Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Calon menantu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Genta sudah pergi ke klinik, ia ingin memberitahu karyawan nya bahwa dirinya akan jarang ke klinik. Karena harus ke kantor berkerja dengan orang tua dari temannya. Genta akan menyuruh orang kepercayaan nya mengurus klinik selama dirinya berada di luar.


Genta tidak lagi khawatir masalah Mili, karena kucing adiknya itu sudah bersama kembarannya (pili).


Tepat pukul delapan, Genta berangkat dengan motor besar nya menuju kantor. Namun sebelum kesana, Genta ingin menemui ibu dan adiknya.


"Assalamu'alaikum Bu, Geandra. Aku mau cerita sedikit hari ini. Aku ditawari kerja di kantor om Edward, papinya Arys dan Carel. Om Edward menyuruh ku bekerja di kantornya, sedangkan klinik yang Genta bangun atas bantuan ibu juga, itu sebagai pemasukan untuk Genta." Genta bercerita sambil tersenyum, lalu beralih ke adiknya.


"Kamu tenang sekarang ge, Mili sudah ketemu sama pili, kucing yang kamu kasih sama Sky. Maksud kakak adalah Blue, teman yang kamu anggap kakak perempuan kamu. Aku juga akan tinggal disana, karena waktu itu trauma Sky kambuh sampai masuk rumah sakit gara-gara aku. Maka dari itu aku mau bantu Sky untuk sembuh." Genta bercerita seperti bertatapan langsung dengan adik dan ibunya, tangannya sambil mengelus batu nisan keduanya.


"Kalian harus senang dan tenang disana, aku akan baik-baik aja disini. Aku harap tidak ada keinginan dari ibu dan kamu ge, kalau aku harus baik dengan istri baru papa. Tidak mungkin." Genta tersenyum hari ini tanpa mengeluarkan air mata lagi, ia tidak ingin ada harapan dari keduanya yang menyuruh Genta untuk berdamai atau menerima istri baru papa nya seperti ibu nya sendiri.


"Genta harus ke kantor om Edward sekarang, takutnya om Edward sudah menunggu Genta disana." Genta mencium batu nisan itu bergantian, ia berpamitan pada ibu dan adiknya untuk segera ke kantor.


...******...


"Ruangan om- eh maksud saya ruangan bapak Edward di sebelah mana?"


"Apa anda sudah membuat janji?" Tanya resepsionis pada Genta.


"Sudah, bapak Edward yang menyuruh saya kesini."


"Apakah anda bapak Magenta Alvarendra?" Tanya nya lagi membuat Genta kesal karena orang di depannya ini menyebut nama panjangnya, namun itu pasti papi Edward yang memberitahu resepsionis itu.

__ADS_1


"Iya saya Genta, apa bapak Edward sudah bilang?"


"Iya pak, silahkan naik langsung ke lantai delapan. Bapak Edward sudah menunggu anda di ruangannya."


"Terima kasih." Setelah resepsionis mengatakan dimana ruangan papi Edward, Genta langsung menuju lantai delapan untuk bertemu dengan papi Edward.


Genta mengetuk pintu ruangan papi, ia mengatakan bahwa itu Genta dan papi langsung menyuruhnya masuk.


"Assalamu'alaikum om, maaf telat. Tadi Genta dari klinik mampir di makam ibu dan Geandra dulu." Papi Edward tersenyum menyuruh Genta untuk duduk.


"Wa'alaikum salam. Kamu seperti sama siapa aja, panggil papi seperti keinginan mami Fera."


"Tapi om-


"Sudah mau jam sembilan, kamu belajar nya pelan-pelan dulu. Kamu ikut papi ke ruang meeting, biar papi perkenalkan kamu dengan staff dan juga dari kantor lain." Papi Edward merapikan berkas di mejanya, Genta yang tadinya canggung untuk memanggil papi, kini di tambah dengan dirinya yang harus ikut meeting.


"Tapi om eh papi, Genta belum bisa apa-apa. Belum ngerti apapun di kantor."


"Kamu gak usah khawatir, papi hanya ingin kamu melihat saja di ruang meeting. Setelah itu nanti kalau papi sibuk, kamu yang handle semuanya." Genta yang tidak mengerti dengan pekerjaan di kantor hanya bisa mengangguk saja, karena pasti mudah jika sudah belajar. Genta juga termasuk orang yang mudah menangkap perkataan dan cepat mengerti, jadi akan ia usahakan agar papi Edward tidak kecewa dengannya.


Di ruang meeting sudah ada beberapa staff yang sudah datang, mereka berdiri saat atasannya datang bersama Genta.


"Pak Edward sama siapa?"

__ADS_1


"Aku gak tahu, soalnya kalau anaknya gak mungkin, aku tahu anaknya pak Edward." Bisik mereka melihat Genta. Genta adalah ada darah Belanda dari ibunya, pantas saja jika Genta bisa saja anak dari papi Edward, karena wajahnya juga kebule-bulean.


"Karena semuanya telah hadir, sebelum kita mulai meeting hari ini, saya akan memperkenalkan seseorang pada kalian semua. Dia yang ada di samping saya, juga akan bekerja dengan kita di kantor ini." Genta semakin canggung saat dirinya akan di perkenalkan dengan staff disana.


"Kamu mau perkenalan diri sendiri, atau papi yang memperkenalkan?" Tanya papi melihat Genta. Semua orang semakin berbisik kenapa memanggil papi.


"Papi aja."


"Namanya Magenta Alvarendra, panggil aja Genta." Genta menatap semua orang yang tersenyum ke arah nya. Semua orang bingung, siapa Genta? Kenapa atasannya yang memperkenalkan, dan tanpa memasukkan lamaran kerja ke pihak HRD atau interview lebih dulu.


"Selamat bergabung dengan kami di kantor ini." Ucap semua.


"Selamat bergabung Genta, aku Della." Della mengulurkan tangannya, namun Genta hanya melirik dan mengabaikan nya.


"Genta adalah calon menantu saya," ucap papi Edward tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, karena melihat Genta yang terkejut dengan ucapannya. Bukan hanya Genta, namun juga orang-orang yang ada disana, termasuk Della yang baru saja memperkenalkan diri. Pantas saja kalau Genta mengacuhkannya, karena ada calon mertua di sampingnya. Mungkin dirinya akan mencoba lagi nanti, setelah berada di luar ruangan tanpa papi Edward.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...

__ADS_1


__ADS_2