Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Nasi nomor satu


__ADS_3

Arystan mendekati pintu kamar Carel, ia ingin meminta sesuatu pada adiknya. Namun Blue keluar dari kamarnya dan menghampiri Arystan lalu bertanya.


"Ngapain kak?" Tanyanya.


"Sky, kamu turun duluan. Kak Arys ada urusan bentar sama Carel."


"Urusan apaan? Kenapa Sky gak boleh tahu?" Tanyanya masih menunggu.


"Bukan urusan anak remaja, dan ini urusan cowok."


"Oh oke." Jawab Blue langsung turun lebih dulu. Arystan melihat Blue sudah turun tangga menuju meja makan, lalu kembali menatap pintu.


"Carel, lo ke kampus kan?" Tanya Arystan mengetuk pintu kamar Carel sambil memencet bel kamar.


Carel membuka kamarnya dengan masih menggunakan celana pendek dan kaos oblong rumahan yang dipakai adiknya tadi saat tidur di kamarnya.


"Kenapa lo belum siap juga?" Tanya Arystan yang melihat adiknya belum siap ke kampus.


"Gue hari ini gak ada kelas, ada apa? Tumben nyari gue, biasanya langsung turun sarapan tanpa nunggu gue."


"Gue ada perlu, makanya gue kesini temui lo. Lagian kenapa belum mandi sih? Ini udah jam enam pagi rel." Menunjukkan jam di tangannya.


"Gue tahu, dan memang sengaja tidak mandi karena tidak ke kampus hari ini."


"Jorok bau jigong, Sky aja udah rapih dan siap berangkat ke sekolah."


"Terserah gue sih rys."


"Kakak, panggil gue kak Arys."


"Iya terserah gue kak Arys. Lagian ada perlu apa sih, cepat bilang gue mau sarapan."


"Gue mau minta nomor ponsel Valencia, gue ada perlu penting sama dia." Ucap Arystan membuat Carel menyipitkan matanya mencari tahu, apa sebenarnya yang kakaknya inginkan. Padahal sebelumnya Arystan tidak menyukai Valencia, tapi kenapa sekarang malah meminta nomor ponsel Valencia.

__ADS_1


"Lo jangan berpikir macam-macam, gue cuma ada urusan dikit sama Valen."


"Lo mau ngapain sih kak? Lo jangan aneh-aneh deh. Valen udah baik sama Sky, dia bantuin Sky untuk berlatih."


Arystan mendorong dahi adiknya dengan jari telunjuk, "Lo mikir apa? Kakak lo itu gue, bukan Valen. Jadi percaya aja sama gue. Sini mau nomor Valen!"


"Bentar, hp di dalam."


"Cepat! Gue mau sarapan terus mau ke kantor."


"Udahlah minta, banyak maunya juga." Carel mengomel sambil masuk lagi ke kamarnya mengambil ponselnya.


"Ingat! Gue lebih tua dari lo, gak usah protes."


"Iya yang sudah tua." Teriaknya.


"Den, dipanggil bapak sama ibuk disuruh cepat sarapan." Ucap salah satu art nya.


"Iya bi, aku sama Carel akan segera turun. Tolong bilang sama mereka!"


"Siapa kak?"


"Ayo cepat turun! Mana nomor nya? Nanti mami sama papi marah gimana?" Arystan tetap takut dengan orang tuanya, ia tidak ingin jika mereka sudah marah bukan memakai kekerasan, namun akan ada hukuman lain.


"Sudah gue kirim, tinggal lo hubungi nomor itu. Tapi pesan gue jangan macem-macem sama Valen."


"Kita turun aja, lo kenal gue dan gak akan macem-macem." Mereka berdua turun menuju meja makan.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa Sky bilang Arys ada urusan dengan Carel dan itu urusan cowok." Ucap papi nya saat sudah melihat anaknya menarik kursi.


"Ada sedikit urusan pi sama Carel, biasa lah anak muda."


"Lah kan Sky juga muda."

__ADS_1


"Cowok Sky, memangnya kamu cowok?" Tanya Arystan.


"Kamu masih tanya adik kamu ini cowok apa cewek? Memangnya gak kelihatan kalau dia cantik seperti ini dan girly." Ucap mami nya membuat Arystan dan Carel terdiam.


"Sudah lah mi, di depan makanan jangan ngomel sebaiknya kita sarapan dulu." Papi Edward menyuruh istrinya tidak mengomeli anaknya, padahal dia yang awalnya memancing.


"Mau sarapan apa rys? Carel?" Tanya papi nya, karena Blue sudah di ambilkan oleh mami Fera.


"Kita ambil sendiri aja pi, papi makan aja."


"Tapi tolong ambilin nasi dikit pi." Arystan menyodorkan piringnya.


"Katanya mau ambil sendiri?"


"Hehe nasi nya di dekat papi, jadi tolong ambilkan." Arystan tersenyum menatap papi nya.


"Carel juga pi."


"Ini anak sudah indonesia sekali, makan roti dong bukan nasi."


"Roti bukan makanan pi, tapi cemilan. Kita gak kenyang cuma makan roti."


Papi Edward memberikan sepiring roti yang sudah di siapkan art rumahnya.


"Makan semuanya dan kalian akan kenyang."


"Berbeda dengan nasi pi, nasi tetap nomor satu di hati."


"Baiklah." Jawab papi Edward mengalah, karena tidak ada yang mengikuti nya dan mami. Semua anaknya sarapan dengan nasi, walaupun tidak setiap hari tapi mereka lebih suka makan nasi. Lalu mereka sarapan dengan tenang, tidak ada yang bersuara semuanya menikmati sarapan pagi ini.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘

__ADS_1


IG : @istimariellaahmad98


See you...


__ADS_2