
Salam semua, semoga semua tetap keadaan sehat selalu.
Happy reading guys ❤️
**
Dalam kamar dia apartemen Keane sudah sepi, yang tadinya terdengar suara bujuk dan rayuan dari mulut Keane. Sekarang hanya terdengar suara dengkuran halus dari mulut Mada, sedangkan suasana menjelang malam sudah melingkupi diluar apartemen. Lampu-lampu sudah terang menghiasi gedung-gedung langit.
Keane selesai menyalurkan hasratnya, hanya terlelap sebentar. Kemudian matanya terbuka, saat mendengar suara ponselnya berdering dengan lembut.
Keane mengambil ponselnya dari dalam saku bajunya, yang dilemparkan tadi ke sembarang tempat.
Dengan masih dalam keadaan polos tanpa ada sehelai kain membungkus badannya, Keane menginjakkan kakinya kelantai yang dilapisi karpet berbulu lembut.
Seraya mengangkat ponselnya, Keane mencari celana pendek dari dalam lemari yang ada didalam kamar.
"Ada apa ?" tanya Keane dengan memegang ponsel dengan satu tangan, tangannya satu lagi memegang celana pendeknya.
"Kenapa Keane? apa kau masih belum berhasil?" goda suara seorang wanita, teman bicara Keane melalui sambungan telepon.
Keane menjepit ponselnya dengan dagu dan leher, saat dia memakai celana pendeknya.
Setelah selesai memakai celana pendeknya, Keane memegang ponselnya. Membawanya keluar dari dalam kamar, karena dia tidak ingin Mada terbangun.
Terlebih dahulu dia mengambil baju Mada yang berada dilantai, dan meletakkannya diujung atas tempat tidur.
Baru Keane keluar dari kamar.
"Ada apa kau menelpon? kau menganggu saja." gerutu Keane sembari mengambil botol minum mineral didalam lemari pendingin.
Keane membawa botol minum mineral dan duduk di sofa.
"Hahaha..! kau lagi apa? apa kau lagi buka segel?" terdengar suara pria dari sambungan telepon seluler Keane.
"Diam!" bentak Keane, kepada orang yang mengambil alih saat dia bicara dengan Sarah.
"Kenapa kau yang bicara? mana istrimu tadi ?" tanya Keane.
"Dia kekamar mandi? maklum, bumil" sahut Aidan, teman Keane saat kuliah. Dan istri Aidan, ternyata dokter yang menangani Mada.
"Kau berhasil membuat istrimu hamil?" sindir Keane.
"Kau kira aku pria mandul!" seru Aidan jengkel.
"Keane, bagaimana? apa istrimu tidak ketakutan saat kau sentuh?" terdengar suara seorang wanita kembali.
"Tidak Sarah, seperti yang kau sarankan. Aku menyebutkan namanya, dia jadi rileks" kata Keane
"Baguslah, terus lakukan seperti itu. Biar bayangan peristiwa itu hilang dari pikirannya" kata Sarah, istri Aidan.
"Jangan terlalu semangat Keane, jangan-jangan saat resepsi nanti istrimu ngisi ." ledek Aidan.
"Mana ada seminggu langsung isi, memang benih jin." timpal istri Aidan.
"Kau kira aku jin, sekali tanam besok panen" balas Keane.
Terdengar suara tawa Sarah dan Aidan menertawai Keane.
"Sudah jangan ganggu aku" Keane langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Didalam kamar, Mada terbangun. Matanya melirik kesisinya dan tidak melihat keberadaan Keane.
__ADS_1
Mada bangkit dan duduk dipinggir ranjang.
"Hih.." Mada meringis, dengan pelan dia mengambil bajunya yang letakkan Keane diujung ranjang.
Dengan perlahan-lahan Mada bangkit dari ranjang, kemudian masuk kedalam kamar mandi. Tidak lupa Mada mengunci pintu kamar mandi.
Mada mengisi bathtub dengan air hangat, kemudian masuk kedalamnya.
Setelah selesai berbicara dengan temannya, sekaligus dokter yang merawat Mada. Keane kembali masuk kedalam kamar.
"Sudah bangun." Keane tidak melihat keberadaan Mada diatas tempat tidur.
Keane keluar kembali, dan masuk kedalam kamar mandi yang ada diluar.
Setelah selesai membersihkan diri, Keane kembali masuk kedalam kamar.
"Belum selesai ." Keane khawatir dan mengetuk pintu.
"Mada...Mada !" panggil Keane.
Sontak Mada yang masih berada di dalam bathtub kaget, karena dia hampir tertidur didalam bathtub.
"Iya kak " sahut Mada cepat.
