
Blue sekeluarga telah kembali ke rumah utama, suami istri itu kini terlihat sangat memprihatinkan dilihat dari kondisi wajah Genta yang lebam-lebam dan Blue sedikit pucat dan lemas.
"Kita kerumah sakit aja Pi, lihat saja mereka berdua apalagi Sky wajahnya terlihat pucat." Ucap Arystan memperhatikan adik dan iparnya.
"Sky hanya ingin dirumah kak, dirumah sakit itu gak enak."
"Beneran kita gak balik ke rumah sakit? Gimana nanti kalau terjadi apa-apa dengan kamu." Papi Edward melihat wajah anak kesayangan nya terlihat sangat pucat.
"Sky baik-baik saja Pi, lagian ada Genta juga kan?" Semuanya menatap Genta yang hanya diam semenjak pulang dari markas Gerald.
"Kalian sebaiknya naik dan istirahat, gue takut pingsan berjamaah disini bukan ringan ya kalian berdua." Canda Carel, sedangkan Genta langsung mengajak Blue naik.
"Yakin mereka berdua aman kalau kita tinggal? Apa bisa mengurus diri sendiri dengan keadaan yang sama-sama lemas begitu." Mami melihat kedua orang itu saling berpegangan untuk naik ke atas.
"Yakin saja lah mi, buktinya baik-baik saja." Arystan mengikuti dari belakang lalu Carel juga menyusul, seperti nya Arystan ingin Valencia datang untuk menemani adiknya.
Blue dan Genta sudah masuk di dalam kamar mereka, Blue merasa sangat lelah tubuhnya terasa remuk sekarang sepertinya tenaganya ia banyak terkuras.
Tangannya tiba-tiba merasa terangkat setelah dirinya mencoba memejamkan mata.
"Gue minta maaf, gue benar-benar tidak sengaja membuat tangan lo jadi merah begini. Gue terlalu fokus mendengarkan dan emosi saat orang yang membunuh keluarga gue di depan mata gue."
"Sudahlah gen, gue juga gak masalah. Sudah gak sakit lagi, hanya warna di tangannya saja yang masih ada." Blue menunjukkan nya pada Genta dengan melambaikan. Genta tahu itu pasti sakit, tidak mungkin secepat itu hilang tanpa terasa.
Genta memeluk Blue tiba-tiba, Blue tidak menolak seperti dulu dan malah membalasnya.
"Gue malah semakin menambah beban lo, dengan hamil anak gue, ditambah sekarang dengan masalah ibu dan Geandra yang belum selesai. Gue masuk di dalam hidup yang membuat lo jadi sengsara." Genta kembali menangis di pelukan Blue
"Lo apaan sih gen, gue sekarang istri lo. Jadi apapun masalah lo ataupun gue, berarti itu masalah kita bersama, gak ada namanya membuat hidup pasangan kita sengsara." Blue sudah menerima Genta menjadi suaminya, apalagi sekarang telah mengandung anak dari Genta.
__ADS_1
Genta melepas pelukannya menatap istrinya itu, tangan Blue terangkat mengusap airmata itu lembut.
"Kemana Genta yang gue kenal dulu? Gue mau lo tetap santai dan melihat karma yang diterima oleh orang yang menyakiti lo dan keluarga lo. Biarkan polisi yang menangkap nya jika bukti sudah lengkap, lo hanya perlu melayani anak gue." Ucap Blue dengan kedipan sebelah mata.
"Anak nya apa emaknya?"
"Keduanya." Jawab Blue lalu tertawa. Genta hanya menggelengkan kepalanya tersenyum melihat tawa Blue yang membuat istrinya itu tampak semakin cantik.
"Apa kabar dia di dalam sini? Gue merasa kita lama tidak jalan berdua, tinggal berdua seperti sebelumnya." Membelai perut Blue, ia merasa rindu dengan kegaduhan dan keanehan nya bersama Blue saat hanya tinggal berdua saja.
"Sekarang aja kita berdua, gak perlu dipikirin lah gen. Nanti lo stress terus anak gue ikutan gimana?"
"Pertama itu anak KITA wajib digaris bawahi, terus dia ikut stress itu apa? Sedangkan yang mengandung lo, harusnya lo yang dijaga jangan sampai stress. Astaghfirullah hidup gue sangat berwarna ditemani pasangan kayak lo yang ngajak-ngajak kalau mau gila." Genta frustasi dengan ucapan Blue yang sangat menjangkau seluruh luar angkasa, Blue tentu saja tertawa mendengar keluhan Genta yang memang itu kesenangan untuk Genta frustasi asal dirinya yang membuat bukan orang lain.
"Untuk pernyataan tadi pagi, itu lo beneran udah cinta sama gue?" Tanya Genta saat mata mereka merinci seluruh wajah masing-masing.
"Oh bukan ya, gue salah denger berarti." Genta membaringkan tubuhnya sambil memejamkan mata, terlihat jelas wajah Genta kecewa, karena ternyata Blue belum mencintai nya.
Blue tersenyum karena sudah menggoda Genta, ia ikut berbaring namun di dada bidang suaminya. Genta membuka matanya melirik Blue.
"Ngapain peluk-peluk? Orang lo aja belum cinta sama gue."
Blue mendongak menatap Genta.
"Kalau lo gimana? Cinta gak sama gue?" Genta menatap wajah cantik itu sambil tersenyum, entah mengapa tanpa ia jawab mereka sama-sama tahu jika mereka berdua sudah saling mencintai.
Genta memeluk erat Blue dan ia gulingkan ke samping.
"Sakit gen."
__ADS_1
"Sky gue minta maaf, mana yang sakit?" Tanya Genta melepas pelukannya dan terlihat sangat khawatir takut terjadi apa-apa dengan istri dan kandungan nya.
"Bercandyaahhh, bercandyaahhh." Blue tertawa mengikuti yang sedang tren.
"Berani sekali, awas lo ya." Mereka tertawa sambil Genta menggelitik Blue.
"Syukurlah mereka sepertinya sudah saling membuka hati mereka." Ucap Arystan yang mendekatkan telinganya di pintu.
"Gue senang ternyata pilihan gue tepat untuk princess kecil kita." Mereka masih menganggap Blue princess kecilnya. Ingat saat ingin menjodohkan keduanya salah sangka dengan papi Edward yang sebenarnya juga akan menjodohkan dengan orang yang sama. Se sayang itu mereka sejak Blue masih di dalam kandungan, Edward dan Fera mengatakan adik mereka perempuan, Fera sangat dijaga oleh anak yang masih berusia dibawah sepuluh tahun itu, demi princess cantik yang mereka impikan.
"Sekarang sudah ada Genta untuk menjaga Sky, lo sudah waktunya menikah kak. Jangan gantung terus Valen, kasihan."
Bener banget atuh, jadi laki teh harus gentle kitu.
"Gue tahu itu, tapi gue gak tahu gimana caranya buat Valen mau ikut gue." Arystan tahu agama nya masih berbeda dengan sekretaris nya yang statusnya entah sudah pacaran atau hanya sekedar rekan kerja yang tengah dekat.
"Tanya langsung, kalau lo gini terus bisa di tikung orang kak." Carel sok mengajari kakaknya, padahal jika dirinya jadi Arystan juga belum tentu mau mengatakan nya.
"Terus lo, gimana?" Tanya Arystan tentu saja masih memikirkan adiknya.
"Gue aman, gue masih mau belajar di kantor. Setelah gue dapat ponakan dari lo baru gue nikah." Arystan menggeplak bahu adiknya pelan, Carel hanya tertawa dan berlari ke kamarnya.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1