
"Gue mau makan jajanan yang ada disitu, lo beliin ya?"
"Lo kenapa maunya aneh-aneh sih? Kita langsung ke rumah papi aja." Genta sudah menyalakan mesin mobil nya, namun Blue melepas seatbelt nya.
"Kalau lo gak mau beliin, biar gue beli sendiri. Sekalian aja kerumah duluan, gue bisa sendiri kesana." Blue menoleh sambil mengelap air matanya yang menetes.
"Sky, tunggu! Bukan gitu maksud gue. Tunggu disini ya? Biar gue yang turun." Blue mengangguk sambil terus menatap jajanan di depan.
Genta membeli jajanan itu dan Blue menurunkan kaca mobil untuk meminta semua rasa dan beberapa yang di jual disana.
"Istrinya, mas?" Tanya mamang.
"Iya pak. Setiap lihat jajanan seperti lihat harta karun, kalau gak dibeliin nangis pak." Terang Genta pada mamang.
"Ngidam kali istrinya mas, mungkin lebih aneh dari biasanya kalau sedang mengidam." Genta melirik istrinya di dalam mobil yang masih menunggu Genta.
"Nikah sudah berapa lama, mas?" Tanya mamang.
"Hampir enam bulan, tapi memangnya tanda orang hamil seperti itu pak?" Tanya Genta.
"Banyak sih mas, kalau penasaran nanti beli aja test kehamilan di apotek atau cek ke dokter nya langsung." Genta hanya mengangguk sambil melirik Blue.
"Saya dokter sih pak," ucap Genta.
"Iya mas sendiri aja yang cek istrinya."
"Masalah nya, saya dokter hewan." Jawabnya sambil tertawa kecil, mamang nya pun tertawa mendengar jawaban dari Genta sambil geleng-geleng kepala.
Setelah selesai Genta masuk ke mobil, dan langsung di ambil oleh Blue untuk ia makan. Genta curiga dengan istrinya, ia harus berhenti di apotek dan memberikan itu pada Blue atau perlu pada mami dan keluarga yang lain.
Genta berhenti di apotek membuat Blue mengangkat sebelah alisnya, melirik Genta yang akan turun.
"Lo mau kemana? Ngapain ke apotek?" Tanya Blue.
Genta menoleh menatap istrinya.
"Gue mau beli sesuatu, lo tunggu aja disini." Genta menyuruh Blue menunggu di dalam mobilnya.
"Gue mau ikut, gue mau tahu lo mau beli apa disana."
"Kepo jadi orang, gue mau beli obat panu buat badan gue. Masih mau ikut lo?" Tanya Genta.
"Di bagian mana? Perasaan lo gak punya panu atau penyakit kulit lainnya."
"Diam disini, gue kesana sebentar." Blue hanya melihat Genta yang berjalan menuju apotek.
"Perasaan gue apa gimana? Orang dia sering gak pakai baju, tapi aku gak ada lihat panu, kurap atau kadal. Eh salah maksud gue kadal apa?"
Tak berapa lama Genta sudah kembali tapi tidak membawa obat apapun di tangannya, atau ia simpan di baju atas saku celananya.
"Obatnya ada? Kalau gak ada nular sama gue gimana? Amit-amit, napa sih suami gue panu dan karatan."
"Mulut," ucap Genta sambil menyalakan mesin mobil nya dan melajukan pelan menuju rumah papi Edward.
Mereka berdua sampai di rumah, Blue terus melirik Genta yang berjalan menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikum salam."
"Adik ku yang cantik, dan ipar yang biasa aja sudah datang." Blue hanya tersenyum dan kembali menatap Genta.
"Mami, Genta mau bicara sama mami dan papi sebentar." Mami Fera dan papi Edward saling pandang, kenapa tidak bicara disitu saja pikir mereka.
"Ayo di sana!" Papi Edward menunjuk tempat di dekat dapur yang sedikit jauh dari ruang tamu.
Blue menahan tangan Genta, "lo mau bicara apa sih? Kenapa gak disini aja?"
"Gue ada perlu sama papi dan mami dulu, baru habis itu lo." Genta melepas tangan Blue pelan.
Blue melihat mereka bertiga, ia ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Genta sampai kedua orang tuanya sangat serius.
