
Blue bangun lebih dulu, ia merasa dirinya memeluk Genta dengan cepat ia melepas nya lalu bangun dari tidur untuk mandi.
Genta melirik Blue yang berjalan ke kamar mandi, ia bangun lebih dulu dari Blue, namun karena Blue memeluk nya ia pura-pura tidur sampai Blue bangun lebih dulu.
Setelah dari kamar mandi Blue melihat Genta sudah bangun, jadi dia langsung mengambil mukena dan duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya. Genta melirik Blue sebentar, lalu ke kamar mandi dengan celana pendek nya.
"Kenapa jadi canggung gini sih, biasanya juga biasa aja ribut aja." Blue sambil memasang mukena nya menunggu Genta dari kamar mandi, menggelar sajadah untuk Genta dan dirinya. Menyiapkan pakaian untuk Genta shalat.
Genta langsung memakai pakaian yang disediakan Blue, lalu shalat subuh bersama Blue. Setelah selesai mereka berdoa bersama, lalu Blue mencium tangan Genta.
Blue melepas mukena nya, dan keluar menuju kamar Valencia. Genta hanya melirik saja istrinya keluar.
"Kak Valen, udah bangun belum?" Ucap Blue dari luar.
"Udah Sky, masuk aja." Sahut Valencia dari dalam.
"Kak Valen gak ada baju ganti lagi? Sky ambilin di kamar dulu ya."
"Iya, masa gue pakai baju Genta." Blue tersenyum dan menyuruh Valencia menunggu, Blue akan mengambilkan baju ganti untuk Valencia sekalian untuk berangkat ke kantor.
Blue masuk ke kamarnya, melihat Genta sudah siap dengan setelan jas nya. Sebelum Blue kembali ke kamar Valencia, ia juga mengganti pakaian nya biar sekalian berangkat ke kampus.
"Lo ngapain bawa baju dua? Satunya pakai rok mini segala."
"Ini buat kak Valen, misi selanjutnya untuk kak Arys terpesona." Blue tertawa dan keluar dari kamarnya dan memberikan nya pada Valencia.
"Kamu ngapain ngasi kakak baju begini, celana aja Sky."
"Baju ke kantor cuma seperti ini, yang lain celana jeans kak, gak cocok dong buat ke kantor." Akhirnya Valencia setuju untuk mengenakan pakaian yang diberikan Blue, karena dirinya juga tidak membawa baju.
"Gen, kalau udah siap ayo turun sarapan."
"Sudah siap dari tadi."
"Perfect. Suami ke kantor, istri ke kampus." Blue tertawa kecil lalu keluar lebih dulu, Genta juga ikut tersenyum mendengar Blue mengatakan suami dan istri.
Mereka semua sudah ada di bawah, namun menunggu Valencia belum juga turun.
"Kamu jemput Sky, seperti nya dia malu."
"Malu sama pakaian yang Sky pilih mungkin, karena bukan style kak Valen."
"Sky jemput ke atas." Namun saat Blue akan naik, Valencia sudah turun.
Nah seperti ini.
Valencia terus menarik rok nya kebawah.
"Wow kak Valen, cantik banget." Mereka semua menatap Valencia, hanya Genta yang sekilas lalu menunduk. Carel dan Blue sengaja melihat Arystan yang menatap Valencia tidak berkedip.
"Papi, awas yang disebelahnya kesambet." Blue sengaja menggoda Arystan, lalu kembali duduk di dekat Genta. Carel juga duduk di sebelah Blue, sedangkan memilihkan tempat duduk untuk Valencia di dekat Arystan.
__ADS_1
"Selamat sarapan, makan yang banyak sebelum berangkat kerja." Mereka mengangguk dan mulai mengambil makanan.
"Lo mau makan apa?" Tanya Blue pada Genta.
"Roti aja."
"Cie yang biasa di ratukan, sekarang merajakan. Kamu mau makan apa, princess?" Tanya mami Fera.
"Nasi dong, kalau di apartemen ribet masak nasi goreng, jadi selalu Sky masakin sandwich buat Genta." Blue diambilkan nasi goreng oleh mami Fera dan lauk pauk yang lain.
"Kasian banget Genta, pantas aja jadi terbiasa makan roti." Ucap Carel.
"Bukan gitu, Genta pagi memang sering makan roti, karena siang sudah makan nasi." Genta melirik Blue, karena dia juga menghargai apa yang dimasak oleh Blue.
"Sky juga masih belajar kok, jadi nanti tiap hari akan Sky masakin beda-beda. Beda dengan kak Valen yang udah jago masak, jadi nanti kak Arys gak seperti Genta yang tiap pagi makan roti."
"Kamu bisa masak, Valen?" Tanya mami Fera.
