Magenta dan Blue

Magenta dan Blue
Pernyataan cinta


__ADS_3

Blue menatap kosong sosok seseorang yang sedang tertidur memegang tangan nya, ia bingung dengan perasaan hati dan juga pikiran yang sedang kalang kabut. Bagaimana jika dirinya bukan anak dari keluarga Sagara? Apa Genta masih akan tetap bersamanya atau dengan adik dari sahabat nya yang lain.


Genta terbangun merasakan tangannya sedikit bergerak karena Blue mengepal tangannya.


"Sky," panggil Genta.


Blue tersadar dari tatapan kosongnya dan menatap Genta.


"Lo butuh sesuatu? Kenapa gak bangunin gue?" Tanya Genta karena tidak ada jawaban dari Blue.


"Lo cinta sama gue, gak?" Tanya Blue membuat Genta bingung dan malah mengecek suhu di dahi Blue.


"Gak ada yang panas, kenapa tiba-tiba nanya begitu." Blue membelakangi Genta dan menutup kembali matanya.


"Sky, lo kenapa? Apa ada mimpi buruk? Bilang sama gue jangan diam gini."


"Udah lupain aja, gue tadi cuma ngetes lo udah sadar atau masih linglung karena baru bangun."


"Lo gak mungkin nanya gitu hanya untuk tes gue udah sadar atau belum, pasti ada hal lain."


"Sok tahu banget sih lo, mending lo tidur lagi jangan berisik! Gue mau bobo sama anak gue. Ingat pokoknya besok harus sudah boleh pulang gue gak mau tahu." Blue tidak mau mendengar alasan Genta mau bicara apa, yang jelas dirinya ingin tidur dan besok harinya harus sudah di perbolehkan pulang.


"Keras kepala sekali orang satu ini, untung bini gue dan ibu dari anak-anak gue." Genta hanya menghela nafas nya pelan takut mengganggu Blue yang istirahat kembali. Karena bernafas aja Genta sekarang jadi masalah.


"Setidaknya gue masih bicara dalam hati, walaupun cuma gue sebagai hamba dan Allah yang tahu." Batin Genta


Lalu mulai membaringkan kepalanya kembali untuk ikut istirahat, karena dirinya juga butuh istirahat yang cukup untuk meladeni ibu hamil.


...******...


Pagi sudah terang dua orang itu belum juga terbangun, padahal biasanya mereka siap untuk shalat.


"Assalamualaikum, woy bangun kalian." Carel yang baru saja datang mengganggu tidur nyenyak adik dan suaminya.


Genta meregangkan otot nya sambil mengerjap sedikit melihat ipar nya sudah datang bersama Valencia.


"Kalian ngapain subuh begini udah datang ganggu orang tidur aja."


"Eh lihat noh subuh, jam di atas dinding terlihat jelas sekarang itu sudah pagi bukan lagi subuh." Saat Genta lihat memang jam menunjukkan pukul setengah delapan, melirik kesamping juga iparnya sudah pada rapih untuk berangkat ke kantor.


"Ya Allah, gue kesiangan." Genta buru-buru keluar untuk ke mushalla melaksanakan shalat subuh yang kesiangan.


"Sky harus gimana? Mau shalat di ranjang gini gimana caranya? Ya Allah kalau Sky hari ini pulang janji deh besok di ganti, soalnya juga gak tahu caranya."


"Iya kalau kamu nya gak bisa gak apa, Islam tidak memberatkan hambanya untuk melaksanakan jika tidak mampu." Arystan sambil melirik Valencia yang mengangguk setuju, mungkin ini salah satu caranya untuk Valencia log in.


"Kakak kangen banget sama kamu, terakhir kamu izin ke kampus tapi ternyata hilang." Valencia menyesal karena tidak mengantar Blue.


"Itu sudah berlalu kak, tidak usah merasa bersalah seperti itu. Lagian ini bukan karena orang lain, tapi ulah Sky sendiri ingin bermain." Ujar Blue sedikit bercanda.


"Bahaya Sky, kamu bukan hanya membahayakan satu nyawa, tapi dua nyawa sekaligus. Ingat! Kamu itu sedang hamil ya, ponakan kakak harus sehat bersama ibunya." Tangan Valencia sambil mengelus perut Blue.


