Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Sha? Siapa Carel?


__ADS_3

Genta sudah tidak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya akan di jelaskan oleh kedua mertuanya, karena ini ada sangkut pautnya dengan ibu dan juga adiknya yang sudah meninggal. Genta meminta Carel untuk menambah lagi orang kepercayaan nya di rumah sakit untuk menjaga istrinya yang tak kunjung membuka mata, karena pagi ini ia akan ke rumah mertuanya bagaimana pun tetap harus waspada walaupun keadaan di rumah sakit sangat ketat oleh pengawasan apalagi anak dari Edward Sagara.


Papi Edward baru pulang lari dari luar bersama mami Fera terkejut melihat tiga orang yang sudah menunggunya di luar pintu masuk dengan pakaian yang sudah rapi.


"Aishhh kalian kenapa pagi-pagi sekali sudah bersiap?" Tanya papi mulai berjalan santai dengan istri nya.


"Kami hanya ingin mendengar penjelasan papi semalam, maka dari itu pagi sekali kita segera bersiap." Jawab Carel membuat papi dan mami melirik anak keduanya tersebut.


Mami Fera menjewer telinga putranya itu lembut.


"Pagi sekali kamu bilang? Alarm ke berapa kali nya? Atau bahkan sudah berapa barang yang sudah kamu pecahkan?" Tanya mami masih dengan tangan yang menempel di telinga Carel.


"Lupa mi, yang jelas pas bangun Carel kaget kamarnya berantakan. Untungnya ada art yang lewat di depan kamar untuk membersihkan sekitar dan Carel langsung menyuruhnya untuk membereskan, terus udah gitu aja di tinggal mandi." Genta dan Arystan hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Carel. Tidak dengan mami dan papi yang langsung saling pandang, entah apa yang mereka pikirkan.


"Bawa kami menemui art yang kamu maksud rel, mami mau bicara." Carel bingung, karena untuk apa menemui art tadi? Apakah mami nya akan berterima kasih atau bahkan akan bertanya, apa saja barang yang sudah di hancurkan oleh nya.


"Ya ampun mi, barang nya yang ada di kamar Carel sendiri dan itu semua mainan yang memang sudah tidak Carel sukai dan makanya di korbankan untuk hancur."


"Cepat bawa ke art tadi atau semua barang kamu mami sita."


Akhirnya Carel membawanya ke art tadi, ia tidak terlalu mengingat nya namun masih mengenalnya sekilas. Genta dan Arystan juga ikut saja dari belakang, mereka menuju tempat dimana art bekerja.


"Selamat pagi tuan besar, nyonya dan tuan muda." Salam dari pelayan.


"Kenapa wajah mereka hampir sama, mana yang tadi membersihkan kamarku, ya?" Carel menggaruk kepalanya yang kini terasa gatal melihat semua pelayan di rumahnya jadi terlihat sama.


"Tunjukkan pada mami, kenapa kamu diam begitu."


Carel kembali menatap satu-satu pelayan yang tadi membersihkan kamarnya. Pojok, iya ada satu di bagian belakang menunduk dan diam di pojokan.


"Kamu yang di belakang, kesini!" Carel menunjuk seseorang yang di belakang.


"Sa-saya tuan muda." Mami Fera dan papi Edward memicingkan matanya melirik pelayan itu yang terus menunduk.


"Angkat kepalamu!"

__ADS_1


"Mohon maaf tuan muda, saya tidak berani." Karena sebagai pelayan menurutnya tidak pantas mengangkat kepalanya pada tuannya.


"Maaf tuan muda, nyonya dan tuan besar. Dia adalah art baru, jadi belum mengetahui bahwa saat berbicara dengan tuan rumah di perbolehkan untuk mengangkat kepalanya." Kepala art/pelayan memberitahu majikannya bahwa ini adalah pelayan baru.


"Art baru? Tapi kenapa kita tidak diberitahu?"


"Maaf nyonya, sebelumnya anda mengatakan boleh menerima art baru dan itu terserah pilihan kita para art dan yang terpenting giat bekerja." Fera hanya mengangguk mengerti.


"Terima kasih, silahkan yang lain kembali bekerja. Tapi untuk kamu, ikut kami!" Mami Fera dan papi Edward berlalu ke ruang tengah.


"Apa yang mami dan papi lakukan? Kenapa harus bersama dia?" Tanya Carel. Arystan hanya mengedikkan bahunya, sedangkan pelayan tadi masih berdiri dengan kepala menunduk menunggu yang lain jalan.


