Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Papa?


__ADS_3

Carel hari ini meminta pada papi nya agar dia yang mengurus lagi dan akan ke perusahaan milik teman nya yang baru bekerja sama kemarin.


"Kamu pasti suka dengan teman papi, karena dia seperti kamu orangnya jadi kalian bisa saja se frekuensi." Ucap papi Edward sambil tertawa.


"Iya Pi, Carel mau cepat berangkat." Carel berpamitan dengan mencium mami nya lalu pergi meninggalkan keluarganya yang aneh dengan sikap Carel.


"Kenapa dia sedikit lebih serius setelah bertemu dengan teman papi, apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya mami pada Edward.


"Papi belum sempat untuk menanyakan pada dia, nanti coba papi hubungi saat di kantor."


Mami Fera mengangguk, Arystan juga tidak mengerti Carel tidak seperti biasanya.


Carel sudah berada di kantor nya, karena ia juga akan mengunjungi kantor teman papi Edward.


"Gue inginnya cari tahu sendiri, tapi itu akan lama prosesnya." Carel menggaruk kepalanya yang terasa pusing entah seperti gatal karena banyak pikiran.


"Pak, sudah waktunya kita meeting." Jendra datang menemui Carel yang keduanya menggantikan Arystan dan Valencia.


"Saya pusing Jen, kamu saja yang meeting."


"Maaf pak, tapi harus pemimpin perusahaan atau yang diwakilkan, jadi saya tidak termasuk menjadi orang yang dapat menggantikan anggota keluarga bapak."


"Ck, saya akan segera menyusul."


"Baik pak." Jendra keluar untuk menyampaikan nya pada orang yang sudah menunggu.


Setelah setengah jam tanpa fokus dengan meeting tersebut Carel sudah keluar dengan Jendra dari ruang meeting.


"Jen ikut saya ke kantor XX setelah jam makan siang."


"Ada apa lagi kita kesana pak?" Tanya Jendra karena menurut nya kemarin hanya untuk persetujuan antar kantor, lalu setelah nya tidak ada urusan lagi ke kantor disana.


"Sudah ikut saja, ini masih tentang urusan kerja sama."


"Baik pak."


Setelah makan siang Carel mengajak Jendra untuk berangkat ke kantor Sharaine.


Setelah beberapa menit melajukan mobilnya, mereka sampai di depan perusahaan milik teman papi Edward. Mereka berdua masuk ke dalam kantor dan langsung di sambut oleh sebagian staff yang memang sudah kenal dengan Carel pewaris kedua keluarga Sagara.


"Saya akan bertemu dengan ibu Sharaine."


"Baik, mari saya antar ke sekretaris nya, biar beliau yang menunjukkan dimana ruangan ibu Sharaine."


Sekretaris Sharaine terkejut karena tidak ada janji temu dengan Carel, namun ia tetap menyambut nya.


"Saya permisi pak." Ucap staff yang mengantar Carel dan Jendra.


"Terima kasih."


"Maaf pak, apa dari perusahaan kami ada jadwal janji? Saya selalu ingat dan mencatat list jadwal tidak ada pertemuan atau janji dengan perusahaan anda."

__ADS_1


"Saya hanya ingin bertemu ibu Sharaine, karena kerja sama perusahaan itu saya butuh membicarakan nya berdua."


"Ah, tapi maaf ibu sedang di ruangan nya bersama putranya, beliau tidak pernah mengizinkan jika orang akan menemui nya saat bersama tuan kecil."


"Apa saya terlihat peduli? Saya hanya ingin bertemu dan ibu Sharaine harus profesional saya sudah datang langsung ke kantor nya kali ini."


Sekretaris Sharaine sedikit gugup dengan Carel, karena menurut yang ia dengar Carel orang yang sangat berbeda dengan Arystan yang cool, namun kali ini ia lihat sendiri dan begitu mengerikan.


"Mari saya antar." Akhirnya dengan berat hati karena takut Sharaine marah, ia tetap membawa Carel ke depan ruangan Sharaine.


Sekretaris Sharaine mengetuk pintunya pelan, ia memberitahu jika akan masuk.


"Kalian berdua tunggu saja di luar, saya harus bicara dengan ibu Sharaine." Jendra dan sekretaris Sharaine yang bernama Luna itu saling pandang, Luna takut jika Sharaine marah karena ada Carl di dalam, sedangkan Jendra tidak tahu mau bicara apa untuk melarang atasannya.


"Sudah?" Carel melirik mereka berdua yang masih saja disitu.


"Kami permisi." Setelah melihat Luna dan Jendra pergi ia memutar kenop pintu untuk masuk ke ruangan Sharaine.


