
"Halo Sky, apa kabar?" Ucap seseorang membuat Blue menoleh.
"Mau apa lagi, lo?" Blue duduk sambil membaca bukunya.
"Sky Sky, ternyata lo beneran nikah sama orang lain tanpa menunggu gue." Blue sangat kesal melirik ke arah orang itu.
"Memangnya lo siapa? Kenapa harus nungguin lo segala? Kita gak ada hubungan apa-apa, Aaron." Aaron marah karena sudah tidak ada lagi di hati Blue.
"Gue masih anggap lo pacar gue, Sky. Jadi lo tidak boleh menikah dengan siapapun." Ucapnya memegang tangan Blue.
"Lepasin tangan gue bangsat, lo pergi dari sini sebelum gue patahin semua tulang di tubuh lo." Blue sudah hilang kesabaran karena Aaron tetap saja tidak melepasnya.
Aaron bersiul dan teman-temannya keluar menghampiri mereka.
"Asu, mainnya keroyokan. Gue tahu lo memang pengecut Ron." Blue melepas tangannya dari genggaman Aaron, ia beranjak dan menendang nya. Teman-teman Aaron maju dan mengelilingi Blue, lalu mereka mulai mengeroyok.
Blue masih mampu mengimbangi mereka, dengan kemampuan yang ia miliki. Namun semakin lama Blue lemah dengan tenaga laki-laki tentu saja berbeda.
"Sebaiknya lo nyerah Sky, lo gak bakal bisa ngalahin mereka." Blue sudah melemah, tangannya saat akan meninju lawan ternyata terjatuh dan mengenai aspal kasar.
Mereka bertepuk tangan melihat Blue sudah seperti itu, wajah Blue juga ada di beberapa bagian terlihat memar.
"Gue tunggu lo nyerahin diri dan mau menikah sama gue." Blue masih mengepal tangannya, ingin sekali ia merobek mulut Aaron.
"Sampai kapanpun gue gak bakal mau nikah sama lo, jangankan menikah, balikan jadi pacar aja gue ogah." Aaron menampar wajah Blue.
"Gue bisa aja lakuin lebih dari ini, tapi gue masih sayang sama lo, nanti wajah lo hancur." Aaron memegang wajah Blue dan membelainya, Blue menatap Aaron tidak suka dan menjauhkan wajahnya dari tangan Aaron.
"Mau gue bantu ke rumah sakit? Atau ke rumah gue?" Ucapnya sambil tertawa bersama teman-teman nya.
"Anjing, gue gak butuh dibantu lo, bajingan." Blue masih saja berkata kasar pada Aaron.
"Apa perlu kita habisi sampai mati saja, Ron?" Tanya temannya.
"Cukup, hanya untuk mainan. Kalau nanti gue tanya dia masih tidak mau, baru kalian buat dia tidak bisa lagi bernafas di dunia ini."
"Bye Sky, cewek yang kuat tidak akan ngadu sama bokap nyokap lo, apalagi kakak dan suami bajingan lo itu. Ayo guys kita pergi." Mereka meninggalkan Blue yang terduduk di atas aspal.
Blue mencari ponsel nya menghubungi Carel dan Arystan, ia meminta bantuan kedua kakaknya.
__ADS_1
Blue merasa tidak bisa pulang sendiri, makanya meminta kakaknya datang di dekat kampus.
"Kenapa Sky minta kita ke dekat kampus sampai shareloc segala? Pasti ada sesuatu."
"Memangnya tadi kita yang disuruh kesana lo gak nanya, ada apa?"
"Sky cuma nyuruh cepat ke lokasi yang dikirim, terus bawa mobil bareng lo."
"Ada apa sih? Gue khawatir sama dia. Bukannya dia masih marah sama lo, tapi kenapa dia nyuruh kita berdua kesana?"
"Jangan banyak tanya boleh? Cepat aja, gue takut terjadi sesuatu sama Sky." Mereka melajukan mobilnya dengan cepat, sedangkan Blue berjalan pelan kembali ke kursi menunggu kakaknya sampai, sambil meringis memegang wajah dan tangannya.
Kedua kakaknya sudah sampai, mencari Blue dengan sesuai lokasi yang dikirim.
Carel dan Arystan melihat ada wanita yang mereka tahu sudah pasti itu adiknya, mereka cepat berlari menuju Blue.
"Sky, kamu kenapa disini?" Tanya mereka.
Mereka terkejut saat Blue mendongak, "kak, tolong bawa Sky pulang. Sky lemes." Ucapnya sendu menatap kedua kakaknya, dengan sigap Arystan menggendong Blue diikuti Carel dan membantu membuka pintu mobil.
"Kita ke rumah sakit, kakak gak mau tahu." Blue tidak mampu untuk menolak.
"Jangan bilang sama papi dan mami, Sky mohon!" Blue tidak ingin orang tuanya khawatir.
