Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 213 Marah lagi


__ADS_3

Cerita hanyalah hasil halu, walaupun didunia nyata sering terjadi apa yang dialami oleh Mada. Author bukan ingin membuat para bunda khawatir, tapi waspada tetap harus dilakukan. Menjaga untuk kebaikan 🥰


Happy reading ❤️


**


Mada diam mendengarkan ucapan Keane, tangannya saling bertautan dan saling meremas.


"Mada mau ngambil buku catatan yang dipinjam oleh Leo, tadi. Mada tidak sendirian. Ada Paula, tetapi Paula turun ditengah jalan. Karena Mamanya menghubunginya." cerita Mada dengan suara yang pelan, nyaris menangis.


"Apa Mada tidak bisa berpikir? kerumah laki-laki. Apapun alasannya, bisa pulang dulu tadi. Minta diantarkan sopir. Atau juga Dama, kakak juga mau tadi mengantarkan. Bagaimana jika tadi kami terlambat datang?" keras suara Keane akhirnya, awalnya suara yang keluar dari dalam mulutnya masih bisa ditekannya setenang mungkin. Akhirnya terdengar keras nada suara Keane.


Tangis Mada makin terdengar, tangannya menutup wajahnya.


Tangan Keane mencekram kemudi mobil dengan ketat, sehingga urat-urat dibuku-buku jemari tangannya terlihat menonjol.


"Papa pasti akan marah ." gumam Mada.


"Baru takut, tadi waktu ikut kerumah Leo tidak ingat," ucap Keane.


"Kak, kita pulang saja ya." Mada tidak ingin kerumah sakit.


"Tidak bisa, kita harus kerumah sakit . Biar kita bisa mengajukan tuntutan kepada laki-laki itu, apa kau ingin laki-laki itu bebas ? kita harus dapat surat dokter." tegaskan Keane, menolak keinginan Mada untuk pulang.


"Apanya Leo pria itu ?" tanya Keane.


"Abangnya ," jawab Mada.


"Kau sudah tahu, ada orang gila dirumahnya. Masih berani masuk kedalam rumah itu!"


"Tadi ada Paula kak ."


" Mada..Mada ! Kau kira ada teman, orang tidak bisa melakukan kejahatan? Bagaimana jika kalian berdua dicekoki minuman keras atau obat bius?"


"Maaf!" kata maaf keluar dari mulut Mada.


"Maaf..maaf..!"


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Keane terus mengomel tanpa henti. Membuat air mata Mada terus mengucur tanpa henti, karena Keane terus mengingatkan kesalahan yang telah diperbuatnya hari ini.


Begitu tiba dirumah sakit, Keane mengandeng tangan Mada. Beberapa pasang mata menatap kearah mereka, karena Mada memakai kemeja Keane. Sedangkan Keane hanya memakai kaos dalam putih.


Tiba dirumah sakit, asisten Keane Jack sudah berada disana menunggu kedatangan.


Jack dan seorang suster dengan membawa kursi roda menunggu didepan lobby rumah sakit.


"Kak, aku bisa jalan." Mada menolak untuk duduk dikursi roda.


"Jangan membantah, duduk !" titah Keane memaksa Mada untuk menuruti keinginannya.


Mada akhirnya duduk dikursi roda, suster mendorongnya masuk kedalam satu ruangan.

__ADS_1


Keane dan Jack duduk didepan ruangan tersebut.


Diujung lorong, Keane melihat kedatangan kedua orangtuanya dan kedua orang tua Mada.


"Keane apa yang terjadi?" tanya David, begitu berada dihadapan Keane yang langsung berdiri. Begitu melihat kedatangan orangtuanya dan Mada.


"Om, Tante. Duduk dulu ," ujar Keane kepada David dan Mayang yang terlihat gusar dari raut wajahnya.


"Katakan Keane, apa yang terjadi? apa kalian kecelakaan? apa kau tidak apa-apa?" netra hitam David menelisik badan Keane.


"Iya Keane, apa kalian kecelakaan?" Richard menimpali dengan perasaan yang khawatir, apa yang dialami oleh anak-anak mereka.


"Tidak Dad, tidak ada kecelakaan. Duduk Om, Tante. Daddy dan mommy juga ," kata Keane sebelum menceritakan apa yang dialami Mada.


Setelah mereka duduk, Keane baru menceritakan apa yang dialami Mada. Dari pertama dia melintas dari kampus Mada, dan berinisiatif untuk menjemput Mada. Sampai Keane melihat Mada naik kedalam mobil Leo.


