Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Penjelasan Gerald


__ADS_3

Keluarga besar Edward Sagara sekarang berkumpul di ruangan khusus bersama Gerald. Genta di temani Blue di dekatnya, ia merasa suaminya itu terus saja menatap tajam ke arah Gerald karena pembunuh ibu dan adiknya ada di depan matanya saat ini. Hanya saja wajah tampannya tertutupi sedikit dengan lebam dan beberapa plaster.


"Are you okay? You have to calm down, I'm right here with you." Genta melepas kepalan tangannya dan menatap wajah Blue. Mata Genta seperti akan menumpahkan air nya yang sudah akan meluncur.


"Om, aku permisi ke toilet sebentar sama Genta. Ada yang mau kita bicarakan berdua." Mereka semua menatap blue dan Genta yang masih tidak mengalihkan tatapan nya.


"Ada kamar di dalam, jadi kamu bisa memakai nya."


Blue berpikir jika di dalam kamar itu sudah pasti ada kamera tersembunyi, ia takut ini jebakan. Namun jika ditoilet tidak mungkin menaruh kamera disana.


"Tidak masalah, om tidak menaruh apapun disana. Kamu pasti berpikir begitu, kan?"


"Tidak, aku ke toilet saja." Blue menarik tangan Genta dan menuju toilet.


Sampai di toilet Blue menutup pintunya, Genta langsung memeluk Blue dan menangis. Blue yang terkejut karena tiba-tiba hanya mengelus punggung suaminya.


"Gue gak bisa maafin dia, Sky. Gue ingin sekali membunuh nya sama dengan yang dia lakukan sama ibu dan Geandra." Ucapnya memeluk erat Blue.


"Gue sendirian gara-gara dia, papa lebih memihak istri barunya karena hasutan itu juga pasti bantuan dari orang itu." Genta tidak mau memaafkan Gerald, apalagi istri baru papa nya.


"Lo tenang dulu ya, gue tahu perasaan lo walaupun gue tidak merasakan itu."


"Gue tahu lo benci sama om itu, tapi setidaknya lo tidak mempunyai rencana menghabisi nya. Gimana kalau misalnya malah lo yang ditangkap? Gue sama anak gue gimana nasibnya kalau lo jadi napi." Sambungnya karena Genta masih setia memeluk nya sambil menangis.


"Gue-


"Gue tahu lo orang yang pemaaf, jangan biarkan tangan lo mengotori orang yang sudah mau mengakui kesalahannya. Gue tahu pembunuhan tidak bisa di biarkan apalagi dimaafkan kecuali penjara, tapi gue mohon! Gue akan dukung lo sebagai istri dan selalu disamping lo." Genta melepas pelukannya, ia menatap Blue entah mengapa sangat lucu dimata Blue.


"Kenapa lo ketawa?" Tanya Genta sambil mengelap air matanya.

__ADS_1


"Lo lucu banget begini," ucapnya mengelus wajah Genta.


"Gue tahu gue lucu, tapi harusnya gue cool. Tapi kenapa gue malah nangis gini, apa kita pulang saja? Gue gak mau ketemu mereka lagi."


"Malu? Bilang aja lo takut ketahuan kak Arys sama kak Carel 'kan? Harusnya tadi gue video lo lagi nangis." Blue tertawa bagaimana reaksi kedua kakaknya melihat Genta menangis


"Bangsat lo."


"Untung gue cinta." Batinnya.


"Sekarang cuci muka dan lap, kita selesaikan hari ini. Lo mau cepat selesai kan? Semua yang salah akan kita penjarakan jika itu benar-benar bukti sudah cukup." Blue meyakinkan Genta bahwa orang yang bersalah harus di hukum, Genta mengangguk setuju dengan ucapan Blue.


Blue dan Genta telah kembali setelah memastikan lagi wajahnya tidak terlihat seperti orang habis menangis.


"Kalian ngapain? Gak usah macem-macem kita di tempat orang, lagian lo ingat adik gue lagi hamil." Bisik Carel di telinga Genta.


"Mata lu mau gue colok? Ngeres aja pikiran nya nih orang, gue sama Sky cuma ngobrol bukan yang lain."


