Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Tidak siap menikah


__ADS_3

Arystan dan Carel mengajak Blue pulang, namun Genta menahannya agar Blue pulang bersamanya.


"Kalian bawain motor Sky, gue mau pulang bareng Sky."


"Gue gak mau, gue mau pulang sendiri." Blue tidak mau, karena ia berangkat sendiri. Blue memasang jaketnya.


"Lo tadi sudah mengiyakan mau pulang bareng gue, jadi lo gak boleh pulang sekarang." Genta menahan tangan Blue.


"Kapan gue setuju mau bareng lo? Gue mau pulang sendiri."


"Dengerin gue, lo harusnya belajar jangan menentang calon suami lo. Bahaya pakai motor sendiri, sekalian bawa pili dan Mili."


Arystan dan Carel saling pandang.


"Kamu pulang bareng Genta aja, biar kakak pulang duluan." Arystan menyetujui adiknya dibawa Genta.


"Lo jangan macem-macem sama adek gue, gen. Jangan kesorean kalau mau balik."


"Kalian kenal gue udah lama, masih aja gak percaya."


"Tapi ini karena berhubungan dengan keluarga dan Sky, kalau sampai terjadi sesuatu pada kalian." Arystan tidak mau keluarga serta adiknya jadi bahan pembicaraan orang, jika terjadi sesuatu yang tidak baik.


"Lo tenang aja rys, gue cuma mau bawa kucing kita nanti. Bahaya juga dia sering nyetir sendiri."


"Yaudah, kita akan pulang sekarang. Lo tetap harus jaga diri Sky, agak ragu kalau cowok sama cewek berdua."


"Kak Arys atau kak Carel biasa berdua sama Sky dikamar, aman aja kok."


"Polos atau bodoh tipis aja bedanya." Arystan dan Carel langsung pulang, Blue akan pulang bersama Genta.


Blue tertidur di kamar Genta, ia meminta izin istirahat.


Ponsel Genta berdering, di lihatnya nama papi Edward meminta video call.


"Assalamualaikum, halo Pi."


"Wa'alaikum salam, kamu lagi sama Sky? Papi telepon gak di angkat."


"Sky lagi istirahat di kamar, katanya ngantuk. Ada apa Pi?" Tanya Genta.


"Awalnya tadi papi dan papa kamu ingin menyuruh kamu dan Sky foto prewed, tapi kalau Sky tidur gimana?"

__ADS_1


"Genta coba bangunin Pi, soalnya dari tadi siang juga."


"Yaudah, kalau jadi nanti hubungi papi lagi ya?"


"Iya Pi." Memutuskan sambungan telepon nya, Genta langsung menuju kamarnya.


Tok tok...


"Sky, ayo keluar!"


"Kenapa gak bangun sih?" Genta membuka dengan pelan pintu kamar nya, ia melihat Blue masih tertidur menutup seluruh badannya dengan selimut.


"Sky, bangun gak lo. Sekarang udah sore, papi bilang kalau ada waktu secepatnya kita prewed sekarang."


"Apaan sih gen, pakai prewed segala." Blue membuka selimutnya, dan segera duduk terbangun.



"Ayo cepat bangun! Papi dan papa mau kita cepat kesana." Genta sudah berbalik, namun tak ada pergerakan dari Blue.


"Kalau lo gak mau biar gue bilang sama papi, kasian dari tadi papi telpon, tapi gak lo angkat." Ucapnya segera mengambil ponselnya.


"Gue gak apa, tapi besok aja ya! Gue pengen tidur lagi, pulang nanti malam atau besok ya?" Genta baru saja akan mengatakan sesuatu lagi, namun Blue sudah cepat menutup lagi seluruh tubuhnya.


Blue tidak kembali tertidur, ia hanya butuh waktu untuk ini. Blue sangat menyesal meminta menikah, tapi semua itu terlambat.


"Gue gak mau nikah sama Genta, jelas nya gue gak mau nikah sekarang. Mau jadi apa gue? Kuliah aja belum mulai, tapi harus punya suami yang seperti Genta."


