Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Di rumah sakit


__ADS_3

Blue bangun jam empat, ia meminta Arystan nomor pengawal nya di luar. Blue meminta tolong pada pengawalnya untuk membangunkan Genta dengan alarm ponselnya di tambah dengan ponsel milik pengawalnya.


Bunyi nyaring menyeruak di dalam ruangan membuat Genta langsung terbangun.


"Anjing lo kagetin gue atau mau buat telinga gue pecah?" Tanyanya menatap pengawal.


"Saya minta maaf tuan."


"Kenapa? Kaget? Memang itu yang gue mau, makasih pak."


"Sama-sama nona Sky." Pengawal itu memberikan ponsel Blue, lalu setelah itu keluar untuk kembali berjaga.


"Sky, lo mau bangunin gue atau mau bunuh gue dengan keadaan terkejut? Kalau telinga gue rusak gimana?" Blue hanya memutar bola matanya malas.


"Jangan lebay bisa? Sekarang shalat di musholla, setelah itu balik ke apartemen sambil beli sarapan." Genta beranjak dari duduknya mendekati Blue.


"Gue butuh energi sebentar, peluk gue dong." Genta langsung memeluk Blue tanpa menunggu izin dari istrinya.


"Gen bangun, lo berat tahu gak? Energi apaan sih, emang lo pakai baterai." Blue masih belum kuat untuk mendorong Genta.


"Iya, baterainya disini." Genta tetap memeluk Blue, ia merasa nyaman disana. Blue akhirnya membiarkan beberapa detik.


"Pulang gak? Atau gak akan pernah dapat energi lagi seumur hidup." Ancaman Blue membuat Genta menciut, ia masih mau memeluk Blue.


"Jahat banget, energi baru terisi 60%."


"Energinya habis karena lo belum cuci muka sama belum mandi, makanya menurun." Genta langsung memutar badannya untuk keluar.


Tapi belum sampai di pintu Genta sudah kembali mendekati Blue.


"Tapi peluk lagi nanti setelah shalat, gue akan kesini lagi."


"Langsung pulang atau seumur hidup?" Genta menghentakkan kakinya, mendengar ucapan Blue.


"Ih malu sama umur om, jangan mirip bocil."


"Terserah." Untuk kedua kalinya Genta sudah memutar badannya, namun masih kembali mendekati Blue.


"Apa lagi?" Tanya Blue.

__ADS_1


"Cium tangan sama cium kening belum, gue mau langsung pulang." Blue mencium tangan Genta, lalu Genta mencium kening Blue lebih lama dari biasanya. Blue mencubit pipi Genta agar cepat melepas kecupan nya.


"Aw sakit Sky, tega banget sama suami sendiri." Genta mengelus pipinya yang terasa sakit.


"Karena lo suami sendiri gue berani, kalau suami orang gue mana bisa."


"Lo gak perlu bantuan gue? Kalau mau ke kamar mandi gimana?"


"Ada penjaga diluar, tinggal minta tolong sama mereka." Genta langsung duduk di dekat Blue tidak jadi untuk pergi mendengar ucapan Blue.


"Lo kenapa duduk sih, sana shalat subuh gen."


"Lo sama gue gak mau minta tolong, malah mau minta tolong sama penjaga di depan. Mending gue gak usah keluar dan gak usah kerja juga buat jagain lo." Blue menghela nafas panjang.


"Gue bercanda kali, gue masih bisa jalan gen. Lo pikir gue lumpuh atau baru habis lahiran, sampai minta tolong penjaga."


"Iya, mending gue aja yang antar lo sekarang. Lo mau apa? Makanan diluar atau gimana?"


"Lebay banget woy, nanti gue minta bantu suster atau penjaga kalau untuk makanan. Lo tenang aja, sekarang lo shalat dan kerja supaya dapat duit yang banyak."


"Gue punya duit juga lo bukan beli pakaian atau skincare, tapi malah beli gelas buat pajangan."


"Idih geli banget masa depan kita,"sambung Blue geli sendiri dengan ucapannya.


"Helleh bilang aja itu impian lo hidup dengan gue, punya anak sepuluh makanya lo nyuruh gue banyak duit." Gaya Genta menyurai rambut nya kebelakang.