Saat bercerita, keempat wajah terlihat gusar. Terlebih lagi wajah David dan Mayang.


David dan Mayang sangat terpukul dengan kejadian yang dialami oleh Mada. Apa yang ditakutkan oleh David selama ini, menimpa putrinya.


"Mas! apa Mada tidak apa-apa?" Mayang menangis dalam pelukan Aisha.


Sedangkan David duduk dengan menundukkan kepalanya, tidak ada kata yang terucap dari bibirnya.


"Vid, kita masih beruntung. Mada tidak ternoda ," ujar Richard dengan menepuk pundak David yang menunjukkan wajahnya.


"Kenapa anak itu tidak mau menuruti apa kata kita ." sesal David, karena Mada begitu percaya dengan orang.


"Dia mengira semua orang itu baik, apa kami terlalu membatasi pergaulannya. Sehingga dia menganggap semua orang itu baik !" seru David dengan suara yang lirih.


Keane membawa Dama sedikit menjauh, dan menceritakan apa yang baru diceritakannya.


"BANGSATTT...!" umpatan keluar dari mulut Dama dengan wajah yang sudah emosional dan memerah.


"Tenang Dam, aku sudah menghancurkannya tadi. Untuk sebulan ini, dia tidak akan bisa bergerak," ujar Keane.


"Mana Mada kak?" tanya Vely.


"Didalam, lagi diperiksa." beritahu Keane.


"Apa dia tidak sempat dilecehkan ?" tanya Dama khawatir.


"Tidak ! jangan khawatir." Keane tidak mengatakan, apa yang dilihatnya tadi. Baju Mada yang berantakan.


"May, tenang ya. Mada tidak akan apa-apa," kata Aisha.


Aisha mengingat kembali apa yang dialaminya dahulu, dia. Vely dan Mada masih dalam perlindungan Nya.


Richard melirik Aisha, dia tahu. Aisha pasti teringat kembali dengan apa yang dialaminya dahulu.


Richard beranjak duduk disampingnya, tangannya menggenggam tangan Aisha. Genggaman tangan Richard membuat Aisha tersadar dari bayangan masa lalunya.

__ADS_1


Pintu ruangan dokter terbuka, seorang perawat keluar. Dan meminta agar David dan Mayang masuk kedalam.


Dengan perlahan, David dan Mayang masuk mengikuti Suster.


Sampai didalam, David sontak menghambur memeluk Mada yang terbaring diatas ranjang pasien.


"Sayang !" peluk David.


David menangis, begitu juga dengan Mayang. Keduanya memeluk Mada.


Sampai satu seketika, David luruh jatuh kelantai.


"Mas David !" teriak Mayang.


"Papa !" Mada juga berteriak.


Dokter dengan sigap mengangkat David, dibantu oleh suster. David dibaringkan di atas brankar yang ada diruangan tersebut.


"Papa !" Mada dengan tertatih-tatih mendekati brankar tempat Papanya terbaring.


"Tolong bergeser Bu, biar kita beri pertolongan pertama." titah dokter kepada Mayang yang memeluk David sembari menangis.


"Mama, Papa tidak apa-apa kan?" tanya Mada dengan suara yang khawatir.


Mayang tidak menjawab, pikirannya fokus melihat dokter yang memeriksa kondisi David.


"Kita harus membawa bapak ke IGD Bu, Suster. Hubungi dokter spesialis jantung." titah dokter kepada Suster.


Seorang perawat pria datang, setelah Suster menekan bel.


Perawat tersebut mendorong brankar yang diatasnya, terbaring David dalam keadaan pingsan.


Begitu pintu terbuka, terlihat David terbaring diatas brankar. Semua yang menunggu diluar kaget.


"Papa !?" terkejut Dama, melihat Papanya yang terbaring.


"David! kenapa David ?" cemas Richard.


"Nggak tahu mas Rich, dokter mengatakan. Dia harus ditangani dokter spesialis jantung," kata Mayang.


Semua mengikuti brankar yang membawa David menuju IGD.


"Apa David pura-pura kena serangan jantung lagi ?" pertanyaan dalam benak Richard. karena dia tahu, David pernah pura-pura sakit.


*


*


*


Bersambung 😘

__ADS_1


Selesai baca, bantu like ya kakak-kakak..


Sepertinya ingin membuat cerita ini berakhir sad ending 😀 ✌️


__ADS_2