Sampai malam hari, Genta tetap diluar. Ia tida mau mengetuk pintu kamar Blue, ia membuat video dari luar dan dikirim ke orang tua Blue, bahwa Blue masih belum keluar sejak sore. Mami khawatir kalau Blue trauma lagi seperti sebelumnya.


"Tapi kamar gue gak kedap suara, gak ada terdengar barang jatuh." Genta menatap pintu kamarnya.


Genta memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar nya, karena ikut mengkhawatirkan Blue yang berada di dalam.


"Sky, kamu lapar gak? Gue barusan order makanan, lo mau makan malam sama gue. Jangan terlalu diet lah, lo juga masih kurus dan isi perut lo, jangan sampai kosong."


"Lo ngapain sih di dalam? Ayo kita pulang! Lagian lo kesini malah diet, kalau lo kenapa-napa gimana? Gue dobrak pintu nya." Genta siap-siap mendobrak, tapi ia mengingat ini kamarnya dan ngapain buang-buang tenaga.


"Apa sih gen, lo berisik tahu gak? Gue gak shalat hari ini, jadi gue mau tidur terus." Blue keluar dari kamarnya menuju sofa.


"Bilang dari tadi lah, kalau lagi dapet. Ayo makan! Pesanan gue juga udah datang, perut lo juga harus diisi, tenaga lo terkuras karena lagi dapet butuh tenaga." Blue hanya mengikuti Genta ke meja makan.

__ADS_1


Blue menopang wajahnya dengan kepala, lalu kembali memiringkan kepalanya di meja.


"Sky, bangun lo! Hargai ada makanan disini." Blue memandang Genta lemas.


"Lo sakit?" Tanya Genta dijawab gelengan kepala oleh Blue.


"Gue mau di suapin," ucapnya.


"Makan sendiri lah, lo punya tangan utuh."


"Yaudah." Blue mengerucutkan bibirnya dan menatap ke samping.


"Aishh, ayo makan!" Genta menyuapi Blue yang melahapnya dengan tidak bertenaga.


"Tapi kalau tidur disini, lo mau tidur dimana?" Tanyanya menatap Genta.


"Di kamar gue lah."


"Gue gak mau tidur bareng lo, ya." Genta berhenti menyuapi Blue.


"Siapa bilang kita tidur bareng, lo tidur di sofa. Lagian mending lo pulang aja, biar gue antar."


"Malam ini aja, gue mau tidur disini."


"Tapi lo juga gak bawa baju ganti, gue gak mau pinjamkan baju gue." Genta tidak mau Blue menginap di apartemen nya, karena harus memberikan kamar nya pada Blue. Genta juga tidak mau tidur di sofa hanya karena ada Blue dan kasihan dengan nya.


"Gak perlu pakai baju, gue biasa tidur pakai dalaman aja." Jawabnya santai.


"Sky, tapi lo bisa aja mengotori sprei gue. Lo kan lagi dapet, gimana kalau bocor? Gue gak mau tahu lo harus pulang."


"Lo gak suka banget gue di apartemen lo, yaudah kita pulang." Blue berdiri berjalan keluar dan langsung memakai jaketnya, tas dan juga pili dimasukkan ke tempat nya.


Genta jadi tidak enak seperti mengusir Blue, tapi memang itu tujuannya agar Blue tidak suka tinggal disana.


"Sky, tunggu dulu!" Genta membawa makanan nya mengejar Blue yang dengan cepat berjalan keluar, ia kesal harus selalu berdebat dengan Genta. Padahal Blue hanya ingin menginap semalam. Genta membawa jaketnya cepat sambil membawa Mili, mengikuti nya dari belakang saat berjalan menuju motor, lalu naik dan Genta memberikan helm pada Blue. Blue malas untuk mengambil nya, terpaksa Genta memakaikan nya pada Blue. Setelah siap Genta melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah keluarga Sagara.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2