
Tetap semangat dan selalu menjaga kesehatan, agar keluarga kita terhindar dari virus.
Happy reading guys ❤️
***
Dama, Vely. Edward dan Josh asik bercerita dan sesekali tertawa. Mereka tidak menyadari ada dua pasang mata mengamati mereka dari jarak kejauhan.
"Lihatlah, mereka tertawa-tawa. Mereka pergi tanpa membangunkan kita, Dasar anak menantu tidak perduli dengan orang tua" gerutu Richard.
"Biarlah mas besan, kan bagus. Kita bisa tidur lama, hitung-hitung libur dari rutinitas pekerjaan. Nanti kita pulang kerumah, otak dan tubuh kita sudah fresh. Hemm..kita bisa buat penerus baru lagi" kata David .
"Betul juga kau bilang, kali ini aku dukung perkataanmu" ucap Richard.
"Apa kau betul-betul ingin nambah momongan lagi?" serius Richard bertanya seraya menatap wajah besannya dengan intens.
"Serius! aku terus bekerja siang malam. Tapi belum diberi rezeki lagi" kata David.
"Sampai Mada sudah menikah, aku juga belum dikasih lagi. Padahal sudah setiap malam aku bercocok tanam" ujar David.
"Mungkin benihmu sudah kadaluarsa, karena jantungmu sudah tidak original lagi." ujar Richard meledek David.
"Mas besan! jantung ku ini masih asli, hanya dikasih pemanis sedikit. Biar normal" balas David.
Keduanya berhenti saling meledek, ketika sampai dimana keempat orang yang meninggalkan dia dan David tadi berada .
"Heemm!" dehem Richard.
Keempatnya langsung menoleh kearah asal suara.
"Daddy!" seru Vely sambil berdiri dari duduknya.
"Kenapa kami tidak dibangunkan?" tanya Richard sambil berjalan mendekati Vely dan langsung mendaratkan bokongnya dikursi disamping Vely.
"Kalian asik disini ya " kata David
"Dama sudah bangunkan Papa tadi, Papa tidak mau bangun" kata Dama.
"Vely juga bangunkan Daddy, tapi Daddy bilang. Masih ngantuk Aisha." ledek Vely.
"Mana ada," ujar Richard.
"Daddy kira Vely bohong? karena tidak bawa ponsel, seharusnya Vely rekam tadi Daddy ngigau!"
"Kalian berdua, kalah dengan anak muda. Mereka sudah sedari tadi disini " kata Josh.
Dama dan Vely saling lirik, padahal mereka juga baru dua puluh menitan tiba.
"Kakak ipar mungkin sangat mengantuk, sulit untuk bangun" kata Edward.
"Aku juga merasa begitu, mata sulit terbuka" kata David.
"Mungkin kalian terlalu letih, Istirahat" kata Josh.
"Entah kenapa mataku tidak bisa terbuka, sepertinya ada lem melekat di mata " kata Richard.
"Kalau aku seperti makan obat tidur saja, bawaannya ngantuk terus" kata David.
Deg..
"Aduh gawat ." batin Dama.
"Sama, aku juga merasa begitu" Richard mengiyakan perkataan David.
"Daddy dan Papa mau sarapan apa? kami ada beli bubur sea food" ujar Dama memotong membahas tidur.
"Enak buburnya Daddy, bubur yang dijual Abang itu laris manis" ujar Vely seraya memberikan lirik mata usil kepada Dama.
Dama hanya tersenyum kecut dibibirnya.
"Boleh " jawab Richard dan David.
***
Karena mendapatkan panggilan urgent, Rodrick membawa Jessie bersama dengannya. Karena tidak mungkin membawa Umar, Jessie yang dibawa oleh Rodrick.
"Pak Dokter, masih jauh? Jessie kebelet ini," kata Jessie sambil memegang perutnya.
"Kebelet? jangan buang didalam mobil ya" kata Rodrick.
__ADS_1
"Cepat cari Pom bensin, biar ke toilet" kata Jessie.
"Dimana Pom bensin ditempat terpencil begini."
Disepanjang perjalanan, hanya ada pohon tinggi dan ilalang.
"Kenapa tempatnya hutan begini Dok?" ucap Jessie.
"Peternakan, tidak mungkin dikota" kata Rodrick.
"Masih ke toilet?" tanya Rodrick.
"Iya, sudah diujung ini. Gonjang sedikit, banjir ini mobil" kata Jessie.
"Makanya, jangan banyak minum" ujar Rodrick.
Saat mereka makan siang, Jessie memesan juice jeruk dan minum es tebak. Sudah diperingatkan oleh Rodrick, tapi karena Jessie tidak mau dengar. Rodrick akhirnya membiarkan saja.
Rodrick menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti dokter? apa ada Pom bensin?" mata Jessie mengitari tempat mereka berhenti.
"Dibalik pohon itu saja." titah Rodrick.
"Apa!?" terkejut Jessie, disuruh buang air dibalik pohon.
"Tuh...ada pohon besar, cepat! nanti keburu sore kita balik" kata Rodrick menyuruh Jessie untuk segera mengeluarkan air najis dibalik pohon.
"Dibalik pohon? Jessie harus jongkok di situ ?" tanya Jessie.
Wajahnya bengong melihat kearah pohon dan kemudian wajah Rodrick.
"Iya" Rodrick menganggukkan kepalanya.
