Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Carel dan Sharaine


__ADS_3

Carel dan Genta sudah bersiap akan ke kantor jam setengah tujuh pagi, papi masih bersantai belum mengganti pakaian nya karena sudah ada Genta yang bisa menggantikan dirinya di kantor. Mereka sarapan pagi bersama Arystan yang juga bersiap untuk pergi bersama Valencia, walaupun tidak ke kantor karena ada yang harus mereka persiapkan sebelum menikah.


"Mami, mau ikut Sky ke apartemen? Biar Genta langsung ke kantor aja bareng kak Carel."


"Lah, tadi kan gue yang mau antar dulu sebelum ke kantor." Genta ingin dirinya sendiri yang antar Blue sampai apartemen, namun Blue malah mengajak mami nya.


"Lo langsung berangkat ke kantor aja, mami juga bisa bawa mobil atau sekalian aja motor, iya gak mi?" Tanya Blue sambil tersenyum.


"Boleh, lagian pekerjaan mami juga sudah ada yang menghandle. Boleh kan Genta, mami ke apartemen kalian?" Tanya mami karena melihat menantunya melirik Blue.


"Boleh kok mi, silahkan. Genta biar sama Carel aja berangkat nya."


"Kita beda kantor ya, gue mau berangkat sendiri aja."


"Bawa mobil papi aja, nanti papi bawa motor aja udah lama juga gak bawa motor."


"Gimana kalau kita balapan aja Pi? Udah lama kita gak jalan bertiga, pakai motor masing-masing." Blue memberi saran dengan sumringah karena akan mengendarai motor nya lagi yang sudah lama Genta kirim ke rumahnya.


"Tidak,"


"No."


"Big no."


Jawaban mereka bersamaan, apalagi Genta jelas sangat melarang.


"Kenapa sih pada gak suka lihat Sky seneng, baru juga mau Testdrive mukanya udah pada berubah."


"Mami sama papi harus tahu, Sky kalau mau sesuatu ya begini, padahal untuk keselamatan dia juga." Genta sudah sering kali melihat Blue yang ingin sesuatu dengan mengatai Genta dulu, bukan karena egois namun memang sudah lama tidak ia lakukan dan itu menjadi salah satu ketakutan terbesar Genta dengan dirinya juga yang tengah berbadan dua.


Papi dan mami nya hanya menggelengkan kepalanya, jelas saja mereka tahu Blue sudah dari kecil dengan mereka walaupun tidak ingin mengandalkan keluarga nya tetap saja jika ingin sesuatu butuh dari mami dan papi.


"Mami dan papi juga tidak izinkan, sekarang Genta suami kamu dan itu harus kamu dengarkan perkataan nya. Lihat perut kamu yang mulai buncit itu! Kamu harus ingat ada janin yang perlu kamu jaga karena itu masih sangat rentan." Blue menatap perut yang sudah membuncit, ia hanya mengerucutkan bibirnya.


"Sky cuma bercanda kali mi, Genta aja yang anggap serius. Sky ingat kok lagi hamil dan akan jaga dia dengan baik." Ucapnya mengelus perutnya.


"Bercanda apaan, orang kakak tahu langsung kalau ke apartemen kalian." Carel tertawa mendengar alasan adiknya.


"Semoga aja istri kakak sama seperti Sky, kalau pun gak sama persis yang penting bisa marahin kakak kalau suka lihat orang sabung ayam."


"Semoga dapat yang seperti mami, tidak marah saat papi lihat sabung ayam." Carel ikut berdoa agar yang adiknya doakan tidak jadi.


"Mami gak marah karena juga suka nonton bareng papi."


"Kalau gitu mau kakak ajak ikut nonton."


Genta hanya menggelengkan kepalanya, bisa-bisa nya keluarga istri nya suka nonton orang sabung ayam.


Genta berpamitan karena sudah selesai sarapan, ia mencium kening sang istri lalu berangkat. Sedangkan Carel membawa mobil sendiri karena tidak jadi memakai milik papi nya, ia membawa mobil sport nya ke kantor.


Carel diberikan papi Edward nomor telepon teman yang akan mengajak kerja sama dengan perusahaan nya, namun teman papi nya juga memberikan nomor telepon anaknya. Beliau mengatakan jika berhalangan ke luar kota mendadak dan harus digantikan anaknya yang mulai merambah ke dunia bisnis mengikuti jejaknya.

__ADS_1


"Sudah disiapkan berkas nya? Saya juga sedang mempersiapkan diri karena tidak pernah sebelumnya bertemu dengan klien apalagi ini teman papi saya."


"Tidak masalah pak, saya juga sering ikut pak Arystan jika ada pertemuan, kalau bapak butuh sesuatu saya akan membantu sebisa saya."


Karena memang dia juga sekertaris namun dibawah Valencia, di kantor cabang terdapat dua sekretaris di karenakan untuk yang berada di kantor dan ikut keluar dan bisa saja keduanya, mereka kadang juga bergantian. Seperti itu di adakan semenjak Valencia mengajari Blue beladiri, Arystan sendiri yang mempercayai orang itu untuk menggantikan Valencia sementara waktu jika tidak ada di kantor.


Carel dan sekretaris nya berangkat, karena tidak bertemu di kantor namun akan bertemu di salah satu restoran.


"Daddy ada-ada aja, aku paling gak suka keluar gini apalagi ketemu sama klien nya itu teman papi sendiri. Kalau gak dia yang genit paling di jodohin sama anaknya." Dia adalah klien anak dari teman papi Edward, mereka akan bekerja sama di perusahaan, namun ia memang kurang suka bertemu diluar seperti ini.


"Sudah berapa menit kita nunggu, tapi belum datang juga tuh om-om."


