Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Siuman


__ADS_3

Sharaine wanita keturunan Amerika-indonesia, ia sebenarnya hanya teman tidak terlalu dekat dengan Arabella. Hanya saja alasan agar dia bisa masuk ke kediaman Sagara untuk menyelamatkan Arabella, adik kelas dari Arabella saat kuliah ia satu kampus dengan Carel. Ada sesuatu yang Carel sendiri sudah melupakan itu, atau bahkan memang tidak pernah ingat. Sha menyukai Carel bukan karena kaya bahkan dirinya juga tidak kalah kaya dari Carel, namun suatu hal itu yang membuatnya menyukai Carel.


"Siapa sebenarnya Sha? Kenapa gue lupa, atau memang kita tidak saling mengenal? Tapi kenapa dia tadi berkata seperti itu, seperti pernah memiliki hubungan sebelumnya?" Tanya Carel pada dirinya sendiri, ia bingung dengan ucapan Sha tadi.


"Gue mending langsung ke kantor aja, telat mah udah biasa yang penting punya abang gue sendiri, kalau punya orang gue juga gak berani kali." Carel kembali bersiap mengambil jas dan juga tas nya untuk berangkat ke kantor cabang yang sudah di urus oleh kakaknya.


...******...


Siang hari Genta menerima telepon saat di kantor, ia mengangkat sambil membuka lembaran kertas di hadapannya.


"Halo selamat siang, dengan bapak Genta?"


"Selamat siang. Iya, dengan saya sendiri." Jawabnya masih tetap fokus.


"..."


"Really? Oke saya segera kesana secepatnya," Genta menutup sambungan telepon nya dan membereskan laporan miliknya lalu bergegas keluar dari ruangan nya tanpa menghubungi mertuanya lebih dulu.


Genta mengendarai motornya dengan kecepatan diatas sedang, ia ingin segera sampai. Tak berapa lama ia sampai dan berlari masuk.


"Anda sudah datang, tuan?"


"Bagaimana sekarang, kondisi istri saya?" Tanya Genta yang baru saja tiba di rumah sakit. Ia dihubungi pihak rumah sakit untuk segera datang jika tidak sibuk, karena ada reaksi gerak dari Blue.


"Hanya ada gerak di bagian tangan dan sempat meneteskan air mata, nona masih dalam keadaan belum siuman. Namun kami memanggil tuan supaya bisa membantu mempercepat pemulihan, mungkin dengan anda mengobrol dan menyemangati lagi akhirnya nona Blue akan siuman." Ucap dokter membuat Genta berpikir, karena sebelum-sebelumnya dirinya bukan tidak menyemangati Blue, namun tidak ada hasilnya.


Tring-tring...


Genta melihat ponsel nya dan itu adalah papi Edward yang menelepon.


"Sebentar dok, saya angkat telpon sebentar."


"Silahkan tuan."


Genta langsung berbalik dan mengangguk langsung menjawab telepon dari mertuanya.


"Kamu dimana gen? Papi lihat ruangan kamu kosong. Kamu udah makan siang?"


"Maaf Pi, Genta langsung pergi tanpa pamit dulu. Belum sempat makan siang karena di telepon pihak rumah sakit."


"Ada apa? Apa ada sesuatu dengan Sky?" Tanya papi Edward khawatir.


"Tadi jari tangan Sky bergerak dan sempat meneteskan air mata, jad dokter menyuruh Genta untuk memberikan semangat lagi agar Sky cepat sadar."


"Papi akan segera ke rumah sakit," ucapnya karena ingin melihat anak kesayangan nya.


"Genta pikir jangan dulu Pi, siang ini papi ketemu klien juga. Biar Genta yang jaga Sky disini, kalau ada apa-apa nanti Genta hubungi."


"Kamu benar. Kalau ada apa-apa segera hubungi papi." Setelah Genta mengiyakan ucapan mertuanya, mereka memutuskan sambungan telepon.

