
Arystan masih di dalam mobilnya, ia berhenti di jalan sebelum sampai kantor. Arystan akan mencoba menghubungi Valencia yang sudah di berikan nomornya oleh Carel.
Arystan menghubungi Valencia, namun di reject.
"Apaan sih Valen? Kenapa di reject coba." Arystan kembali menghubungi Valencia, kali ini di angkat.
"Siapa? Gue gak kenal lo. Jangan hubungi nomor ini lagi! Makasih." Ucapnya langsung memutuskan panggilan telepon, padahal Arystan belum mengeluarkan satu kata pun.
"Gue belom ngomong, tapi lo udah matiin panggilan gue?" Ucapnya menatap layar ponselnya.
Arystan kembali menghubungi Valencia, untuk ketiga kalinya kalau Valencia masih mereject nya, Arystan berjanji akan meminta alamatnya pada orang kantor untuk memarahi Valencia.
"Apalagi? Lo gak ada kerja ya, gangguin gue? Mau gue gorok lo?" Ucapnya menanyakan pada Arystan dengan nada kesalnya.
"Lo mau gorok gue?" Tanya Arystan menarik sudut bibirnya.
"Lo siapa? Lo kira gue gak berani?" Jawabnya dengan berani.
"Oke, ke kantor sekarang! Jangan sampai telat, gue tunggu lo gorok gue di kantor." Arystan menunggu jawaban dari Valencia, ia tidak yakin jika wanita itu masih berani.
"Ke kantor? Ngapain? Gue masih ada kerjaan sebentar, sebelum ke kantor dan setelah makan siang gue ada kerjaan lagi."
"Gue minta lo langsung ke kantor, tidak perlu mengantar Sky ke sekolah. Gue ada perlu penting sekarang."
"Arystan?" Tanyanya, apa benar jika yang menelepon adalah bos nya.
"Iya, kenapa? Cepat ke kantor, katanya mau gorok gue." Arystan tersenyum smirk.
"Gue kira orang iseng, tapi gue sedikit telat. Gue harus antar Sky."
"Lo gak dengar gue ngomong barusan? Tidak perlu lagi mengantar Sky ke sekolah atau menjemput nya. Sekarang lo kerja di kantor seperti biasa."
__ADS_1
"Tapi gue sore gak bisa, gue kan ngambil kerja di kantor cuma pagi."
"Bagus, lo sekarang mulai ngatur gue jadinya. Ke kantor sekarang? Atau gue aduin mami dan papi?"
"Lo apaan sih? Gue cuma bantuin Sky doang."
"Gue cuma bantuin lo." Jawab Arystan, sekarang ada sesuatu yang membuat nya senang dengan mengerjai Valencia.
"Ck, terserah lo aja." Valencia mendecak.
"Berangkat sekarang!"
"Iya, bawel." Jawabnya memutuskan sambungan telepon nya lebih dulu.
"Gak sopan, gue bos kayak gak ada di takutin sama sekali gak ada harga dirinya gue jadi bos." Arystan langsung menaruh ponsel lagi ke laci mobil nya, dan melanjutkan perjalanan menuju kantor.
...******...
Arystan menghela nafas tanpa menoleh ke arah Valencia.
"Lo gak sopan masuk ruangan gue, itu pertama. Kedua saat lo memutuskan panggilan telepon sepihak. Kalau masuk bisa kan ucap salam atau say hi?"
"Maaf rys."
"Ketiga ini kantor, panggil gue bapak, bukan Arys."
"Baiklah, saya minta maaf pak. Biar saya mengulang lagi dari awal sebelum masuk." Valencia berbalik membuka pintu, ia mengetuk pintu ruangan Arystan.
"Masuk!" Kali ini Arystan menatap Valencia.
"Assalamu'alaikum pak, apa bapak ingin berbicara dengan saya?" Tanyanya lembut mendekat dan masih berdiri.
__ADS_1
"Coba dari tadi begini, bukankah lebih bagus?"
"Iya pak." Jawabnya tersenyum dengan paksa, Valencia tidak menyukai bos nya itu. Apa yang diinginkan Arystan, biasanya tidak pernah menyapa apalagi menghubungi nya. Lalu kenapa sekarang memanggil nya?
"Duduk!" Perintah Arystan, dan Valencia mengikuti nya.
Mereka saling menatap, bukan tatapan tajam Arystan malah salah tingkah menatap Valencia.
"Ada perlu apa bapak menyuruh saya cepat kesini, bukankah Carel bilang saya tidak apa telat ke kantor?" Tanya Valencia, karena dirinya sudah di setujui Carel.
"Kamu tahu bukan, kalau Sky punya trauma?" Valencia mengangguk.
"Saya ingin Genta menemuinya dan bertanya tentang Geandra, menurut saya lebih bagus seperti itu. Kalau di larang dan terus menerus dengan trauma yang di derita Sky, bukankah tidak akan sembuh sampai kapanpun. Saya hanya ingin Sky bisa sembuh dengan bantuan Genta, walaupun dia dokter hewan, mungkin bisa juga untuk menyembuhkan trauma."
"Tapi pak, saya takut bukannya sembuh tapi malah semakin membuat trauma yang di deritanya parah."
Arystan berpikir lagi, apakah akan seperti itu? Namun dia yakin bahwa adiknya akan sembuh.
"Tidak akan, saya percaya dengan Arystan. Jadi kamu tidak perlu lagi mengantar dan menjemput Sky."
"Baiklah, terserah bapak. Saya hanya tidak ingin Sky sakit dan mengurung diri."
"Semoga saja tidak." Valencia mengangguk.
"Saya permisi dulu pak, mau lanjut kerja lagi." Valencia pamit, ia tidak tahu lagi mau jawab apa. Karena itu kemauan dari kakaknya. Kalau terjadi sesuatu dengan Blue, Valencia tetap akan membantu. Karena Blue sudah di anggap seperti adiknya sendiri.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...