Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Pasangan aneh


__ADS_3

Blue dan Genta sudah sampai di rumah nya, Carel dan Arystan keluar, karena sudah tahu mereka datang. Blue hanya melirik kakaknya dengan tatapan tajam lalu masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga menuju kamar nya.


Daaarrrr...


Pintu yang di tutup Blue terdengar sampai ke bawah, mereka langsung jalan menuju kamar atas. Namun papi dan mami mencegah mereka dan bertanya ada apa diatas. Genta menceritakan semuanya, karena ia kasihan dengan Blue yang berpakaian kurang.


"Kamu bujuk saja, nanti juga tenang sendiri."


"Kamu maklumi saja dulu, beritahu dia pelan-pelan jangan langsung marahi dia jika salah. Sky masih remaja, jadi mungkin lambat laun akan mengerti sendiri." Mami dan papi ingin Genta sabar menghadapi anaknya yang masih remaja, karena jika terlalu memaksa untuk membuat nya berubah akan lebih sulit.


Mereka bertiga akhirnya naik untuk membujuk Blue.


"Gue masuk ke kamar gue, lo bujuk aja." Arystan yang memang tidak mau ikut campur.


"Gue juga sibuk, ada kerjaan sedikit."


Genta menghembuskan nafasnya pelan.


"Sky, gue boleh masuk? Lo mandi, ya? Gue masuk ya." Genta berhasil masuk karena pintu kamar Blue tidak di kunci.



"Astaghfirullah, itu bini lo gen. Tapi semoga iman ku kuat ya Allah." Genta menghampiri Blue di ranjang yang hanya mengenakan pakaian dalam.


"Lo udah mandi belom? Gue mandi disini ya? Karena ada kakak lo, mami sama papi disini."


"Mandi aja sih, gak perlu izin segala." Blue masih memainkan ponselnya.


Genta kembali keluar untuk mengambil baju ganti dari kamarnya, lalu mandi di kamar Blue. Padahal mandi di kamar sendiri juga bisa, tapi kalau ada yang susah, kenapa harus yang mudah.


Genta baru keluar dari kamar mandi.



"Astaghfirullah," ucap Genta yang kembali terkejut melihat istrinya duduk dengan hotpants dan bra saja.


"Apaan sih, kayak lihat hantu aja." Blue sedang melipat pakaian di masukkan ke dalam koper.


"Lo mau kemana? Sekarang udah malam waktunya tidur, lo mau kabur dari rumah?" Tanya Genta menghampiri Blue.


"Iya, gue mau kabur ke apartemen lo. Sekarang gue mau belajar mandiri, kita harus tinggal di apartemen aja gen. Boleh saja sesekali kita nginep disini, tapi rumah utamanya di apartemen." Genta menyentuh dahi Blue, ia mengira Blue sedang demam sehingga berkata tidak-tidak.


"Lo gak lagi panas, tapi kenapa pemikiran lo bagus." Blue melepas tangan Genta dari dahinya, ia kembali merapikan pakaian nya.


"Istirahat aja Sky, lo ngapain beresin sekarang, berangkat nya juga besok." Blue menatap Genta dan menghentikan aktivitas nya.


"Gue mau berangkat sekarang." Blue sudah selesai memasukkan pakaian nya, ia berdiri untuk memakai kaos oversize nya dan siap berangkat.


"Lo bercanda 'kan?" Blue menggelengkan kepalanya.


Genta hanya mengikuti Blue untuk berangkat ke apartemen.


Mereka berangkat dengan mobil Blue yang jarang sekali dipakai, Genta melirik istrinya yang hanya memakai hotpants dan kaos besarnya. Genta hanya mampu menggelengkan kepalanya.


"Kenapa istriku aneh, ujian apa yang engkau berikan ya Allah."


"Nyetir yang bener, gue colok juga mata lo." Ucap Blue dengan menatap Genta tajam.

__ADS_1


"Kurangi kata-kata kasar lo, apalagi sama gue." Blue menguap dan membenarkan duduknya.


"Jangan tidur sekarang! Sebentar lagi sampai, gue malas bangunin lagi." Akhirnya Blue tidak jadi tidur.


Mereka sampai di apartemen Genta, mengeluarkan koper nya di bantu oleh Genta.


"Gue lapar, lo mau gue masakin? Mie aja lebih cepat." Blue menawarkan Genta untuk dimasakkan mie.


"Boleh juga, gue bawa koper lo ke kamar." Blue mengangguk langsung ke dapur, Genta menuju kamarnya dengan koper besar milik Blue.


"Kok gue merasa aneh, apa Sky sudah berubah? Atau pura-pura baik? Gue yakin dia hanya pura-pura, mana mungkin secepat itu terima gue." Genta sambil duduk di ranjang dengan pikiran yang tertuju pada sifat Blue yang mulai berubah walaupun hanya sedikit.


"Gen, mie nya udah mateng." Blue memanggil Genta untuk keluar, Genta yang langsung sadar cepat keluar dari kamar.


"Maaf ya, tadi gue kira bikin telur gampang, ternyata susah juga." Blue minta maaf karena telur yang ia buat hancur.


"Tidak masalah, rasanya juga tidak akan berubah hanya bentuknya saja yang beda." Blue tersenyum dan memakan mie yang ia masak.


