
Blue sudah siap berangkat ke kampus, Blue mencari Genta sampai keluar.
"Sky, lo mau berangkat tanpa pamit sama gue?" Tanya Genta langsung membuat Blue menoleh.
"Gue kesini cari lo, kalau gue gak ada niatan mau pamitan dari tadi juga gue berangkat, gak perlu cari lo lagi." Genta menghampiri Blue yang sedang berdiri, menatap dari atas sampai ke bawah.
"Apa sih lo lihat gue gitu?"
"Harus banget ke kampus pakai baju begini? Celana nya kurang bahan." Blue menatap tajam suaminya, ia selalu mendengar ucapan Genta yang tidak menyukai cara berpakaian terbuka nya.
"Cukup ya gen, gue mohon jangan larang semua yang gue pakai. Gue hanya pakai yang menurut gue nyaman, jadi jangan komentar tentang pakaian gue. Lagian gue bawa sweater."
"Apapun yang lo pakai akan gue komentar, mau lo gak nurut sama gue terserah. Gue hanya berkomentar karena gue gak suka, terutama karena gue suami lo."
"Whatever, gue pamit." Blue berjalan namun Genta memegang tangannya.
"Pamit sama suami begitu caranya? Tanpa mencium tangan dan mengucap salam?" Tanya Genta membuat Blue menghembuskan nafasnya panjang.
Blue menuruti Genta mengambil tangannya dengan kasar, dan mengucap salam lalu pergi.
"Sky," panggil Genta.
"Apa lagi? Mau larang gue pergi?" Blue kesal dengan semua keinginan Genta.
"Hati-hati, jangan lupa telepon gue kalau udah selesai." Hanya mendengar nya tanpa menjawab apa-apa, Blue kembali melanjutkan langkah nya menunggu ojek online.
"Dasar bocil, astaghfirullah. Kalau gue gak sabar udah gue marahin lo, Sky. Gak ada sopan-sopan nya sama suami." Genta langsung masuk ke dalam apartemen nya, setelah melihat istrinya pergi.
Arystan masih di kantor bersama Valencia, ia mau bicara sesuatu, namun tidak bisa untuk mengatakan nya.
"Saya ada perlu, keruangan saya sekarang!" Perintah Arystan dari telepon.
"Bos temperamental, ada apa lagi?" Valencia langsung beranjak untuk ke ruangan atasannya.
Valencia mengetuk pintu ruangan Arystan, dan masuk setelah di izinkan oleh Arystan.
"Ada apa pak Arys?" Tanya Valencia berdiri di depan Arystan.
"Nanti malam ikut saya bertemu klien di luar." Membuat Valencia terkejut, karena biasanya tidak mengajaknya, melainkan dengan sekretaris yang diberikan papi seorang laki-laki.
"Tapi pak, biasanya -
"Saya tidak suka di bantah, persiapkan saja dirimu untuk bertemu klien. Hanya itu saja, sekarang kamu boleh keluar!" Valencia sangat kesal, ingin sekali ia mencakar nya.
"Baik pak, saya permisi." Valencia keluar dengan tangan mengepal.
...******...
Blue sedang memainkan ponselnya meminta Genta untuk menjemput nya, setelah selesai mengirim pesan Blue berjalan keluar dari tempat minum. Namun ia seperti tidak asing dengan dua orang yang sedang minum bersama, walaupun tidak berdua saja, tapi kakaknya itu tidak pernah mengajak Valencia bertemu klien selama Valencia menjadi sekretaris. Blue mengabadikan momen itu dan memotretnya, setelah selesai Blue keluar untuk ia tunjukkan pada Valencia nanti setelah ketemu.
Blue senyum-senyum sambil berjalan keluar, tapi ponsel yang ia pegang di ambil oleh orang di depannya.
__ADS_1
Blue melihat orang itu, tentu saja Blue langsung marah.
"Balikin handphone gue," ucap Blue meminta baik-baik.
"Ambil aja kalau bisa." Orang itu adalah Aaron, ia tertawa bersama teman-teman nya.
"Gue udah minta baik-baik, tapi lo malah mau main-main."
"Tentu saja gue mau main dengan si cantik Sky." Aaron mencolek dagu Blue, dengan cepat Blue memelintir tangan nya dan mengambil ponselnya. Teman Aaron hendak melawan dan Blue juga membuat mereka babak belur. Mereka membantu Aaron berjalan dengan tangan yang mungkin patah.
"Sky," panggil Genta melihat istrinya berdiri memandang Aaron dan teman-temannya masih disana berusaha berjalan pergi.
Blue berlari menuju Genta, lalu memeluknya.
"Genta, gue takut. Mereka tadi ganggu gue."
Genta melirik Aaron dan teman-teman nya yang berusaha menjauh dari Blue dengan kaki pincang dan tangan yang kesakitan, tapi yang ketakutan malah baik-baik saja.