"Siap kakak ipar." Ucap Sky mengundang tawa dari Carel, Arystan hanya tersenyum sedangkan Valencia malu-malu. Entahlah dengan hubungan kakak pertama nya itu Blue dan Carel juga tidak tahu apakah sudah ada hubungan atau hanya saling mengharapkan.


"Gen, jadi kan hari ini gue pulang?" Tanya nya membuat Genta melirik iparnya.


"Jangan bilang belum boleh? Atau kalian belum bilang ke dokter nya Sky udah baik-baik aja. Please! Gen kita ke apartemen aja gue bosen disini." Blue memohon agar dirinya boleh pulang.


Karena menunggu orang-orang yang menurut Blue sangat lambat seperti mereka, Blue memanggil dokter sendiri dengan menekan tombol.


"Apa kalian memanggil saya? Apa ada sesuatu dengan nona Sky?" Tanya dokter dan suster yang masuk tergesa-gesa.


"Saya sendiri yang memanggil dokter, saya sudah baik-baik saja dok jadi tolong izinkan saya pulang."


"Saya akan kembali periksa keadaan anda nona, sepertinya anda juga terlihat sangat jauh lebih baik." Blue hanya mengangguk dan menatap kesal empat orang di hadapannya.

__ADS_1


"Sebenarnya anda lebih bagus disini, namun tidak buruk juga bila pulang dan bersama keluarga besar. Itu lebih baik mengurangi stress pada ibu hamil, saya sarankan anda untuk selalu banyak istirahat dan tidak beraktivitas dulu sebelum benar-benar pulih."


"Terima kasih dok, bisakah anda dan suster saja yang mengantar saya ke depan? Saya mengidam ingin diantar kalian." Ucap Blue sebagai alasan karena tidak mungkin juga di tolak permintaan nya oleh dokter.


"Baik nona, mari." Blue menjulurkan lidahnya pada suami dan kedua kakaknya dan meninggalkan mereka yang masih mematung. Bisa-bisanya mereka hanya diam saat adiknya berjalan sendiri tanpa keluarga nya.


"Dok, biar saya yang antar istri saya sendiri. Terima kasih karena sudah sudi memenuhi permintaan anak saya." Ucap Genta mengambil alih tangan Blue yang sejak tadi memegang tangan dokter.


"Baik tuan saya permisi," jawabnya pergi bersama suster.


"Apaan sih lo, gue bisa pulang sendiri." Blue melepas tangan Genta paksa, namun Genta tetap tidak mau melepaskan nya.


"Gue yang akan antar lo, Sky."


"Kepala batu."


"Kalau lo batu, gue akan lebih dari batu. Lo istri gue yang lagi hamil anak gue, mana mungkin gue biarin lo pulang sendiri dengan keadaan seperti ini."


"Keadaan seperti apa sih, gue udah baik-baik aja juga! Terserah lah." Blue tetap memberontak, namun tenaganya juga lemah.


"Nurut aja dek, kakak juga harus ke kantor. Suami kamu mah aman itu gaji tetap masuk tanpa ke kantor di tambah dari klinik nya." Carel dari belakang nya membuka suara.


"Sky gak butuh duit kak,"


"Butuh nya apa? Cinta dari Genta?" Celetuk Carel.


"Apasih ke kantor sana."


Mereka sudah berada di basemen Genta mengambil mobil untuk segera pulang begitu juga Arystan, Carel dengan motor besarnya.


"Sky, sampai ketemu nanti kakak akan menemui mu nanti."


"Iya kak, jangan lupa nanti bilang papi sama mami kalau kakak siap jadi istri kak Arys dan siap jadi menantu mereka." Goda Blue lagi, karena kakak pertamanya lama bergerak bisa-bisa Blue memakai ide licik untuk mereka.


"Takut lo yang budeg makanya gue nyaringin biar gak perlu nguping." Blue memang sudah di dalam mobil, namun belum menutup pintu mobilnya.


Bam..


Suara pintu mobil di tutup dengan kuat membuat beberapa orang melihat mobil Blue dan Genta. Arystan, Carel juga Valencia hanya menggelengkan kepalanya melihat dua orang yang sampai akan menjadi orang tua pun masih sering berdebat tidak jelas.


"Astaghfirullah, stok sabar saya tambahkan ya Allah!"


