Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 255 Ibu RT


__ADS_3

**Jangan lupa untuk selalu menekan tombol like ya, kakak-kakak reader.


Terima kasih atas dukungannya πŸ™


Happy reading guys ❀️**


***


Hubungan Rodrick dan Jessie seperti kucing dan tikus, saling kejar dan saling menjahili.


Sejak menikah, Jessie tidak bekerja lagi di klinik Rodrick. Jessie hanya kuliah saja, itu juga setelah melalui perdebatan panjang. Jessie tetap keukeh ingin bekerja di klinik, Rodrick keukeh agar Jessie belajar saja.


"Pak Dokter, bagaimana Jessie berani dengan hewan. Jika Jessie tidak diizinkan untuk berbaur dengan hewan" ujar Jessie.


Tangannya bersedekap dada, matanya menatap wajah Rodrick dengan dalam.


"Nyonya, suamimu sarankan . Berhenti saja dari kuliah, Nyonya ini tidak cocok jadi dokter hewan. Lebih cocok jadi istri dokter hewan, wajahmu yang menggemaskan ini. Ingin aku masukkan kedalam saku kemeja ini ." rayuan receh Rodrick membuat Jessie tersipu malu.


"Hih... Pak dokter!" senyum malu-malu Jessie membuat Umar yang melihatnya mulai iseng menggodanya.


"Cie...cie! akrab ya, ntar ribut lagi" ledek Umar.


"Mar, kau ini mengganggu saja. Sana pergi cari makan, kalau bisa ke Cirebon atau ke Atambua sekalian" ujar Rodrick seraya mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang merah dua lembar kepada Umar.


"Aduh Pak dokter, tidak sekalian saja suruh saya beli makan ke kutub Utara." gerutu Umar sembari berjalan keluar dari dalam klinik,


"Jessie juga mau pamit, mau kampus" kata Jessie.


"Hei.. nanti dulu, enak saja main pergi saja. Temani aku disini, Umar lama itu beli makan" ucap Rodrick.


"Untuk apa Jessie disini? Jessie sudah dipecat kan?"


"Dipecat dari klinik, tapi bukan dari hatiku ini." rayu Rodrick sembari menaik turunkan alis matanya.


"Pak Dokter salah makan obat ya? kenapa genit sekali?"


"Hanya genit dengan nyonya dokter, diluaran sana tidak" kata Rodrick.


Percakapan tidak jelas keduanya terhenti, dengan terbukanya pintu klinik. Seorang gadis masuk, senyum manis keluar dari bibirnya. Senyum itu tertuju kepada Rodrick.


"Hai Drick" sapa gadis tersebut.


"Donita..!" tangan Rodrick terbuka lebar menyambut kedatangan Donita.


Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki, membuat Jessie yang menatap menjadi kesal.


Wajah Jessie terlihat sangat kesal, menatap kedua orang yang melupakan keberadaannya.


"Apa kabar Drick? kau makin ganteng saja " ucap Donita.


"Aku baik saja, dan kau. Kapan tiba? dan tahu darimana klinik hewan ini?" tanya Rodrick.


"Satu-satu mas Bro, kau ini tidak pernah berubah. Bertanya selalu banyak" ujar Donita.


"Aku sudah seminggu di kota ini, dan aku tahu tentang klinik ini dari teman-teman kita. Hemm..! kau hebat, bisa buka klinik sendiri. Tapi tidak heran, donatur pasi banyak disekitar mu" kata Donita.


Mata Donita mengitari ruangan klinik hewan Rodrick, matanya terserobok dengan mata Jessie.

__ADS_1


"Dia ?" tanya Donita kepada Rodrick.


"Oh..aku lupa, kenalkan dia adalah.." perkataan Rodrick dipotong oleh Jessie.


"Karyawan..aku karyawan klinik ini." ucap Jessie dengan mengulurkan tangannya kepada Donita.


Donita menyambut uluran tangan Jessie.


"Karyawanmu hanya satu Drick, wanita lagi " kata Donita.


"Tidak, dia ini.." lagi-lagi ucapan Rodrick menggantung, karena tatapan mata Jessie memberanikan tanda kepada Rodrick untuk tidak mengatakan apa yang ingin dikatakannya.


"Ada dua, satu pria pergi" Jessie yang menjawab.


"Jessie!" Rodrick kaget mendengar ucapan Jessie mengenai dirinya hanya sebagai karyawan, bukan istrinya.


"Ayo Drick, bawa aku melihat-lihat klinikmu ini " Donita mengandeng tangan Rodrick.


"Ayo" sebelum beranjak dari dekat Jessie, Rodrick memberikan tatapan mata yang tajam.


"Kau tidak mengaku sebagai istriku, baiklah. Jangan marah, apa yang akan aku lakukan" dalam batin Rodrick.


Rodrick membawa Donita kearea belakang, tempat rawat inap khusus untuk hewan.