"Cepatlah!" kata Rodrick.
"No Pak Dokter!" Jessie menyimpangkan kedua tangannya.
"Kalau tidak mau, ya sudah ." Rodrick menghidupkan mesin mobilnya kembali.
"Pak Dokter! Jessie mau pipis!" rengek Jessie sembari memegang lengan tangan Rodrick.
"Pak Dokter mesum!" seru Jessie seraya menunjuk wajah Rodrick, dengan bibir ngerucut.
"Mesum dari mana? katanya mau pipis, disuruh keluar nggak mau. nggak mau kebalik pohon, keluarkan air seninya didalam mobil saja. Dimana letak mesumnya?" ucap Rodrick.
"Pak Dokter, Jessie takut keluar sendiri. Temani ya," ujar Jessie.
"Ihh..! nggak mau, pipisnya mau jengkol" ucap Rodrick sambil menutup hidungnya.
"Pak Dokter! Jessie nggak doyan jengkol, tapi Pete mau. Tapi hari ini, Jessie nggak makan Pete. Suer ." Jessie mengacungkan dua jarinya.
"Ayo " Rodrick keluar dari dalam mobil, diikuti oleh Jessie.
"Cepat!" seru Rodrick.
"Iya, Pak Dokter. Jangan tinggalkan Jessie ya" ujar Jessie dari balik pohon.
Tidak ada sahutan Rodrick.
"Pak Dokter!" teriak Jessie dengan keras.
"Apa! jangan teriak-teriak, ini hutan. Nanti ada mahluk astral yang nyahut" kata Rodrick.
"Pak Dokter, bisa ambilkan tisu basah dalam tas Jessie" kata Jessie yang masih dibalik pohon.
"Hih..ribet kali ya, tuh..ada daun" sahut Rodrick.
"Pak Dokter! bagaimana jika ini Jessie gatal nanti " kata Jessie.
"Garuk !" balas Rodrick.
"Please Pak dokter"
"Iya..iya.."
Rodrick mengambil tisu yang dipinta Jessie.
Satu menit tidak terdengar suara Rodrick, membuat Jessie khawatir ditinggalkan oleh Rodrick.
__ADS_1
"Pak Dokter! mana tisunya!" panggil Jessie.
Tidak ada juga sahutan.
"Pak Dokter! jangan tinggalkan Jessie" teriak Jessie.
Tanpa menunggu tisu lagi, Jessie menaikkan celananya. Dan bergegas keluar dari balik pohon.
"Pak Dok....!" Jessie menutup mulutnya, dengan mata terbelalak.
Rodrick duduk dan melambaikan tangannya kepada Jessie.
"Pak Dokter." Jessie berjalan pelan-pelan mendekati tempat Rodrick duduk.
Rodrick dikelilingi oleh orang yang hanya memakai sarung dan ikat kepala.
Jessie ikut duduk di samping Rodrick.
"Pak Dokter, siapa mereka ini?" bisik Jessie.
"Nggak tahu, tiba-tiba saja mereka muncul. Mungkin mahluk penunggu daerah sini" kata Rodrick.
"Hantu Pak Dokter?" tanya Jessie.
"Mungkin" sahut Rodrick.
"Haaa..!" Jessie langsung menubruk Rodrick, sehingga Rodrick telentang diatas tanah. Dan Jessie berada diatasnya.
"Takut Pak Dokter!" Jessie menyusupkan wajahnya didada Rodrick.
Rodrick memeluk Jessie yang ketakutan, terasa gemetar tubuh Jessie dalam dekapannya.
"Kalau tidak situasi begini tadi, dipeluk begini asik juga" batin Rodrick.
"Apa yang kalian lakukan didalam hutan berdua-duaan begini?" tanya orang yang membawa tombak.
"Jessie, lepaskan dulu " kata Rodrick.
Jessie tidak mau melepaskan pelukannya, dia makin erat memeluk Rodrick.
"Apa yang kalian lakukan dalam hutan ?" ulang orang itu, dengan pertanyaan yang sama.
"Maaf Pak, teman saya ini mau ke toilet" kata Rodrick.
Rodrick berdiri dengan bersusah payah, karena Jessie tidak mau melepaskan pelukannya.
"Kalian suami istri?" tanya pria itu.
"Tidak Pak" sahut Rodrick.
"Kalian melakukan kelakuan tidak pantas disini !"
"Tidak Pak! teman saya ini mau buang air," ujar Rodrick.
"Teman? bukan istri?" tanya orang itu.
"Teman Pak, bukan istri!" tekankan Rodrick.
"Karena dia telah melakukan tindakan tidak terpuji, dia harus dihukum!"
"What..! dihukum?" sontak Jessie kaget, begitu juga dengan Rodrick.
"Tindakan apa yang tidak terpuji Pak, saya tidak melakukan apa-apa?" kata Jessie.
"Karena anda telah berani kencing di pohon itu, itu adalah pohon keramat," kata orang tersebut.
"OMG! pohon keramat ? dari segitu banyak pohon. Kenapa harus pohon itu kau kencingi Jessie!" seru Rodrick dengan gemas.
"Pak Dokter yang nyuruh kan!" Jessie tidak mau dipersalahkan.
*
*
*
Bersambung 😘
Apa yang dialami oleh Rodrick dan Jessie 🤔🤔
__ADS_1