"Sebentar saya hubungi lagi sekretaris nya buk, mungkin sedang terjebak macet." Sekretaris nya wanita itu mencari nomor telepon yang bisa di hubungi, namun saat sedang mencari Carel dan sekretaris nya datang.


"Selamat pagi, maaf kami terlambat karena harus menyiapkan segala hal yang di butuhkan untuk kerja sama perusahaan kami." Carel masih berdiri menunggu mereka mempersilahkan untuk duduk.


"Tidak masalah, saya hanya ingin bekerja sama dengan orang yang ontime." Wanita itu mendongak dan menatap Carel.


"Carel?"


"Sha," Carel ikut terkejut dengan wanita yang duduk.


"Anda mengenal nya buk?"


"Bapak kenal dengan anak dari perusahaan XX?" Sekretaris nya sama-sama bertanya apakah mereka saling mengenal.


"Maaf, maksud saya silahkan duduk." Sharaine adalah orang yang akan menjadi partner kerja sama perusahaan Carel.


"Bisa langsung kita mulai pak, sepertinya juga tidak butuh waktu yang lama hanya membicarakan tentang kerja sama perusahaan." Sharaine membuka suara saat Carel hanya diam saja, melihat seperti seorang yang ia kenal namun memang ia tidak mengingat nya.


"Maaf, silahkan jelaskan Jen!"


Sekretaris Carel bernama Jendra, jadi dialah yang menjelaskan semua yang harus di setujui untuk kerja sama antar perusahaan.


Sekitar satu jam mereka membahas tentang pekerjaan juga perusahaan mereka.


"Terimakasih atas waktu dan kesepakatan kerja sama nya, saya dan sekretaris saya akan segera kembali ke kantor." Sharaine sudah bersiap untuk pergi bersama sekretaris nya.


"Bisa kita bicara sebentar? Jen, tolong kalau bisa ajak mengobrol sebentar sekretaris ibu Sharaine."


"Baik pak." Mereka berdua pindah ke meja lain sedikit jauh dari Carel dan Sharaine.


"Ada apa lagi, pak?"


"Sha, jangan terlalu formal seperti itu, gue masih ingat lo pernah nyusup ke rumah 'kan?" Tanya Carel ingin mengetahui jika Sharaine yang pernah jadi asisten rumah nya.


"Kalau lo cuma mau tanya itu, maaf gue gak ada waktu."


"Sha, bentar gue perlu ngomong." Carel kembali menahan tangan Sharaine.


"Apa? Kalau gak penting banget lain waktu aja."

__ADS_1


"Apa sebelumnya kita pernah kenal? Apa gue pernah buat salah atau apa yang buat lo juga jadi marah dan mengingat nama gue."


"Lo gak akan ingat rel."


"Si, tapi lo tahu kalau gue gak ingat dan lo diem aja?"


"Terus gue harus gimana? Sedangkan lo aja gak sadar."


"Sha, maksud lo apa gue gak sadar? Apa saat gue kobam waktu awal kuliah dan lo tahu?"


"Iya," jawab Sharaine membuat mata mereka juga saling pandang.


"Apa yang terjadi saat itu? Apa yang membuat lo bertanya, apa gue ingat lo apa gak? Kenapa Sha?" Tangan Carel memegang tangan Sharaine.


"Lo gak perlu tahu rel, gue juga menganggap kita hanya rekan bisnis jadi tidak sedekat itu untuk kita saling tahu tentang kehidupan kita."


"Sha, apa gue buat salah? Please sha, kalau gue buat salah sama lo waktu itu gue minta maaf sekarang."


"Buat gue maafin lo itu gak gampang rel setelah apa yang terjadi, tapi gue mencoba untuk lupa walaupun susah." Tentu saja susah untuk Sharaine melupakan yang sangat sulit dihilangkan dari pikirannya.


"Se fatal itu sampai lo gak bisa maafin? Apa gue saat kobam pernah berbuat yang tidak-tidak sama lo?" Carel bertanya sedikit ragu, apa mungkin dirinya saat kobam melakukan hal yang menjijikan.


"Gue permisi," Sharaine langsung pergi dengan air mata mengalir di pipinya, Carel mengejar nya namun sampai masuk ke dalam mobil dan melajukan nya. Sharaine melupakan sekretaris nya yang masih mengobrol dengan Jendra.


"Ya ampun ibu Sharaine kenapa saya di tinggal, apa yang terjadi pak?" Tanya nya mengenai Sharaine yang tiba-tiba pergi.


"Saya hanya bertanya tentang hal pribadi, tapi dia malah nangis dan pergi."


"Apa yang bapak tanyakan, karena biasanya ibu hanya sensitif dengan Carl."


Carel mengernyitkan dahinya, apa hubungannya dengan yang disebut sekretaris Sharaine.


"Siapa Carl?" Tanya Carel penasaran.


"Carl Adam, ibu akan sensitif hanya saat seseorang bertanya tentang Carl Adam yaitu putra ibu Sharaine."


"Putra?"


"Benar, tolong rahasiakan ini pak karena saya sudah terlanjur mengatakan pada bapak. Ibu memang mempunyai putra namun tidak dengan suami."


"Kamu antar dia ke kantor jen, saya ke kantor papi saya untuk membicarakan kerja sama." Carel pergi meninggalkan dua sekretaris yang sama-sama kebingungan dengan bos mereka, bisa-bisa nya meninggalkan mereka seperti itu.


"Gue akan cari tahu sendiri, Sha. Apa yang lo sembunyikan."


Carel menaiki taksi untuk kembali ke kantor dulu mengambil mobil nya, karena tadi yang ia bawa dengan sekretaris adalah mobil kantor.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2