Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Mengakui


__ADS_3

Carel mengumpulkan seluruh keluarganya termasuk Genta dan Valencia yang akan jadi kakak ipar nya, kali ini ia merasa gugup karena sudah melewatkan beberapa hari untuk melakukan tes mengenai dirinya dan Carl, ditambah di depan orang tuanya yang mempunyai tatapan tajam seperti papi Edward membuat Carel menciut untuk bercerita.


"Kita sudah berkumpul, apa lagi yang kamu tunggu?" Tanya mami Fera.


"Mi, sebelum Carel bicara kalian harus janji dulu untuk tidak akan marah." Mami Fera melirik papi Edward.


"Kesalahan apa yang kamu buat, hingga akan membuat kita semua marah?" Tanya papi Edward sedikit menelisik Carel, beliau menatap tajam kearah anak keduanya itu.


"A-nu maksudnya Carel ada mau bicara." Genta dan Arystan saling pandang, karena biasanya cerita sama mereka berdua atau Blue, namun kali ini ia hanya pendam sendiri dan yang pasti Jendra yang mengetahui.


"Bilang sama gue dulu, kalau lo gak berani sama papi dan mami." Arystan ingin mendengar apa yang akan adiknya ceritakan.


"No, he must speak gently in front of all of us." Ucap papi Edward dengan tegas.


Carel sedikit gemetar dengan tangan yang ia kepal erat untuk menahan kegugupan di depan semua orang.


"Carel mohon, kalian berjanjilah, jangan marah." Keluarga nya bingung dengan Carel yang terus meminta agar keluarga nya tidak marah saat dirinya memberitahu nya nanti.


"Okay, papi janji tidak akan marah." Edward melirik istrinya agar cepat selesai menurut nya.


"Cepat katakan sebelum papi kamu berubah pikiran, kita juga tidak akan marah jika papi kamu tidak."


"Janji ya mi, Pi?" Carel semakin membuat yang lain bingung.


"Mungkin Carel tidak mau bicara, lebih baik papi pergi main golf." Papi Edward berdiri hendak berjalan.


"Carel sudah punya anak." Ucapnya tiba-tiba membuat papi Edward menatap Carel.


Bukannya marah papi Edward malah tertawa.


"Kalian percaya? Jangan bikin lelucon tidak jelas seperti ini, apa karena kamu juga akan menikah makanya kamu prank kita semua?"


"Carel sedang tidak bercanda, Carel sudah punya anak, dia namanya Carl."


Mami dan yang lain terkejut kecuali Genta yang tidak terlalu, karena ia sudah tahu siapa wanita itu.


Tanpa aba-aba papi Edward mendekati Carel dan memberikan Bogeman kecil, jika itu benar terjadi kenapa anak keduanya baru menceritakan sekarang.


"Stop Pi, stop!" Mami melerai karena Bogeman kecil yang diberikan papi Edward sebelumnya itu hanya pemanasan, setelahnya beberapa kali bertubi-tubi.


"Siapa? Berani kamu sekarang berbohong."


"Tapi Carel tidak berbohong Pi." Jawabnya dengan memegang wajahnya, ia berdiri di bantu oleh Arystan dan Genta.


"Masih berani jawab kamu."


"Papi tadi janji tidak marah, kenapa sekarang memukul Carel seperti ini." Arystan menyuruh Carel untuk diam jangan melawan.


"Papi hanya berjanji tidak marah, bukan tidak memukul mu." Papi Edward kembali ingin memukul Carel, namun Genta serta Arystan menengahi agar tidak lagi karena bibir Carel sudah luka.


"Siapa wanita yang kakak hamili, kalau kakak sekarang sudah punya anak? Jangan prank sembarangan kalau tidak mau babak belur sama papi." Blue bertanya karena melihat kakaknya sudah banyak luka.


"Nanti kalian akan tahu, Carel akan coba menghubungi nya." Carel mengambil ponselnya.


"Jadi kamu benar-benar menghamili seseorang?" Tanya papi dengan amarah, sedangkan mami Fera syok dengan yang diungkapkan anaknya.

