naik menghampiri Blue, mereka khawatir anak kesayangan nya sakit parah.
"Lo gak ada macem-macem sama adek gue 'kan?" Tanya Carel.
"Maksud lo?" Tanya Genta bingung.
"Lo sama Sky berduaan di apartemen," lanjut Arystan.
Genta tertawa, "kalian mikir dong, kalau gue macem-macem sama Sky, memangnya bisa cuma sehari langsung jadi? Lagian Sky lagi dapet, kalian terlalu berprasangka buruk sama gue." Arystan melirik Carel, benar juga apa yang dikatakan Genta, tidak mungkin hanya sehari bisa langsung ketahuan.
__ADS_1
"Gue sebentar lagi mau nikah sama adek kalian, lo kapan nyusul nya rys sama Valen?" Genta malah menanyakan Arystan kapan akan menikah dengan Valencia.
"Kenapa jadi gue? Pernikahan kalian aja belum kelar, setelah itu baru nanti dipikirin."
"Sama Valen?" Tanya Carel dan Genta bersamaan.
Arystan hanya menatap mereka berdua sebentar, lalu pergi keluar.
"Yea malah pergi."
"Kamu harus ke rumah sakit, badan kamu panas Sky." Ucap mami Fera.
"Papi gendong kamu, ayo kita berangkat sekarang." Papi langsung melepas selimut Blue dan menggendongnya, sedangkan mami Fera mengikuti dari belakang.
"Gen, itu Sky kenapa?" Carel mengatakan pada Genta dan berlari menghampiri papi Edward.
"Sky kenapa, Pi?" Tanya nya, karena Blue menyelusup ke dada papi nya. Dengan hoodie dan juga celana hangat yang dipakai, membuat nya merasa nyaman. Tapi papi Edward dan mami Fera tetap kekeuh membawa nya ke rumah sakit.
"Kita kerumah sakit sekarang!" Supir rumah segera menyiapkan mobil untuk mereka, papi dan mami masuk ke mobil membawa Blue. Namun melarang anak-anak nya yang lain ikut.
"Memangnya Sky separah itu? Sampai dibawa kerumah sakit, harusnya cukup panggil dokter kerumah." Ucap Carel.
"Tadi memang lemas, tapi apakah parah? Apa sebaiknya kita nyusul mereka?" Genta melihat Blue memang lemas, namun masih mampu menghabiskan sup dan nasi yang dibagi dua.
"Tidak perlu, kita tunggu kabar dari mereka." Papi melihat Genta dan kedua anaknya khawatir, padahal memang dirinya lupa kalau bisa memanggil dokter kerumah. Namun sudah terlanjur keluar dari kamar, sekalian saja periksa dengan alat yang lebih lengkap di rumah sakit.
"Papi ada-ada aja, Sky males ketemu orang dirumah sakit." Ucap Blue di dalam mobil. Karena di rumah sakit milik keluarga nya, orang sangat menghormati mereka sebagai pemilik, dan itu membuat Blue tidak menyukai nya.
"Sudahlah, sekalian mengundang seluruh staff rumah sakit di acara pernikahan kamu." Blue hanya memanyunkan bibirnya.
"Jangan gitu dong, nanti hilang cantik nya." Mami mencubit pelan pipi Blue.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...