
Dalam perjalanan, Mayang dan David terus berdebat. Dan tidak ada yang mau mengalah diantara mereka.
"Gara-gara mengantarkan dirimu, aku tidak bisa menghantarkan Aisha ." ngedumel terus David sepanjang perjalanan, bibirnya ngerucut seperti para gadis sedang merajuk.
"Aku juga tidak ingin kau mengantarkan aku ya, satu mobil bersama dirimu itu membuat diriku ini ingin muntah." balas Mayang tanpa melirik sedikitpun dengan lawan bicaranya, matanya fokus menatap jalanan yang mulai macet dengan orang yang ingin sampai kerumah masing-masing.
"Jika kau mau muntah, kenapa kau menarik tangan ini tadi ?" David melirik Mayang dan menunjukkan tangannya tepat didepan wajah Mayang dan membuat Mayang kaget.
"Hih...!" Mayang menepis tangan David dari depan wajahnya.
"Itu tadi terpaksa..!"
"Terpaksa ? aku curiga, apa yang kalian rencanakan dengan Alana. Dua kepala kalian menjadi satu, pasti ada yang kalian rencanakan ?" David curiga.
"Hahaha..sudah disini, baru kau sadar. Bahwa kami ingin Aisha itu pulang diantar Om Richard ," ucap Mayang dan terlihat senyum disudut bibirnya.
"Apa.? kalian berdua sungguh licik, kalian itu tidak fair. Seharusnya kalian membiarkan Aisha untuk memilih yang terbaik diantara kami, jangan menutup peluang ku untuk mendapatkan dirinya," kata David.
"Kau saja yang telat mikir." kekeh Mayang.
"Aku tidak akan mengalah lagi, aku akan mengalahkan orang tua itu ," ucap David.
"Om Richard kau bilang orang tua ? dia itu orang yang matang dan orangnya sangat ganteng ." ucapan Mayang makin membuat David makin jengkel.
"Kenapa tidak kau saja bersama dengan Om Richard itu.." celetuk David dengan suara yang kesal.
"Suka tidak bisa dipaksakan mas Bro..!" ujar Mayang.
"Mas Bro..mas Bro..!" omel David.
"Ngomel saja terus.." ledek Mayang.
"Ku turunkan kau disini, biar dibawa setan sekalian," kata David.
"Turunkan, siapa takut ," ucap Mayang menantang perkataan David
"Betul ya, jangan nangis dan merengek-rengek minta aku kembali lagi menjemputmu lagi ." ancam David .
"Iya, berhenti." perintah Mayang.
David menghentikan mobilnya, dan Mayang membuka pintu mobil David dan turun. Setelah menutup pintu mobil, Mayang melihat David kedalam mobil dan berkata.
"Terimakasih ya sudah menghantarkan aku tepat didepan rumahku ini ," ucap Mayang dan menunjukkan rumah yang ada dibelakangnya.
"Sial, kau ngerjain aku kembali ," ucap David dengan tatapan mata yang bulat.
"Hehehe..bye bye.." Mayang meninggalkan David yang jengkel, karena Mayang ngerjain dirinya sekali lagi.
"Dasar perempuan setengah laki-laki...!" seru David kepada Mayang, tetapi Mayang tidak mendengarkannya dan terus tetap masuk kedalam rumahnya.
David meninggalkan rumah Mayang dengan perasaan yang jengkel.
"Aku tidak akan menyerah, aku yang pertama mengenal Aisha. Masa kalah dengan orang tua yang hadir belakangan." gerutu David sembari mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sedang.
__ADS_1
***
Gaby menghentikan mobilnya didepan satu clubs malam yang terletak ditengah kota yang padat.
Dengan santainya dia berjalan sendiri, dia tidak membawa kedua temannya. Karena dia tidak ingin mendengarkan ceramah kedua temannya yang belakangan hari ini selalu berusaha menghindarinya.
"Mana Ragil ?" tanya Gaby kepada salah satu sekuriti yang ada di club tersebut.
"Mereka dibelakang ." tunjuk sekuriti tersebut kearea belakang yang terlihat temaram.
Gaby berjalan menyusuri lorong yang terlihat agak suram dan sedikit gelap.
"Mana Ragil ?" tanya Gaby kepada seorang laki-laki yang berjalan agak sempoyongan.
"Tuh..!" telunjuk laki-laki tersebut kearah sofa dan terlihat seorang laki-laki sedang bersama dengan seorang wanita bayaran.
"Hei Ragil !" Gaby menendang meja didepan Ragil, membuat Ragil menghentikan aktifitasnya bersama wanita penghibur tersebut.
"Kau..!" Ragil ingin marah karena membuat dirinya terganggu, tapi begitu melihat siapa yang menganggu dirinya. Amarahnya menjadi surut dan hanya ada senyum kecut dibibirnya.
"Ternyata Nona besar yang datang kerumah kecil ku ini ," ucap Ragil dan mendorong wanita penghibur yang ada diatas pangkuannya untuk pergi.