__ADS_1


"Maaf dok, saya boleh langsung menemui istri saya sekarang?" Tanya Genta setelah berbalik melihat dokter yang masih berdiri menunggu dirinya.


"Silahkan tuan, nona Sky sangat membutuhkan dukungan dari tuan." Dokter itupun pamit dengan Genta yang juga langsung masuk menemui Blue.


Dilihatnya wanita yang sedang berbaring itu dengan lembut, sampai terasa matanya memanas dan mengeluarkan cairan bening itu tanpa disuruh. Namun ia usap air mata itu, ia ingin Blue merasakan dirinya bahagia dan menantikan nya siuman.


"Sky, sampai kapan lo mau seperti ini? Lo gak mau gitu ngidam makanan, gue bisa kabulin itu asal lo cepat bangun. Kasihan anak kita di dalam sini melihat ibunya terbaring lemah." Genta mengusap perut yang masih lumayan rata, karena di trimester pertama awal kehamilan.


Air mata itu kembali keluar, Genta tidak sanggup menahan nya dan berpura-pura untuk tegar. Ia menunduk tubuhnya bergetar dengan tangan yang masih di atas perut Blue. Bukan menyemangati justru dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekedar memberi semangat, ini terlalu menyakitkan bagi Genta.


Sebuah tangan mengejutkan Genta, saat mengusap lembut rambut kepala nya.


"Dasar cengeng," suara itu? Genta mengenalnya. Genta mendongak dan mendapati istrinya tersenyum lemah karena baru saja siuman.


Genta memeluk Blue dan kembali menangis.


"Gue takut lo ninggalin gue?"


"Anak gue kegencet." Mendengar itu membuat Genta dengan cepat melepaskan pelukannya.


"Maaf Sky, gue terlalu senang karena lo sudah sadar. Anak kita gak pa-pa 'kan?"


Blue menggelengkan kepalanya sambil terus menatap Genta.


Genta begitu bahagia melihat istrinya sudah sadar, ia segera menekan tombol di dekat ranjang istrinya untuk memanggil dokter agar segera masuk dan memeriksa keadaan Blue. Tak lupa Genta menghubungi mertua dan juga ipar nya, mereka juga wajib mengetahui jika Blue telah sadar.


"Lo kenapa sih gen, gue lihat dari tadi senyam senyum gak jelas gila kali lo." Ucap Blue melihat suaminya yang bertingkah aneh menurut nya.


"Apa bedanya pak? Stress dan gila sebelas sebelas." Sungguh di luar Nayla, karena nalarnya rusak.


"Sebelas dua belas ya, ternyata koma juga bisa buat orang peak."


"Baru bangun aja dikatain peak, pas lagi koma aja di jagain sambil nangis. "Kapan lo bangun Sky" ucap Blue menirukan Genta.


"Karena saat lo koma gak ngeselin gini, sekarang bikin gue naik darah."


"Bulshit semua ucapan dari mulut lo." Blue memutar bola matanya jengah dengan suaminya.


Suara pintu terbuka membuat mereka berhenti berdebat, keluarga Blue datang bersamaan.


"Perdebatan kalian sampai depan rumah sakit saking nyaringnya, gak bisa apa sehari kalian saling menyayangi?"


"Udah sayang kok Pi, hanya saja Sky ngeselin." Jawab Genta jujur jika dirinya sudah menyayangi Blue.


"Cie ngaku udah sayang, cinta udah juga gak?" Goda Blue pada Genta membuat yang di goda malu dan membuang muka.


"Berarti udah sembuh Pi, buktinya memang Sky udah seperti biasanya ngeselin." Carel tersenyum dan memeluk adiknya itu.


"Gimana kak kerjaannya, apa sudah bisa mengimbangi kerjaan kak Arys?" Tanya Genta saat Carel sudah melepas pelukannya.

__ADS_1


"Begitulah dek, mana bisa bersaing dengan bos." Jawabnya diiringi dengan tawa kecil.


