
Genta sudah pulang dengan buru-buru membawa dua kantong kresek, karena baru sampai di kantin saja Blue menyuruh kakaknya menghubungi Genta dan cepat kembali.
"Wahh akhirnya datang," ucap Blue dengan semangat terlihat dari senyuman yang merekah saat Genta datang membawa makanan yang ia pesan.
"Se kangen itu lo sama gue, sampai gue disuruh cepat balik." Genta mengeluarkan makanan yang ia bawa dan meletakkan di meja di depan Blue duduk di atas ranjang.
"Gue gak kangen sama lo, tapi pengen cepat makan ini." Tunjuk nya pada makanan di hadapannya.
"Cepat makan Sky, nanti keburu dingin gak enak. Mau papi yang suapi?" Tanya papi Edward menatap anaknya.
"Papi ikut makan aja, Sky bisa makan sendiri kok. Lagian Genta beli banyak, lo juga makan gen."
Blue mengambil sumpit dan mencoba nya sambil meniup makanan itu sebelum memasukkan nya ke dalam mulut.
"Ih gue ngambek nih, gue pesan yang pedes banget loh tapi kenapa ini dikit aja gitu rasa pedasnya." Blue meletakkan sumpit yang ia pegang.
Genta juga meletakkan sumpit nya dan melirik Blue.
"Gue memang harus siaga kalau lo dan anak gue butuh apa-apa, tapi gue kasian kalau makanan pedas itu masuk ke perut lo dan akhirnya lo bakal sakit." Keluarga Blue menatap itu tersenyum, Genta benar-benar tulus terlihat dari tatapannya pada Blue.
"Tapi gue mau yang pedes, ini mau nya baby gen, bukan gue." Mata Blue berkaca-kaca menatap Genta.
Genta gelagapan menatap Blue yang sebentar lagi akan menumbuhkan air matanya.
"Makan aja lah dek, nanti Genta beliin yang kamu mau. Dari pada sakit perut dan akhirnya kamu gak bisa pulang dari sini, mau?" Tanya Arystan. Blue menggelengkan kepalanya kembali ke mode manja nya.
Blue kembali mengambil sumpit dan memasukkan bakso yang masih panas, Genta tertawa menatap Blue, karena panas ia keluarkan dari mulutnya dan memasukkan nya ke mulut Genta.
Dengan sekejap Genta terdiam dan menatap Blue tajam, "an-
Ucapan yang hampir keluar, namun tidak ia teruskan mengingat kedua ipar dan juga mertuanya berada disana.
"Mau ngomong apa, lo?" Tanya Carel.
"Lo mau berkata kasar gen? Lu gak inget kalau nanti anak kita denger."
"An- Antangin maksud gue kek nya harus stok, soalnya gue sering masuk angin." Genta memaksa tersenyum ketika dirinya di pojokkan sambil mengunyah bakso yang disuapi Blue.
"Enak bakso nya gen? Pasti enak lah orang dari mulut adik gue." Ucap Arystan. Mereka tertawa mendengar penuturan dari Arystan.
"Bangsat." Genta hanya menatap tajam Arystan.
__ADS_1
"Sayang, mami harus kembali cepat. Kakak dan suami kamu akan tetap disini untuk mengurus kamu sampai pulang. Kalau ada apa-apa segera hubungi mami sama papi. Ayo Pi!"
"Kenapa mami ingin cepat-cepat? Sky masih kangen sama mami dan papi."
"Bahaya Sky! Em maksud mami kalau masih ada mami dan papi disini, kamu akan lupa kalau ada kakak dan suami kamu. Kalau sudah sembuh langsung kembali ke rumah ya, karena masih rentan kehamilan kamu." Blue menatap wajahnya dan menunjukkan dari mata mami nya ada rasa takut, dari cara bicaranya juga menunjukkan seperti itu. Blue bisa menangkap perasaan takut dari sang mami.
"Baiklah, hati-hati membawa permaisuri nya Pi."
"Siap, papi sama mami pulang ya! Besok kalau sudah boleh pulang hubungi papi dan mami biar kita ikut menjemput." Blue mengangguk terus menatap wajah mami nya yang terlihat berbeda.
Papi dan mami memeluk Blue bergantian dan menciumnya, lalu setelah itu mereka keluar.
"Sky, habiskan makanannya." Genta ingin menyuapi Blue namun ditolak karena merasa sudah kenyang.
"Gue udah kenyang gen, lo aja yang makan semuanya."
"Lo kenapa? Apa ngerasa mual?" Tanya Genta membuat Blue menggelengkan kepalanya.
"Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu? Sky ngerasa aneh sama mami dan papi, walaupun papi terlihat nampak sangat tenang berbeda dengan mami yang seperti merasa khawatir."
Genta melirik kedua iparnya.
"Itu hanya perasaan lo aja sih, bukannya terlihat jelas mami tersenyum dan meluk lo sebelum pulang."