Tawa Donita dan Rodrick membuat jiwa kepo Jessie meronta-ronta ingin tahu, apa yang ditertawakan oleh keduanya.


Jessie melihat dari pintu terbuka, dan terlihat. Donita dan Rodrick sedang memegang ular.


"Hih.. hanya memegang ular saja keduanya sudah tertawa begitu gembira" gumam Jessie.


"Senanglah tu..!" omel Jessie sembari memegang sapu.


Didepan klinik, Jessie berhenti. Dia berbalik menatap kearah dalam klinik.


"Apa mereka ada hubungan?" batin Jessie.


***


Pulang kuliah, Vely langsung pulang kerumahnya. Yang lokasinya tidak begitu jauh dari kampus.


"Assalamualaikum." ucap Vely begitu pintu rumah terbuka dari luar.


"Sepi, kak Dalove pasti di cafe " gumamnya.


Vely masuk kedalam kamar, dan berganti baju. Kemudian membereskan baju-bajunya yang baru dibawanya tadi malam.


Karena tadi malam mereka tiba, sudah begitu larut. Vely belum menyusun pakaiannya kedalam lemari.


Setelah selesai menyusun pakaiannya kedalam lemari, Vely berjalan menuju jendela kamar dan melihat kearah cafe. Letaknya bersebelahan dengan rumah yang mereka tempati.


"Ramai, aku lapar. Pasti dirumah tidak ada makanan, apa aku ke cafe saja makan. Hemm..malas keluar, masak sajalah. Semalam mommy ada bawakan ayam, tinggal di goreng saja. Tidak sulit"


Vely turun dari lantai atas, dia berjalan menuju dapur.


Vely mengeluarkan ayam yang tinggal di goreng, karena sudah diberi bumbu dan sudah di presto oleh mommynya.


Vely bingung cara menghidupkan kompor, dia mengaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Tapi karena bingung, bagaimana menghidupkan kompor gas.

__ADS_1


"Bagaimana ini? dirumah tidak pakai kompor begini" ucap Vely, karena dirumah. Semua peralatan masak memakai listrik. ( Vely sama dengan author, takut hidupkan kompor gas. Author traumaπŸ˜‚πŸ€­).


Vely berusaha untuk mencari cara menghidupkan kompor gas, setelah hampir lima belas menit. Akhirnya kompor gas menyala juga.


"Akhirnya! ternyata tidak sulit, Lovely Hutama. Apa saja bisa dilakukan" ujar Vely bangga dengan prestasinya menghidupkan kompor.


Vely mengambil penggorengan, kemudian mengisinya dengan minyak.


Menunggu minyak panas, Vely melihat-lihat channel yo top. Dia mencari konten memberi saran cara menggoreng ayam.


"Tunggu minyak panas, baru masukkan apa yang ingin kita goreng. Begitu saja dijadikan konten, nunggu minyak panas. Aku juga tahu" Vely berbicara sendiri.


"Sudah berasap, sepertinya sudah panas"


Vely mengambil sepotong ayam, kemudian memasukkan kedalam wajan.


Sing...


Suara ayam didalam minyak panas.


"Waduh..!" teriak Vely, karena Vely memasukkan ayam dengan cara melemparkan kedalam wajan. Sehingga minyak ciprat kemana-mana, tangan Vely juga menjadi korban minyak panas.


"Ahhh..! ayam pengecut, beraninya main ciprat minyak panas saja" gerutu Vely.


"Baru sepotong ayam, sudah membuat tanganku melepuh. Kalau ayam ini semua di goreng, bisa-bisa seluruh badan melepuh" ujar Vely.


Vely meninggalkan gorengnya, untuk mengambil salep untuk tangannya yang panas.


Di cafe, seorang karyawan melihat kearah dapur rumah Dama. Asap keluar dari dalam dapur, membuat karyawan tersebut curiga. Secepatnya dia mendatangi Dama didalam ruangan kerjanya.


Tok..tok..


Tanpa menunggu dipersilakan masuk, karyawan Dama langsung masuk saja.


"Pak.. pak!" seru karyawan tersebut dengan panik.


"Ada apa?" tanya Dama.


"Rumah bapak, ada asap Pak. Sepertinya kebakaran" beritahu karyawan tersebut.


"Apa!" Dama langsung berlari, dengan diikuti oleh karyawan yang melapor tadi. Dama berlari menuju kerumahnya melalui jalan belakang, dan langsung menuju dapur.


"Vely..!" teriak Dama dari depan pintu dapur yang berasap.


Uhuk..uhuk..


Dama dan karyawan masuk kedalam dapur yang sudah berasap dan bau gosong.


Dama lari menuju kamar, sedangkan karyawan mematikan kompor gas dan membuka jendela lebar-lebar. Agar asap memenuhi dapur keluar.


*


*


*


Bersambung 😘

__ADS_1


Mampir cerita baru..πŸ‘‡πŸ‘‡



__ADS_2