Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 231 Dou galau


__ADS_3

Happy reading guys..


**


Dama sibuk dengan menjamu tamu yang tidak diundang, berbeda dengan Rodrick. si kembar yang bungsu, sibuk menata hatinya yang belum bisa menaklukkan gadis yang suka di godanya.


Jessie, gadis yang jinak-jinak merpati. Julukan yang disematkan Rodrick kepada Jessie.


Rodrick membuka ponselnya, dia tertawa lebar. Ketika menonton ulang Vidio saat dia menakut-nakuti Jessie dengan seekor ular, Jessie berlarian sampai keluar dari dalam klinik.


Jessie ngancam Rodrick, akan mogok kerja jika Rodrick tetap mengerjainya.


"Pak dokter! awas ya, Jessie akan mogok kerja. Jessie akan demo didepan klinik, jika Pak dokter tetap ngerjain Jessie!" ancam Jessie, dikedua tangannya ada sapu. sebagai pengaman, jika Rodrick terus mengejarnya.


"Mogok lah, silakan. Aku akan pecat." balik Rodrick mengancam Jessie.


"Hih... Pak dokter sangat...sangat menyebalkan!" seru Jessie.


"Untuk apa kerja disini, kalau takut dengan hewan?" Rodrick masuk kedalam klinik, Jessie masih bertahan di luar klinik.


"Karena takut hewan, aku harus berada disini. Bagaimana aku mau menjadi dokter hewan, jika takut dengan hewan" gumam Jessie.


Jessie bekerja di klinik Rodrick bukan karena uang, tetapi karena Jessie trauma dengan hewan. Terutama ular. Sedangkan dia diterima fakultas kedokteran hewan.


"Pak dokter, Jessie masih diluar." beritahu Umar, pegawainya.


"Biarkan saja, nanti masuk juga" sahut Rodrick seraya berjalan menuju keruangan kerjanya.


Seperti yang dikatakan Rodrick, akhirnya Jessie masuk juga kedalam klinik.


"Yeah..neng, masuk juga?" ledek Umar.


"Panas diluar" sahut Jessie.


"Neng, dengan anjing sudah sohipkan? mandikan yang baru masuk kemarin," kata Umar.


"Lah... kenapa Jessie disuruh mandiin doggy terus? protes Jessie.


"protes ini..? mandikan ular saja mau?"


"Oh...no! doggy saja" kata Jessie.


****


Keane duduk di sofa, Mada berada didekatnya dengan menyandarkan kepalanya di dada Keane.


"Kita nginap disini ya," ucap Keane.


"Nginap, nanti Papa dan Daddy cari .kita belum minta izin?" Mada mendongak melihat wajah Keane.


"Kakak nelpon Papa, tapi tidak ngangkat. Kak Keane hubungi Mama Mayang, mama bilang Papa dan Daddy pergi lihat restoran Papa yang baru. Grandpa dan uncle Edward juga ikut" kata Keane.


"Mereka pergi semua?"


" Iya, Daddy dan Papa pergi. Hanya mommy dan Mama Mayang dirumah" kata Keane.


"Kita tidur di apartemen saja, nggak apa-apa kan?" tanya Keane.


Mada tidak menjawabnya, matanya menatap kearah televisi yang sedang menayangkan film romantis. Apa yang dilihatnya di televisi, sama dengan apa yang dilakukannya dengan Keane saat ini. Duduk di sofa, saling berpelukan.


Karena tidak ada jawaban dari Mada, Keane melihat kearah Mada. Dia tersenyum kecil. Saat melihat wajah Mada memerah, dengan mata tidak berkedip melihat kearah depan. Satu titik pandangan fokus pandangan mata Mada, yaitu televisi besar didepan mereka duduk.

__ADS_1


Mada mengalihkan pandangannya dari televisi, saat adegan pasangan tersebut sedang melakukan adegan laga bibir.


"Kenapa? ingin ya?" bisik Keane ditelinga Mada.


Wajah Mada semakin memerah, terlihat sekali kegugupan dari raut wajahnya. Walaupun sudah pernah melakukannya, Mada masih terlihat malu melihat adegan dewasa. Dan sebenarnya lebih dari adegan dalam televisi sudah pernah dilakukannya.


"nggak." ucap Mada sembari menggelengkan kepalanya.


"Betul?" goda Keane.


Tangannya yang berada dipundak Mada bergerak-gerak di tengkuk Mada, membuat Mada merinding. Karena tengkuknya adalah salah satu titik terlemah Mada, selain telinganya.


"Hih kak Keane, geli ah...!" bergidik Mada.


"Geli? ini geli?" Keane menyapukan lidahnya ditelinga Mada.


"Kak Keane." suara Mada nyaris tak terdengar.


