
Salam hangat dari author receh, semangat untuk kita semua. Dan jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan keluarga kita.
Happy reading guys ❤️.
***
Vely loncat dari mobil, begitu pintu mobil terbuka.
"Nenek!" Vely berlari memeluk nenek yang duduk dikursi depan teras.
"Ah..cicit cantik Nenek" Nenek membalas pelukan Vely.
"Nenek sehat?" tanya Vely, begitu pelukan mereka terlerai.
"Alhamdulillah, sehat" sahut nenek.
"Kalau sehat, kenapa nenek tidak datang?" tanya Vely dengan bibir ngerucut.
"Nenek sehat, tapi untuk berjalan jauh..." Nenek menggelengkan kepalanya, dan memegang sekitar pinggangnya.
"Pinggang Nenek, tidak bersahabat dengan nenek. Jika dibawa berjalan jauh" kata Nenek.
"Sini " Aisha memanggil Mada, Vania dan Jessie.
"Nek, ini semua istri cicit nenek" kata Aisha, menunjuk kearah Mada, Vania dan Jessie.
"Aish, nenek sudah kenal Mada dan Jessie. Hanya ini yang belum" ujar Nenek menunjuk kearah Vania.
"Vania Nek" Vania menghampiri nenek, mengambil tangan nenek dan menciumnya.
"Vania, istri cicit nenek dari yang mana?" tanya nenek sedikit bingung.
"Kenway Nek" sahut Vania.
"Oh Kenway, yang suka terbang" Nenek mengingat pekerjaan Kenway sebagai pilot.
"Iya, Nek. Yang jarang nemui Nenek kesini " ucap Aisha.
"Dia kerja, nenek maklum"
***
Sebelum kembali kekampung, Richard terlebih dahulu menghantarkan Josh dan Edward ke bandara. Karena mereka hari ini kembali ke negaranya, setelah hampir sepekan berada di Indonesia.
"Nanti kalian datang ngunjungin grandpa ya" ujar Josh kepada cucu-cucunya.
"Baik grandpa, jika tidak sibuk" sahut Keane.
"Kesibukan itu tetap terus ada jika kita masih bisa bernapas, kalian harus pandai membagi waktu. Ingat, keluarga itu yang utama. Walaupun pekerjaan itu juga penting, tapi utamakan kesehatan dan keluarga" pesan Josh kepada cucu-cucunya dan Richard.
Keempatnya menganggukkan kepalanya.
"Rich, tolong jaga Aisha ya" kata Josh, setiap pulang kembali ke negaranya. Hal itu terus ditekankan Josh kepada Richard, agar menjaga Aisha dan selalu menyayanginya.
"Iya Dad, jangan khawatir. Aisha tetap berada disini" Richard menunjuk arah dadanya.
"Terima kasih" sahut Josh.
"Bye.." Edward dan Josh melambaikan tangannya, masuk kedalam ruang keberangkatan.
-**
Setelah beristirahat, keempat pengantin baru jalan-jalan keliling kampung dengan mengendarai sepeda.
Dalam perjalanan keliling kampung, banyak pemuda kampung menatap kearah mereka.
"Jessie, siapa cewek-cewek itu? tidak pernah kelihatan, kenalin " ucap seorang pemuda yang berhenti didepan sepeda yang dikendarai Jessie, sehingga Jessie menghentikan laju sepedanya.
"Kau saja yang tidak kenal, itu cicit Nek Timah" Jessie menyebut nama Nenek Vely.
"Yang mana?" tanya pemuda itu.
__ADS_1
"Tuh.. yang baju kuning" Jessie menunjuk kearah Vely.
"Cantik, kenalin. Bilang, aku ini anak juragan disini. Nggak kalah dari neneknya" ucap pemuda sambil membanggakan diri.
"Kau telat, dia sudah menikah" beritahu Jessie.
"Kau bohong!" pemuda tersebut tidak percaya.
"Tidak percaya, terserahlah" ucap Jessie.
"Awas! aku jalan-jalan" ketus Jessie.
"Kalau dia sudah menikah, bagaimana dengan kau saja Jessie. Keluargaku bisa membangun rumah sakit untuk Papa dan Mama mu bertugas"
"Aku juga sudah sold out" Jessie menunjukkan jemarinya yang bercincin.
"Jessie, ayo!" seru Mada, saat melihat kebelakang. Dilihatnya Jessie masih berbicara dengan pemuda yang tidak dikenalnya.
"Awas Jhon" ujar Jessie.
"Kau betul sudah menikah?" tanya pemuda yang bernama Jhon.
Jessie tidak menanggapi pertanyaan John.
Karena pemuda tersebut tidak menggeser sepeda motornya dari depan sepeda Jessie, Jessie menggeser sepedanya dan berlalu dari hadapan pemuda yang bernama John.
"Jessie!" panggil John.
"Cari cewek lain untuk menjadi korban cinta mu !" seru Jessie kepada Jhon.
Jessie sangat mengenal John, karena Jhon teman SMA. Saat Jessie sebelum pindah sekolah kekota, tinggal bersama dengan neneknya.
