Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
barang koleksi Blue


__ADS_3

"Apa gak ada niatan mau lihat anak menantu kita, pa? Kita gak pernah main ke apartemen Genta, gimana kalau malam ini kita kesana?" Aletta menyarankan agar suaminya mau ke apartemen Genta. Jika suaminya mau, ia akan mengajak Arabella.


"Papa harus tanya dulu, soalnya papa hanya lebih dekat dengan Sky dari pada Genta." Aletta kesal namun ia tutupi, sepertinya semua rencananya untuk membuat Genta jatuh cinta lagi dengan Arabella itu sia-sia.


"Papa harusnya tegas sama Genta, dia anak nya papa. Bukan papa yang merasa takut dengan Genta."


"Harusnya seperti itu, tapi Genta sudah tidak menyukai papa, jadi harus gimana lagi kalau bukan mendekati istrinya dulu baru ke Genta." Papa Angga ingin dekat dengan Genta lewat Blue, istrinya selalu mendesaknya untuk ke apartemen Genta.


Aletta keluar untuk menghubungi Arabella, ia akan mengajaknya ke apartemen Genta kalau suaminya sudah mendapatkan izin.


"Halo, ada apa lagi tante nelpon Bella?" Tanya Arabella tidak suka jika tante nya itu menghubungi nya.


"Jangan marah gitu dong bel, tante nanti cuma mau ajak kamu ke apartemen Genta. Kamu mau gak?"


"Bella gak mau ikut, tante aja kalau mau kesana. Bella males sama istrinya yang sok paling muda." Arabella ingat waktu dirinya di ejek tante-tante oleh Blue.


"Ayo lah bel, istrinya itu masih anak-anak cocoknya memang sama kamu. Jadi berjuang dong buat dapatin cintanya Genta lagi. Tante dukung kamu, makanya mau tante ajak nanti kalau ke apartemen Genta. Rencana kita dari awal juga karena tante baik sama kamu, supaya bisa sama Genta." Aletta kembali mencuci otak Arabella, ia tidak mau menghancurkan sendiri orang yang membencinya.


"Bella pikir lagi nanti, hubungi aja kalau tante mau kesana siapa tahu Bella mau ikut."


"Iya sayang, nanti tante kabarin kamu lagi ya." Mereka langsung memutuskan sambungan telepon nya.


"Siapa yang membenciku, akan aku buat dia menyesal." Aletta berbalik dan berjalan masuk, ia akan terus mendesak suaminya untuk menemui Genta kalau bisa dengan alasan anak nya merindukan Genta.


Blue dari kampus menyusul ke kantor papi Edward untuk menemui Genta dengan menggunakan ojol.


Blue langsung masuk ke dalam kantor papi nya, namun di hentikan oleh resepsionis.


"Maaf kak, mau kemana?" Tanyanya menatap Blue, Blue juga melihatnya resepsionis yang tidak pernah ia lihat.


"Saya mau ketemu bapak Edward atau bapak Genta, kenapa?"


"Mohon maaf kak, mohon tunggu sebentar untuk saya bertanya. Apa kakak ini ada janji sebelumnya dengan beliau?" Tanya nya membuat Blue yang kesabaran nya setipis tisu, namun ia mencoba tersenyum dibalik maskernya.


"Saya istri bapak Genta, saya mau ketemu suami saya." Jawab Blue, malah membuat resepsionis itu tersenyum tidak percaya dengan Blue.


"Kenapa? Ada yang salah dengan ucapan saya?" Tanya Blue.


"Bapak Magenta Alvarendra maksud anda, kak? Disini ibu Della yang sering bersama beliau jika ada pertemuan, dan ibu Della bilang bahwa bapak Genta adalah calon tunangan nya." Blue hampir saja berteriak terkejut, entah ingin tertawa atau bagaimana mendengar calon tunangan? Hah?


"Sky," panggil seseorang. Blue menoleh, ternyata papi Edward.

__ADS_1


"Papi," jawab Blue dan mendekati papi Edward untuk memeluknya. Resepsionis tadi membungkuk dan terkejut melihat ternyata yang barusan adalah anak dari atasan nya.


"Kenapa tidak langsung masuk?"


"Sky mau langsung masuk tadi, tapi sepertinya ada resepsionis baru." Resepsionis nya menunduk karena takut atasannya marah dan Blue mengadu.


"Iya, yang kemarin resign mau nikah dan sekarang hanya tinggal satu."


"Mbaknya sangat ramah, tapi harus papi beritahu untuk semua orang yang bekerja disini agar tidak sembarangan memberikan informasi palsu."


"Maksud kamu apa, Sky? Apa ada yang seperti itu?"