"Aku butuh bantuan dirimu ," ucap Gaby langsung dengan masih berdiri didepan Ragil yang sedang merapikan pakaiannya yang berantakan akibat perbuatan tangan nakal wanita penghibur tersebut.
"Duduk dulu, kenapa terburu-buru sekali. Kita minum-minum dulu," kata Ragil dan menyuruh pelayan untuk menghantarkan minuman ke meja mereka.
"Aku tidak ingin minum, setelah misi mu selesai baru aku akan minum-minum," ucap Gaby dan mendudukkan bokongnya ke sofa yang berseberangan dengan sofa Ragil.
"Baiklah, misi apa yang harus ku selesaikan kali ini ?" tanya Ragil.
"Apa yang telah membuat diri tuan putri marah kepada gadis ini ?" tanya Ragil kepada Gaby.
"Kau tidak perlu tahu, kau harus membuat dirinya tidak berani lagi muncul didepan umum. Hancurkan harga dirinya," ucap Gaby dan meletakkan amplop coklat didepan Ragil.
"Sebagian pembayaran, selesai misi. Akan aku lunasi ," ucap Gaby sambil berdiri.
"Baiklah, tapi aku tidak mau menanggung resikonya. Jika polisi turut campur tangan, kau yang harus menanggung akibatnya," ucap Ragil dan mengambil amplop dan memasukkan kedalam saku jaketnya.
"Tenang saja, semua itu urusan aku. Kau hanya bertugas untuk menghancurkan dirinya saja, ingat foto dan kirimkan kepada diriku hasil karyamu." kemudian Gaby pergi dari hadapan Ragil.
Ragil mengeluarkan isi dalam amplop dan melihat ada gambar seorang gadis sedang berjalan keluar dari dalam kampus.
"Kau salah mencari musuh Nona, hidupmu akan berakhir jika bersinggungan dengan anak orang kaya itu ." monolog Ragil saat melihat sekeping gambar.
"Apa yang ditugaskan anak itu kepadamu ?" datang seorang pemuda kearah Ragil.
"Ini ." Ragil melemparkan gambar yang dilihatnya kepada temannya.
"Ini..!" orang tersebut kaget melihat gambar yang baru dilemparkan Ragil kepada dirinya.
"Gila orang itu..!" seru temannya dan meremas gambar tersebut dan kemudian merobeknya sampai kecil.
"Aku harap kau jangan melakukannya," ucap temannya.
__ADS_1
Terlihat smirk dari sudut bibirnya Ragil.
"Aku bukan orang suci, tapi aku tidak akan merusak orang yang suci." Ragil bangkit.
"Kau mau kemana ?" tanya temannya, ketika Ragil berjalan keluar.
"Menyelesaikan tugas, biar Nona besar tidak marah. Apa kau tidak mau ikut ?" tanya Ragil kepada temannya.
"Aku ikut." kemudian keduanya keluar dari club malam.
***
Alana sudah pulang dari rumah sakit, walaupun kaki dan tangannya belum bisa digunakan. Tapi karena kondisi kesehatannya sudah membaik Dokter sudah memberikan izin untuk pulang.
"Aisha, kau harus mengunjungi aku dirumah ya. Aku akan bosan dirumah, jika tidak ada teman ngobrol," ucap Alana.
"Iya, aku akan mengunjungi dirimu setiap hari," kata Aisha.
"Aku tidak kau suruh datang setiap hari ?" tanya Mayang.
"Kita dua hari sekali ketemu dirumah sakit, lama-lama aku bosan melihat dirimu " kata Alana.
"Kalau Dony ingin ikut menjengukmu bagaimana ?" tanya Aisha.
"Aku belum ingin melihat dirinya," ucap Alana.
"Sudah, jangan bahas dirinya lagi ." sambung Alana.
***
Hari ini Aisha pulang kuliah hari sudah mulai gelap, karena Dosen yang telat masuk .
Aisha keluar dari kampus dan area kampus sudah terlihat sepi.
"Numpang tanya, kenal Arika ?" tanya seorang gadis sebaya dengan dirinya kepada Aisha.
"Maaf, saya tidak kenal," jawab Aisha.
"Apa mahasiswa sudah pulang semua ?" tanya gadis itu lagi .
"Hanya yang kuliah sore yang belum pulang, jurusan apa Arika tersebut ?" tanya Aisha.
"Ekonomi ."
"Saya tidak kenal, maaf tidak bisa bantu ," ucap Aisha.
"Tidak apa-apa, saya akan cari kedalam." kemudian gadis tersebut berlalu dari hadapan Aisha.
Aisha melanjutkan langkahnya dan berbalik badan, dan tiba-tiba mobil yang ada didekatnya terbuka dan keluar pria yang langsung membekap mulutnya Aisha dan menariknya masuk kedalam mobil.
Aisha meronta-ronta dan kemudian tidak ada pergerakan lagi .
...**Bersambung...
__ADS_1
Maaf bacanya jangan marah-marah ya, ini hanya cerita. Mungkin ada kejadian di dunia nyata.