"Bisa Bu, karena sudah terbiasa tinggal sendiri mau makan sesuatu harus bisa masak." Arystan tersenyum mendengar ucapan Valencia, mami dan papi juga tersenyum dengan calon mantu yang mandiri.
"Memang sebagai anak cewek harus bisa masak, biar suaminya bisa makan yang beda tiap harinya."
"Wah saya tersinggung." Ucap Blue sambil melahap makanannya. Mereka tertawa mendengar ucapan Blue.
Setelah sarapan, mereka pamit untuk berangkat. Blue dan Genta sekalian pamit pulang.
Genta melirik pakaian Blue, walaupun panjang tapi tetap saja di bagian dada terlihat turun karena miliknya.
"Ya ampun gen, cuma begini doang." Blue tertawa sambil membenarkan pakaiannya.
"Cuma? Gue sebagai suami lo gak izinkan pakaian yang memperlihatkan dada seperti ini."
Blue langsung mengambil jaket miliknya di belakang.
"Begini salah, gitu salah." Blue melirik Genta, begitu juga Genta yang memperhatikan Blue memakai jaket. Lalu melajukan mobilnya untuk menuju kampus untuk mengantar Blue.
"Cuma nya, cuma gue yang bisa lihat dan miliki semua yang ada di tubuh lo." Batin Genta melirik Blue yang hanya memanyunkan bibirnya.
Genta mengantar Blue sampai kampus, lalu pergi berangkat ke kantor.
Setelah selesai sekitar jam dua sore, Blue merasa tidak enak badan. Ia menelpon Genta menyuruh cepat untuk menjemputnya. Blue menunggu sekitar sepuluh menit an, Genta sudah datang untuk menjemput Blue.
"Lo kenapa pucet, Sky?" Tanya Genta melihat Blue yang terlihat pucat.
"Gue gak apa, cuma kecapean aja mungkin." Genta mengecek suhu kepala nya yang sedikit hangat, langsung melaju pulang ke apartemen.
Blue keluar dari mobil langsung menuju kamarnya dan melepas tas dan juga baju, lalu tidur tanpa membersihkan tubuhnya setelah dari luar.
Genta menghubungi Carel karena adiknya saat ini demam.
Genta melihat Blue di dalam kamarnya sedang tertidur pulas, ia hanya menggelengkan kepalanya melihat Blue seperti itu.
Carel sudah datang ke apartemen untuk melihat adiknya, namun Genta melarang karena mengatakan sedang istirahat.
__ADS_1
"Gue lagi buat sausnya, emang sengaja biar lo buat pasta nya."
Blue keluar dari kamarnya sudah mengenakan kaos besar nya. Ia melihat Carel sedang memproses pasta menyiapkan ke dalam piring.
"Loh apaan nih? Ngapain kakak disini? Buat apa sih kak?" Tanya Blue mendekati kakak nya.
"Kakak dan Genta lagi main, biasa lah buat princess." Blue hanya menguap dan duduk bersender.
"Ngapain keluar sih, lo lagi gak enak badan." Ucap Genta.
"Terus makanan nya buat siapa, kalau bukan buat Sky?"
"Buat kita bagiin ke kita berdua juga." Carel tertawa melirik Blue.
Bel apartemen Genta bunyi, tandanya keluarga nya sudah pada datang.
"Itu orang-orang yang mau kita sedekahi." Ucap Carel berjalan menuju pintu.
Blue hanya duduk memegang kepalanya yang sedikit pusing.
"Kenapa pada kesini?"
"Memangnya tidak boleh kami kesini?"
"Sayang, kamu demam lagi? Kita ke rumah sakit ya?" Mami dan papi langsung menghampiri Blue. Arystan juga khawatir dengan adiknya.
"Kalian makan dulu, Sky gak apa kok." Blue malah ingin muntah karena masuk angin.
"Sky," Genta mengikuti Blue ke wastafel.
"Apa jangan-jangan?" Papi dan mami sudah senyum-senyum, namun Carel dan Arystan hanya masuk angin, karena Blue belum diapa-apain Genta dengan alasan nunggu semester genap.
"Gue masuk angin deh, Sky mau di suapin dong." Mereka sama-sama ingin menyuapi Blue, sampai bingung Blue mau ambil dari sendok siapa.
Genta yang menyuapi Blue, ia hanya mengunyah sambil memejamkan matanya.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya?" Tanya papi ingin anaknya dirawat.
"Gen, gue gak mau ke rumah sakit." Blue malah meluk lengan Genta, membuat Carel dan Arystan melengos.
"Iya, tapi kalau tambah parah ke rumah sakit." Papi Edward menatap tajam Genta.
"Biar disini dulu Pi, kalau nanti makin parah baru ke rumah sakit." Akhirnya keluarganya mengiyakan Blue di rumah saja, dirawat oleh Genta yang juga seorang dokter, walaupun dokter hewan.
Hihi...
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...