Menikah Dengan Om Sahabatku.

Menikah Dengan Om Sahabatku.
Bab 212 Marah


__ADS_3

**Selamat membaca cerita recehan ini, cerita ini hanya untuk hiburan di waktu senggang.


Happy reading guys ❤️**


***


Mada terus berusaha untuk berontak, tetapi Nando seperti sudah kesetanan.


"Ah... jangan!" teriak Mada dengan dibarengi tendangan kaki Mada kesegala arah.


Nando menjepit kaki Mada dengan kakinya, agar kaki Mada tidak bisa bebas untuk bergerak.


"Lepas!" suara Mada sudah semakin berkurang, karena terus berteriak. Dan tidak ada yang mendengarkan teriakannya.


"Ayo cantik, kita bersenang-senang." Nando mendekatkan bibirnya kebibir Mada, tetapi Mada memiringkan kepalanya. Sehingga bibir Nando menyentuh sisi telinga Mada.


Nando memberikan gigitan-gigitan ditelinga Mada, membuat Mada mengelakkan diri dengan berusaha mendorong wajah Nando.


"Aduh...!" teriak Nando dengan kerasnya, karena Mada mengigit telinga Nando.


"Kau wanita sialan!" seru Nando.


Brekkk...


Tangan Nando menarik kancing kemeja yang dipakai oleh Mada, sehingga kancing bajunya yang dipakai Mada lepas dari tempatnya. Dan terlihat pakaian dalam Mada yang menutupi area sensitifnya.


"Jangan!" Mada memegangi bajunya yang terbuka, air matanya lolos berderai jatuh dipipinya.


"Leo !" teriak Mada dengan sisa-sisa suaranya yang masih ada.


"Teriaklah! tidak ada yang akan mendengar, Leo lagi tidur sampai bermimpi dia ," ujar Nando seraya membuka celana jeans yang dikenakannya, sehingga dia hanya memakai segitiga.


"Jangan.. jangan!" mohon Mada, sambil beringsut menjauh dengan pelan. Karena tenaganya sudah terkuras, saat melawan keberingasan Nando.


Nando tidak mendengarkan perkataan Mada, dia menarik kaki Mada dan kembali menindih Mada. Dengan tenaga yang masih tersisa, Mada menendang ************ Nando.


"Kau!" Nando marah, dan menampar pipi Mada. Sehingga Mada merasa pusing dan pingsan.


"Sekarang, kita berpesta !" seru Nando dengan gembira.


Nando membuka pakaiannya yang tersisa, sehingga dia dalam keadaan polos.


Nando ingin membuka jeans yang dipakai Mada, tetapi pukulan dari belakang dan menerpa punggungnya membuat dia jatuh tersungkur.


"Kurang ajar !" teriak Leo sembari mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke tubuh Nando.


Terjadi perkelahian antara Leo dan Nando, perkelahian tidak seimbang. Karena Leo dalam keadaan belum stabil, kepalanya yang terbentur masih mengeluarkan darah segar. Dan Leo masih merasakan pusing, dan pandangan matanya buram.

__ADS_1


Karena kondisi yang belum stabil, Leo jatuh. Nando dengan teganya. Mendaratkan tendangan ke tubuh Leo yang sudah tidak bergerak lagi. Tendangan keras mendarat disekujur tubuh Leo, membuat Leo terbaring dilantai dengan keadaan pingsan.


"Cih..! sok mau menjadi pahlawan, baru ditendang. Sudah terkapar !" Nando kembali menuju kearah Mada yang masih keadaan pingsan diatas sofa.


"Mari kita bersenang-senang manis, tadi banyak yang ingin menganggu kita ." Nando kembali ingin menindih Mada, saat itu. Mada tersadar dan langsung berteriak dengan keras, melihat Nando berada didepannya. Yang yaris tanpa busana, hanya pakaian dalam segitiga yang menutupi aurat sensitifnya. Kaki Mada menendang daerah sensitif Nando, tapi Nando sungguh beruntung. Tendangan kaki Mada hanya mengenai pahanya.


"Kau sungguh gadis yang galak! membuat aku semakin bergairah dan ingin bermain dengan mu !" smirk disudut bibir Nando, membuat Mada ketakutan.


"Leo..Leo..! bangun!!" teriak Mada sekeras mungkin.


"Diam!" titah Nando.


Nando menerjang Mada yang masih terbaring di sofa, sekujur tubuhnya lemas. Dan kepalanya pusing, akibat tamparan keras tangan Nando.


Nando kembali menindih tubuhnya Mada, Mada sudah pasrah. Tenaganya sudah terkuras.