"Hemm" sahut Keane.


"Mada mau tidur," ucap Mada.


"Tidur? ayo." Keane mengangkat Mada.


"Mada bisa jalan sendiri kak!" seru Mada, minta diturunkan dari gendongan Keane.


"Biar cepat sampai" Keane terus membawa Mada masuk kedalam kamar, dengan sebelah kakinya. Keane menendang pintu, sehingga tertutup dengan sendirinya.


Didalam kamar hanya terdengar suara teriakan Mada, dan suara rayuan manis yang keluar dari dalam mulut Keane. Sehingga tidak terdengar lagi, apa yang dilakukan oleh keduanya.


Berbeda dengan Keane yang mulus dalam menuntaskan hasratnya, Dama penuh dengan perjuangan.


Dama senang, karena hasil masakannya ludes tidak tersisa. Setelah selesai makan, Dama juga membuat pencuci mulut. Yaitu puding buah-buahan.


"Ah... sungguh kenyang" kata Edward sembari mengusap-usap perutnya.


"Apa uncle mau minum kopi?" tawarkan Vely.


"No, uncle tidak sanggup lagi untuk mengisi lambung ini" kata Edward.


"Daddy?" tanya Vely kepada Richard.


"Cukup." tolak Richard.


"Papa tidak boleh !" tegas Vely kepada David.


Tak berapa lama berbincang-bincang, grandpa merasakan kantuk. Begitu juga dengan Edward.


"Grandpa tidur dulu ya, mata grandpa sudah tidak mau terbuka ini" kata grandpa.


"Oke Opa, good night " ucap Vely.


"Uncle juga mau tidur, perut kenyang. Bawaannya ngantuk " kata Edward menyusul Daddy-nya.


Kini tinggal Richard dan David, yang masih terbuka mata. Kini keduanya asik bermain catur.


Dama terus melihat kearah jam yang tergantung di dinding, kemudian melihat kearah Papanya dan Daddy Richard.


"Kenapa keduanya masih segar bugar, apa karena dosisnya tidak banyak?" dalam benak Dama.


Ternyata, masakan yang dimasak Dama. Dibubuhi oleh Dama sedikit obat tidur, setelah Dama browser. Jika hanya sedikit tidak akan berbahaya, asal jangan keterusan.

__ADS_1


Dama sudah menguap berkali-kali, sedangkan mata Vely sudah terbuka-tertutup. Dan kepalanya sesekali tertunduk karena kantuk, sedangkan Richard dan David masih cerah. Watt matanya mungkin 100 watt.


"Papa tidak mengantuk ?" tanya Dama.


"Belum, Papa masih semangat ini. ingin mengalahkan mas besan" kata David, masih fokus dengan anak-anak catur didepannya.


"Daddy?" Vely terbangun.


"Belum, sini. Vely tidur disisi Daddy" Richard menepuk sofa yang didudukinya.


Vely merebahkan tubuhnya disamping Richard, dan paha Richard dijadikannya bantal kepalanya.


"Kenapa keduanya tidak terpengaruh obat tidur ya, kenapa Vely yang tidur?" bingung Dama.


"Papa itu belum terlalu sehat, papa harus istirahat cepat. Nanti Mama tahu, Papa itu begadang main catur. Siap-siap Papa mendapatkan Omelan dari Mama" kata Dama.


Hoammm!!


Richard dan David menguap secara bersamaan.


"Akhirnya" senyum Dama.


"Daddy juga ngantuk, bagaimana dengan Vely?" Richard melihat Vely yang sudah dalam kondisi tidur meringkuk.


"Biar Dama angkat Dad" sahut Dama.


Dama memicingkan matanya, pandangan matanya dalam menatap Dama.


"Ada apa mas besan?" tanya David yang sudah berdiri ingin masuk kedalam kamarnya.


"Ingat Dama, jangan macam-macam!" ingatkan Richard.


"Tenang Daddy, Vely juga sudah tidur itu. Dama juga sudah sangat mengantuk ini, hoamm!" Dama menguap, menandakan dia juga sudah mengantuk. Tidak mungkin melakukan apapun kepada Vely.


"Awas ya!" sebelum Richard menuju ke kamarnya.


"Iye.." sahut Dama.


"Vely.. Vely..bangun " Dama menggoyang-goyangkan badan Vely.


Vely membuka matanya.


"Sudah pagi?" Vely mengira, Dama membangunkannya karena sudah pagi.


"Belum, ayo pindah ke kamar " kata Dama.


Vely bangkit, dengan masih setengah bernyawa. Vely berjalan menuju kamar.


Begitu berada dalam kamar, Vely langsung merebahkan tubuhnya. Dama mengunci pintu.


Dan....


"Kak...!"


Apa yang dilakukan oleh??


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2