
Jumpa lagi dengan author, maaf jika ceritanya tidak sesuai dengan selera.
***
Aisha menghentikan larinya, mendengar suara ada yang jatuh dan mendengar teriakkan Alana.
"Aisha...!!!". teriakkan Alana mengangetkan burung-burung yang sedang asik mencuri padi.
Aisha menoleh, betapa kaget Aisha. Begitu melihat Alana sudah berada didalam petak sawah dalam keadaan telungkup.
"Apa yang kau lakukan disitu Alana?" setelah Aisha berjalan mendekati Alana.
"Aku sedang berenang disini, kau mau ikut Ayo ." celetuk Alana yang berusaha untuk berdiri.
"Ah... kenapa lumpur ini menahanku." Alana berusaha untuk berdiri, tetapi kakinya terlalu dalam terbenam didalam lumpur.
"Sini, kau pegang tanganku." Aisha mengulurkan tangannya, Alana meraih tangan Aisha.
Tetapi...
Burrr...
"Aw...!" Aisha turut terjerembab kedalam petak sawah, wajah dan sekujur tubuhnya penuh dengan lumpur.
"Alana !" Aisha merasa jengkel dan mengambil lumpur, kemudian melemparkannya kearah Alana.
Mendapatkan serangan lumpur, Alana tidak tinggal diam. Dia juga mengambil lumpur dan melemparkannya kembali kearah Aisha, sehingga terjadi perang lumpur antara Alana dan Aisha.
"Cukup Al, aku capek." Aisha mengangkat tangannya untuk menghentikan perang lumpur.
"Ais, kenapa kau lari ke persawahan begini. Lihatlah, aku kotor begini. Kenapa tidak lari saja tadi ke rumah makan, kan kita bisa makan sekalian," ujar Alana, sembari membersihkan lumpur yang melekat ditubuh dan rambutnya.
"Aku lari saja, kemana kakiku melangkah aku ikut saja. Lagi pula untuk apa kau mengikuti ku ," kata Aisha.
"Aku takut kau akan bunuh diri," kata Alana.
"Untuk apa aku bunuh diri, rugi ," ketus terdengar suara Aisha.
"Untuk apa kau lari ?" tanya Alana.
"Aku benci mereka semua !" ujar Aisha sambil memukul-mukul tangannya kelumpur.
"Termasuk nenek dan ibumu ?" tanya Alana.
"Iya," jawab Aisha.
"Tetapi kenapa kau membencinya?"
"Karena mereka menyembunyikan fakta yang sebenarnya, bahwa Ayahku masih hidup. Nenek dan ibu seharusnya terus terang bahwa pria itu pergi meninggalkan kami ."
"Mungkin ada yang tidak kau tahu Ais, beri kesempatan ayahmu untuk membela dirinya," kata Alana.
"Aku tidak butuh ayah, dimana Dia saat aku membutuhkannya. Dimana dia saat orang-orang mengatakan aku anak haram, karena rupaku yang berbeda !" seru Aisha dengan ucapan yang berapi-api, dan air matanya mengalir. Tetapi tidak terlihat, karena tertutupi oleh lumpur.
"Sorry Aish ," ujar Alana, saat didengarnya suara Aisha yang bergetar. Menandakan Aisha emosi.
Keheningan melanda diantara mereka berdua, sampai terdengar suara .
__ADS_1
"Apa-apaan ini !" terdengar suara dari dekat mereka.
Dua wajah yang sudah penuh dengan lumpur, menoleh keasal suara.
"Hai mas say ." Aisha melambaikan tangannya.
"Om ." begitu juga dengan Alana.
Sedangkan Richard berkacak pinggang menatap dua tubuh yang sudah ditutupi oleh lumpur, terlihat badan keduanya seperti orang-orangan sawah.
"Oh Tuhan, apa kesalahanku. Sehingga Kau mengirimkan dua anak kecil yang harus ku asuh ," ucap Richard sembari menatap ke angkasa dengan tangan terentang keatas.
"Naik !" seru Richard kepada Aisha dan Alana.
"Nggak bisa mas say, lumpur ini seperti ingin menahan kami," kata Aisha dengan suara yang pelan, nyaris tidak terdengar.
"Al..!"
"Sama Om, lumpur ini mencintaiku Om. Sehingga lumpur ini tidak rela jika Alana pergi, lihat Om ." Alana berusaha berdiri dan mengangkat kakinya dari lumpur, tetapi tidak bisa dilakukannya.
"Ah...kalian ini, ayo ." Richard mengulurkan tangannya kepada Aisha dan Alana.