"Sudahlah ayo cepat ikuti mereka, nanti kita juga akan tahu."


Di ruang tengah mami dan papi sudah duduk diikuti kedua anak dan menantu nya. Sementara itu pelayan nya hanya berdiri dan terlihat jelas di dekat Carel. Apakah benar dia seorang pelayan sementara ia lihat masih sangat muda dan wajah dan kulit seperti begitu terawat.


"Kamu duduk!"


"Tidak tuan, saya berdiri saja." Namun Carel menariknya dan duduk tepat di sampingnya. Pelayan itu hendak bangun lagi, namun Carel menahannya.


Tangan kanan nya meremas baju nya, sedangkan tangan kirinya masih di tahan oleh Carel.


"Sa-saya belum tahu nyonya, sa-saya pikir membersihkan di atas subuh-subuh di bagian luar nya akan lebih cepat siangnya untuk di dalam kamar."


"Carel bingung dengan art baru ini mi, bagaimana bisa tangannya seperti Sky yang tidak bekerja." Pelayan itu menarik paksa tangannya.


"Anda terlalu berlebihan menyamainya dengan tangan nona muda, tangan saya memang tidak kasar walaupun bekerja sedikit keras."


"Jujur sekarang atau saya bertindak jauh, mau kembali sendiri atau saya yang mengembalikan kamu dengan sudah tidak bernyawa." Ucap papi Edward membuat art itu melototkan matanya dan menatap papi Edward.


"Saya mohon tuan jangan bunuh saya, saya hanya- saya hanya-


"Hanya apa? Hanya menyamar sebagai art di rumah ini? Untungnya apa bagi kamu?"


"Hanya ingin menyelamatkan teman saya," jawabnya sambil melirik Carel. Mami Fera dan papi Edward menaikkan alisnya, mereka sudah yakin art baru ini adalah teman dari Arabella.

__ADS_1


"Menyelamatkan teman kamu dengan menjadi art di rumah kami? Apa itu rencana yang bagus."


"Mohon maaf sebelum semuanya terlambat saya mengundurkan diri sebagai art." Wanita itu pergi begitu saja setelah berkata begitu.


"Sha?" Panggil Carel dan itu membuat art itu menoleh.


"Kau mengenalku? Apa kamu pernah melihat ku?" Tanya nya.


"Tidak, aku hanya sempat melihat mu sekilas dan "sha" itu yang aku dengar saat temanmu memanggil." Jawab Carel jujur, karena ia memang tidak kenal dengan Sha ini. Wanita itu tersenyum getir dan mengangguk.


"Baiklah, ternyata secepat itu. Aku pergi." Carel ingin menghentikan lagi wanita itu, tapi tidak jadi karena memang ia tidak mengingat siapa wanita tadi.


"Apa lo kenal dia rel? Kenapa dia bilang seperti itu? Apa maksudnya?"


"Entahlah, gue lupa atau memang tidak pernah mengenalnya. Wanita itu satu kampus dengan gue, jadi memang pernah sekilas melihat nya."


"Aneh, gue rasa ada sesuatu yang dia tahu dan lo gak ingat. Untuk dia menyelamatkan Bella itu hanya alasan."


"Entahlah gen, gue makin pusing dengan keadaan sekarang. Belum lagi adek gue belum sadar di tambah dengan ancaman semalam, terus sekarang harus mikirin ini? Gue pusing." Carel langsung pergi dan menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.


"Biarkan dia sendiri, papi pikir apa yang dikatakan Genta ada benarnya." Ucapnya menahan tangan istrinya ketika hendak mengejar anaknya.


"Lalu, bagaimana dengan penjelasan yang akan papi ceritakan?" Tanya Genta juga di tunggu oleh Arystan.


"Mungkin saat ini belum waktunya gen, besok atau kapan. Sekarang papi harus bersiap ke kantor. Kalian sarapan aja duluan papi nyusul, lagian sekarang papi telat karena belum mandi juga." Melihat jam tangan detak jantung di tangan nya.


"Tapi pi-


"Besok aja gen, mami janji." Genta menghela nafas berat karena harus menunggu waktu lagi untuk mendengar penjelasan dari mertuanya. Ia harus bersiap dan ke kantor sebentar, lalu setelah itu kembali ke rumah sakit.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2