Genta hanya menahan agar tidak meluapkan emosi dengan menggenggam stir mobil dengan erat.


"Ayo pulang, kita ke apartemen atau ke rumah papi?"


"Kita ke rumah papi aja ya, soalnya gue mau ke kantor di rumah papi banyak orang jadi enak kalau butuh apa-apa." Blue mengangguk setuju, ia juga takut jika terjadi apa-apa dengan kandungan nya yang terbilang masih lemah.


Genta melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Sky tadinya ingin memainkan ponselnya namun tidak jadi karena ingin melihat pemandangan saja.


Ada dua mobil mencegat mobil yang Genta dan Blue kendarai, Genta tidak bisa pergi dari sana ternyata di belakang dan di samping mereka juga ada satu mobil lagi.


"Gen, mereka siapa?" Tanya Blue.


"Tenang ya, gue juga gak tahu mereka siapa." Genta ingin menenangkan Blue, tapi dirinya juga merasa panik.


"Gen, mereka pasti mau mencelakai kita. Gue bisa beladiri tapi gue masih lemah gak bisa lawan mereka." Blue mendekat dan memegang lengan Genta.


"Siapa yang nyuruh lo lawan mereka, tenang ada gue disini." Genta mengelus kepala Blue lembut.


"Jangan bilang ini musuh papi, gue takut Sky diculik." Batin Genta memeluk Blue.


"Apa kita kabur jalan kaki aja, lagian mereka cuma prank kita kali. Lihat aja sampai sekarang belum turun juga."


Genta mengambil ponsel dan menelepon papi Edward bergantian dengan mengirim pesan agar kakak ipar nya juga segera meluncur.

__ADS_1


"Lo tenang jangan panik, oke? Gue udah hubungi papi, Arys dan Carel."


"Tapi mereka sudah keluar dan menghampiri mobil kita. Gen, gue takut." Blue memeluk Genta semakin erat.


"Iya jangan takut Sky ada gue." Kuat pun jika di keroyok tidak ada gunanya, beberapa dari mobil sudah turun.


"Buka pintunya, keluar kalian!" Blue dari dalam menggelengkan kepalanya memeluk Genta.


"Lo didalam jangan keluar, gue akan lawan mereka."


"No. Lo gak boleh keluar gen, gue gak mau lo kenapa-kenapa." Blue khawatir dan mulai mengeluarkan air matanya.


"Lo jangan nangis Sky, gue gak akan kenapa-kenapa."


Blue tetap menggelengkan kepalanya saat Genta melepas pelukannya dan akan keluar.


"Gen, gue cinta sama lo. Tolong jangan keluar!"


Genta tersenyum dan mengecup kening Blue.


"Keluar kalian!" Dari luar mereka sudah mengedor pintu.


"Gue juga cinta sama lo, kunci pintunya saat gue keluar. Percaya sama gue, gue akan baik-baik aja." Genta keluar dari mobilnya dan langsung di serang. Blue menangis di dalam melihat Genta lawannya tidak sebanding. Ia ingin membantu namun kondisi nya tidak memungkinkan.


"Keluar kamu, apa kamu tidak mau membantu suamimu?" Salah seorang dari mereka mencoba memprovokasi Blue.


"Kasihan sekali jadi suami kamu, istrinya tidak mau membantu."


Blue tidak suka ada orang yang sombong sepertinya, ia juga melihat Genta sudah kewalahan menghadapi musuh.


Blue keluar dari mobil untuk membantu Genta.


"Tetap di dalam Sky, biar gue yang lawan mereka."


"Jangan sok jagoan mau melindungi istrinya, kamu aja baru segini sudah kewalahan melawan kita."


"Bacot, kalau mau lawan jangan keroyokan."


Bugh


Satu pukulan mengenai wajah Genta.


"GENTA!!!"


"Gue gak apa Sky."


Blue yang ingin membantu suaminya tangannya di tahan oleh dua orang.


"Lepasin istri gue, kalian boleh siksa gue tapi jangan dia."


Blue menangis melihat Genta sudah di hajar habis-habisan.


Dibawa ke mobil, Blue memberontak saat dirinya diseret masuk ke dalam mobil.


"Lepas! Kalian mau bawa gue kemana? GENTA..!!" Tanya blue sedikit berteriak.


"SKY...!!!"


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...

__ADS_1


__ADS_2