"Kenapa lama sekali, Mada tidak apa-apa kan?" Keane mendekatkan telinganya ke pintu kamar mandi.
"Tidak apa-apa kak, sebentar" Mada bergegas keluar dari bathtub, kemudian berdiri dibawah shower. Membilas rambutnya.
Setelah selesai Mada keluar, dengan memakai bajunya saat dia datang.
Keluar dari dalam kamar mandi, Mada melihat Keane sedang sibuk dengan laptopnya.
"Ketiduran" sahut Mada dengan kepala menunduk.
"Sini " Keane memanggil Mada agar duduk disampingnya.
Mada dengan jalan perlahan mendekati Keane, dan duduk disampingnya.
Keane bangkit, mengambil handuk kering. Untuk mengeringkan rambut Mada yang basah.
"Biar Mada saja " Mada ingin mengambil handuk dari tangan Keane.
"Sudah, duduk saja" Keane berdiri dibelakang Mada, dan menggosok rambut Mada dengan handuk yang dipegangnya.
"Masih sakit ?" tanya Keane .
"Sakit apa?" Mada tidak ngeh apa yang ditanyakan oleh Keane.
"Itu." ujar Keane.
"itu ." Mada tetap tidak tahu apa yang dikatakan oleh Keane.
Keane mendekatkan bibirnya ketelinga Mada, dan membisikkan Kalimat yang membuat pipi Mada merona merah.
"Apa masih sakit ?" tanya Keane lagi .
"Sedikit" jawab Mada dengan suara yang hampir berbisik.
"Apa?" Keane pura-pura tidak mendengar, dan membungkukkan badannya. Mendekatkan telinganya ke wajah Mada.
"Kak Keane!" Mada sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Keane.
__ADS_1
"Mada bilang apa? kak Keane nggak dengar?"
"Nggak sakit" jawab Mada, ekspresi wajah Mada terlihat malu-malu.
Keane memegang dagu Mada, kemudian memagut bibir Mada.
"Sungguh menggemaskan" ujar Keane setelah melepaskan pagutan bibirnya.
**
Vely berdiri didepan kamar, yang langsung menghadap kearah pantai.
"Sungguh indah!" Vely merentangkan kedua tangannya.
"Apa yang indah?" tanya Dama yang datang tiba-tiba, dan melingkarkan tangannya diperut Vely.
"Kak Dama." Vely sedikit mendongak menatap Dama, walaupun Vely termasuk tinggi. Tetapi jika berada didekat Dama, Vely menjadi imut.
"Lihat apa ?" Dama meletakkan dagunya di bahu Vely.
"Matahari terbenam," kata Vely, dengan menunjuk kearah matahari yang terlihat sedikit sinar keemasan yang hampir hilang.
"Vely lapar?" tanya Dama.
"Kita baru selesai makan, apa kak Dama mau melihat Vely gembul," ujar Vely.
"Semakin berisi, semakin enak dipeluk" kata Dama.
Tangan Dama bergerilya disekitar perut Vely.
"Kak Dama, geli ah...!" tangan Vely mencubit tangan Dama yang sudah memasuki area bagian perutnya.
"Enak kan." sahut Dama, dengan suara yang serak menahan hasratnya.
Vely tidak menjawab, badannya tiba-tiba terasa lemah. untuk menopang badannya saja dia tidak sanggup.
Bibir Dama mengecup pundak Vely yang masih ditutupi oleh dress yang dikenakannya, tetapi karena leher dress yang dikenakannya sedikit lebar. Tangan Dama menariknya dan terlihat pundak Vely yang mulus dan putih bersih.
Dama memberikan kecupan dipundaknya dan memberikan tanda kepemilikan dipundak Vely.
"Ahh..!" Vely menggeliat, ingin melepaskan diri dari perbuatan bibir dan tangan Dama.
Tetapi otak dan tubuhnya tidak mau bekerja sama untuk menghindari gerilya tangan dan bibir Dama.
Tubuhnya ingin berlari, tetapi otaknya memintanya untuk diam menunggu apa yang ingin dilakukan oleh Dama.
Bibir Dama terus memberikan kecupan dipundak dan leher Vely, membuat tubuh Vely lemas. Dan luruh kelantai, dengan sigap tangan Dama memeluknya. Dan membawanya duduk dikursi yang ada didepan kamar.
*
*
*
Bersambung 😘
hehehe.... apakah Dama berhasil buka segel, atau ada yang menganggunya kegiatan buka segel.
Maaf kita lanjutkan besok ya..
Author baru siap suntik vaksin, badan pegal dan nyeri. Nggak bisa lama-lama ngetik, yang sudah vaksin pasti tahukan rasanya. Walaupun ada yang tidak mengalami seperti author 🙏
__ADS_1