
Blue kembali ke rumah nya lebih dulu dengan tersenyum. Ia merasa akan terbebas dari Aaron, pacar yang sudah lama ia putuskan hubungan nya, namun Aaron tetap saja menganggap hubungan nya dengan Blue baik-baik saja.
"Sky," panggil Arystan melihat adiknya tersenyum dari arah belakang rumahnya.
"Ada apa kak?" Tanya nya tersenyum.
"Kenapa kamu sepertinya sangat bahagia? Apa ada sesuatu?" Tanya Arystan.
"Tidak ada. Sky bahagia saat kak Arys sudah pulang." Jawabnya dengan memeluk kakaknya. Di balas pelukan sang adik oleh Arystan.
"Tadi pagi, bagaimana bisa kamu tidak ingin di antar sama teman kakak?" Tanya Arystan melepas pelukannya.
Blue menatap Arystan, ia tahu dokter aneh itu sudah pasti telah mengabari kakaknya.
"Kak Arys, sky hanya tidak ingin mengganggu dokter itu sedang bekerja. Sky bisa kembali sendiri."
"Apa kamu membohongi nya? Lalu pergi saat dia sedang mengambil motor nya?"
"Sky hanya kasihan, dia sedang bekerja. Tidak seharusnya kak Arys menyuruhnya mengantarkan sky pulang."
"Kamu juga mengatakan, kalau kamu itu pacar kakak." Blue mengangguk tersenyum, sudah mengerjai teman kakak nya.
"Kamu begitu pintar berbohong. Kenapa kamu mengatakan kalau kamu pacar kakak?"
"Dokter itu terlalu banyak bertanya, sky gak suka. Kak Arys juga mengenalkan nama sky padanya adalah nama depan sky."
Arystan menatap wajah adiknya. "Itu dulu, jadi aku mengenalkan adik aku menggunakan nama depan nya."
"Kalau kak Arys atau kak Carel mengenalkan aku pada teman kalian, akan tiba saatnya mereka memanggilku dengan panggilan nama depan."
__ADS_1
"Sky, kejadian itu sudah lama. Jangan seperti ini! Walau bagaimanapun nama kamu tetap Blue skyla Sagara." Ucap Arystan mengingatkan adiknya, bahwa nama lengkapnya memang Blue. Tidak mungkin untuk dihilangkan, karena itu nama memang sudah disiapkan dari sebelum Blue lahir oleh keluarganya.
"Kak Arys, berhenti menyebut nama lengkap sky! Apalagi nama depan itu."
"Sky, kamu harus berusaha menghilangkan trauma itu."
Blue menggelengkan kepalanya, selalu ada bayangan anak gadis itu terlintas di kepala nya saat ada orang menyebut nama depannya.
"Kak Blue, ayo kita main."
"Kak Blue, aku menyayangimu."
"Kak Blue."
"Kak Blue."
"Sky," panggil Arystan melihat adiknya memegang kepalanya.
"SKY...." Panggil Arystan mengejar Blue menaiki tangga.
Teriakan mereka terdengar sampai belakang, Carel dan mami nya yang sedang introgasi Aaron saling menatap.
"Ada apa? Ayo kita kembali kerumah rel."
"Ayo mi, seperti nya terjadi sesuatu pada sky." Mereka berlari melewati taman itu, dan menuju dalam rumah.
"Sky," panggil Arystan merasa bersalah pada adiknya.
"Arys, ada apa?" Tanya mami Fera.
__ADS_1
Arystan takut jika ia mengatakan hal yang membuat adiknya berteriak di dalam.
"Arys jawab mami! Apa yang terjadi dengan adik kamu?"
"Kak Arys, lo dengar kan apa yang di tanya mami? Sky kenapa?"
Arystan mengatakan semua yang membuat adiknya mengingat traumanya, dirinya menyebutkan nama depan Blue, sehingga adiknya berteriak histeris.
"Astaga, Arys." Mami nya menghela nafas panjang.
"Sky, buka sayang pintunya, ini mami." Ketuknya.
Aaarggghhhh... Prang prang...
"Lo kenapa sih rys? Lo apakah adik gue?" Tanya Carel.
"Gue cuma ingin sky sembuh, rel. Gue hanya ingin dia tidak merasa trauma dengan namanya sendiri rel, bukan untuk mengingatkan nya kembali pada ingatan trauma dia."
"Sama aja rys, lo menyakiti princess kita." Carel mengusap rambutnya kasar.
"Tapi itu bukan salah gue rel."
"DIAM....!!!" Pekik mami Fera menghentikan perdebatan kedua anak laki-laki nya.
Mami Fera sudah frustasi dengan Blue yang berada di dalam karena tak kunjung membuka pintu, ia yakin anaknya sudah melukai tubuhnya. Ia menyesal telah menyetujui dulu, saat pintu kamar Blue di perkuat, agar tidak ada yang bisa mendobrak nya dari luar.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
IG: @istimariellaahmad98
__ADS_1
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
See you...