__ADS_1
"Kamu gak ada apa-apa sama Genta 'kan dek? Apa jangan-jangan Genta mau cerai sama kamu? Karena kamu terlalu cantik." Carel mengoceh di dekat Blue, sedangkan Arystan menutup mulut adik laki-laki nya itu.
"Kamu baik-baik aja Sky?" Tanya Arystan.
"Kenapa Genta aneh seperti itu?"
Genta dan mertua nya sudah kembali mendekat, mami mengajak Blue untuk mengikuti nya.
"Sebenarnya ada apa Pi, gen?" Tanya Carel.
"Kita tunggu sampai adik kamu dan mami keluar."
"Tebak berhadiah kali, tinggal bilang aja apa susahnya sih." Carel melirik papi nya yang sudah menatap tajam kearah nya.
"Bercanda Pi, Carel akan menunggu sampai besok juga boleh."
"Diam! Atau cepat cari calon istri. Mungkin kalau ada pasangan tingkahnya berubah, I'm not as patient as your mami, but if your mami tells me to be patient, I will do it." Arystan dan Genta hanya diam mendengar ucapan papi dan Carel.
"Carel kalah Carel diam, susah kalau udah cinta mati Love to death." Papi Edward kembali menatap tajam Carel, dengan cepat Arystan menutup mulut adiknya supaya berhenti berdebat dengan papinya.
Mereka menunggu beberapa belas menit sampai mami dan Blue keluar dari kamarnya dan tampak berlari ke arah Genta.
"Gen, gue gak tahu kalau gue hamil. Kata mami garis dua itu hamil, tapi Sky gak tahu kenapa bisa hamil?" Blue menatap semua orang yang disana satu persatu.
"Dek, kamu hamil sama siapa?" Tanya Carel.
"Sky, kamu hamil?" Pertanyaan yang masih lebih masuk akal dari pada Carel.
"Begini kalau sudah kumpul, mereka bertiga jadi bego." Ucap papi diangguki mami Fera. Tapi papi Edward mendekati Genta dan meninju nya.
"Lo akhirnya berhasil menjadi menantu, tapi awas aja sampai papi lihat kamu menyakiti Sky." Di lanjut mami juga menonjok di bagian bibir.
"Bagus, walaupun merasa sakit di tubuh kamu. Kamu tetap memegang tangan Sky, itu artinya kamu akan selalu menjaganya."
"Ini kenapa main tonjok-tonjokan sih? Orang kita nanya kenapa Sky hamil."
"Sky juga gak tahu kenapa bisa hamil."
"Lah jangan bilang itu angin yang menyerupai dan garis dua."
"Gue lupa kalau adek gue nikah sama lo, tapi bisa juga lo hamilin dia." Genta menggeplak dada Carel.
"Lo ngapain hamilin gue sih gen? Jadinya gue bakal jarang ke kampus."
"Lo sendiri yang bilang gak suka keramaian ketika masuk kelas, jadi gue turuti kemauan lo. Kalau soal yang lain, lo juga mau dan menikmati 'kan?" Genta memainkan matanya pada Blue.
"Memang semua rada-rada, kita masuk aja mi."
"Bawa periksa ke rumah sakit, kita serahkan semua sama kamu. Karena sekarang Sky adalah tanggung jawab kamu."
"Benar, bukan kami sudah lepas tangan. Tapi sebagai suami, kamu harus belajar siaga dari sekarang."
"Besok pagi kamu cek lagi Sky." Blue mengangguk padahal dirinya masih belum mengerti tapi akan ia lihat lagi di internet.
"Iya Pi, mi. Genta akan belajar dari sekarang."
"Selamat atas hamidun nya adek gue, lo sudah mau jadi bapak gen." Menepuk bahu Genta kuat.
"Selamat kalian, sebentar lagi jadi orang tua."
"Obrolan om-om, Sky mending tidur." Blue berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"SKY..!!!!." Panggil mereka bertiga dan dengan cepat mengikuti Blue untuk naik. Hampir saja Blue terjatuh karena menoleh mendengar teriakan mereka, namun ia berpegangan dan Genta cepat memegang nya.
"Kenapa lari-lari sih? Kayak anak kecil, lo lagi hamil Sky. Barusan lo hampir jatuh."
"Itu semua bukan salah gue, tapi kalian semua teriak kenceng. Emang gue juga masih kecil, kalian aja yang udah tua." Blue kembali berjalan naik ke atas, Genta memegang tangannya, walaupun Blue menggoyangkan badannya agar Genta melepas tangannya tetap saja Genta membantu Blue.