"Hih...! sial, cewek cantik sudah berkurang" John melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
***
Mobil yang membawa Richard bersama dengan anak-anaknya memasuki gapura selamat datang kekampung Aisha.
"Sepertinya nenek akan panen padi " kata Rodrick.
"Kesukaan mu untuk masuk kedalam lumpur" ujar Kenway pada Rodrick.
"Kau harus coba, betapa nikmatnya kaki kita terbenam didalam lumpur" kata Rodrick kepada Kenway.
"Hih.. menjijikkan" Kenway bergidik merasa geli, dengar perkataan Kenway.
Dua mobil melaju lambat, karena sudah memasuki kampung. Ternak warga sering melintas ditengah jalan dengan sesukanya, sehingga sering terjadi kecelakaan yang melibatkan hewan-hewan ternak.
"Stop Pak!" seru Rodrick tiba-tiba.
Ciiitt...
Suara ban mobil berhenti tiba-tiba.
"Ada apa ?" Kenway kaget, karena dia lagi mengirim pesan dengan rekan kerjanya.
"Lihat! bukankah itu Jessie?" Rodrick membuka kaca mobil, untuk melihat lebih jelas.
"Iya, itu juga Vania. Vely dan Mada" ucap Kenway.
Keduanya membuka pintu mobil dan keluar.
Dengan cepat mereka menghampiri keempat yang sedang duduk memperhatikan anak-anak yang sedang bermain air ditali air.
Sedangkan mobil yang membawa Richard, Keane dan Dama tidak berhenti. Kemungkinan mereka tidak melihat keberadaan Vely cs didekat tali air tersebut.
"Ayo..!" Rodrick memeluk pundak Jessie dari belakang, membuat Jessie kaget.
"Aww..! dasar pria hidung belang!" Jessie berbalik, langsung mendaratkan pukulan kepada orang yang telah berani memeluknya.
"Aaa..! kau istri galak? kau berani memukuli aku !" Rodrick loncat mundur, untuk menghindari pukulan tangan Jessie.
__ADS_1
"Pak Dokter !" seru Jessie seraya menghentikan gerakan tangannya.
"Kak Rodrick ! kapan kakak datang?" tanya Vely.
"Baru saja sampai, kalian ini istri durhaka ya. Pergi tidak izin para suami" kata Rodrick.
"Kami pergi dengan mommy" kata Vely.
"Iya kak, mommy yang membawa kami kesini. Daddy juga tahu " kata Mada.
"Van, kenapa tadi malam tidak tidur dikamar kita ?" tanya Kenway.
"Maaf, keasikan cerita. Tidur dikamar mommy" jawab Vania.
"Ingat, lain kali kalau mau pergi harus izin suami." titah Kenway.
"Semalam itu kak, kami itu lupa sudah punya suami. Benar, tidak bohong " kata Vely sembari menunjukkan dua jemarinya.
"Kau ini, bisa saja menjawab. Lihat kepanikan Dama tadi malam, saat dia tidak melihatmu ada didalam kamar Vely. Dama itu tidak bisa tidur" kata Rodrick.
"Hanya kak Dama, apa yang lain tidak merasa kehilangan kami ?" tanya Jessie.
"Sedikit, kami malu saja. Baru setengah hari, istri sudah kabur" ujar Rodrick.
"Oh.. karena merasa malu ya, bukan karena khawatir kami hilang?" mendelik sempurna mata Jessie menatap wajah Rodrick.
Karena merasa kesal, Jessie mengejar Rodrick ingin memukulnya.
Rodrick yang sudah tahu, Jessie akan kesal. Berlari terlebih dahulu, sehingga terjadi kejar-kejaran diarea pematang sawah.
Sampai...
Byurr...
Karena area pematang yang licin, kaki Jessie tergelincir dan Jessie berakhir terjerembab ke dalam lumpur sawah .
"Hahaha....!" Rodrick bukan menolong langsung, tetapi dia tertawa terbahak-bahak terlebih dahulu.
"Kak Rodrick!" Vely memukul lengan Rodrick, sehingga Rodrick berhenti tertawa.
"Pak Dokter!" teriak Jessie sembari memukulkan kedua tangannya kelumpur.
"Maaf..maaf ! peace ya " kata Rodrick.
"Ayo kakak ipar" Vely mengulurkan tangannya.
"Ayo" Mada dan Vania juga ikut membantu, karena Jessie sulit untuk keluar dari dalam lumpur.
Tenaga ketiganya tidak berhasil mengeluarkan Jessie, malah membuat Vely dan Mada ikut terjerembab. Sedangkan Vania berhasil diselamatkan oleh Kenway saat akan terjatuh.
"Iyahh..!" teriak Vely dan Mada.
"Gara-gara kak Rodrick ini " tuduh Vely.
"Kenapa kakak yang disalahkan, Jessie yang narik kalian" ucap Rodrick.
"Tolong!" Vely mengulurkan tangannya.
Rodrick meraih tangan Vely, begitu seterusnya. Sampai yang terakhir Jessie.
"Ayo ayank !" ujar Rodrick seraya mengulurkan tangannya kepada Jessie.
Sembari menggerutu, Jessie menerima uluran tangan Rodrick. Untuk membantunya keluar dari lumpur.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1