Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 254 Iseng


__ADS_3

**Jangan lupa like..like.. like ya kakak-kakak πŸ™


Terima kasih.


Happy reading guys ❀️**


***


Setelah mengangkat Jessie keatas tempat tidur, Rodrick dengan cepat mengambil baju.


"Harus cepat ini, entar bocah sadar. Pingsan lagi dia melihat tubuh six pack aku " ujar Rodrick.


Selesai berpakaian, Rodrick mencari alat makeup didalam tas Jessie.


Setelah menemukan apa yang dicarinya, Rodrick duduk disisi ranjang. Dan mulai melukis di wajah Jessie.


Setelah selesai, Rodrick berdiri. Dan mengamati hasil karyanya di wajah Jessie.


"Hemhm! lumayan, ternyata aku berbakat menjadi pelukis" ngekeh Rodrick melihat hasil karyanya.


"Tidur dulu ya istri nakal ku" ujar Rodrick seraya mendaratkan kecupan dikening Jessie.


"Sedikit disini nggak apa-apa kan" Rodrick mendaratkan ciuman sekilas dibibir Jessie.


"Hehehe..! aku seperti pencuri saja" ucap Rodrick sambil menatap wajah Jessie yang masih tidur atau pingsan.


Setelah mengembalikan alat makeup Jessie kedalam tas, Rodrick keluar dari dalam kamar.


***


Rodrick duduk santai diruang keluarga, menunggu makan malam tiba.


"Dek, kapan kembali kuliah?" tanya Rodrick kepada Vely.


"Senin sudah mulai kak" sahut Vely.


"Dad, kalau Vely tidak meneruskan kuliah. Bagaimana?" tanya Vely tiba-tiba.


"Kenapa?" sedikit kaget Richard, begitu juga dengan Rodrick.


"Apa Dama melarang?" tanya Rodrick.


"Tidak, Vely mau menjadi ibu rumah tangga saja" kata Vely.


"Tidak boleh." terdengar suara dari depan pintu.


Saat tiba di pintu ruang keluarga, Dama mendengar apa yang disampaikan Vely kepada Richard dan Rodrick.


"Daddy setuju dengan Dama, mau jadi ibu rumah tangga tidak harus berhenti kuliah" kata Richard.


"Dek, mau jadi ibu rumah tangga yang bagaimana ? Anak saja belum ada, mau masak? adek saja tidak bisa masak" ledek Rodrick.


"Hih...kak Rodrick" kesal Vely karena diledek Rodrick.


"Mada saja terus kuliah" kata Dama.


"Kenapa nama Mada disebut-sebut?" Mada tiba dengan Keane dengan, membawa dua koper besar. Berisi pakaiannya.


"Bawa langsung kedalam kamar saja Keane, biar kita makan malam. Jessie mana Drick?" tanya Aisha.


"Masih nyusun pakaiannya mom" sahut Rodrick.


"Akhirnya, anak dan mantu Daddy kumpul disini !" seru Richard dengan ekspresi wajah yang gembira.


"Kenway dan Vania belum datang" kata Rodrick.


"Kami sampai" terdengar suara Kenway.


"Kumpul kita semua" kata Richard.


"Besan tengil tinggal berdua dengan istrinya saja" sambung Richard, masih dengan ekspresi yang gembira.


"Mas ini" Aisha mencubit lengan Richard.


"Aduh Asay" ringis Richard, karena Aisha benar-benar mencubit Richard.


"Koq senang, Mayang dan David tinggal berdua" gerutu Aisha.


Richard tertawa kecil, sembari mengelus tempat Aisha mendaratkan jemarinya tadi.

__ADS_1


Dalam kamar, Jessie tersadar. Dia terduduk.


"Dimana ini?" matanya nyalang menatap kesekitar kamar.


"Oh..kamar Pak dokter, ahhh..!" Jessie berteriak sembari menutup matanya, tiba-tiba dia teringat apa yang dilihatnya tadi.


"Tadi aku lagi nyusun baju, kenapa aku bisa berada diatas tempat tidur ini?"


"Gila! bokong Pak dokter tadi putih sekali, no noda. Lalat tidak ada yang hinggap di bokongnya itu, sehingga tidak ada tahi lalat tadi" Jessie membayangkan apa yang dilihatnya tadi di dalam walk in closed.


"Bokong Pak dokter begitu putih, mirip dengan tikus putih" gumam Jessie.


"Kenapa aku membayangkan bokong Pak dokter? hilangkan bayangan mesum di otak mu ini Jessie" jemarinya menunjuk kearah kepalanya sendiri.


"Baru lihat belakang Pak dokter saja aku sudah pingsan, apa lihat depannya. Mungkin aku sudah terbaring koma dirumah sakit" Jessie bicara sendiri.


"Sudah jam berapa ini?" Jessie melihat kearah jam di dinding.


"Jam setengah tujuh, lama juga aku tidur. Aku tidur atau pingsan tadi ya?" gumam Jessie.


Jessie beranjak turun dari ranjang, kemudian dia berjalan menuju meja rias untuk merapikan rambutnya yang berantakan.


Begitu lihat kedalam kaca, mata Jessie terbelalak melihat wujud mengerikan didalam kaca.


"Hantu..!" teriakan kencang keluar dari dalam mulut Jessie, sembari Jessie berlari keluar dari dalam kamar.


"Hantu... hantu...!" teriak Jessie sambil turun kebawah.


