
**Kembali jumpa lagi kita, sehat semua kakak reader dan author.
jangan kebanyakan makan opor dan ketupat 🤭.
***
Richard bangun dari tempat tidurnya, setelah meraba-raba disebelahnya tidak ada lagi Aisha.
Sejak kebelakangan hari ini Aisha selalu bangun lambat, tetapi hari ini Aisha bangun cepat. Membuat Richard sedikit heran, biasanya Richard yang membangunkannya. Itu juga dengan bermacam cara, dan ancaman ekstrim yaitu bercinta dalam mobil membuat Aisha terlonjak bangun dan nyicing kabur kedalam kamar mandi.
Richard bangkit dan masih bertelanjang dada, Richard berjalan ke balkon.
Richard merentangkan tangannya, untuk menghirup udara segar dipagi hari.
Walaupun ini sudah jam 6:25, tetapi matahari masih malu-malu keluar dari peraduannya. Mungkin karena matahari masih tertutup awan.
Richard melakukan perenggangan otot-otot nya, tiba-tiba pandangan matanya terkunci kerumah tetangga depannya yang baru masuk kemarin.
"Siapa itu, apa itu wajah si pria tengil !" seru Richard, ketika melihat seorang pria yang sedang melakukan apa yang sedang Dia lakukan saat ini . Dan pria itu melambai-lambaikan tangannya kearahnya.
Richard kembali masuk dan mencari sesuatu dari dalam lemari, setelah menemukan apa yang dicarinya. Richard bergegas keluar menuju balkon dan melihat kearah orang yang masih berada di balkon dan masih melakukan gerakan olahraga.
Richard memakai teropongnya dan melihat wajah David dengan jelas dan terlihat wajah David yang nyengir.
"Sejak kapan si tengil menjadi tetangga depan rumahku ?" tanya Richard berbicara sendiri.
Richard kembali masuk dan menyambar baju dan memakainya sambil berjalan mencari Aisha.
"Asay..! Asay !" panggil Richard.
Aisha yang mendengar suara panggilan Richard, berlari dari arah dapur dan mulutnya masih gembong. Karena baru diisinya dengan cemilan keripik tempe.
"Stop..!" seru Richard, saat diketahuinya mulut Aisha baru makan yang berbau tempe.
Aisha berhenti, lima langkah dari hadapan Richard.
"Asay sedang makan itu lagi?" tanya Richard, sambil menutup mulutnya.
Aisha menganggukkan kepalanya.
"Nanti saja mas bicara, mas mau mandi dulu. Asay, selesai makan itu. Tolong sikat gigi ya ," ucap Richard.
Aisha hanya dapat menganggukkan kepalanya.
Richard kembali kedalam kamarnya, untuk mandi.
Sedangkan Aisha, kembali kedapur dan meminum coklat dan makan keripik tempe.
"Kenapa nak Aish ?" tanya Bu Yanti, karena melihat wajah Aisha yang terlihat sedih.
"Mas Rich, nggak mau dekat-dekat dengan Aisha. Katanya Aisha bau tempe, huuaaa...!" tangisan Aisha keluar seperti anak kecil kehilangan benda kesayangannya.
"Duh..kok nangis !" Bu Yanti heran melihat Aisha menangis sembari memakan keripiknya.
__ADS_1
Neneng yang masuk kedalam dapur juga heran, melihat majikannya menangis.
"Bu Yanti apakan Non Aisha ?" tanya Neneng.
"Lah..kok salah ibu ? ibu nggak ngapa-ngapain, sumpah !" ujar Bu Yanti.
"Sudah nak Aish, jangan nangis. Mungkin Den Richard bukannya tidak mau dekat-dekat dengan nak Aish, tapi karena tidak tahan mencium bau tempe itu ." tunjuk Bu Yanti, kearah tempe diatas meja.
"Kenapa mas say nggak mau dekat-dekat dengan tempe ini, katanya dulu mas say sangat suka tempe," ucap Aisha sembari tersedu-sedu.
"Mungkin karena keseringan lihat tempe, jadi enek. Sudah hampir seminggu di atas meja menu serba tempe ," kata Neneng.
Huaa.....
Tangis Aisha muncul kembali, setelah mendengar ucapan Neneng.
"Maaf..maaf !" seru Neneng, dengan perasaan bersalah.
Aisha meninggalkan dapur dalam keadaan menangis Bombay.
"Bu, ada yang aneh dengan Non Aisha. Apa lagi hamil ya Bu ?" tanya Neneng kepada Bu Yanti.