Karena tarikan tangan Richard, akhirnya Aisha dan Alana berhasil keluar dari lumpur.
"Pulang !"
Aisha dan Alana berjalan didepan, dan Richard mengikuti dari belakang, dengan wajah tanpa ekspresi.
"Aish, Om Richard marah," kata Alana.
"Aish, kau dekati. Biar Om Richard tidak marah ," kata Alana.
"Kau lah, aku takut. Tidak kau lihat, wajah mas say seperti akan menerkam kita ," kata Aisha dengan ekor matanya sedikit melirik kebelakang melihat Richard.
"Tapi Dia suami mu ," ujar Alana.
"Dia Om mu ," balas Aisha.
Richard yang mendengar perdebatan mereka menjadi tersenyum.
"Ternyata mereka berdua takut juga dengan ku." guman Richard.
Bayangkan guys, Richard dibelakang mengikuti Aisha dan Alana yang badannya penuh lumpur. Richard seperti sedang mengiring bebek-bebek untuk pulang, setelah puas bermain disawah.✌️( maaf Al, Aish. Author emang jahat dengan kalian berdua)😀.
Begitu akan tiba dirumah neneknya, Aisha dan Alana berdiri disamping pagar. Mereka takut untuk masuk kedalam, mereka seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.
"Kenapa berhenti ?" tegur Richard.
"Mas say, please ! jangan marah ya ." Aisha menghampiri Richard dan memegang ujung kemeja Richard dengan tangan berlumpurnya.
"Ini ." Richard menunjuk kearah tangan Aisha yang memegang bajunya.
"Maaf mas say." ujung bibir Aisha manyun kedepan.
"Ternyata, Aisha bisa juga diandalkan untuk merayu Om Richard." dalam benaknya Alana.
"Om, jangan marah lagi ya." sekarang, Alana yang membujuk agar Om Richard nya bisa menghentikan tatapan matanya yang mengerikan menatap mereka berdua.
__ADS_1
Richard sudah ingin tertawa melihat kelucuan istri dan keponakannya, tapi Dia berusaha untuk menahannya.
"Masuk !" perintah Richard.
"Mas say, tolongin kami ya. Jika nenek dan ibu marah," kata Aisha, tatapan mata Aisha penuh harap.
"Tidak mau, kalian berdua harus menanggung sendiri." tolak Richard.
"Masuk ." perintah Richard kembali, kepada keduanya.
"Baiklah," jawab Aisha dan Alana secara bersamaan.
Keduanya berjalan dengan tertunduk lesu, siap-siap menerima Omelan nenek dan ibunya.
Begitu memasuki halaman, Aisha dan Alana saling memandang. Dan keduanya mengangkat kepalanya.
"Kenapa sepi ?" tanya Aisha.
"Kemana mobil semua?" tanya Alana, karena dihalaman hanya ada mobil Richard dan truk ngangkat padi yang ada.
"Aish, apa mereka kabur. Karena jijik melihat tampang kita begini ?" tanya Alana kepada Aisha.
"Apa mereka tahu, tampang kita begini ?" keduanya saling pandang, setelah tidak menemukan jawabannya. Aisha dan Alana memandang wajah Richard.
"Mas ?"
"Om?"
"Cepat bersihkan tubuh kalian, kita kerumah sakit ," ujar Richard.
"Rumah sakit ! ibu... !? teriak Aisha, dan langsung berhambur masuk kedalam rumahnya.
"Aisha...!" panggil Richard.
"Om siapa yang sakit ?" terlihat wajah Alana juga panik.
"Ayah Aisha terkena serangan jantung," jawab Richard.
Aisha kembali keluar, setelah tidak menemukan seseorang didalam rumah.
"Ibu..?" pipi Aisha sudah penuh dengan air mata bercampur sisa-sisa lumpur yang mengering, sehingga terlihat lucu.
"Cepat bersihkan badan kalian, biar kita kerumah sakit ." tegas suara Richard.
"Siapa yang sakit, nenek atau ibu mas say ." rengek Aisha.
"Lihat saja, cepat." ulang Richard kepada keduanya.
Tanpa diperintah lagi, Aisha dan Alana berlari masuk kedalam rumah.
Richard menunggu sembari menghubungi seseorang, setelah hampir lima belas menit menunggu. Aisha dan Alana keluar sudah dalam keadaan bersih.
"Ayo ." Richard masuk kedalam mobil, diikuti oleh Aisha dan Alana.
**Bersambung guys..
Maaf ya jika ceritanya garing✌️**
__ADS_1