
Jumpa dengan cerita author receh nih
🌟🌟🌟🌟
Tiga sahabat bercerita, walaupun yang bercerita hanya Alana dan Mayang. Sedangkan Aisha hanya sebagai pendengar yang baik, tidak ada sepotong katapun yang keluar dari bibirnya. Kepribadian Aisha yang tenang, sejak peristiwa itu makin membuat dirinya semakin tertutup.
"Ais, kapan kau kembali ?" tanya Alana.
Aisha mengangkat kepalanya dan melihat Alana sedikit, dan kemudian kembali seperti semula. Menundukkan kepalanya.
"Ayolah Ais, kau harus kuat. Lawan, biar dia tahu bahwa kau itu bukan gadis yang lemah. Contoh aku ini, aku kuat ," kata Mayang dengan menunjukkan otot-otot tangannya.
"Hih..kau sih bukan kuat lagi, tapi macho ," ucap Alana mengejek Mayang.
"Ais kau harus kuliah lagi, siapa yang akan mendorong kursi rodaku ," kata Alana.
"Kau butuh pembantu atau teman ?" kata Mayang.
"Aku butuh Tante ." Alana tertawa mengucapkannya.
"Hih..Ais, kau lihat Om Richard. Sungguh keren, dia pasangan yang diidam-idamkan setiap wanita ," ucap Mayang.
"Hei..itu calon Aisha ya," ucap Alana kepada Mayang dengan jutek.
Keduanya berdebat, sedangkan Aisha hanya diam.
Alana dan Mayang menghentikan debatan mereka, mereka melakukan itu sebenarnya agar Aisha merespon apa yang mereka lakukan. Tetapi sepertinya, usaha mereka sia-sia saja. Aisha masih tetap menutup dirinya, dia hanya sesekali mengangkat wajahnya untuk melihat kelakuan kedua temannya.
Sedangkan Dokter Yuni yang selalu mendampingi Aisha, hanya sebagai pengamat memperhatikan Aisha.
Diluar nenek masih berbincang-bincang dengan tamunya.
***
"Hei..kemana saja kalian berdua ?" tepukan di pundaknya, membuat Eline dan Lily kaget. Dan secara bersamaan, kepala mereka berdua menoleh kebelakang dan melihat Gaby berdiri dibelakang mereka dengan senyum yang lebar.
"Gaby !" ujar Lily.
"Kalian menghindari aku ya ?" Gaby menarik kursi dan meletakkan bokongnya.
"Tidak, untuk apa kami menghindari mu" kata Eline.
"Terus, kenapa kalian tidak ada di kampus ?" Gaby mengambil minuman yang ada didepannya dan langsung menyeruputnya.
"Bukannya kau yang tidak ada di kampus, kami terus disini ," kata Lily.
"Aku sibuk ," kata Gaby.
"Kau sibuk apa ?" tanya Eline.
"Kalian berdua tidak perlu tahu, yang pastinya..! aku lagi happy." tawa Gaby keras, sehingga ada beberapa pasang mata yang melihat kearahnya.
__ADS_1
"Apa lihat-lihat, tidak pernah lihat orang cantik tertawa ya !" seruan Gaby kepada orang yang menatapnya, membuat orang-orang tersebut dengan cepat mengalihkan pandangan matanya.
Eline dan Lily hanya dapat saling pandang, mereka sudah maklum dengan perangai Gaby yang suka meledak-ledak.
"Ayo cabut, kalian berdua ikut aku ," kata Gaby.
"Kemana?"
"Temani aku shoping ," kata Gaby dan langsung beranjak dari tempat kedua temannya.
"Ayo Lily, kita sudah lama tidak shopping. Mata dan tanganku sudah gatal ingin memegang barang branded ," Eline setengah berlari mengejar Gaby dan diikuti oleh Lily.
"Dasar, di iming-imingi belanja langsung ikut ." ngedumel Lily mengikuti Gaby dan Eline yang sudah menjauh darinya.
****
Richard berbicara cukup serius dengan Alana, sebelum dia kembali kekota.
"Al, Om tadi sudah melamar Aisha ," kata Richard.
"Apa..! kenapa Om tidak bilang kepada Al, Om jahat. Alana kan ingin lihat Om melamar Aisha ." bibir Alana manyun, karena Richard melamar Aisha secara diam-diam. Tanpa diketahui dirinya.
"Itu bukan lamaran resmi Al, Om hanya bilang kepada nenek dan Tante Laras. Bahwa Om ingin menikahi Aisha ," kata Richard kepada Alana yang ngambek.
"Kenapa Om tidak bilang pada Al?"