"Lama sekali hanya untuk masuk lun," ucapnya sambil terlihat seperti sedang membujuk anaknya.


"Jangan sedih lagi ya sayang, papa kamu sibuk jadi tidak bisa."


"Carl masuk Playgroup tapi tidak pernah ditemani papa, apa papa se sibuk itu?" Tanya carl karena teman-teman nya tidak hanya diantar ibunya melainkan juga ayahnya.


"Nanti sayang, kamu sabar ya."


"Lun- rel lo ngapain?" Tanya Sharaine yang awalnya ia kira adalah Luna, ia langsung memeluk anaknya saat terlihat laki-laki bule yang berdiri tak jauh dari nya.


"Sha, apa benar Carl anak gue?" Tanya Carel langsung.


"Papa nya?" Tanya Carel mendekati keduanya.


"Apa urusannya sama lo, anak gue jelas ada papa nya tapi itu bukan lo."


"Terus kenapa Carl tadi nanya papa nya kemana?"


"Carl, ini papa." Walaupun terasa lucu saat dirinya menyebut dirinya sendiri papa, Carel merasa memang ada ikatan dengan Carl.


Sharaine terus memeluk Carl tidak ingin anaknya melepas nya.


"Ma,"


"Iya sayang."


"Apa papa Carl om itu?"


Sharaine menatap tajam Carel.


"Tolong pergi rel, jangan ambil anak gue." Mohon nya sambil menangis.


"Sha, siapa yang mau ambil Carl? Dia masih anak lo ,kalau dia benar-benar anak gue, dia berhak tahu kalau gue papa nya."

__ADS_1


Carl melepas pelukannya dari Sharaine lalu menghampiri Carel dan memeluk nya.


"Papa?"


"Iya Carl ini papa." Carl memeluknya saat Carel membentangkan kedua tangan nya menunggu untuk Carl maju.


Carel dan Carl saling tatap saat Sharaine menangis.


"Ayo bujuk mama kamu supaya tidak nangis lagi."


Carl berjalan dengan lucu nya mendekati Sharaine.


"Maafin Carl ma, kalau memang papa sedang sibuk tidak masalah, Carl akan menunggu." Mendengar itu Sharaine kasihan dengan anaknya, karena belum pernah merasakan kasih sayang papa kandung nya.


"Sha?"


"Kenapa lo yakin kalau Carl anak lo? Gue bahkan belum memberitahu siapapun kalau Carl anak gue, walaupun dia panggil mama."


"Mungkin itu takdir dan ikatan batin antara anak dan papanya sudah kuat. Jadi gue tahu dengan melihat wajah Carl yang mirip dengan gue, lihat saja wajahnya tampan siapa lagi kalau bukan turunan dari gue."


"Please rel, tingkat percaya diri nya di turunkan lagi dari pada lo nyesel. Bisa aja cuma sedikit mirip dan itu juga jelas lebih lucu Carl."


"Lalu kenapa namanya hampir mirip gue? No mirip banget malah."


"Hanya nama rel, dan itu juga tidak sama semua, nama Carl adalah Carl Adam."


"Lalu nama gue?"


"Carel langit Sagara."


"Nama tengah gue jarang yang tahu kecuali keluarga gue dan teman dekat, jadi lo tahu dari mana kalau bukan dari identitas di dompet gue."


"Rel-


"Sha, kalau memang Carl anak gue, tolong Sha kasih tahu kita, gue juga akan turut membesarkan Carl sama-sama sha."


"Gue takut, selama ini aja gue tidak berani menganggap Carl anak gue di depan umum karena demi perusahaan papa. Gue takut kalau sampai juga keluarga lo tahu dia adalah cucunya apa tidak akan terjadi apa-apa."


"Apa lo secara tidak langsung mengiyakan jika Carl adalah anak gue?" Tanya Carel yang ingin tahu jelas jika Carl memang anaknya.


"Rel, lo belum menikah dan masa depan lo panjang."


"Terus masa depan lo gak panjang? Gue yang berbuat tapi gue tidak bisa bertanggung jawab, apa itu pantas sha? Menurut lo menjauhkan anak dari papanya, apa pantas? Jangan membiarkan gue berdosa karena menelantarkan lo dan Carl." Menelantarkan? Padahal menikah saja tidak, bagaimana bisa menelantarkan.


Sharaine menunduk, apa sebenarnya yang akan ia katakan.


Benarkah Carl adalah anak Carel? Bagaimana bisa Carel jadi lupa dengan kejadian malam saat dirinya merenggut kesucian Sharaine.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘

__ADS_1


IG : @istimariellaahmad98


See you...


__ADS_2