"Makasih ya, mie nya." Blue mengangguk.


"Tenyata ada bagusnya juga punya istri, walaupun gak bisa masak tapi udah lumayan mau mencoba." Batin Genta melirik Blue yang sedang menikmati mie rebus nya.



Pagi saat Genta pulang dari olahraga, ia melihat Blue sedang menyiapkan sarapan.


"Ya Allah Masya Allah, tapi kenapa keindahan itu jadi ujian berat untuk hamba sekarang." Genta frustasi melihat Blue yang selalu berpakaian terbuka.


"Sky," panggil nya membuat Blue menoleh.


"Lo udah pulang? Gue siapkan sarapan, kali ini gue bikin sandwich yang barusan gue belajar resepnya dari internet."


"Makasih, nanti gue cobain."


"No, gue bikin dua. Lo harus coba sekarang buatan gue, siapa tahu gue bisa buka toko." Blue duduk dengan buah dan jus yang sudah ia siapkan.


Hah? Toko? Apa Genta tidak salah dengar?


"Ngapain bengong sih, gen? Kenapa?"


"Ah iya gue mau makan, kebetulan gue lagi lapar." Genta langsung duduk dan berdoa sebelum makan.


"Not bad, it's still edible." Batinnya menganggap bahwa itu masih lumayan untuk di makan.


"Beri nilai dong, dari satu sampai sepuluh."


Genta nampak berpikir sambil mengunyah makanan nya.


"Jawab jujur apa bohong aja ya."


"4/10" jawab Genta yang membuat Blue tidak lagi bertanya.


"Gue nanti siang mau ke kampus, mau berangkat sendiri pakai ojek. Gak lama cuma bentar, palingan pulang malam."


"Memangnya udah mulai masuk? Gue aja yang antar, dan gue juga yang jemput. Lagian gue belum masuk kerja, jadi aman aja gak ada ganggu pekerjaan gue."


"Jemput nya aja lah, gue berangkat nya bisa pakai ojol." Blue memakan sandwich nya.

__ADS_1


"Lumayan juga buatan gue, nilainya harusnya 7/10. Lagian gue juga baru belajar masak untuk lo, kalau nungguin lo terus gue bakal lapar."


Genta menatap Blue yang sedang melahap makanannya, Blue wanita remaja yang memang terlahir dari keluarga yang kaya raya, tapi masih mau untuk memasakkan makanan untuk suaminya, padahal ia bisa pesan online. Karena cinta itu bisa saja timbul setelah memakan masakan nya.


"Lo kenapa harus pulang malam kalau gitu? Nanti gak ada yang masakin gue." Ucap Genta.


"Gue ada perlu sebentar, setelah dari kampus. Lagian gak usah manja, biasanya lo bisa masak sendiri."


Ponsel Blue berdering bersamaan dengan ponsel Genta.


"Siapa?"


"Papi. Itu siapa?"


"Arys." Mereka menjawab telepon nya.


"Kalian ada dimana?" Suara yang terlalu dekat akan jadi memantul, Genta memutuskan telepon dari Arystan.


"Kita di apartemen Pi," jawab Blue.


"Kapan berangkat nya? Perasaan semalam kalian pulang kesini."


"Genta, lo ngapain matiin video call dari gue?" Tanya Arystan.


"Diam rys!" Arystan langsung terdiam, karena papi ingin mengetahui keberadaan anak dan menantu nya.


"Kita berangkat tadi malam juga, karena semalam Genta mau beli sesuatu di supermarket. Jadi sekalian aja tidur di apartemen."


"Kenapa jadi gue? Lo yang mau pindah kesini sampai bawa koper segala." Genta tidak terima kalau dirinya yang dituduh ingin membeli sesuatu.


"Kalian sudah sarapan?" Tanya mami Fera mengalihkan pembicaraan, mendengar anak menantu nya akan mulai beradu mulut.


"Sudah mi, tadi Sky buatin Genta sandwich." Genta menunjukkan sandwich yang sudah tinggal dua atau tiga kali suap.


"Wow amazing, dulu masak mie instan aja kematangan. Sekarang bisa masak sandwich segala." Mami tidak percaya anaknya sudah belajar banyak.


"Tapi gue yakin rasanya biasa aja," ucap Carel.


"Memang biasa aja, orang teman kakak ini cuma kasih nilai 4/10." Blue langsung terlihat badmood.


"Gue cuma bercanda kali, masakan lo enak kok untuk orang yang baru belajar masak ini udah lumayan. Gue tambahin jadi 6/10."


"Udah gak perlu, gue mau mandi." Ucapnya pergi dan langsung masuk ke kamarnya.


"Sky," panggil Genta, namun tidak dihiraukan.


"Genta jujur malah salah, tapi bukannya empat sudah nilai yang cukup? Dari pada Genta kasih nilai satu." Mami Fera melirik suami dan anak-anak nya, ternyata menantunya juga ada sedikit persamaan dengan Blue.


"Kalian berdua gak ada yang salah, cuma kurang benar aja. Kamu bujuk istri kamu, mami matiin ya." Genta mengangguk setuju.


"Terus yang salah siapa?" Tanya nya lagi.


Disini yang salah othor nya, Genta dan Blue gak salah kok. Benar dah.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘

__ADS_1


IG : @istimariellaahmad98


See you...


__ADS_2