
Blue menghampiri resepsionis, ia ingin menemui papa Angga. Namun ia harus menunggu disana tanpa diantar ke ruangan Angga, karena Blue tidak ada janji dan Angga sedang ada pekerjaan diluar.
"Ya tuhan, sampai kapan aku akan duduk disini. Bokongku sudah mulai panas." Ucapnya membuat resepsionis tersenyum, karena sudah satu jam lamanya Blue menunggu di kursi itu.
"Om Angga," panggil Blue berdiri pada papa Angga yang baru saja tiba. Namun karena papa Angga tidak mengenal Blue dan memakai masker, jadi ia tidak menjawab sapaan Blue.
Blue membuka masker yang ia kenakan, melihat itu banyak yang terpesona dengan kecantikan wanita bule di depan mereka.
"Om Angga kenal saya?" Tanya nya membuat papa Angga tetap menatapnya.
"Ini Sky, om tahu 'kan? Blue Skyla." Ucapnya terpaksa menyebut nama lengkapnya.
"Astaghfirullah Sky, maaf om tidak kenal sama kamu. Kenapa kalian biarkan calon menantu saya disini." Sudah terlanjur papa Angga ucapkan, Blue hanya tersenyum dan kembali memasang masker nya. Banyak orang yang terkejut dengan ucapan papa Angga, karena tidak pernah Genta ke kantor selama ibunya meninggal.
"Maaf pak saya tidak tahu, karena nona ini tidak memberitahu kami kalau dia calon menantu anda."
"Bukankah bagus juga seperti itu? Kalau sampai Sky mengatakan itu, sudah pasti kalian tidak percaya dan malah mengusir nya." Benar apa yang dikatakan papa Angga, yang ada mereka akan mengusir Blue karena mengaku sebagai calon menantu atasannya.
"Kenapa malah memperkenalkan aku sebagai menantu nya." Batin Blue.
"Ada apa Sky?" Tanya papa Angga membuat Blue menatap orang sekitar.
"Boleh kita hanya bicara berdua, om?" Papa Angga juga melihat sekitanya, karena ada satu bodyguard dan beberapa staff yang menatap ke arahnya.
"Kamu boleh keluar, kalian kembali bekerja."
"Ayo ikut ke ruangan om," ajaknya membuat Blue mengangguk dan mengikuti papa Angga dari belakang.
Banyak staff yang membicarakan tentang Blue, namun selama yang ia dengar tidak menjelekkan dirinya, Blue akan tetap diam.
Mereka sampai di ruangan yang di tuju, papa Angga mempersilahkan Blue untuk duduk.
"Maaf Sky ganggu waktu kerjanya, tapi ada yang mau Sky bicarakan dan ini penting." Ucapnya serius terlihat dari wajahnya karena Blue sudah membuka maskernya.
"Apa yang mau kamu bicarakan Sky?" Tanya papa Angga.
"Eh tapi sebelum itu, apa Genta sudah lama tinggal di rumah kamu? Apa kalian sudah lama pacaran?" Tanyanya penasaran, papa Angga sudah lama tidak bertemu Genta, tapi tiba-tiba papi Edward mendatangi nya memberi kabar bahwa Genta akan menikah dengan anaknya.
"Genta-
Tok tok...
"Sebentar Sky." Papa Angga beranjak dan mendekati pintu, tentu ada yang penting karena sebelumnya sudah diberitahu jangan mengganggu.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya papa Angga.
"Maaf pak, ada Mr. Edward di depan."
"Kebetulan sekali ada anaknya, bawa dia kemari."
"Baik pak." Papa Angga kembali masuk.
"Sky, kebetulan sekali papi kamu datang kemari. Apa sebelumnya kalian janjian?"
"Tidak, Sky gak ada bilang kalau Sky akan kesini om." Blue terkejut saat mendengar papi nya akan datang.
"Kebetulan apanya, yang ada papi malah bertanya-tanya ngapain gue kesini." Batin Blue.
Tok tok...