"Sudahlah Sky, gue udah tahu semuanya. Sebelum melihat kejadian ini." Blue melepas pelukannya.
"Maksud lo apa sih gen? Gue gak ngerti." Blue membenarkan pakaiannya, pura-pura tidak mengerti.
"Sekarang tidak perlu berpura-pura, gue sudah tahu lo dan Valen belajar beladiri." Blue langsung pergi mencari motor Genta. Ia sudah hafal dengan motor suaminya.
"Pakai helm nya." Genta memberikan helm pada Blue. Namun tak sengaja Blue melihat kakaknya dan Valencia keluar. Blue berlari dengan cepat menuju kakaknya.
"Siapa sih?" Arystan pura-pura tidak mengenali adiknya.
"Jahat banget sih."
"Apa kabar Sky? Kakak kangen banget sama lo." Valencia memeluk Blue.
"Sky juga kangen banget sama kak Valen."
"Ini yang membuat gue makin gak kenal, sama kakak sendiri gak di peluk."
"Sky peluk kakak ipar aja."
"Lo apaan sih, Sky?"
"Kak Valen anterin Sky pulang ya?" Valencia melirik Genta yang menggelengkan kepalanya.
"Suami lo ada disini, lagian lo juga udah pakai helm. Tapi kalau Genta mau pinjamkan motornya gak apa gue anter lo pulang."
"Enak aja, gue kesini mau jemput dia. Kalau tahu gini gue gak jemput aja sekalian."
"Jangan macam-macam sama adik gue, bawa dia pulang."
"Sama aja, harusnya kak Arys yang nikah sama Genta kalian sangat serasi. Ayo pulang!" Blue pergi dengan berjalan cepat menuju motor suaminya lagi, Arystan menepuk mulutnya merasa bersalah.
"Gue titip adik gue, pasti ngambek sama gue tuh anak."
__ADS_1
"Bukan cuma sama lo, sama gue juga gitu tiap detiknya." Genta langsung ngibrit pergi meninggalkan Arystan dan Valencia, karena di panggil oleh Blue.
"Gue malah kasian sama Genta, tapi gue juga kasian sama Sky." Arystan melirik Valencia, terdengar tidak ada bedanya ia kasihan dengan keduanya.
"Cepat masuk, gue antar lo pulang. Makin malam ngomongnya malah ngelantur." Arystan masuk ke dalam mobilnya setelah memastikan adik dan iparnya benar-benar pergi.
"Lo ngapain disana? Bukannya tadi siang izinnya mau ke kampus?" Tanya Genta, sedangkan yang di tanya terus menguap tak memperdulikan pertanyaan Genta.
"Sky," panggil Genta.
"Hm."
"Lo jangan tidur ya, bahaya tahu gak." Blue hanya berdehem menyandarkan kepalanya di bahu Genta.
"Sky, kalau mau tidur nanti di apartemen."
"Iya, bawel." Blue memeluk perut Genta sambil memejamkan matanya, Genta melirik tangan Blue yang melingkar di perutnya sambil tersenyum. Genta melajukan lebih cepat motornya, supaya segera sampai di apartemen.
Setelah sampai di depan apartemen, tangan Blue terlepas dari perut Genta.
"Astaghfirullah, untung udah sampai di sini. Sky, bangun!" Genta menepuk tangan Blue.
"Bangun! Atau gue lempar?" Blue merengek tidak jelas, namun turun dari motor Genta. Saat Genta turun dari motornya dan menyimpan helm nya, ia berbalik ternyata istrinya sudah terduduk di sana.
Genta hanya menepuk dahinya, lalu duduk juga di depan Blue.
"Sky," panggilnya memegang tangan Blue.
"Gen, gendong. Gue ngantuk banget sumpah. Besok gue masakin yang enak, tapi sekarang gue udah gak kuat jalannya."
"Masak aja baru belajar, mau di masakin yang enak apanya."
"Ih Genta, cepat gendong! Besok gue masakin apa aja, tapi lihat resep online dulu. I promise." Genta kasihan dengan Blue, ia melepas dulu helm yang di pakai oleh Blue dan menggendongnya.
"Badan kurus aja berat, keberatan di dada sama bokong nih orang." Blue yang masih bisa dengar Genta, langsung menabok mulut suaminya itu.
"Gue lempar juga nih bocah, udah minta gendong malah di tabok mulut gue." Genta membaringkan Blue di ranjang nya.
"Sky, bangun dulu ganti baju. Bersih-bersih dulu lo baru dari luar."
"Gantiin baju gue dong, bersihnya besok aja." Genta melotot kan matanya, Blue ini sadar apa tidak yang dia katakan.
"Tidur aja, kalau gatal-gatal gue gak tanggung jawab." Blue tetap memejamkan matanya, ia sudah tidak kuat untuk membuka matanya lagi.
Genta segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lalu mengganti pakaian dan berbaring di samping Blue.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1