"Ok..ok.. jangan marah, sekarang tugas Alana untuk membujuk Aisha ya. Dan jangan nakal saat tinggal disini , dan dua hari lagi Om akan menjemput Alana dan Mayang."
"Beres om ," kata Alana.
"Om, apa om tidak akan menyia-nyiakan Aisha ?"
"Kenapa Alana tanya begitu ?"
"Aisha pernah menjadi korban pelecehan om, pria terkadang kesucian itu menjadi hal yang utama ," kata Alana dan menatap omnya dengan seksama.
"Itu semua bukan kemauannya, Apa Alana tidak setuju Om melamar Aisha ?"
"Setuju Om, Al sangat setuju. Musibah yang terjadi pada Aisha itu juga karena Alana juga Om, kalau waktu itu Al tidak membuat Gaby marah. Pasti dia tidak melampiaskan kemarahannya kepada Aisha ," ucap Alana dengan perasaan yang sedih, dan kecewa. Karena mulutnya telah membuat Aisha menjadi korbannya.
"Al, jangan terlalu menyalahkan dirimu. Kita belum pasti pesan itu dari gadis itu, mungkin ada pihak lain yang juga membenci kalian berdua di kampus," kata Richard.
"Pasti dia Om, dia ini memakai nomor lain ," kata Alana.
"Om sudah suruh Tony menyelidikinya, dan Alana juga harus hati-hati. Bisa juga dia melampiaskan kemarahannya kepadamu ," kata Richard.
"Pak, barang sudah masuk semua " kata Tony, yang memasukkan oleh-oleh yang diberikan nenek kepada Richard.
"Al, apa kau benar-benar tidak mau pulang ?" tanya Dony.
"Aku masih ingin dengan Aisha disini ," jawab Alana.
__ADS_1
"Aku juga ingin tinggal, tapi kantor saat ini lagi sibuk-sibuknya," kata Dony.
"Dua hari lagi aku akan kembali, mana David ?" tanya Alana.
"Itu lagi bicara dengan Aisha, bukan bicara sih. Hanya David yang berbicara, sedangkan Aisha hanya diam menunduk ," kata Dony.
"Aku sedih melihat Aisha Begitu, walaupun dulu Aisha bukan gadis yang ceria. Tapi dia tidak setutup begitu, lihat saja cara dia berpakaian serba tertutup ," kata Alana.
"Teman kalian pasti akan sembuh," kata Richard dan memeluk Alana yang sedang bersedih.
***
Larasati menyandarkan badannya kekepala ranjang, matanya belum bisa dia pejamkan. Masih ada beban pikiran yang ada didalam benaknya.
"Aku tanya ibu saja ." Larasati turun dari ranjang dan keluar menuju kamar ibunya.
Tok...tok..
"Bu..Bu..sudah tidur ?"
"Masuk saja ," jawab ibunya dari dalam kamar.
"Belum tidur Laras ?" nenek bangkit dari tidurnya, dan menyandarkan kepalanya kekepala ranjang.
"Laras tidak bisa tidur Bu ."
"Ada apa, apa yang kau pikirkan ?"
"Apa yang ibu bicarakan dengan David dan Richard tadi ?" tanya Larasati.
"Oh..itu, ibu cuma bilang. Bagaimana perasaan mereka mengetahui bahwa Aisha sudah ternoda ," kata nenek.
"Ibu..! Aisha masih suci kan ."
"Iya, Aisha masih suci. Ibu ingin tahu saja dari kedua pemuda itu mana yang benar-benar bisa melindungi cucuku Aisha dan bisa menerima dia apa adanya ," kata nenek.
"Menurut penilaian ibu, siapa yang pantas ?" tanya Larasati.
"Richard bisa dipertimbangkan, dia menjawab pertanyaan ibu dengan cepat dan tegas. David juga bagus, tapi dia ragu-ragu menjawab pertanyaan ibu," kata nenek.
"Richard, apa tidak terlalu tua Bu ?" tanya Laras, karena merasa Richard terlalu jauh umurnya dengan Aisha.
"Yang lebih dewasa lebih bagus menjadi suami Aisha, Dokter Yuni berkata, Aisha itu rindu dengan sosok seorang ayah. Richard itu bisa menjadi sosok yang dirindukannya.
"Itu semua salah Laras Bu, jika Laras mematuhi larangan ibu agar tidak menikah dengan pria asing. Aisha tidak mungkin kehilangan sosok ayah dalam dirinya."
"Tidak usah diingat lagi, ibu bersyukur juga kau menikah dengan orang itu. Ibu jadi punya cucu yang cantik ," ucap nenek dengan tertawa.
Bersambung...
Please like like like like like like like like like 🙏
__ADS_1