"Itu sepertinya papi kamu." Ucap papa Angga membuat Blue merasa panas dingin sekarang.
"Pagi bapak Angga," sapa papi Edward sambil melirik anaknya.
"Pagi Mr. Edward." Mereka berjabat tangan.
Genta masuk menyusul Edward, membuat Blue menelan ludahnya dengan susah payah.
"Kamu baru juga sampai."
"Nanti Sky akan main kesini lagi om, permisi."
"Sayang, don't you want to say hello to papi? Kenapa terburu-buru saat papi baru sampai?" Tanya nya membuat Blue menatap papi nya.
"Papi."
Blue tertawa garing, ia memeluk papi nya, lalu segera pergi. Genta yang di dekat pintu mengejar Blue keluar.
"Apa mereka bertengkar? Mengapa seperti nya Sky sedang marah dengan Genta?" Tanya papa Angga.
"Biasa anak muda, apa saya boleh duduk?" Tanya papi Edward tersenyum.
"Astaga, mari duduk disini pak."
"Sky, gue mau ngomong sama lo." Genta mengejar Blue, karena Blue mempercepat langkahnya.
"STOP!" Genta memegang tangan Blue.
__ADS_1
"Apaan sih gen, gue buru-buru." Blue memasuki lift, dan Genta juga ikut masuk.
"Kenapa aku jadi gemetaran gini, ya tuhan." Batin Blue hanya diam tidak melirik ke arah Genta. Karena Blue tidak memperdulikan nya, akhirnya Genta mendorong Blue dan menahannya.
"Lo mau ngapain sih gen? Lepasin!"
"Gue cuma mau tanya, lo ngapain ketemu papa pagi-pagi? Mau bicara apa?" Tanya nya menatap mata Blue.
"Bukan urusan lo, gue cuma mau tahu kantor ini sekalian ketemu papa lo." Blue tidak mau jujur, tentu saja tidak akan.
Ting lift terbuka saat posisi mereka seperti itu, dan banyak para staff yang akan masuk. Genta langsung menjauh dari Blue, ia merapikan rambut jas nya.
"Tuan muda," sapa mereka membungkuk, Blue segera keluar diikuti Genta yang berjalan cepat.
"Seperti nya mereka sedang bertengkar, bukannya tadi pak Angga bilang kalau mereka akan segera menikah." Teman yang lain mengangguk.
"Ayo kita masuk, kalau sampai di dengar pak Angga gak enak." Mereka langsung masuk.
Genta mengejar Blue sampai di parkiran, Blue tetap tidak mau menjawab pertanyaan Genta.
"Tunggu sebentar Sky, lo mau kemana? Kenapa kamu pakai motor, gimana kalau terjadi sesuatu sama lo." Ucap Genta menahan Blue saat akan memakai helm.
"Gue bilang mau ke sekolah, gue juga udah gak apa gen, gue udah punya SIM."
"Punya SIM nembak aja bangga."
"Whatever." Blue memutar bola matanya malas.
"Biar gue yang nyetir, gue boncengin lo sampai sekolah." Genta mengambil helm Blue yang akan di pakai.
"Gue gak mau gen, lo kesini sama papi. Jadi siapa yang akan mengantar papi, sedangkan kuncinya sama lo." Genta menyadari itu, dirinya kesana bersama papi Edward. Blue segera mengambil helm itu dan memakainya, lalu dengan cepat melajukan motornya.
"Sky, stop! Anjing." Genta kembali mengeluarkan kata-kata mutiara nya, banyak orang menatap ke arahnya.
"Stupid, gue kan bisa simpan di resepsionis atau security." Genta merutuki kebodohan yang kadang datang di waktu yang kurang tepat. Karena Blue sudah jauh, Genta menunggu papi Edward di dalam mobil tanpa mau masuk lagi ke dalam apalagi menyapa papa Angga. Bukan karena benci, Genta hanya marah dengan papanya yang menutup informasi pencarian kecelakaan tunggal yang dialami ibu dan adiknya.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1