__ADS_1


Valencia mendekati Fera yang tidak percaya anak keduanya itu telah menghamili anak orang.


Carel menghubungi Sharaine, namun tidak diangkat nya.


"Mungkin dia sedang di perjalanan, kita tunggu sebentar lagi."


"Minggir kalian berdua, papi akan buat dia babak belur dia."


"Papi, stop! Kita tidak tahu kejadiannya seperti apa, jadi jangan mengambil kesimpulan sendiri dan membuat Carel luka seperti ini, kita tunggu saja siapa wanita itu." Arystan kasihan dengan adiknya yang sudah luka-luka di bagian wajahnya.


"Maaf tuan, nyonya. Ada seorang wanita dengan anak kecil di luar, saya izin dulu sebelum mempersilahkan masuk." Seorang art meminta maaf karena telah lancang masuk ke ruang keluarga karena ada tamu. Papi Edward duduk sambil tangannya ia kepal erat memukul meja.


"Suruh masuk saja mbak, bawa mereka kesini." Blue yang angkat bicara karena semuanya hanya diam.


"Baik nona."


Art tersebut keluar untuk menemui tamu tersebut lalu akan membawanya masuk ke ruang keluarga.


Carel akan ikut keluar, namun papi menyuruh nya untuk duduk. Mereka tidak berani jika papi Edward sudah marah.


"Permisi tuan, nyonya. Mereka sudah disini." Art itu menyuruh tamunya masuk, tapi masih saja ia terhalang dinding tidak mau memperlihatkan dirinya. Keduanya merasa takut, untuk menemui anggota keluarga Sagara.


"Masuk sebelum aku yang menyeretmu, sampai kapan akan berlindung di sana." Papi Edward sudah memuncak emosi nya, di tambah yang di tunggu tak kunjung juga masuk.


Sharaine masuk perlahan, sedangkan Carl bersembunyi di belakang nya.


"Sha?"


Valencia terkejut saat tahu itu adalah Sharaine, teman nya juga saat di kampus dulu walaupun akhirnya dihasut oleh Arabella dan tidak lagi berteman dengannya.


"Valen," ia juga terkejut ternyata Valen adalah calon istri dari Arystan, kakak dari Carel.


"Sharaine? Putri sahabat ku, David?" Papi terkejut sama seperti Valencia.


"Kak Valen kenal?" Tanya Blue.


"Iya, dia teman kakak." Sharaine menatap Valencia sambil berkaca-kaca, Valencia masih menganggap dirinya teman sampai saat ini.


"I-iya, saya Sharaine pak." Sharaine baru menjawab pertanyaan papi Edward.


Carel berdiri menghampiri Sharaine dan Carl yang masih bersembunyi di belakang mama nya.


"Sayang, jangan takut. Disini adalah keluarga papa, nanti papa kenalin satu-satu." Carl memiringkan kepalanya untuk melihat anggota keluarga papa nya.


"Kemarilah! Aku adalah tante mu, dan di perut tante ada adik bayi calon sepupu kamu." Blue tersenyum menatap wajah lucu Carl.


"Sha, duduklah! Jangan takut disini, bawa Carl juga." Carel mendekati anaknya dan menggendongnya, namun Carl kembali bersembunyi di leher papa nya.


Mami Fera berdiri ingin mendekati Sharaine, namun Carel menghadangnya khawatir mami nya akan melukai nya.


"Kenapa kamu menghadang mami? Mami hanya ingin mengajaknya duduk bersama Valen juga." Carel menatap Sharaine, ia mengangguk agar Sharaine ikut dengan mami nya.


Lama dengan kecanggungan dan papi Edward yang masih syok dengan wanita rekan kerja anaknya yang ternyata ibu dari anak Carel yang berarti cucunya.


"Papi bingung dengan semua ini, bagaimana bisa sampai selama ini kamu baru memperkenalkan Sharaine dan Carl."

__ADS_1


"Carel juga baru tahu kalau Carl anak Carel Pi."


Carel menceritakan semua yang terjadi di kampus, bisa-bisa nya setelah melakukan itu dirinya malah hilang ingatan. Hingga saat ini dirinya sebenarnya tidak ingat apapun, kecuali melihat bukti dan tes DNA yang ia lakukan.