Dengan tenaga yang masih tersisa, Mada berteriak dan akhirnya dia lemas tidak bisa bergerak secara brutal seperti dilakukannya awal-awal tadi. Nando berada diatas tubuhnya, menggerayangi tubuhnya yang hampir polos. Nando berusaha untuk mengecup bibir Mada, tetapi Mada masih dapat mengelak. Sehingga bibir Nando hanya menerpa rambut Mada.


"Kurang ajar !" tendangan kaki menerjang bokong Nando yang berada diatas badan Mada.


Nando terpental jatuh kelantai yang keras, kepala Nando terlebih dahulu mendarat dilantai. Akibatnya, Nando tidak bisa langsung berdiri.


"Kak Keane." suara lirih Mada terdengar, begitu mendengar suara Keane.


"Aku akan membunuhmu!" Keane menerjang Nando yang terbaring dilantai.


Badan Nando menjadi bulan-bulanan kaki Keane, yang sangat emosional. Keane tidak perduli lagi, orang yang mendapatkan tendangan kakinya sudah tidak bisa bergerak lagi.


Wajah dan tubuh Nando sudah tidak berbentuk, disekujur tubuhnya sudah mengalir darah segar. Sehingga terlihat tubuh Nando seperti bermandikan darah .


"Sudah Pak..! cukup Pak, dia bisa mati nanti !" seru petugas keamanan yang datang bersama dengan Keane.


Sedari tadi, petugas itu hanya terpelongo. Melihat Keane melampiaskan kemarahannya kepada Nando.


"Biar dia mati ! berani-beraninya dia menyentuh adikku, ini tangan yang sudah menyentuh adik tadi!" kaki Keane memijak tangan Nando, dan terdengar suara gemeretak saat kaki Keane menekan tangan Nando.


"Aww.....!" teriak Nando, sebelum akhirnya pingsan.


Keane mendekati Mada yang meringkuk di sofa, kedua matanya sudah mengucurkan air bening. Dan kedua tangannya memegang bajunya yang sudah tidak berbentuk, disudut bibirnya terlihat darah yang sudah mengering.


"Mada." Keane membuka kemeja yang dikenakannya, dan memakaikannya ke tubuh Mada. Sedangkan Keane hanya tinggal memakai kaos dalam.


"Kak Keane." Mada mengeluarkan suara tangisan dalam pelukan Keane.


Keane menggendong Mada, membawanya keluar dari dalam rumah. Keane meletakkan Mada kedalam mobilnya.


"Tunggu sini ." titah Keane sebelum masuk kedalam rumah kembali.

__ADS_1


Masuk kedalam rumah, Keane melihat kondisi keadaan Leo yang masih tidak bergerak.


"Pak, saya akan membawa adik saya kerumah sakit," kata Keane kepada petugas keamanan.


"Bagaimana dengan mereka ini Pak, putra Pak Armando ini sangat parah," kata petugas keamanan, yang berada didekat Leo terbaring.


Keane menghubungi Ambulance.


"Pak, saya sudah menghubungi Ambulance. Masalah dengan pecundang itu, Bapak urus " kata Keane.


"Iya Pak, saya sudah menghubungi polisi. Ini sudah menjadi tindakan kejahatan," ucap petugas keamanan.


Keane bergegas keluar dari dalam rumah, Keane membuka pintu mobil dan masuk kedalam.


Mobil yang dikemudikan Keane meluncur segera menuju kerumah sakit, sedangkan Mada masih dalam posisi lemah.


Keane mengambil ponselnya, dan menghubungi Daddy-nya.


"Dad, segera kerumah sakit Prima," ucap Keane, sebelum Richard berkata.


"Ada apa Keane ?" khawatir terdengar dari suara Richard.


"Ada kejadian menimpa Mada, beritahu kepada Om David Dad. Keane sedang dalam perjalanan ini ," kata Keane.


"Ada apa dengan Mada, Keane? apa yang terjadi?" sontak Richard kaget.


"Datang saja ke rumah sakit Dad ." Keane kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


"Kak, maaf ." lirih suara Mada, karena sudut bibirnya sangat sakit. Saat berbicara.


Keane tidak menjawab, raut wajah Keane merah. Terlihat rahangnya yang mengeras, dan mata Keane tajam menatap kedepan.


"Kak !" panggil Mada, dia mengganti posisi tubuhnya. Yang tadi setengah berbaring, kini duduk tegak. Dan wajahnya menghadap kearah Keane.


"Kakak marah ?" tanya Mada dengan suara yang pelan.


"Marah? untuk apa kakak marah? itu tubuh Mada, kakak tidak berhak untuk marah ," kata Keane dengan ekspresi wajah yang dingin.


Mendengar perkataan Keane, Mada terdiam dan tertunduk.


*


*


*


Bersambung 😘🥰

__ADS_1


__ADS_2