"Keras kepala banget adik kalian, gimana kalau sampai ada apa-apa sama Sky saat kita balik nanti? Gue juga takut kalau sampai Sky dan anak gue kenapa-kenapa." Ujar Genta, terlihat dari wajahnya yang merasa khawatir. Setelah beberapa menit melihat Blue kembali istirahat.
"Lo tenang aja gen, gue jamin Sky gak akan tahu kalau semua orang tutup mulut. Tapi gak akan aman seperti sebelumnya kalau itu tentang musuh lama." Arystan juga merasa takut, jika terjadi apa-apa dengan adik kesayangannya.
"Gue takut banget Sky di apa-apain, gue gak mau adik gue ninggalin kita."
"Lo pikir gue mau? Sky adik gue selamanya, gak akan ada yang bisa gantiin dia dari posisi adik kesayangan gue."
"Kalau mami hamil lagi?" Tanya Genta.
"Gak mungkin! Mami sudah tidak mau punya anak lagi cukup tiga aja."
"Eh lo gak lupa ngabarin Valen 'kan? Dia juga harus tahu karena semua pekerjaan lo titip ke dia." Carel mengingatkan kakaknya jika Valen akan lembur.
"Anjing, dari tadi dong harusnya lo bilang. Bisa-bisa gue di blacklist jadi calon suami, elah Valen masih di kantor gak gue kabarin lagi." Arystan langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Valencia yang sedang berada di kantor nya.
"As- eh maksud nya halo, lo masih di kantor?" Tanya nya lupa jika Valencia seorang non muslim.
__ADS_1
"Menurut lo? Gue rebahan sedangkan pekerjaan numpuk lo serahkan ke gue semua, apakah gue harus berkata baik bangsat!" Ucapnya Valencia sudah terdengar tidak bisa menahan amarahnya.
"Mulut lo! Gue minta maaf karena emang gak bisa balik, soalnya Sky baru siuman dan sekarang lagi istirahat."
"Kenapa gak di bilang dari tadi sih, gue mau ke rumah sakit jengukin Sky."
"Bentar lagi gue jemput, kelarin dulu kerjaan di kantor baru lo boleh pulang." Arystan langsung mematikan secara sepihak tanpa menunggu persetujuan dari Valencia.
"Apa lo kira cewek bakal betah dan nerima cowok yang gak berperasaan seperti lo, kak? Dari cara lo aja bikin gue muak, kalau gue jadi Valen mending cari cowok baru sih."
"Bener tuh, lagian di kantor cakep-cakep rel. Atau sekarang lagi di bantuin sama staff lain ya? Apa lagi yang mau Valen pikirin, yang ada dia lebih leluasa dengan orang baru." Genta sengaja memanas-manasi Arystan supaya lebih peka dengan pasangannya.
"****! Jagain adek gue, awas kalian macem-macem." Arystan pergi meninggalkan Carel dan Genta begitu saja setelah mengatakan itu.
"Dia pikir kita apaan? Gue kakak nya juga bego emang tuh orang, bilang aja cemburu kalau Valen dekat sama orang lain."
"Lah gue juga suaminya, mau apa-apain gimana juga istri gue lagi sakit. Sebenarnya adik kakak hampir sama."
"Iya namanya juga kakak adek gen, ya jelas hampir sama walaupun gak sama persis."
"Maksud gue hampir sama peak nya cuma dengan versi masingmasing," lanjut nya sambil tertawa.
"Bangsat lo."
"Gue denger apa yang kalian bicarakan, gue belum tidur. Please jangan bikin gue overdosis eh maksudnya over thinking dengan cerita separuh kalian. Ada apa dengan gue? Jangan bilang gue bukan adik kandung kak Arys dan kak Carel." Batin Blue yang masih pura-pura dengan memejamkan mata.
"Eh untuk masalah tadi pagi gue masih menyuruh orang untuk segera kasih semua biodata lengkap asisten tadi, soalnya gue penasaran apa gue kenal dia atau gak. Lo denger sendiri tadi dia ngomong apa, padahal seingat gue yang memang gak pernah amnesia gue gak pernah kenal sama dia."
"Bisa aja lo lagi kobam anjing, sering dulu pas awal-awal kuliah dan lo jalan sendiri karena dulu lo nge-band juga."
Carel memang mempunyai hobi nge-band dan tampil di kampus, namun setelah disuruh papi Edward sambil urus kantor dirinya mulai tidak terlalu berlatih dan sering jalan dengan Arystan dan Genta.
"Lah lama amat, gue juga lupa tapi jelas yang gue inget dia satu kampus sama gue." Genta dan Carel masih terus berbincang tentang asisten pagi tadi yang mengundurkan diri.
Sedangkan Blue masih bergelut dengan pikiran nya sendiri, dirinya juga ikut takut jika sebenarnya yang ia pikirkan terjadi seperti drama di film-film.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...