Mami Fera menangis memeluk Sharaine, bagaimana ia menjalani kehidupan nya selama ini tanpa seorang pasangan atau suami yang membantu nya membesarkan anaknya seorang diri, selain dari Daddy dan mommy nya.


"Maafkan anak mami, mami ingin menyalahkan nya tapi dia tidak sadar dengan yang di lakukan apalagi setelah itu Carel kecelakaan membuat nya hilang ingatan. Mami tidak membenarkan perbuatan nya yang bejat itu, tapi mami mohon menikahlah dengan Carel nanti setelah pernikahan Arystan dan Valencia selesai. Kita juga akan membuat pesta besar, kasihan Carl jika hidup sampai besar tanpa seorang papa." Sharaine menatap Carl yang setia di pelukan papa nya, ia melihat kearah Arystan dan Genta yang juga ia tahu walaupun tidak kenal, serta Blue. Terakhir ia lihat papi Edward yang terus menatap Carl.


"Sha ingin membahagiakan Carl, tapi Sha takut dengan Daddy dan mommy tidak menyetujuinya jika tahu Carel adalah papa dari Carl. Karena memang selama ini Sha juga menutupi siapa papa kandung Carl."


"Tenang saja, papi yang akan mengurus semuanya, kalian hanya akan tahu beres nanti. David adalah sahabat papi, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan."


"Carel, apa tidak sakit seperti itu?" Tanya mami Fera.


Sharaine tidak enak dengan keluarga Carel karena Carl membuat Carel sakit. Ia melihat wajah lebam Carel, ia ingin mengobati nya namun takut dengan semua orang.


"Carl, papa sakit nak. Kamu lihat wajah papa luka seperti itu, sini duduk sama mama." Carl mendongak melihat papa nya, ternyata wajahnya luka-luka dan bibirnya berdarah.


"Siapa yang melukai papa? Biar Carl hajar balik orang itu, berani sekali melukai wajah papa." Mengelus wajah papa nya lembut, sedangkan Sharaine sudah tahu siapa yang melakukan nya.


"Coba kesini dulu, kakek ingin melihat wajah lucu cucu kakek." Carel mengangguk menyuruh mendekati papi nya.


Carl turun dengan sedikit takut, ia berjalan sambil dengan melirik mamanya yang tersenyum.


"Nama kamu Carl?" Tanya Edward.


"Carl Adam."


"Wah nama yang bagus, panggil aku kakek dan itu adalah nenek." Papi Edward menunjuk istrinya.


"Kamu ingin menghajar orang yang melukai papa mu?" Tanya papi Edward dan di angguki Carl.


"Maka hajarlah sekarang, karena kakek yang melukai papa mu." Carl hanya memandang Edward, lalu tangannya tergerak untuk menyentuh wajah Edward.


"Ajari Carl melukai orang, agar saat disekolah tidak ada yang berani membully ku dan mama karena tidak punya papa." Edward menatap Sharaine yang berkaca-kaca dengan ucapan anaknya.


"Kakek akan ajarkan, tapi tidak untuk melukai sembarang orang, apalagi kamu masih kecil. Lagipula sekarang keluarga kamu sudah lengkap Carl, ada mama dan papa, tante dan om yang banyak, kakek dan nenek."


"Oma dan opa?"


"Iya itu termasuk." Edward gemas dengan cucunya yang baru ia ketahui itu, semua orang juga ikut bahagia apalagi Sharaine yang diterima baik disana. Saat yang lain asyik main dengan Carl, Sharaine mendekati Carel untuk memberikan P3K nya agar Sharaine yang akan mengobati luka di wajah nya.


"Terima kasih, karena sudah mau merawat Carl dan mau menemui keluarga gue."


"Gue cuma ingin Carl tahu keluarga papa nya."


"Bukankah sebentar lagi juga keluarga mu?" Carel tersenyum membuat Sharaine menekan luka di bibir nya.


Dengan kuat Carel teriak karena sakit, semua orang melihat kearah mereka yang ternyata sudah berduaan.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2