"Gue izin bini gue dulu buat mutilasi kakaknya boleh gak sih, bikin emosi terus perasaan." Blue yang di samping nya hanya menggelengkan kepalanya sambil tatapan dengan Arystan.


"Genta, mami sama papi sebenarnya tidak ingin ikut campur masalah kalian ini. Tapi kamu ingin papi dan mami masih tetap disini."


"Kalian sekarang juga keluarga Genta, Genta tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian. Papa saja tidak pernah lagi peduli dengan kehidupan Genta setelah menikah lagi." Semua orang disana terdiam, mereka sangat tahu Genta sempat akan berhenti sekolah dulu, namun kedua temannya itu menyuruh mami dan papi nya untuk membujuk dan menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri.


"Apa aku sudah boleh berbicara sekarang?" Tanya Gerald karena ia merasa tidak dianggap disana.


"Sekarang saja om, Sky ingin cepat tahu dan akan langsung pulang. Om tahu sendiri Sky harus banyak istirahat karena sedang hamil." Mengelus perutnya yang mulai nampak menyembul.


"Jangan panggil dia om, dia bukan om lo."

__ADS_1


"Iya udah gak usah ngegas juga, santai aja. Gue tahu dia om lo makanya gue gak boleh panggil dia om." Blue berkata seperti itu semakin membuat Genta menggeratkan giginya.


Blue tersenyum manis sambil mencubit pipi suaminya.


Salting gak lu gen? Salting dikit gak ngaruh awokawok ya kali salting banget lah.


"Om akan mulai menjelaskan dari pertama om nyusup ke rumah kamu, karena om akan melakukan sendiri tanpa bantuan anak buah, itu yang diminta adikku agar rencana dia bisa bersama papa mu."


"KAU!" Genta menggeplak meja.


"Dengarkan dulu gen, jangan potong biar tidak hanya mendengar separuh-separuh. Tolong tenangkan suamimu, Sky."


Blue menyuruh Genta untuk duduk kembali.


"Tapi lo dengar kan? Dia sampai nyusup ke rumah gue, maksudnya rumah bokap gue." Genta hanya ingin membalas dan membunuhnya sekarang juga, namun ia selalu menahannya karena ada istri juga yang sedang hamil.


"Iya gue denger, sekarang lo diam tenang dulu pegang tangan gue supaya lo lebih tenang lagi." Blue tidak tahu cara menenangkan Genta ini seperti apa, kedua kakaknya saja hanya diam melihat Genta seperti itu tidak berani untuk menghentikan.


Genta menghela nafasnya panjang dan menatap Blue, wajahnya lebih enak dipandang dari pada wajah Gerald.


"Om akan lanjutkan lagi. Saat itu adik kamu masih SD, om tidak tahu jika adik kamu akan diantar dengan mobil Sekar. Mobil yang sudah di sabotase rem blong dan beberapa bagian sudah di putus, jadi memang kecil kemungkinan bisa selamat. Itu penyebab awal om melakukan itu adalah lagi-lagi karena ibu tiri kamu, om tidak menyalahkan adik om sendiri tapi memang dia yang menghasut om sampai melakukannya." Gerald menghentikan sejenak ucapannya sebelum melanjutkan kembali.


"Om tahu sangat kejam, tapi dia adalah adik satu-satunya yang om punya. Dulu om janji sama mama dan papa, akan membuat nya selalu bahagia dan mendapatkan apa yang di inginkan sampai terjadi seperti ini karena itu kesalahan om yang selalu memanjakan nya. Dia bilang sama om bahwa ibumu yang telah mengambil cinta pertama nya, dan tidak memperdulikan anak-anak nya. Salahnya lagi om tidak cari tahu dulu semua itu benar atau tidak. Karena di pikiran om hanya ada kebahagiaan yang harus di berikan dan mengembalikan lagi cinta pertama nya." Genta meremas tangan Blue kuat, Blue merasa kesakitan dan menepuk tangan Genta namun tidak di hiraukan seperti orang yang terhipnotis oleh cerita.


Arystan yang melihat itu dan Carel menampar wajah Genta walaupun tidak terlalu kuat, namun terasa sakit dan mampu menyadarkan seorang Magenta Alvarendra.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘

__ADS_1


IG : @istimariellaahmad98


See you...


__ADS_2