Mendengar teriakkan Jessie, Richard beserta yang lain sontak berdiri. Dan bergegas berlari menuju asal suara.


"Hantu.. hantu..!" Jessie langsung menubruk Rodrick, dan memeluknya dengan erat.


"Hantu? hantu apa ?" tanya Rodrick.


"Didalam kaca, ada hantu menyeramkan Pak dokter!" beritahu Jessie, dengan menunjukkan jemarinya kearah atas.


"Hantu?" tanya Richard.


"Iya Daddy." Jessie mengangkat wajahnya, yang tadinya berada didada Rodrick.


Melihat wajah Jessie, semua mata yang memandangnya tertawa terbahak-bahak.


"Ada apa?" Aisha datang dari arah dapur, karena mendengar teriakkan Jessie.


"Jessie! kenapa wajahmu, siapa yang melakukannya?" Aisha mendekati Jessie.


Rodrick yang menjadi tersangka, hanya menunduk. Senyum lebar dibibirnya. Tangannya berada di tengkuknya.


"Ada apa mommy? kenapa?" heran Jessie.


"Kakak ipar, tidak ada hantu. Lihatlah" Vely memberikan kaca kecil kepada Jessie.


"Aarghhh..!" Jessie kaget melihat wajahnya yang terlihat seperti monster, dengan mata yang hitam. Bibir merah tebal, dan alis yang tebal .


"Wajah ini yang kulihat di dalam kaca tadi ," ujar Jessie.


Jessie menatap kearah Rodrick, matanya melotot menatap tersangka utama.


"Pak Dokter!" geram Jessie.


"Drick! apa yang kau lakukan?" tanya Aisha.


"Maaf." Rodrick mengatupkan kedua tangannya didadanya.


"Tiada maaf untuk Pak dokter!" seru Jessie.


"Maaf Nyonya dokter" ujar Rodrick, dengan memanggil Jessie dengan Nyonya dokter.


"Rodrick, bersihkan wajah Jessie. Kau yang melakukan, kau juga yang harus membersihkannya." titah Richard.


"Baik" sahut Rodrick.


"Ayo Nyonya dokter." Rodrick meraih tangan Jessie.


"Jangan pegang-pegang, Jessie masih marah" Jessie dengan cepat berlari meninggalkan Rodrick.


"Nyonya Dokter, jangan lari-lari!" seru Rodrick.


"Rodrick itu, suka sekali menganggu Jessie" ucap Aisha.

__ADS_1


Kenway dan Vania tiba, seperti Mada tadi. Vania juga membawa koper, tapi hanya satu koper.


"Van, Julio tidak dibawa ?" tanya Aisha.


"Tidak Mom, mama tidak memberikan izin" terdengar sedih suara Vania.


"Mungkin mereka merasa sepi Van, Marco sering terbangkan " kata Aisha.


"Nanti kita buat Julio kita sendiri" bisik Kenway.


Pipi Vania langsung merona merah.


"Nanti malam kita kerja keras" sambung Kenway.


"Kak! mulut" ujar Vania.


"Mas besan!" terdengar suara teriakan dari luar.


"Besan tengil datang" ucap Richard.


"Mas !" melotot Aisha.


"Sorry.. sorry" ujar Richard.


Begitu tiba diruang tamu, David langsung berkaca pinggang.


"Ada apa teriak-teriak?" tanya Richard.


"Kenapa mas besan membawa anak-anak semua? di rumahku, tidak ada lagi yang tersisa ," ujar David .


"Dirumah hanya tinggal orang tua yang kesepian ini saja" sambung David.


"Aku tidak membawa semua anak-anak, Keane putraku membawa istrinya kesini. Sedangkan Vely ikut Dama, Nah..." kata Richard.


"Ada apa?" tanya Aisha kepada Mayang.


"Aku juga tidak tahu, dari tadi kesepian terus katanya. Mungkin karena aku belum memperbolehkan dia untuk memantau restorannya, protes dia " ucap Mayang dengan pelan.


"Anakku Vely ikut Dama" kata Richard.


"Tapi dia tidak tinggal dirumah" sahut David.


"Paa, setiap Minggu kami akan kembali" kata Dama kepada Papanya.


"Iya Pa, kalau tidak kuliah. Kami akan pulang" nimpali Vely.


"Dan bawa kabar baik ya, biar Papa tidak kesepian" kata David .


"Kabar baik apa Paa?" tanya Dama.


"Cucu, Papa mau punya cucu" tegaskan David .


"Oh tidak! mereka belum boleh punya anak dulu," kata Richard.


"Harus! secepatnya mereka harus punya anak!" David tidak mau kalah.


"Stop!" Aisha melerai perdebatan yang tidak penting menurut Aisha.


"Jangan ada yang berdebat masalah anak lagi ." Aisha berdiri ditengah, antara David dan Richard.


"Biarkan masalah itu, mengikuti alur saja. Ada anak terima, belum ada anak jangan dipaksakan." kali ini Mayang yang berkata.


"Tapi Yang.."


"Tidak ada tapi-tapian!" seru Mayang.


"Aku.."


"Mas Rich!"


Ucapan Richard dipotong Aisha.


"Baiklah, aku akan diam" ucap Richard.


*


*


*

__ADS_1


**Bersambung 😘


Cerita sudah mau memasuki ending, kalau panjang sekali nanti bosanπŸ˜€πŸ™**


__ADS_2