"Gue mau nasi putih,"
"Oke kakak ambilin." Arystan memutar badannya untuk mengambil nasi putih.
"No, Sky mau Genta yang ambil."
__ADS_1
"Kenapa gue? Abang lo sama aja Sky."
"Ganti bapak dari anak ini boleh gak sih?" Blue melirik kakak-kakak nya.
"Mulut lo, gue langsung berangkat nih." Genta langsung keluar untuk mengambil nasi putih.
"Lo beneran hamil Sky?" Tanya Carel.
"Lo? Oke gue minta tolong ambilin sesuatu di dalam lemari camilan." Carel melirik Arystan yang memberi kode untuk cepat mengambil yang diminta Blue.
"Bukan gitu maksud kakak, tadi salah nanya juga." Blue hanya memainkan ponselnya.
"Sky, kakak minta maaf."
Genta sampai datang ke kamar melihat Carel memohon, ia mengernyitkan dahinya meminta penjelasan pada Arystan. Arystan hanya menggelengkan kepalanya.
"Gue minta tolong gen, ambil itu di dalam lemari camilan ada Oreo."
"Terus? Nasi putih buat apa?" Tanya Genta sambil menunjukkan nasi yang di ambil.
"Ambilin dulu, apaan sih lo merengek disini." Blue memarahi kakaknya yang masih saja di dekatnya memohon.
Genta mengambil Oreo yang di dalam lemari camilan sesuai yang diminta Blue.
Genta hanya meletakkan di depan Blue, Blue mengambil nasi putih dan Oreo nya di buka bungkusnya, ia letakkan di atas nasi putih dan di potek di bagi beberapa bagian.
Seperti ini bentukannya setelah di campur.
"Lo gak boleh makan ini, apaan juga nasi sama Oreo." Genta mengambil piring itu dari tangan Blue.
"Itu memang bukan buat gue?" Tanya Genta sambil melirik Arystan dan Carel.
"Dek, kakak harus cek laporan kerja dulu deh." Arystan sudah mulai curiga dengan adiknya.
"Kakak maaf nya besok lagi dek."
"No, tutup pintunya!" Blue mengangkat tangannya, namun pintunya masih saja terbuka.
"Salah, ternyata gak sakti." Genta terus melihat tingkah aneh istrinya yang semakin menjadi-jadi.
"Kak Arys dan kak Carel, kalian tetap disini temani Genta. Bukannya kalian berdua teman nya?"
"Bukan." Blue menertawai suaminya yang tidak diakui sebagai teman oleh kakaknya.
"Kalian bertiga harus makan nasi dan Oreo, Sky mau lihat."
"Tapi dek, itu sangat aneh. Mana ada orang yang makan nasi pakai biskuit Oreo."
"Ayolah, ini kemauan anak Sky."
"Turutin aja elah, anak gue itu ponakan kalian juga. Gue mah sekarang iya iya aja dah kalau emaknya mau apa." Genta mengambil nasi dan Oreo di tangannya lalu memberikan pada kedua iparnya.
Carel dan Arystan juga mengambil seperti yang ada di tangan Genta.
"Gue gak bisa nurutin seperti yang Genta bilang, bahaya nih singa betina."
"Gue harus sering-sering di kantor kalau Sky lagi di rumah, gak hamil aja aneh apalagi hamil." Batin Carel dan Arystan tidak mau mengahadapi Blue yang sedang mengidam, mereka sudah sering waktu Blue hanya datang tamu bulanan.
"Makan nya barengan ya, Sky mau lihat." Genta melahapnya, ia merasa tidak masalah dengan rasanya hanya sedikit aneh dan manis. Carel dan Arystan tidak ingin memakannya, namun Genta menyuruh mereka untuk cepat melahap juga.
"Okay repeat again, Sky mau kalian bareng makannya."
"Dek udah malam kamu istirahat ya, besok aja sekali suap."
"Besok tiga kali suap, atau sekarang sekali suap tapi barengan?" Arystan dan Carel menghela nafas, disaat melirik Genta nampak biasa saja dan justru sangat senang disuruh makan nasi Oreo.
Mereka melakukan nya sekali lagi dan bersamaan, setelah puas Blue ke kamar mandi diikuti oleh Genta.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...