"Tidak ada, ayo kita ke atas." Blue mengajak papi Edward untuk naik, dan melewati resepsionis yang takut Blue mengadu sesuatu hingga membuat dirinya dipecat.


Blue naik ke lantai atas bersama papi Edward, namun masuk ke ruangan Genta yang di dalamnya sudah ada Della meminta tanda tangan Genta.


"Sky," hampir saja Genta memarahi orang yang masuk tanpa permisi, ternyata istrinya.


"Tidak ada sopan santun sama sekali, main masuk aja." Genta cepat memberikan berkas yang sudah di tandatangani pada Della.


"Lo disini punya calon tunangan, gen? Gue baru datang tadi di depan, resepsionis baru itu bilang kalau bapak Magenta Alvarendra adalah calon tunangan ibu DELLA." Della langsung menunduk dengan mengepal tangannya, sedangkan Genta menatap tajam Della.


"Bukan gitu, saya hanya bercanda waktu itu dan mungkin dia serius menanggapi nya pak."


"Keluar sekarang!"


"Saya permisi." Della keluar namun matanya melirik tajam Blue.


"Kenapa lo gak bilang mau kesini? Lo naik apa dari kampus?" Tanya Genta menghampiri Blue di sofa.


"Gue naik ojol, tadinya gue mau ajak lo belanja atau makan diluar, tapi gue badmood."


"Yaudah sekarang kita makan diluar, setelah itu kita belanja. Apa lo cemburu karena Della bilang gue calon tunangan nya?"


"Bagus kalau dia dan lo juga mau, berarti gue harus siapin suami baru."


"Mulut lo minta dicium, hah? Atau mau gue sumpel pakai batu? Sembarangan banget kalau ngomong, asal sebut aja tanpa pikir dulu." Genta menutup mulut Blue dengan tangannya sebentar, Blue terlalu enteng dengan kata mengganti suami disamakan dengan dirinya mengganti pakaian.


"Harusnya yang di tutup pakai batu penyebar hoax, bukan gue. Bisa-bisanya berkata seperti itu, yang ada nanti malah gue dikira merebut milik orang."


"Sejak kapan sih lo dengerin omongan orang yang begitu? Biarin aja sih, ayo berangkat!" Genta memberikan lengannya agar Blue menggandeng tangan nya, namun Blue malah berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Sampai dibawah mereka berjalan berdampingan, karena Blue melihat dari jauh resepsionis itu dan juga Della sedang mengobrol. Blue langsung meraih lengan Genta dan menggandeng nya.


"Tadi gak mau, sekarang nariknya kuat banget seperti takut kehilangan." Blue tidak memperdulikan Genta.


"Sayang, kita mau makan apa?" Tanya Blue pada Genta, Genta langsung mengerti dengan apa yang dilakukan istrinya.


"Apa yang kamu mau aja, sayang. Semuanya aku ikut aja."


"Makasih sayang, makin cinta deh." Blue bergelayut di bahu Genta. Genta hanya tersenyum melewati orang-orang di kantor. Banyak yang sudah tahu kalau mereka memang suami istri, karena di undang di pernikahan mereka berdua.



"Ribet banget sih, Sky. Sini biar gue yang bawain, topinya pakai dulu." Blue tidak mau saat Genta akan membawakan minuman nya.


"Siapa, lo?"


"Otaknya udah geser nih orang."


"Minuman gue habis nanti kalau dibawa lo."


"Yaampun suudzan mulu jadi orang, suami lagi baik malah mikir nya gitu." Blue tetap diam melihat ke lantai atas, ia akan menuju ke tempat favorit nya.



"Jangan itu lagi, itu bukan buat anak-anak 'kan? Dirumah untuk anak dibawah umur dan juga yang cukup umur sudah banyak loh, balita dan untuk lansia ada, jangan nambah terus. Coba shopping nya baju atau tas gitu, jangan barang dapur." Genta sudah pusing dengan barang yang di koleksi Blue, istrinya itu mengoleksi gelas.


"Buat papi sama mami kalau kerumah, kak Arys dan kak Carel juga belum."


"Terus yang di rumah itu buat apa?" Genta sudah mulai panas dengan suhu derajat yang mulai tinggi dari tubuhnya yang mengeluarkan emosi.


"Buat pajangan dong gen, masa buat tempat minum semua." Genta hanya mengangguk dan akan menunggu di luar tokonya saja, sementara Blue mencari gelas untuk koleksi.


"Lama-lama apartemen gue buka toko jualan gelas." Genta memotret istrinya untuk ia kirimkan dan mengeluarkan keluh kesah nya pada kedua iparnya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...

__ADS_1


__ADS_2