Mereka tidak lagi menjawab ucapan Blue, Arystan hanya mengemudi mobil nya menuju rumah sakit.
Setelah sampai Blue di gendong Carel, mereka gantian membawa Blue. Pihak rumah sakit sudah tahu kalau itu anak dari pemilik rumah sakit. Arystan dan Carel teriak memanggil dokter agar cepat menangani adiknya yang lemah.
"Lo bisa cepat tangani adik gue atau gak? Bengong aja kalian." Dokter dan perawat yang lain cepat membawa Blue masuk untuk memeriksa keadaan nya.
"Lo minta beberapa orang kepercayaan kita mencari tahu disekitar kampus tadi, cari tahu apa yang terjadi dengan Sky. Gue gak akan mengampuni bajingan brengsek itu." Arystan marah sangat marah melihat adiknya yang biasanya ceria dengan mereka, sekarang lemah banyak luka lebam seperti itu. Carel menjauh dan menghubungi orang yang akan ia suruh untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan adiknya.
Dokter sudah keluar dan membolehkan Arystan dan Carel masuk, karena luka yang Blue alami adalah luka ringan di bagian luarnya saja, namun juga bisa bahaya jika dibiarkan.
"Genta, gue harus kirim foto tangan Sky, apa dia akan mengenali nya." Arystan hanya melirik saja, disaat seperti ini adiknya itu malah ingin bermain-main.
Genta langsung menghubungi Carel, ia mengenali tangan istrinya. Namun tidak ada cincin pernikahan nya di jari manis Blue.
__ADS_1
"Lo kirim foto tangan itu bukan Sky 'kan? Gak mungkin itu Sky, cincin pernikahan selalu dia pakai, tapi cincin di jempol nya gue ingat."
"Gue akan kirim alamatnya, lo harus cepat kesini, gen." Carel tidak memberitahu Genta.
"Gue tanya itu Sky atau bukan? Lo gak perlu kirim alamat apapun kalau itu bukan siapa-siapa gue."
"Cepat ke rumah sakit, Sky di rawat."
Tut tut tut....
Genta langsung mematikan sambungan telepon nya, ia sudah tahu pasti rumah sakit milik mertuanya. Genta di panggil oleh papi Edward, namun hanya berlari tidak menghiraukan mertuanya.
Mengendarai mobilnya, karena sekarang Genta memang sering menggunakan mobil Blue sekalian untuk mengantar jemput istrinya ke kampus.
Ketika sampai Genta dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit, ia bertanya ruangan yang baru saja di rawat bernama Blue Skyla.
"Maaf pak, saya tidak sembarangan untuk orang ini. Karena beliau adalah anak pemilik rumah sakit."
"Gue suaminya, bilang dimana ruangan nya?" Resepsionis itu merasa takut dengan tatapan Genta yang tajam, ia memberitahu ruangan Blue. Genta langsung menuju ruangan yang diarahkan resepsionis.
Genta masuk ke ruangan Blue dirawat, ia melihat Blue yang wajahnya sudah banyak luka lebam dan tangannya juga memar.
"Ada apa? Kenapa Sky seperti ini? Siapa yang lakuin ini sama dia?" Genta mendekati Blue melihat tangannya yang banyak luka, ia tidak tega istrinya terbaring lemah seperti itu.
"Lo tenang dulu, gen. Kita sedang mencari tahu dari orang suruhan gue, informasi akan segera dikirim. Pesan Sky jangan sampai papi dan mami tahu." Lagi-lagi Genta belum memberitahu mertuanya, bahwa dia keluar dari kantor tanpa sepengetahuan nya.
"Gue harus kabari papi, kalau gue pulang cepat." Arystan dan Carel mengangguk, Genta menghubungi papi Edward sedikit menjauh dari brankar Blue.
Sementara Genta menelepon, Carel sudah mendapatkan informasi serta lengkap cctv yang terjadi dengan adiknya di dekat kampus. Genta sudah kembali dan mereka segera melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata Aaron mantan pacar Blue saat sekolah SMA, Aaron tidak terima jika Blue telah menikah bukan dengan dirinya. Mereka mendengar rekaman suaranya sangat jelas bahwa Blue menolak nya, dan Aaron juga main keroyokan tidak berani melakukan sendiri.
"Kurang ajar, akan gue habisi dia dengan tangan gue sendiri." Genta sangat marah melihat video saat Blue dikeroyok, walaupun ia akui Blue memang pemberani masih mampu untuk bertahan dengan keroyokan mereka.
"Lo harus tenang, gue juga tidak akan tinggal diam. Gue akan bantu lo, malam ini kita berangkat." Genta kembali menatap Blue yang memejamkan matanya, menggigit bibirnya marah sambil mengepalkan tangannya, mereka harus merasakan lebih parah dengan apa yang Blue rasakan sekarang.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...