"Mungkin juga, mungkin nak Aish ngidam tempe," kata Bu Yanti.
"Syukur hanya ngidam tempe, tetangga ku di kampung. Malah ngidam pare, setiap hari suaminya disuruh minum juice pare ," kata Neneng.
"Kalau Non Aisha ngidam pare, dan kita semua disuruh minum pare. Gawat, bisa kecut wajah Den Richard selama Non Aisha ngidam." ngekeh Neneng.
Aisha masuk kedalam kamarnya, setelah mandi lagi dikamar tamu.
Aisha masuk kedalam kamarnya dan dilihatnya Richard duduk disofa, ditangannya tergenggam ponselnya.
Aisha masuk kedalam walk in closet, untuk mengganti bajunya. Dia berjalan sambil menundukkan kepalanya, Aisha tidak melihat kearah Richard.
Richard yang melihat Aisha berjalan didepannya tanpa melihat kearahnya merasa heran. Tetapi ia tidak mengikuti Aisha masuk kedalam walk in closet.
Richard menunggu Aisha keluar.
Setelah berganti pakaian, Aisha keluar dari dalam walk in closet.
Masih seperti saat masuk kedalam kamar tadi, saat keluar dari dalam walk in closet. Aisha tetap menunduk dan berjalan cepat ingin keluar dari dalam kamar.
"Asay !" panggil Richard sambil bangkit dari duduknya, dan berjalan mengejar Aisha yang ingin keluar dari dalam kamar.
"Mau kemana ?" Richard menarik lengan Aisha, sehingga Aisha menghentikan langkahnya.
"Mau ke dapur ," jawab Aisha, terus menundukkan kepalanya.
"Untuk apa kedapur lagi, didapur sudah ada yang bertugas ?" tanya Richard dan memegang dagu Aisha dan mengangkatnya.
Betapa kagetnya Richard, melihat mata Aisha yang sembab. Karena habis menangis.
"Asay nangis ?" Richard menarik Aisha kedalam dekapannya, dan mendaratkan kecupan dipucuk kepala Aisha.
__ADS_1
Aisha menangis kembali dalam pelukan Richard, membuat Richard heran.
"Ada apa ? kenapa nangis ?" tanya Richard.
Aisha hanya menggelengkan kepalanya.
Richard tidak memaksa Aisha untuk mengatakan apa yang membuatnya menangis.
"Jangan nangis ya, mas juga akan ikut nangis juga. Jika Aisha tidak berhenti nangisnya," kata Richard.
"Oh ya, mas say ingin bertanya. Apa Asay tahu, siapa tetangga depan kita itu ?" Richard membawa Aisha ke balkon dan menunjuk kearah rumah depan.
"Iya tahu, Mayang ," jawab Aisha.
"Kenapa tidak bilang, mas kaget. begitu keluar ke balkon, mas melihat wajah David. Membuat mood mas terjun kebawah !" seru Richard dengan wajah yang masam.
"Aish juga baru tahu tadi pagi, saat Mayang datang kerumah ," kata Aisha.
"Kenapa harus bocah tengil itu yang menjadi tetangga kita ." gerutu Richard.
"Mas say marah ?" tanya Aisha.
"Mas nggak marah, cuma mas kesal. Dia selalu berkata yang tidak masuk akal, apa lagi sekarang Dia memanggil mas dengan Om besan !" kesal Richard.
Mendengar perkataan Richard, Aisha mulai tersenyum. Dan moodnya mulai membaik.
"Baguskan mas say, jika anak kita nanti menjadi menantu orang yang sudah kita kenal ," kata Aisha.
"Oh no ! jangan sampai !" seru Richard dengan tegas.
"Aish senang, jika nanti kalau Aish punya anak. Sudah besar dan berjodoh dengan anak Mayang dan David " kata Aisha.
Mata Aisha membesar dan terlihat senyum dibibirnya, saat melihat kedepan gerbang. Mobil Alana masuk kedalam gerbang yang terbuka lebar.
Richard juga melihat kearah mata Aisha, dan melihat kedatangan mobil Alana.
"Kenapa pagi sekali anak nakal itu datang ?" tanya Richard kepada Aisha.
"Hari ini, Aish akan pergi nemani Alana fitting baju mas ."
Aisha segera turun kebawah untuk menyambut kedatangan Alana.
*
*
*
*
**Bersambung...
Terimakasih atas like and komentarnya, mohon maaf. Typo bertaburan 🙏🙏**
__ADS_1