Arystan menggeplak lengan Carel sedikit kasar.


"Ada dendam terselubung lo sama gue? Geplaknya gak kira-kira." Blue tersenyum melihat Carel yang selalu ingin beradu mulut, namun lawannya hanya diam menatap tajam.


"Mami kenapa diam aja, gak kangen sama Sky?" Tanya nya membuat mami Fera mendekat.


"Kangen sayang, mami hanya menunggu kakak kamu selesai mengobrol." Blue melihat tidak seperti itu, ada sesuatu yang di pikirkan mami Fera sehingga membuat nya melamun.


"Sky mau pulang aja, kapan Sky bisa pulang dari sini? Sky bosan di rumah sakit, badan Sky juga rasanya makin sakit kalau di rumah sakit terus." Ucapnya merengek pada keluarga nya, ia tak memperdulikan Genta yang melihat itu.


"Namanya juga tempatnya orang sakit, berarti kamu belum sembuh total kalau masih ngerasain sakit."


"Gen, gue mau makan." Pinta nya dengan merengek, tumben sekali pikir Genta.


"Papi lupa, biar kakak kamu aja yang beliin ya? Suami kamu memang belum makan tadi dapat telepon dari dokter dan langsung kesini."


"Sky maunya Genta yang beliin, kita makan disini aja please!! Ini permintaan anak kita, lo mau ya beliin makan?" Blue memelas menampilkan wajah memohon agar Genta mau membelikan makanan.


"Iya gue beliin, lo mau makan apa?"


"Janji demi anak kita beliin ya, gue ngiler banget pengen cobain semua."Blue menelan ludahnya sendiri membayangkan makanan yang akan ia pesan.


"Iya, apa?"


"Gue mau ayam geprek level paling pedas di dekat rumah sakit ini, gue ngiler banget sumpah. Terus gue pengen yang berkuah juga kayak bakso setan yang di jual disitu juga."


"Nggak boleh." Jawab semuanya bersamaan.


Blue melihat satu persatu keluarga nya lalu mengerucutkan bibirnya.


"Yah padahal ini bukan Sky yang pengen, tapi anak Genta." Genta melirik mertuanya, ia kasihan melihat Blue yang ingin makan sesuatu tapi tidak di perbolehkan.


"Ganti yang lain ya, kakak rekomendasi nasi ayam aja soalnya kamu juga baru siuman masa langsung makan pedas." Arystan membujuk adiknya supaya mau makan nasi ayam saja. Namun Blue menggelengkan kepalanya tidak mau mengganti yang sudah menjadi keinginan nya.


"Biar gue berangkat sekarang." Genta mendapat tatapan tajam dari papi Edward dan juga kedua temannya.


"Gue seneng kalau lo jadi suami siaga gini saat istri dan anaknya ngidam."


"Gak usah bawa-bawa keponakan gue yang belum tahu apa-apa, ini pasti kemauan ibunya. Mana ada dia tahu ayam geprek sama bakso setan, yang ada emak bapaknya yang mirip setan." Celetuk Carel tanpa melihat Blue dan Genta yang sudah mempelototi dirinya seakan ingin memakannya.


"Genta, sana berangkat. Jangan hiraukan ketua setan yang menghalangi keinginan anak kita." Mereka tertawa mendengar ucapan Blue, namun tidak dengan Carel yang kesal karena dikatai ketua dari setan.


Akhirnya Genta berangkat dengan pertimbangan dari orang tua dan juga kakak Blue, mereka membolehkan asal levelnya rendah dan tidak terlalu pedas. Blue yang awalnya menolak tidak punya pilihan, karena jika tidak dirinya tidak boleh memakan keinginan nya sama sekali. Dengan berat hati dan juga helaan nafas yang berat berkali-kali Blue baru menyetujui.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘

__ADS_1


IG : @istimariellaahmad98


See you...


__ADS_2