"Ih hello, hamil aja gue belum tentu mau apalagi sepuluh. Lo aja sendiri yang hamil dan ngelahirin. Enak aja tuh mulut ngomong anak sepuluh, santai amat lagi kek udah bisa ngerawat aja."


"Akan gue usahain bisa merawat anak dan istri gue." Blue pura-pura ingin muntah mendengar ucapan Genta, memang tidak ada keraguan sama sekali di wajah Genta, namun Blue belum siap dengan itu.


"Kalau lo sekarang belum juga shalat dan pulang ke apartemen, gue makin tidak akan pernah mau untuk punya anak. Gue hitung sampai tiga dari sekarang."


"Satu, dua-


Genta sudah berlari keluar. Blue tersenyum melihat Genta seperti itu terbirit-birit.


"Apa Genta benar-benar ingin punya anak sama gue? Tapi gue belum siap, apalagi gue belum mencintai Genta begitu juga Genta yang belum cinta sama gue." Blue selalu berpikir bahwa dirinya dan Genta belum saling mencintai, makanya tidak mungkin untuk sekarang memiliki anak bersama dengan orang yang tidak dicintai nya. Bisa aja setelah punya anak nanti mereka menyesal karena tidak ada cinta pada mereka.


Genta menghubungi Blue sebelum pulang ke apartemen, memastikan lagi istrinya benar-benar tidak membutuhkan nya.

__ADS_1


"Apa? Lo udah sampai?" Tanya Blue.


"Belum, gue masih di parkiran takutnya lo butuh apa-apa gue telepon lagi."


"Udah siang gen, lo mau sarapan apa jam segini belum pulang juga. Udah gue bilang gue gak apa, pikirin lo mau berangkat ke kantor jam berapa kalau sekarang aja belum mandi, belum sarapan." Blue kesal suaminya belum juga pulang ke apartemen nya.


"Iya Sky, jangan ngomel terus. Ini gue mau pulang makanya gue telpon lo dulu, nanti pulang dari kantor gue langsung kesini."


"Gue cuma gak mau lo telat, walaupun gak apa lo masuk telat, tapi sebagai contoh sama staff lain."


Genta meminta video call, Blue menjawab nya namun tidak memperlihatkan wajahnya.


"Gue mau pulang, mana muka nya yang barusan ngomel-ngomel gue mau lihat."


"Apaan sih gen, gak usah video call segala tadi lo udah lihat gue juga." Blue belum memperlihatkan wajahnya pada Genta.


"Yaelah pelit benar sama suami sendiri, gue mau lihat sebelum berangkat." Blue memperlihatkan wajahnya dengan mendekatkan kamera ke wajahnya.


"Puas, lihat terus sampai bosan."


"Gue gak bakalan bosan sama wajah istri gue sendiri, yang ada gue makin cinta." Genta tersenyum sedangkan Blue menahan senyumnya mendengar ucapan Genta.


"Sampai lo belum pulang juga dan masih nelpon gue terus sampai ke kantor, gue akan suruh penjaga tidak terima lo masuk lagi ke ruangan gue." Blue kembali mengancam Genta.


"Iya sabar dong Sky, gue cuma mau dengar suara sama lihat wajah lo sebelum kerja. Gue pulang dulu, see you later babe." Blue ingin muntah Genta selalu berkata manis, Genta sendiri tertawa melihat respon Blue.


Genta mematikan sambungan telepon nya dan menyalakan motor nya, lalu melajukan nya untuk segera sampai ke apartemen.


Genta masuk ke kantor, hingga jam makan siang ia mengatakan nya pada papi Edward untuk makan bersama Blue di apartemen dan izin tidak kembali lagi ke kantor. Papi Edward mengizinkan dan menitipkan salam untuk putri satu-satunya, ia berpesan agar Genta selalu menjaga Blue jangan sampai membiarkan putrinya merasa sakit.


Genta mengangguk saja dan menyanggupi permintaan dari papi Edward.


Genta keluar bersiap untuk ke rumah sakit, Della menunggu nya diluar. Ia sama sekali tidak tahu malu untuk mengajak Genta makan siang ada atau tidak nya Blue di dekat Genta. Genta menolaknya dengan lembut ketika sabarnya masih ada, dan menolak dengan kasar ketika sabarnya telah hilang.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2